Monday, November 29, 2010

Kelebihan Tilawah Dan Ketinggian Kalamullah

Hazrat Abu Sa'id meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W bersabda, "Allah SWT berfirman, 'Jikalau sesiapa mendapati tidak ada masa untuk mengingatiKu dan berdoa kepadaKu kerana sibuk dengan al-Quran maka Aku akan mengurniakan kepadanya perkara yang terbaik yang Aku kurniakan kepada orang yang berdoa kepada Ku.' Ketinggian perkataan Allah SWT ke atas segala perkataan adalah seumpama ketinggian Allah SWT ke atas segala makhluk (ciptaanNya)." (Hadith riwayat Tirmizi, Darimi dan Baihaqi)

Keterangan

Maksud hadith di atas ialah seseorang yang sentiasa sibuk menghafal, mempelajari dan memahami al-Quran sehingga tidak ada masa untuk berdoa maka Allah SWT akan mengurniakan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada yang diberikan kepada orang lain yang berdoa kepadaNya. Suatu perkara yang lumrah di dunia ini adalah apbila ada seseorang yang sedang membahagi-bahagikan kuih dan salah seorang yang layak menerima kuih itu sedang sibuk melakukan urusan bagi pihak si pembahagi itu sendiri sehingga menyebabkan dia tidak dapat hadir untuk mendapatkan bahagiannya, maka sudah tentu bahagiannya akan disimpan terlebih dahulu.

Berkenaan keadaan yang sama seperti hadith diatas, dalam hadith yang lain dinyatakan bahawa Allah SWT akan mengurniakan kepada orang yang sibuk dengan al-Quran pahala yang lebih afdal daripada pahala yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang bersyukur

sumber :
http://www.mukmin.com.my/baca.php?kategori=2&id=1492

DOAKAN UNTUK ORANG LAIN JUGA !!!

Assalamualaikum warahmatullah. Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah dan selawat dan salam untuk Junjungan Rasulullah saw. 

Cuaca hari ini mendung tetapi tidak hujan. Terengganu sekarang dalam musim tengkujuh. Musim hujan.

Pagi ini Tok Imam, Masjid Terapung membawa cerita kisah dua orang sahabat karib. Si Ahmad dan Si Ali. Mereka sering menunaikan solat di masjid tetapi berada di lokasi yang berlainan walaupun dalam satu masjid.

Selepas keluar meninggalkan masjid mereka bertanya khabar, apa yang dipohon kepada Allah. Ahmad telus, sering memberitahu apa yang didoakan. Berbeza dengan Ali, bila ditanya oleh sahabatnya, dia hanya senyum tanpa sebarang jawapan. Mungkin sifat kerahsiaannya tinggi. Berbeza dengan Ahmad, bila ditanya akan menceritakannya.

"Pagi ini saya mohon kepada Allah agar memurahkan rezeki saya", lantas disahut oleh Ali, "Mudah-mudahan Allah makbulkan". Keesokannya, selepas solat, seperti biasa Ali dan Ahmad akan berbual bertanyakan soalan yang sama. Ahmad meluahkan rasa syukurnya, kerana doanya dimakbulkan. Majikannya membayarnya bonus.

Hari ini Ahmad berdoa agar Allah memudahkan isterinya bersalin. Lalu disahut oleh Ali. Semuga Allah memudahkannya bersalin. Tetapi bila ditanya apa yang dipohon oleh Ali. Beliau hanya senyum tanpa sebarang jawapan.

Keesokannya, kedua sahabat ini bertemu lagi, dan Ahmad melahirkan rasa syukurnya kerana isterinya telah selamat bersalin.Ali turut bersykur. Ahmad kehairanan dan mempersoalkannya kenapa Ali tidak menyatakan apa yang dipohonnya.

Lantas dengan senyum Ali menyatakan bahawa setiap kali Ahmad menceritakan apa yang didoanya, Ali akan memanjatkan doanya agar Allah mengabulkan doa dan permintaan sahabatnya, itulah sebabnya dia tidak menyatakan apa yang didoakannya.

The moral of the story, yang Tok Imam nak ulas ialah, kadang-kadang kita tidak beritu prihatin terhadap rakan, sahabat handai, adik beradik atau sesiapa sahaja diluar lingkungan kita. Kita terlalu pentingkan diri. Sangat sukar untuk memanjatkan doa untuk orang-orang diluar lingkungan kita. Yang kita pohon adalah untuk diri kita, anak-anak, isteri dan kedua ibubapa kita. Orang lain samada, rakan kita, anak jiran kita, anak murid kita atau adik beradik kita, kita tidak panjatkan doa untuk mereka.

Walhal doa seseorang untuk orang lain adalah sangat mustajab, dengan syarat orang yang didoakan itu tidak tahu bahawa kita mendoakan untuk mereka dengan ikhlas tanpa sebarang balasan.

Tidak rugi kita mendoakan seseorang tanpa pengetahuannya, kerana doa kebaikan itu juga akan kembali kepada kita.Wallahualam.

YB (Yang Bersara) Cg.Syed

Saturday, November 27, 2010

Merayu Allah swt Itu Perlu

i
QuantcastOleh Ustadz Samson Rahman

Allah sangat menyukai ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang keluar dari bibir hamba-hamba-Nya. Tasbih adalah ekspresi pengkudusan yang mengandung penafian semua kejelekan yang tidak mungkin ada pada Allah yang tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Tahmid merupakan bentuk pujian yang sempurna kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda : Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah “Alhamdulillah” (HR. Tirmiddzi).

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :
الحمد لله تملأ الميزان,وسبحان الله والحمد لله تمللآن أو تملأ ما بين السماوات والأرض
Alhamdulillah memenuhi Mizan, dan Subhanallah serta al-hamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi (HR. Muslim).

Sementara Laa Ilaaha Illa Allah adalah sebuah deklarasi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah. Dia adalah kalimat tauhid yang merupakan sebaik-baik dzikir kepada Allah. Kalimat ini merupakan bentuk penafian sifat-sifat uluhiyah dari makhluk dan penetapannya atas Allah karena memang Dialah Yang berhak untuk itu semua, Dialah yang pantas untuk menyandangnya, Dialah yang memiliki itu semua.

Kewajiban kita hendaknya senantiasa menggemuruhkan kalimat-kalimat agung itu dalam detak jantung kita, mengkristalkannya dalam relung hati kita, melantunkannya lewat bibir-bibir kita, memekarkannya dalam perilaku kita semua dan menancapkannya dalam sujud-sujud kita.

Rasulullah pernah bersabda : Ucapan yang paling Allah sukai itu adalah empat : Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar. Tidak ada bahaya darimanapun kamu mulai (HR. Muslim).

Dalam sabdanya yang lain Rasulullah beliau mengatakan : Bagiku mengucapakan Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar lebih aku sukai daripada apa yang disinari mentari.

Tak ada aktivitas yang akan menenteramkan hati dan melembutkan jiwa selain senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah. Tak ada aktivitas yang melegakan jiwa dan menyejukkan nurani selain dzikir kepada Allah. Karena itulah Allah menyeru kepada kita agar kita senantiasa berdzikir pada-Nya.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ ﴿١٥٢﴾
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.(Al-Baqarah : 152).

Dzikir kepada Allah adalah surga Allah di dunia. Dia indah dan penuh pesona, menakjubkan dan menentramkan. Di dalamnya ada bunga-bunga wangi yang bisa dihirup jiwa. Maka barang siapa yang tidak pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di dunia dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di akhirat. Dzikir adalah penolong yang melenyapkan kelelahan dan keletihan jiwa dan kehampaan nurani. Dzikir adalah jalan pintas untuk meraih kebahagiaan dan merengkuh kemenangan. Dzikir adalah balsem yang senantiasa memberikan kehangatan ruhani dan sekaligus memberikan kesembuhan jiwa.
Dalam dzikir jiwa menjadi terasa dekat dengan Sangat Mahakasih, merasa teduh dalam naungan cinta-Nya, hangat dalam dekapan kasih-Nya. Para ahli dzikir akan merasa getaran ilahiyah yang mengalir dalam seluruh organ tubuhnya.

Dzikir menyingkirkan awan ketakutan menepiskan kegundahan dan menghadirkan kebahagiaan dan rasa damai. Problema hidup akan ringan terasa. Guncangan jiwa akan luluh sirna.
Dzikir adalah penerang, dzikir adalah penenang, dzikir adalah penyadar dan senjata ampuh pemusnah kesuntukan pikiran, pelenyap tumpukan duka lara. Orang yang berdzikir kepada Allah akan senantiasa bersinar jiwanya, bercahaya tingkah lakunya.

Ketenangan batin tersimpan dalam gema dzikir yang bertalu-talu, dalam denting tahmid yang mendayu-dayu. Dalam kalimat tauhid yang menggebu dan dalam tasbih yang bergelora menghangatkan jiwa.
Dzikir adalah ibadah jiwa dan lidah yang melintasi semua zaman. Ia harus hadir dalam detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun hingga kematian menjemput kita. Berdzikirlah dalam keadaan apa saja : berdiri, duduk ataupun terbaring. Kita wajib mengingat-Nya baik saat berada di daratan, di lautan, di padang pasir, di pasar-pasar, di mall-mall, di hotel-hotel bahkan di udara sekalipun. Dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, dalam gelap dan terang, di gunung-gunung dan lembah-lembah. Dzikir harus senantiasa bergema di seluruh nafas kehidupan kita.

Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.(Al-Ahzaab : 41).
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Al-A’raaf : 205).

Dzikir itu makanan jiwa yang harus menjadi konsumsi rutin keseharian kita. Tanpanya jiwa kita akan melemah, semangat kita akan mengendur, cita-cita kita hanya menjadi cita pendek dan rendah. Ada kelezatan dalam dzikir yang tidak dimiliki oleh amal-amalnya lainnya. Cicipi dan rasakanlah.
Dzikir adalah penawar racun orang berdosa, sahabat setia orang yang terputus, harta simpanan orang-orang yang bertawakkal, makanan orang-orang yang penuh yakin, hiasan orang-orang yang menyambungkan diri kepada Allah, prinsip orang-orang yang memiliki ma’rifat, hamparan orang-orang yang mendekat dan minuman segar orang-orang yang mencinta.

Dzikir adalah energi hidup seorang muslim dan turbin yang menggerakkan jiwa mereka.
Ibnu Taimiyah pernah mengatakan kepada muridnya, Ibnul Qayyim tentang dzikir ini : Ini adalah makananku, jika aku tidak makan maka habislah kekuatanku.

Hasan Al-Bashri memberikan nasehat kepada kita : Carilah kenikmatan itu dalam tiga perkara : Dalam salat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Quran.

Dzikir akan membuka kelapangan dada kita. Dalam dzikir terdapat makna-makan sabar dan tawakkal, terkandung makna ridha dan menyerah. Hanya dengan mengingat Allah jiwa kita menjadi jernih dan pikiran kita akan menjadi bersih. Dengan dzikir kepada Allah langkah ke depan menjadi pasti.
ألا بذكرالله تطمئن القلوب
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d : 28).

Kegelisahan yang melanda banyak orang di zaman tak lebih karena mereka telah melalaikan dzikir. Menyedikitkan tasbih, meminilisir tahmid dan mengerdilkan takbir dalam jejak rekam kehidupan mereka. Orang menjadi rakus karena dia tidak tamak untuk berdzikir. Seseorang menjadi berlumur dosa karena dia lupa bertasbih, dia menjadi angkuh karena kalimat tauhid yang dibacanya tidak lagi menggedor kesadaran dirinya bahwa dia hanyalah seorang hamba..

Kejahatan para penguasa muncul karena mereka jarang bertabsih, pemelintiran agama hadir di kalangan ulama karena tasbih mereka mungkin mulai tak jujur. Tahmid mereka mulai mengendur.
Kecurangan pemimpin bisa saja karena malam mereka tidak pernah berdenyut dengan tasbih dan tahmid, fajar mereka tidak pernah hidup dengan kalimat tauhid.

Maka jadilah mata hati mereka semakin legam, jiwa mereka semakin gosong, pandangan nurani mereka menjadi pendek. Padahal ada waktu untuk merayu Allah di saat fajar akan menjelang, di saat manusia-manusia yang tidak bersemangat pada bergelimpangan pulas menikmati malam. Saat itu ucapan cinta kepada Sang Maha Pencinta harus diungkap. Karena cinta kita akan menarik cinta-Nya, rayuan kita akan membangkitkan cinta-Nya.

Hidup ini harus kita maknai melalui tasbih, tahlil dan tahmid serta takbir kita yang tiada henti. Sampai mati

Friday, November 26, 2010

The story of a blind girl


There was a blind girl who hated herself just because she’s blind. She hated everyone, except her loving boyfriend. He’s always there for her. She said that if she could only see the world, she would marry her boyfriend.

One day, someone donated a pair of eyes to her and then she can see everything, including her boyfriend. Her boyfriend asked her, “now that you can see the world, will you marry me?” The girl was shocked when she saw that her boyfriend is blind too, and refused to marry him. Her boyfriend walked away in tears, and later wrote a letter to her saying. “Just take care of my eyes dear.”


This is how human brain changes when the status changed.
Only few remember what life was before, and who’s always been there even in the most painful situations.

Life is A Gift.
Today before you think of saying an unkind word – Think of someone who can’t speak.
Before you complain about the taste of your food – Think of someone who has nothing to eat.
Before you complain about your husband or wife – Think of someone ho’s crying out for a companion.
Today before you complain about life – Think of someone who went too early to heaven/hell.
Before you complain about your children – Think of someone who desires children but they’re barren.
Before you argue about your dirty house, someone didn’t clean or sweep – Think of the people who are living in the streets.
Before whining about the distance you drive – Think of someone who walks the same distance with their feet.
And when you are tired and complain about your job – Think of the unemployed, the disabled and those who wished they had your job.
But before you think of pointing the finger or condemning another – Remember that not one of us are without sin and we all answer to one maker.

And when depressing thoughts seem to get you down – Put a smile on your face and thank — you’re alive and still around
Life is a gift – Live it, Enjoy it, Celebrate it, And Fulfill it.

Help others win


A few years ago at the Seattle Special Olympics, nine contestants, all physically or mentally disabled, assembled at the starting line for the 100 yard dash. At the gun, they all started out, not exactly in a dash, but with a relish to run the race to the finish and win. All, that is, except one boy who stumbled on the asphalt, tumbled over a couple of times and began to cry.

The other eight he/ard the boy. They slowed down and looked back. They all turned around and went back. Every one of them. One girl with Down’s Syndrome bent down and kissed him and said, “This will make it better.” All nine linked arms and walked across the finish line together. Everyone in the stadium stood, and the cheerling went on for several minute

shttp://academictips.org/blogs/moral-tale-the-story-of-a-blind-girl

Komen :
Kadang-kadang manusia yang tidak cukup sifat atau lebih dikenali dengan gelaran OKU lebih berhati mulia berbanding dengan mereka yang cukup sifatnya. Rupa-rupanya kelemahan fizikal lebih menjadikan seseorang itu lebih memahami antara satu lama lain. 

Thursday, November 25, 2010

RENUNGAN HARI JUMAAT

Sabda Rasulullah saw yang bermaksud :
 
"Orang yang paling menyesal pada hari Kiamat ialah lelaki yang ada peluang menuntut ilmu di dunia tetapi ia tidak mengambil kesempatan menuntutnya, dan lelaki yang mengajar ilmu kepada orang lain; lalu yang belajar darinya mendapat faedah dari ilmu itu sedangkan ia sendiri tidak mendapat apa-apa." 


PENJELASANNYA 


Hadis ini menggalakkan umat Muslimin supaya menggunakan segala kesempatan hidup di dunia untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna kepada kehidupan keagamaan dan keduniaannya. Dengan ilmu pengetahuan yang betul, dapat dilakukan amalan-amalan ibadah yang betul. Amalan ibadah tanpa ilmu pengetahuan yang betul boleh menjerumuskan seseorang ke dalam bida'ah dan kekeliruan yang merosakkan agamanya. 


Disamping itu ilmu pengetahuan boleh membuka ufuk pemikiran dan mendalamkan kesedaran dan keinsafan yang menguatkan keyakinan dan tauhidnya terhadap Allah s.w.t., dan dengan demikian akan meningkatkan darjatnya disisi Allah di hari Kiamat kelak. 


Hadis ini juga menggariskan satu panduan yang penting iaitu tujuan belajar ialah beramal sama ada ia seorang pelajar atau seorang guru, kerana amalan itu merupakan nilai ilmu dan nilai seseorang yang berilmu. 

Kata pepatah Arab "Ilmu tanpa amal laksana pokok tanpa buah" alangkah ruginya seseorang guru yang tidak mandapat apa-apa guna dari ilmunya sedangkan orang yang belajar darinya memungut  keuntungan -keuntungan yang abad

Juru Parkir Sang Pendakwah dan Kaum Bromocorah Kaifa Ihtada



 (Sketsa Hidup Sederhana di Jalan Pajajaran Bogor)

dakwatuna.com – Pada suatu siang yang sangat terik di Jalan Papandayan, ban sepeda motor yang saya kendarai tiba–tiba bocor . Tragedi itu bersamaan dengan kumandang Adzan di beberapa masjid di sekitar Taman Kencana. Setelah beberapa meter dari TKP, saya menemukan tukang tambal ban dan akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Ekalokasari Plaza. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 saya dan guru saya ustadz Muhajir harus mencari masjid untuk shalat zuhur. Atas ajakan Abah Ajir (panggilan akrab ustadz Muhajir), saya membelokkan motor memasuki areal parkir sebuah kantor provider telepon selular. Di sinilah bermula dimana saya belajar mengambil hikmah, diawali dengan diperkenalkannya saya oleh abah Ajir dengan sahabat karibnya yang berprofesi sebagai tukang parkir, yang bernama Ishaq. Sebagian orang memanggilnya ustadz Ishaq. Sosok sederhana bersuku Sunda namun pemberani, hanya ALLAH yang ia takuti. Kang Ishaq berjenggot lebat tapi tidak berkumis, memakai kaos bola ditambah rompi dan bercelana panjang di atas mata kaki. Subhanallah kurang lebih dua jam, saya dan abah Ajir banyak belajar darinya; mulai dari bagaimana menghormati tamu, menghadapi hidup dengan bahagia, cara berdakwah sampai kepada pernak-pernik dakwah yang pernah ia alami.

Tugasnya adalah menjadi juru parkir. Kang Ishaq menjalankan tugas MENJAGA berbagai merk mobil ; dari mobil Mercedez Benz sampai mobil odong–odong ; dari motor Herly Parkinson sampai motor butut. Itulah tugas suci para juru parkir yang bisa kita ambil hikmah : MENJAGA AMANAH. Perhatikanlah tukang parkir, ketika mobil mewah atau pun mobil usang datang, sang juru parkir menyambut, menerima, menjaga, mengatur dan mengamankan TITIPAN tersebut. Tapi pada saat SANG PEMILIK kendaraan itu meminta kembali mobil TITIPAN nya, juru parkir itu TIDAK PERNAH MERASA SEDIH apalagi MENAHAN mobil tersebut. Demikianlah kita hidup harus melihat hikmah dari para tukang parkir; MENERIMA, MENJAGA TAPI TIDAK  MEMILIKI HAK UNTUK MEMILIKI.  Kekayaan, jabatan dan apapun yang melekat pada diri kita adalah KENDARAAN TITIPAN yang dititipkan oleh ALLAH kepada kita, Sang Juru Parkir.

“Unik”, itulah mungkin kesan pertama bagi siapa saja yang baru pertama kali bertemu dengan kang Ishaq, pasalnya ada kebiasaan yang biasa beliau lakukan namun sedikit orang yang melakukannya yaitu mengucapkan takbir kepada orang yang ia kenal ataupun yang tak ia kenal dan tak sungkan-sungkan mengingatkan karyawan perusahaan seluler tersebut dengan kalimat, “udah shalat belum?” dan ia pun sangat garang ketika melihat orang merokok atau makan pada siang hari di bulan Ramadhan, walhasil tidak ada seorang pun yang berani berkeliaran merokok dan makan di area “kekuasaannya”.

Pantas saja banyak orang memanggilnya ustadz, tutur kata hikmah plus lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang merdu banyak ia sampaikan saat saya berbincang dengannya. Ada satu pertanyaan yang abah Ajir tanyakan kepada kang Ishaq dan pada saat bersamaan, -tanpa sepengetahuan mereka berdua- saya merekam semua pembicaraan antara kedua sahabat itu. “Kang, apa sih kuncinya bisa tetap terlihat bahagia, meskipun panas tapi akang tetap enjoy dengan profesi akang?” Tersenyumlah kang Ishaq lalu ia berkata, “Sodorkan semua masalah kita semuanya kepada ALLAH, Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik wa’ala thooatik, Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku untuk istiqamah dan taat pada-Mu, semuanya akan kembali kepada ALLAH dan ALLAH lah sumber kebahagiaan itu.” Dan saya pun tersentuh dengan jawabannya. Lalu abah Ajir kembali bertanya,  “Kang, apa kuncinya agar tetap semangat?” Kang Ishaq menjawab, “ATM”, lalu saya bertanya, “apa itu kang ATM ?”, Kang Ishaq menjawab, “Allah Tempat Meminta, beribadahlah kepada ALLAH dan mohonlah pertolongan kepada-Nya, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.

Kang Ishaq senantiasa komitmen dengan dakwahnya, segala macam cara yang berisiko ia tempuh, hanya untuk mengajak orang lain kembali kepada ALLAH. Suatu hari di kota Surabaya, Kang Ishaq mencoba berdakwah di tengah kaum bromocorah; ada centeng toko, preman terminal bahkan ada preman di pelabuhan. Puncaknya ketika kang Ishaq harus berhadapan dengan para jago gulat dan panco untuk bertarung dengan syarat apabila kang Ishaq jatuh tersungkur maka kang Ishaq harus menjadi kaum bromocorah tapi sebaliknya kalau mereka yang kalah mereka harus menjadi kaum pengikut mushalla. Kang Ishaq mulai komat-kamit membaca ayat-ayat yang ia yakini dapat mendatangkan ketenangan dalam hatinya dan menyerahkan segala sesuatunya kepada ALLAH al-Qowiyy (Maha Kuat) dan al-Aziiz (maha Perkasa). Pertarungan pun dimulai dan kang Ishaq nyaris tersungkur dan pada detik-detik akhir kang Ishaq membalikkan keadaan, dengan izin Allah ia dapat membuat para bromocorah tersebut tersungkur. Dan akhirnya mereka dengan jantan mengakui ketangguhan kang Ishaq dan menerima syarat menjadi pengikut kaum mushalla. Allahu Akbar!

Cerita lain yang ia sampaikan, suatu hari di daerah pedalaman di Banten, kang Ishaq menyuruh orang ke mushalla untuk shalat berjamaah, namun yang di dapat adalah tantangan adu KANURAGAN oleh jawara Banten. Sama seperti di Surabaya siapa pun yang kalah harus menjadi bagian dari pengikutnya. Kang Ishaq mengambil air putih yang dingin dan membaca doa masuk WC, dengan penuh keyakinan kepada ALLAH, air putih itu diberikan kepada para jawara dan apa yang terjadi ? jawara itu pun kepanasan karena air dingin itu berubah menjadi air panas bi idznillah. Akhirnya si jawara itu menantang kembali ilmu KADIGDAYAAN yang ia miliki dengan menyayat wajahnya dengan silet yang tajam. Dan si jawara itu tidak terluka sedikit pun. Kang Ishaq tidak bergeming, dengan yakinnya ia mengambil batu sekepalan tangan dan membaca doa masuk WC, believe it or not, batu itu hancur seperti tepung terigu. Allahu Akbar!

Alhamdulillah, saya dapat mengambil hikmah dari cerita-cerita yang ia sampaikan, yang awalnya saya nyaris tidak percaya, namun secara perlahan saya mempercayai cerita tersebut karena bahasa wajah, bahasa tubuh dan kekuatan bertutur sangat kuat dan tulus ikhlas tanpa rekayasa karena diselingi ‘ALLAH Hade euy” …. ALLAH AKBAR!

Mutiara akan tetap menjadi mutiara meskipun dalam kubangan lumpur. Kang Ishaq bagaikan mutiara di tengah hiruk pikuk pongahnya dunia, kang Ishaq tetap menunjukkan mutiara tanpa harus menggadaikan nilai-nilai kesucian dakwah yang bisa ditukar dengan “manut kepada mereka yang punya uang”.

Belajarlah, belajarlah dan belajarlah meskipun dari seorang tukang parkir bahkan dari seorang pengayak comberan sekalipun. Likulli sya’in hikmatun, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Balon terbang karena isinya bukan karena warnanya. Janganlah kita terjebak dalam penampilan fisik semata, karena pandangan mata bisa menipu, maka pergunakanlah pandangan mata hati yang jernih dalam melihat segala sesuatu.
Terima kasih, syukron jazakumulloh khoiron katsiron kang Ishaq, semoga ALLAH menjagamu.

Kelebihan seorang alim dari pada seorang ahli ibadah, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu. Sesungguhnya ALLAH dan para MalaikatNYA dan semua penduduk langit dan bumi hingga semut yang di dalam lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan kepada guru-guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Wallahu’alam bi ash-Showab

Jalan Pajajaran, 28 September 2010. Pukul 13.00-15.0

http://www.dakwatuna.com/2010/juru-parkir-sang-pendakwah-dan-kaum-bromocorah/

Komen :
Begitulah kehidupan  ini ibarat sebagai penjaga kereta, bila-bila masa sahaja tuan punya kereta datang untuk mengambil keretanya, kita tak boleh nak tahan, itu hak dia. Begitulah kita dengan Allah, apa yang ada pada diri kita; rumah, kereta, anak, isteri, suami, kekayaan, kekuasaan, jawatan, semuanya adalah milik sementara, bila-bila masa sahaja Pemiliknya (Allah) boleh mengambil balik.
Yang jadi masalah setelah diambil balik, kita kena soal oleh Pemilik sebenarnya, darimana kita dapat, bagaimana cara kita dapat semua itu, kemana kita belanjakan atau gunakan pinjaman yang diberi itu dan utamanya adakah semua itu digunakan untuk mengesakanNYA (Allah).

Akhir sekali, apa sahaja jawatan ataupun kerjaya kita, kerja-kerja dakwah, menyampaikan risalah Allah menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama. Kerja dakwah ini tanggungjawab semua. Sampaikanlah walaupun satu ayat.

Drp. Cgsyed.