Saturday, December 25, 2010

Keutamaan Ilmu

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, begitu Nabi bersabda. 

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu membuat seseorang jadi mulia, baik di hadapan manusia juga di hadapan Allah:

” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar [39]: 9).

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (TQS.Fathir [35]: 28)

"Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? " (Az-Zumar:9)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah:11)

Dalam Kitab Ihya ‚Uluumuddiin susunan Imam Al Ghazali disebut bahwa Nabi berkata: „Di akhirat nanti tinta ulama ditimbang dengan darah para syuhada. Ternyata yang lebih berat adalah tinta ulama!“ Nabi juga berkata bahwa meninggalnya 1 kabilah (penduduk 1 kampung) lebih ringan daripada meninggalnya seorang ulama.
Itulah kemulian orang yang berilmu!
Menuntut ilmu itu pahalanya begitu besar:

“Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penunutu ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. (Dari hadits yang panjang riwayat Muslim)

“Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, hasan)

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa ilmu yang wajib dituntut adalah ilmu yang bermanfaat. Yang bukan hanya benar, tapi juga dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan dapat memberi kebahagiaan bagi kita, keluarga, dan masyarakat baik di dunia mau pun di akhirat.

Rasulullah saw bersabda: “Apabila anak cucu adam itu wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan orangtuanya.” (HR.Muslim, dari Abu Hurairah ra)

Allah berfirman, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu dan hikmah) Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS Lukman [31] : 27)

Ilmu itu begitu luas, dari yang bermanfaat hingga yang tidak bermanfaat. Contoh ilmu yang bermanfaat adalah ilmu agama, ilmu fisika, ilmu komputer, dsb. Contoh ilmu yang tidak bermanfaat bahkan terlarang adalah ilmu sihir, ilmu meramal/astrologi, dsb. Begitu banyak ilmu namun waktu kita begitu sedikit. Oleh karena itu hendaknya dipakai untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah memohon dalam doanya, “Allaahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’u”. ‘Ya, Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.’

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah SWT Memberi wahyu kepada Nabi Dawud a.s. Firman-Nya, “Wahai, Dawud. Pelajarilah olehmu ilmu yang bermanfaat.”
“Ya, Rabbi. apakah ilmu yang bermanfaat itu ? ” tanya Nabi Daud.

“Ialah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu.Inilah yang mendekatkan engkau kepada-Ku.”

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ar Rabi-i’, Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya didunia dan akhirat.”

Ternyata ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang menyebabkan kita semakin dapat mengenal Allah, yang dapat kita amalkan, yang membuat kita rendah hati serta terhindar dari sifat takabur..

Ilmu selain diyakini kebenarannya juga harus diamalkan. Sebab ilmu tanpa amal, seperti pohon yang tidak berbuah.
“Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, dan Allah akan menolong dia dalam amalan nya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ia tersesat oleh ilmunya itu. Dan Allah tidak menolong dia dalam amalannya sehingga ia akan mendapatkan neraka “. (hadits)

Begitu juga amal tanpa ilmu, hanya akan membawa kehancuran. Contohnya orang tidak pernah belajar menerbangkan pesawat tentu akan berbahaya jika dia menerbangkan pesawat. Setelah diamalkan, maka disunnahkan bagi kita untuk mengajarkan ilmu tersebut ke orang lain yang belum mengetahui.

Kita menuntut ilmu dunia selama 12 tahun dari SD (sekolah rendah) hingga SMA (sekolah menengah). Setiap hari paling tidak 5 jam kita mempelajari ilmu dunia. Tapi pernahkah kita menghitung berapa lama kita belajar ilmu agama? Adakah sejam sehari?

Jika tidak, sungguh malang nasib kita, padahal ilmu agama penting bagi kita guna mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Bukankah kebahagiaan di akhirat lebih baik dan lebih kekal? Bukankah hidup di dunia hanya sekejap saja (Cuma sekitar 63 tahun)?

Meski dia profesor Fisika atau Pakar Komputer, tapi jika tidak tahu ilmu agama sehingga sholat, puasa, zakat, dsb tidak benar niscaya dia akan masuk neraka.

Tentu saja bukan maksud kita mengenyampingkan ilmu dunia. Mempelajari ilmu dunia yang bermanfaat adalah fardu kifayah. Sejarah Islam menunjukkan bahwa meski ummat Islam gemar mempelajari ilmu agama, namun ilmu dunia mereka juga tinggi. Angka yang dunia pakai sekarang adalah angka Arab (Arabic Numeral) yang diperkenalkan sarjana Muslim kepada dunia. Bukan angka Romawi atau Eropa! Aljabar (Algebra), Algoritma yang mengembangkannya adalah sarjana Muslim: Al Khawarizm. Demikian pula di bidang kedokteran dikenal Avicenna (Ibnu Sinna), di bidang sosial Averroes (Ibnu Rusyid), dsb. Kimia (Chemical) juga berasal dari bahasa Arab Alkimia (Alchemy). Yang memperkenalkan angka 0 ke dunia adalah ummat Islam. Itulah prestasi ummat Islam di bidang ilmu dunia.

Jika sebagian muslim sudah mempelajarinya (misalnya ada beberapa orang yang belajar ilmu kedokteran), maka gugurlah kewajiban itu bagi yang lainnya. Tapi mempelajari ilmu agama adalah fardu ‘ain, kewajiban bagi setiap Muslim. Tanpa ilmu, maka semua amalnya akan ditolak.

Yang pertama harus kita pelajari adalah aqidah atau tauhid yang juga disebut “Ushuluuddiin” (Dasar-dasar Agama). Ini adalah fondasi yang harus kita kuasai. Kita bukan cuma tahu bahwa rukun iman ada 6, tapi juga tahu dalil-dalilnya. Sebagai contoh, beriman kepada Allah. Kita juga harus tahu sifat-sifat Allah seperti wujud (ada). Kita tidak bisa cuma bilang bahwa Tuhan itu ada. Tapi juga harus bisa membuktikan/menjelaskan dalil-dalil bahwa Tuhan itu memang ada.

Tanpa aqidah yang kuat, maka seseorang yang ibadahnya rajin dapat tersesat atau murtad dengan mudah.

Setelah aqidah kita kuat dan dilandasi dengan ilmu, baru kita mempelajari Fiqih. Fiqih adalah ilmu yang menjelaskan cara-cara beribadah kepada Allah seperti sholat, puasa, zakat, hubungan dengan sesama manusia, dan sebagainya. Banyak kewajiban mau pun larangan yang harus kita ketahui, ada di kitab-kitab Fiqih.

Yang harus kita ketahui lagi adalah, ilmu agama harus berlandaskan Al Qur’an dan Hadits yang shahih. Jika satu masalah tidak tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits, baru dilakukan ijtihad. Tapi ijtihad ini pun tidak boleh bertentangan dengan Al Qur’an dan hadits.

Menuntut ilmu juga niatnya harus untuk Allah semata. Bukan untuk kepentingan pribadi.

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al Ghazali menulis sebagai berikut : “Wahai, hamba Allah yang rajin menuntut ilmu. Jika kalian menuntut ilmu, hendaknya dengan niat yang ikhlas karena Allah semata-mata. Di samping itu, juga dengan niat karena melaksanakan kewajiban karena menuntut ilmu wajib hukumnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam laki-laki maupun perempuan” [HR Ibnu Abdul barr]

Janganlah sekali-kali engkau menuntut ilmu dengan maksud untuk bermegah-megahan, sombong, berbantah-bantahan, menandingi dan mengalahkan orang lain (lawan bicara), atau supaya orang mengagumimu. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana mengumpulkan harta benda kekayaan duniawi. Yang demikian itu berarti merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.

Nabi SAW mencegah hal seperti itu dengan sabdanya. “Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. ” [HR Abu Dawud]

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka…neraka.” [HR Tirmidzi & Ibnu Majah]

“Seorang ‘alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhaan Allah, maka dia akan ditakuti oleh segalanya. Akan tetapi, jika dia bermaksud untuk menumpuk harta, maka dia akan takut dari segala sesuatu.”  [HR. Ad Dailami]

Dirangkum dari berbagai tulisan seperti “Ilmu yang bermanfaat” (Aa Gym), “Ihya ‘Uluumuddiin” (Imam Al Ghazali)

A Nizami
sumber : http://media-islam.or.id/2007/09/14/keutamaan-ilmu/

Friday, December 24, 2010

Teknologi Dakwah

Zaharuddin Abdul Rahman(Pensyarah Perbankan dan Kewangan Islam UIAM)
zaharuddin@yahoo.com

ILMU dakwah itu ibarat ilmu pemasaran dalam perniagaan. Memerlukan kreativiti dan pelbagai ilmu sampingan yang digabungkan bagi menghasilkan tarikan.

Sebelum kesan itu kelihatan, perlu terlebih dulu memikirkan kaedah menarik pandangan manusia dalam membuka pemikirannya dan seterusnya menyampaikan maklumat berguna berupa nasihat dan teguran.
Dalam sebuah pemasaran perniagaan, penjual cuba dan berusaha walau berbelanja kos jutaan ringgit semata-mata untuk memberitahu produknya wujud di pasaran kepada orang ramai, menerangkan keistimewaannya, mempengaruhi pelanggan untuk ‘bertindak’ membeli dan akhir sekali memastikan jenama produk itu kekal dalam minda pelanggan.

Untuk tujuan itu, strategi dan kreativiti yang sama dengan proses mencari dan mempengaruhi pelanggan perniagaan diperlukan bagi menyebarkan dakwah Islam. Tidak dinafikan, tidak mudah menyampaikan mesej dakwah, apatah lagi menjadikannya mendapat perhatian dan minat ramai.

Justeru, ilmu dalam teknologi tertentu seperti penggunaan bahasa yang digemari, cara keras, lembut dan berselindung, selain penggunaan dalil atau santai tapi menyengat, melalui ceramah semata atau disertakan bunyian, melalui video dan sebagainya adalah diperlukan.

Menyampaikan dakwah Islam atau sesuatu ilmu menerusi kaedah itu memberi peranan besar untuk menarik kumpulan manusia yang sangat pelbagai minat, kecenderungan dan kebosanan yang pelbagai.

Berdasarkan pengalaman saya, nisbah yang berminat dan punyai kesedaran terhadap Islam adalah sangat kecil berbeza dengan nisbah yang tidak berminat mengetahuinya.
Dalam peratusan kecil itu pula, nisbah sukakan mesej yang disampaikan secara santai lebih besar daripada mesej berat walaupun lengkap dengan dalil.

Daripada jumlah itu pula, nisbah yang gemarkan supaya ia dimuatkan dengan elemen hiburan seperti na- syid adalah jauh lebih besar berbanding kumpulan yang sekadar membaca atau mendengar tanpa hiburan. Walaupun begitu, kebanyakan kumpulan yang suka mesej yang disampaikan secara hiburan itu sebenarnya melebihi bilangan yang minat terhadap mesej sebenar di dalamnya.

Ini boleh dilihat sendiri bagaimana sambutan besar diberi terhadap individu terbabit dalam bidang nasyid seperti Maher Zain dan Sami Yusuf. Berbeza dengan sebuah ceramah walaupun dihadiri ulama sebesar Syeikh Yusuf Al-Qaradawi dan Syeikh Wahbah Al-Zuhaily, jumlah yang datang mendengarnya pasti sangat kurang.

Kerana itu, akan kita dapati penceramah yang mampu mempersembahkan ceramah dengan pelbagai teknik tambahan tadi akan lebih berjaya menembusi bilangan pendengar atau penonton lebih besar berbanding yang tidak. Saya bukan ingin mengatakan ‘yang ini’ lebih baik daripada ‘yang itu’ kerana kedua-dua teknik dan cara punyai nilai dan sumbangan masing-masing.

Justeru, tidak perlu semua orang jadi penceramah lawak, penceramah bernasyid atau juga penceramah ‘berdalil’ dan lengkap dengan rujukan kitab. Semua ilmuan dan penyampai mesej Islam mempunyai sasaran masing-masing, justeru, tidak semua perlu berlumba-lumba mempersembahkan.

Ada ilmuan yang tidak gundah gulana, walaupun ceramah dan kuliahnya hanya diikuti 20 atau 30 pendengar setia. Asalkan kefahaman ilmu yang mantap, mendalam dan menjana pemikiran terbaik dapat disemai ke dalam minda dan jiwa pendengarnya. Itulah sasaran dan sumbangannya kepada ummah.

Jadi, kepelbagaian dalam penggunaan teknik ini memang sangat penting bagi menyampaikan mesej atau sesuatu dakwah itu. Allah SWT berfirman: “... dan bahawasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya. Dan bahawasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (An-Najm, 39-40)

Allah SWT juga menyebut dalam surah Al-Qasas, ayat 56, bahawasanya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mahu menerima petunjuk.”

Malah, Rasulullah SAW juga bersabda: “Jika kamu menjadi asbab (pembawa) kepada seseorang itu mendapat kesedaran dan petunjuk (Islam), ia lebih baik bagimu daripada unta yang paling berharga (simbolik kepada nilai yang sangat tinggi).” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Jika ada penyampai mesej Islam (da’ie) yang mampu sekali sekala bertukar teknik dan mencampuradukkan kaedah penyampaian mereka, tentunya itu adalah sangat baik jika sesuai dengan cara dan pendengar serta penontonnya.

Saya gembira melihat ramai di kalangan ‘da’ie’ yang mampu menulis novel dan cerpen. Melalui kaedah itu, kumpulan individu yang dulunya tidak pernah berjaya ditembusi, kini mungkin mula melihat serta mendengarnya.

Ada yang dulu hanya bergantung kepada ceramah di masjid dan surau, kini dilebarkan menerusi jangkauan blog, website dan atau laman sosial seperti Facebook.

Cabaran untuk menyampaikan mesej ini memang memerlukan kreativiti sebagaimana peniaga yang memikirkan cara menyemat nama produk mereka ke dalam minda pengguna.

Teringat saya kepada beberapa iklan pelik, khususnya dipaparkan menerusi media elektronik di United Kingdom. Ada iklan yang sengaja dibuat kelihatan bagi jelik kerana menerusinya ia akan diingati, contohnya iklan gocompare.com yang memaparkan lelaki bermisai palsu pelik menjerit-jerit dengan kuat.

Begitu juga iklan insurans Swiftcover yang memapar lelaki tua tanpa baju yang membuat aksi menggelikan. Walaupun menggelikan, mereka berjaya masuk dan kekal di minda pengguna.

Daripada membiarkan teknologi Youtube dipenuhi video mungkar dan tidak berfaedah, lebih baik ia dimanfaatkan dengan ‘membanjirinya’ dengan paparan video yang membawa mesej kebaikan. Ini sama seperti penggunaan laman sosial Facebook, kerana untuk menentangnya pasti sama seperti melawan arus teknologi yang berkembang bagai tsunami.

Tidak kira sama ada akan membawa kesan atau tidak, namun paling kurang, dengan usaha terbabit, individu yang menggemari hiburan akan menggunakan masanya tidak pada jalan maksiat yang nyata, khususnya apabila dia berada di depan Internet seorang diri. Bagi saya, itupun sudah merupakan kejayaan kerana kita menyelamatkannya seseorang itu untuk tempoh beberapa minit dengan menyediakan pengisian yang ada manfaat.

Ini kerana, biarpun kecil, tidak mustahil ia menjadi kunci awal kepada sesuatu kesedaran lebih besar dan hanya Allah SWT yang lebih mengetahuinya.

Kesimpulannya, bagi menyampaikan sebarang dakwah, kita perlu menggunakan sebanyak mana kebaikan teknologi masa kini dalam usaha menembusi individu yang kurang berminat dengan jalan dakwah seperti ceramah.

Selagi ia tidak bercanggah dengan prinsip Islam, perlu kita menerokainya di samping melengkapkan diri dengan pelbagai teknik dalam penghasilan fotografi, video, rekaan grafik, kartun, filem dan permainan video.

Penguasaan ilmu dalam teknologi yang disebut sebagai contoh di atas amat perlu supaya teknik pemasaran dan penyebaran ilmu Islam yang ingin disampaikan mampu menembusi lebih banyak pihak.

Tidak dinafikan ada beberapa caranya yang terdedah kepada kesan antara mudarat dan manfaat. Namun, gunakan segala teknologi yang ada masa kini bagi menembusi pasaran ummah supaya lebih ramai yang dapat cuba disedarkan dan dapat dirapatkan kepada Islam


Thursday, December 23, 2010

Kejadian Manusia


BETAPA PAYAHNYA MALAIKAT-MALAIKAT MEMINTA TANAH DARI BUMI UNTUK NABI ADAM AS (ABUL BASYAR / Bapa segala manusia)

Pada suatu ketika, Allah SWT menitahkan kepada malaikat Jibril supaya turun ke bumi untuk mengambil sebahagian tanahnya untuk mencipta Adam. Akan tetapi
apabila beliau sampai ke bumi, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam kerana bumi kuathir Adam akan menjadi maksiat kepada Allah. Lalu Jibril kembali ke hadrat Allah memberitahu bahawa ia tidak dapat berbuat apa-apa apabila mendengar mendengar sumpah bumi.

Setelah itu, Allah memerintah malaikat Mikail. Jawapan bumi masih sama lalu Allah memerintahkan malaikat Israfil dan jawapan bumi masih tidak berganjak.

Masing-masing kembali dengan jawapan yang hampa.Akhirnya, Allah menyuruh
malaikat Izrail turun ke bumi.Kata Allah:
” Hai Izrail! Engkaulah kini yang aku tugaskan mengambil tanah. Meskipun bumi bersumpah-sumpah dengan ucapan, jangan engkau mundur. Katakan bahawa
kerjamu atas perintah dan atas namaKu.”

Apabila Izrail turun ke bumi dan menyampaikan perintah Allah kepada bumi, maka akhirnya bumi mengizinkan tanahnya diambil. Setelah Izrail mengambil beberapa jenis tanah,kembalilah ia ke hadrat Allah.

Lalu Allah berfirman: “Ya Izrail, pertama engkau yang Ku tugaskan mengambil
tanah, dan kemudian di belakang hari kelak akan kutugaskan engkau mencabut
roh manusia.”

Maka kuathirlah Izrail kerana bimbang akan dibenci oleh umat manusia.Lalu Allah berfirman lagi: “Tidak, mereka tidak akan memusuhi kamu.
Aku yang mengaturnya, dan aku jadikan kematian mereka itu bersebab antaranya terbunuh, terbakar, sakit dan sebagainya.

JENIS TANAH YANG DIGUNAKAN:

1. Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Mugaddis
2. Tanah Bukit Tursina
3. Tanah Iraq
4. Tanah Aden
5. Tanah Al-Kautsar
6. Tanah tempat bakal berdiringa Baitullah
7.
Tanah Paris
8. Tanah Khurasan
9. Tanah(Babylon)
10. Tanah India
11. Tanah syurga
12. Tanah Tha’if

Menurut Ibnu Abbas:

1. Kepala Adam dari tanah Baitul-Muqaddis kerana disitulah berada otak manusia,dan disitulah tempatnya akal.

2. Telinganya dari tanah Bukit Thursina, kerana dia alat pendengar dan tempat menerima nasihat.

3. Dahinya dari tanah Iraq,kerana disitu tempat sujud kepada Allah.

4. Mukanya dari tanah Aden, kerana disitu tempat berhias dan tempat kecantikan.

5. Matanya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat menarik perhatian.

6. Giginya dari tanah Al-Kautsar, tempat memanis-manis.

7. Tangan kanannya dari tanah Kaabah,untuk mencari nafkah dan kerjasama,sesama manusia.

8. Tangan kirinya dari tanah Paris,tempat beristinjak.

9. Perutnya dari tanah Babylon. Disitulah tempat seks(berahi) dan tipudaya syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.

10.Tulangnya dari tanah Bukit Thursina,alat peneguh tubuh manusia.

11.Dua kakinya dari tanah India, tempat berdiri dan jalan.

12.Hatinya dari tanah syurga Firdaus,kerana disitulah iman, keyakinan,ilmu, kemahuan dan sebagainya.

13.Lidahnya dari tanah Tha’if, tempat mengucap Syahadat, bersyukur dan berdoakan kepada Tuhan.

PROSESNYA KEJADIANNYA:

1. Ketika Allah jadikan Adam, tanah itu dicampur dengan air tawar, air masin, air hanyir, angin dan api.
Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam diri Adam dengan berbagai macam “sifat”.

2. Lalu tubuh Adam itu digenggam dengan genggaman “Jabarut” kemudian diletakkan didalam “Alam Malakut”.

3. Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah dan wangi-wangian dari sifat Nur sifat Allah, dan dirasmikan dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.

4.Kemudian tubuh itu dibenamkan didalam air “Kudral-Izzah- Nya” iaitu sifat “Jalan dan Jammal”.Lalu terciptalah tubuh Adam yang sempurna.

5.Demikian pula roh, ketika itu diperintah masuk kedalam tubuh Adam, ia merasa malas dan enggan, lalu ia berputar-putar, mengelilingi patung Adam yang terlantar. Kemudian Allah menyuruh malaikat Izrail untuk memaksa roh itu masuk.Akhirnya mahu tidak mahu roh itupun masuk dan menyerah kepada Izrail.

Menurut riwayat ketika Adam masih berada di syurga, sangat baik sekali kulitnya. Tidak seperti warna kulit manusia. Kerana Adam telah diturunkan ke dunia, terjadilah perubahan pada warna kulitnya. Sebagai peringatan, yang masih tertinggal warnanya
hanyalah pada kuku manusia. Oleh itu, meskipun orang kulitnya hitam,tetapi warna
kukunya adalah sama, ialah putih kemerah-merahan.

Dijadikan pada tubuh Adam ada sembilan rongga atau liang. Tujuh buah liang dikepala,dan dua buah liang di bawah badan letaknya.

Tujuh buah letaknya adalah di:

1. Kepala : dua.liang mata, Dua liang telinga, Dua liang hidung dan sebuah liang mulut.
2. Dibawah: Sebuah liang kemaluan dan liang dubur.

Dijadikan pula lima buah pancaindera:

1. Mata alat penglihatan
2. Hidung alat penciuman
3. Telinga alat pendengaran
4. Mulut alat merasa manis, masin dan sebagainya.
5. Anggota tubuh lainya seperti kulit, telapak tangan, untuk merasa halus, kasar dan
sebagainya.

Setelah Roh masuk kedalam tubuh Adam :
Lalu roh itu masuk perlahan-lahan sehingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun. Demikianlah Allah memberi kekuatan pada Izrail untuk memasukkan roh ke dalam tubuh Adam.

Setelah roh meresap ke kepala Adam, maka terjadilah otak dan tersusunlah urat-urat sarafnya dengan sempurna. Kemudian terjadilah matanya dan seketika itu matanya terus terbuka melihat dan melirik kekiri, ke kanan dan kebawah dimana pada masa itu
bahagian badannya masih merupakan tanah keras.

Dilihatnya kiri dan kanan para malaikat yang sedang menyaksikan kejadian dia. Ketika itu dia telah dapat mendengar para malaikat mengucapkan tasbih dengan suara yang merdu dan mengasyikkan.

Kemudian ketika roh sampai kehidungnya lalu ia bersin, serta mulutnya terbuka.

Ketika itulah Allah ajarkan padanya ucapan Alhamdulillah. Itulah ucapan

Adam pertama kalinya kehadrat Allah. Lalu Allah berkata :”Yarhamukallah”
yang membawa erti: “Semoga engkau diberi rahmat Allah”. Oleh kerana itu jika
orang bersin, menjadi sunat mengucap “Alhamdulillah” dan orang yang mendengarnya sunat pula mengucapkan “Yarhamukallah” .

Kemudian ketika roh sampai pada dadanya, tiba-tiba saja ia mahu bangun. Padahal sebahagian bawah badannya masih tanah dan keras. Disini menunjukkan sifat manusia yang suka tergesa-gesa (tidak sabar). Sebagaimana firman Allah SWT bermaksud:
“Dan adalah manusia itu, suka tergesa-gesa” .(Al-Israk: II)

Maka ketika roh itu sampai dibahagian perutnya, maka terjadilah susunan isi perut dengan sempurna. Maka seketika itu terasalah lapar. Kemudian terus roh itu meresap
sampai ke seluruh tubuh, tangan, kaki lalu terjadi darah daging dan tulang. Urat-urat berkulit dengan sempurna, yang mana kulit itu kian lama kian cantik dan halus.

Begitulah proses kejadian-kejadian tubuh Adam. Setelah kejadian Adam sempurna sebagai manusia, maka dialah merupakan makhluk manusia yang pertama. Wajahnya cukup cantik, semua malaikat berasa kagum melihat Adam yang begitu menawan. Kemudian Adam diarak oleh malaikat-malaikat selama 100 tahun lalu diperkenalkan kepada seluruh penghuni dari langit pertama hinggalah kelangit tujuh sebelum dibawa ke syurga tempat mula-mula Adam dijadikan.

(Dipetik dari buku HIMPUNAN KISAH-KISAH MALAIKAT disusun oleh Muhammad Isa Selamat)
Sumber : http://nur-addin.blogspot.com/2010/06/kejadian-manusia.html

Educational Leadership Qualities - 3 Simple Steps For Achievement

Leadership is about character, integrity and courage more than being the smartest, strongest or the best at something. The foundation of a leader is integrity and must be displayed. The dictionary states integrity as; soundness of moral character; honesty. Simply put integrity means true to your word, owning up to your mistakes, not making excuses and taking responsibility for your actions. Courage is doing the right thing, for the right reasons even when no one is around. The ability to act is truly courage, action is how you are courageous to go against all the odds when you know something is right.

Do what you say. The saying, lead by example, are the actions of a leader. Think of someone you have personally known who you thought was a good leader, but it turned out they were not. They were saying all the right things and you probably believed them, but their actions did not reflect what they were saying. These are the actions of a leader who have their own agendas and do not possess the courage to do what is right for their people.

Leaders never give up on something, once they have chosen their dream. Many leaders have failed countless times, that is how they have learned. If you try to avoid failure, you will also be avoiding action. The ability to persevere and never give up is how you become a leader.

Integrity, lead by example and perseverance these are the qualities of a great leader. The greatest leaders are also compassionate towards others, but are not easily influenced. I will now leave you with a quote that shows the power that a single leader can produce. "I am not afraid of an army of lions led by a sheep; I am afraid of an army of sheep led by a lion"... Alexander the great



Tuesday, December 21, 2010

Manusia berwajah `khinzir' kerana makan rasuah

Oleh IBNU IDRIS (Mingguan Malaysia 19/2/06)

CERITA orang menerima rasuah tidak menjadi rahsia lagi. Menerima rasuah pula ada pelbagai cara - terang-terangan, cara gelap, sembunyi-sembunyi dan pelbagai lagi.

Rasuah kini semakin menjadi-jadi dan berlaku di sana sini serta di mana sahaja, dalam rumah, dalam kedai, dalam hotel atas jalan raya, atas jambatan, di padang, coffe house dan tempat-tempat lain. Mereka yang ``makan rasuah'' ini tidak tahu ``akibatnya''. Bukan sahaja makan harta secara haram, bahkan hidup mereka hilang barakahnya
.
Balasan Allah subhanahu wa taala kepada mereka yang makan rasuah terlalu berat. Balasannya, kadang-kadang Allah tunjukkan di atas dunia lagi.Ada rumahnya terbakar. Ada yang menerima musibah kepada keluarga dan diri sendiri, kehilangan harta benda dan macam-macam hal yang lain.Ada kalanya pula, Allah menangguhkan balasannya itu hingga hari akhirat kelak.

Balasan di dunia dan akhirat tentang mereka yang makan benda-benda haram seperti rasuah ini telah diberitahu oleh Allah melalui lisan nabi-Nya Muhammad s.a.w. Oleh kerana mereka ini tidak tahu apa-apa mengenai kesalahan ini dari segi hukum, maka mereka terima rasuah dengan memberi makan kepada anak, isteri, ibu bapa, bapa mentua, ibu mentua dan sesiapa yang di dalam tanggungannya.

Seolah-olah rasuah itu tidak ada apa-apa bagi mereka. Daripada hasil rasuah mereka beli rumah baru, kereta baru , tanah baru, isteri baru dan barang-barang rumah baru daripada wang rasuah yang dirampas daripada hak orang. Oleh kerana mereka ``jahil'' dalam ilmu agama, tidak pernah mengkaji agama, mendengar ceramah, tidak pernah menghadiri kuliah agama dan tidak pernah membaca buku agama, maka mereka terima rasuah itu ``macam makan cendul''.

Ada kes rasuah dibawa ke mahkamah. Apabila mereka diheret dan dibicarakan ke mahkamah atas tuduhan rasuah, maka mereka akan pakai ``ketayap putih''.Seolah-olah ketayap putih itu mencerminkan pemakaiannya sebagai ``orang baik-baik'' belaka, kerana orang yang memakai ketayap putih lambang ``lebai'' orang yang sudah naik haji. Dalam perbicaraan, mereka mendapatkan seorang peguam yang bijak dan pintar. Atas kebijaksanaan peguam itu, dia dibebaskan kerana tidak cukup bukti.

Hukuman

Tetapi di hadapan Allah mereka tidak akan terlepas. Mereka cuma terlepas di dunia sahaja, di akhirat mereka tetap akan menerima hukuman daripada Allah. Ada sebuah hadis Nabi, yang diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi yang paling rapat, iaitu Mua'z bin Jabal tentang bagaimana Rasulullah memberitahu, manusia yang akan dibangkitkan dari kubur di akhirat nanti, dengan pelbagai bentuk dan rupa yang memalukan.

Rupa dan bentuk ini bergantung kepada dosa yang dibuat oleh manusia di atas dunia, di antaranya termasuk makan benda-benda haram iaitu rasuah.

Rasulullah s.a.w. menjelaskan ada yang dibangkitkan kelak berwajah `khinzir', kerana memakan benda yang haram dan merampas hak orang. Yang jelas kepada kita ialah apa yang dimaksudkan oleh Nabi itu ialah mereka yang menerima rasuah, kerana rasuah itu memakan yang haram dan mengambil hak orang lain secara haram. Sebagaimana yang kita maklum bahawa ``rasuah'' ialah memakan harta yang tidak halal, mengambil hak orang lain, merampas harta orang secara paksa, memakan titik peluh orang secara haram.

Pengamal-pengamal rasuah ini sudah tidak takut lagi kepada undang-undang dan peraturan, apalagi undang-undang Allah tidak langsung dihiraukan. Memakan rasuah bukan sahaja melibatkan orang itu sendiri, bahkan melibatkan isteri, anak-anak, ibu bapa di mana mereka diberi makan daripada rezeki yang diperoleh daripada sumber ataupun perbuatan-perbuatan haram.

Darah yang mengalir dalam tubuhnya, dalam tubuh isterinya, anak-anak mereka, ibu bapa mereka merupakan darah yang diambil daripada rezeki yang haram. Inilah satu perbuatan yang paling buruk, paling kotor dan paling keji dalam masyarakat kita. Rasuah dalam bentuk yang pelbagai itu telah menjadi amalan keji paling tua oleh manusia. Kecenderungan ini iaitu rasuah berasal dari naluri tamak, desakan kebendaan dan untuk memuaskan nafsu semata-mata.

Barah bagi gejala rasuah ini ialah begitu dalam menusuk ke dalam masyarakat moden di seluruh dunia. Amalan ini terlalu dalam sehingga sukar untuk dihapuskan.Pengamal-pengamal rasuah ini sebenarnya tidak tahu, buta kayu dalam ``ilmu agama''. Kalaulah mereka tahu bahawa rasuah itu amalan yang paling keji dan hukumnya ``haram'' yang terlarang oleh agama, tentulah mereka tidak melakukannya. Sekarang ini di mana-mana pun kita berurusan maka amalan rasuah sudah menjadi lumrah. Kalau tidak ada sogokan rasuah, semua kerja dan semua urusan akan berjalan lambat, lembap, malah akan memakan masa paling lama sekali.

Berikan Sahaja Hak-Hak Mereka Sebagai 'Kafir'

20 December 2010

Tahukah anda perayaan Thaipusam buat penganut Hindu adalah bagi memperingati kelahiran Dewa Murugan, anak bongsu Dewa Shiva dan isterinya, Parvati dan juga upacara apabila Parvati memberikan Dewa Murugan sebilah tombak agar dapat menghapuskan dewa jahat Soorapadman. Jumlah pengikut Hindu di seluruh dunia termasuk Malaysia adalah kira-kira 940 juta orang. Foto di atas adalah pada 29/01/2010 ketika Perdana Menteri meraikan perayaan tersebut di Batu Caves, Selangor.

Tahukah anda perayaan Hari Wesak atau Vesākha buat penganut Buddha adalah untuk menyambut hari kelahiran Gauthama Buddha. Jumlah pengikut Buddha di seluruh dunia termasuk di Malaysia adalah kira-kira 500 juta orang. Foto di atas adalah pada 28/5/2010 ketika Perdana Menteri meraikan perayaan tersebut di Buddhist Maha Vihara.

Tahukah anda perayaan Hari Natal atau Krismas buat penganut Kristian adalah untuk menyambut hari kelahiran Jesus (dalam tradisi Islam Nabi Isa a.s). Jumlah pengikut Kristian di seluruh dunia termasuk di Malaysia adalah kira-kira 2.2 bilion. Foto di atas adalah ketika Perdana Menteri menghadiri majlis Rumah Terbuka Krismas di Kota Kinabalu pada 29/12/2009.

Tahukah anda perayaan Vaisakhi buat penganut Sikh adalah untuk menyambut tahun baharu masyarakat tersebut. Jumlah pengikut Sikh di seluruh dunia termasuk di Malaysia adalah kira-kira 27 juta orang. Foto di atas adalah ketika Perdana Menteri melawat kuil Guru Nanak Darbar Tatt Khalsa Diwan Selangor di Jalan Raja Alang pada 14/4/2009.

Ketika berada di Batumalai Sri Subramaniar Swamy saat perayaan Thaipusam, Perdana Menteri bersaksikan berhala Muruga telah mengikrarkan: "Saya hendak tegaskan bahawa menghormati agama lain bukan sahaja merupakan satu nilai utama yang perlu kita pertahankan dalam negara ini, tetapi ia juga merupakan salah satu prinsip dalam agama Islam. Islam yang sebenarnya tidak menghina agama lain serta melarang umatnya merosakkan tempat-tempat ibadah mereka. Islam yang sebenarnya menghormati agama lain...itu Islam yang sebenarnya."

Tahukah anda perayaan Asyura buat penganut Syiah Imamiyah adalah untuk berkabung mengenang kesyahidan cucu Rasulullah saw bernama Saidina Husin (anak Saidina Ali). Jumlah pengikut Syiah ini di seluruh dunia termasuk di Malaysia adalah kira-kira 200 juta orang. Foto di atas adalah ketika Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan menghadiri Majlis Asyura di Ashura Maydan, Halkali, Istanbul 16 Disember 2010 yang lalu.

Tuan-tuan jika syiah dianggap sebagai sebahagian dari umat Islam saya ingin mengingatkan yang Republik Islam Iran yang menempatkan sebahagian besar umat Islam syiah di muka bumi ini adalah anggota Pertubuhan Negara-Negara Islam (OIC) sejak tahun 1969. Syiah juga diiktiraf sebagai salah satu dari lapan mazhab Islam oleh Deklarasi Amman, Jordan pada 9 November 2004. Klik di sini http://www.ammanmessage.com/. Deklarasi tersebut turut diterima oleh Sheikh Yusuf Qaradhawi dan Ayatullah al Uzma Ali Sistani. Bukti syiah adalah sebahagian umat Islam terlihatkan bahawa setiap tahun jemaah haji Iran berada di kedudukan kedua atau ketiga sesudah Indonesia dan Turki. Maka syiah haruslah diterima sebagai umat Islam seperti yang dilakukan oleh Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Tuan-tuan jika syiah dianggap kafir dan bukan Islam (meski mereka dibenarkan mengerjakan haji di kota suci Mekah dan Madinah), saya ingin mengingatkan hak-hak mereka sebagai orang kafir seperti jaminan Perdana Menteri di atas. Barang diingat ekoran kontradiksi yang kalian lakukan, syiah yang dikatakan sesat dan kafir ini tidak sama seperti Ayah Pin atau Arqam.

Di lain kali jangan benarkan Dr Ahmadinejad menunaikan solat di Masjid Wilayah Persekutuan seperti mana yang beliau lakukan pada 3 Mac 2006 di Kuala Lumpur (lihat sini). Beritahukan dengan jelas tanpa hipokrasi, "Malaysia menganggap penganut syiah kafir. Katakan sahaja kepada Dr Ahmadinejad syiah tidak masuk ke syurga. Bahawa menurut fatwa Hasan Din al Hafiz beliau anak haram." Jangan benarkan qari Iran menyertai Musabaqah Tilawah al-Quran kita kerana mereka kafir dan najis serta tidak layak membaca al-Quran. Juga, suarakan di OIC supaya Republik Islam Iran dikeluarkan dari pertubuhan itu kerana 100 juta rakyatnya yang bermazhab syiah adalah kafir (suarakan juga supaya Iraq dikeluarkan kerana 60 peratus populasinya adalah syiah).

Jika mereka kafir berikan hak-hak syiah seperti mereka ini adalah penganut Hindu, Buddha, Kristian dan Sikh. Jangan menganiayai hak-hak mereka. Ini kerana terdapat 200 juta umat syiah di seluruh dunia termasuk Malaysia. Samada syiah ini Muslim, atau kafir, tuan-tuan; Allah akan tetap akan bertanya di akhirat kelak. Ini kerana jika mereka muslim, kalian tidak berlaku adil kepada mereka. Jika mereka kafir pun kalian tidak berlaku adil kepada mereka.

Fikir-fikirkan

* Pada pandangan saya, saya tidak fikir masyarakat syiah yang kecil bilangannya di negara ini berbahaya kepada negara. Harus diingat terdapat masyarakat syiah tempatan yang memang asal syiah dari leluhur mereka. Kita tidak dapat memaksakan fatwa kita ke atas mereka.

** Di seluruh dunia Islam, syiah diterima sebagai sebahagian umat Islam. Di Malaysia, di era 1Malaysia; penganut syiah nampaknya tidak punya hak apa pun sebagai manusia. Islam tidak. Kafir pun tidak. Kasihan mereka. Itulah rasa simpati saya buat mereka sejak Jumaat lalu.


http://tehranifaisal.blogspot.com/

Komen Cgsyed :

Bila kita menilai sesuatu, lihatlah daripada pelbagai aspek, hujah, sumber rujukan. Janganlah mudah melatah dan menjatuhkan hukuman seperri budak hingusan. Elakkan perangai hentam keromo, hormati budaya ilmu dan perbezaan pendapat. Bacalah dan fikirkanlah. Jangan terlalu mudah mengkafirkan sesuatu mazhab. Dan jangan pula double standard dalam melaksanakan tindakan. Mengapa ajaran Ayah Pin yang hidup semula di Besut tidak diambil tindakan ? Ada akal fikir-fikirkan.

How Do You Lead to Improve the Quality of Student Learning?

Contributed by : Nancy A. Clarke and Shirley B. Stow
October 2009 Charter School Monthly

“In any moment of decision the best thing you can do is the right thing, the next best thing is the wrong thing, and the worst thing you can do is nothing.” Theodore Roosevelt

Leadership is the application of principles and practices that direct the resources toward the learning results as defined in the curriculum. Leadership has always been intrinsically linked to the effective functioning of complex organizations, including schools. As Roosevelt stated in the quote, doing nothing is so wrong; this is a call for leaders to take action now!

Introduction

Do you have a passion for excellence? Your leadership makes a difference in whether you can achieve excellence! In challenging times school leadership is more important than ever; you are required to direct human and financial resources for the highest return on the investment, despite what is happening outside your school.
Are you leading the way? It is well established in the literature that effective leadership makes a considerable improvement in student learning. Leaders must be bold and willing to lead significant changes that have enough magnitude to make a meaningful difference.

Well-designed leadership development is essential when schools desire high-quality teaching and learning in every classroom. This development needs to include a focus on curriculum, instruction, and assessment. According to Dennis Sparks (Winter 2009), improvements in these elements of a school begin with changing leaders’ behaviors, building relationships, pursuing goals that stretch capacities, equipping leaders with knowledge and skills that can be used on a continuous basis, and turning ideas into a stream of actions. He concludes with the idea that what leaders understand, say, and do each day makes a tremendous difference.

Leading a school has become complex in today’s world because there are numerous factors entering into decisions that need to be made. In the literature distinct dimensions of leadership have been found to be considered when defining what it means to be a leader in the 21st century. These dimensions include, but are not limited to

1.   taking an assertive instructional role,
2.   being goal and task-oriented,
3.   being well-organized,
4.   holding high expectations for students and staff,
5.   conducting frequent classroom observations plus giving feedback to the teachers, and
6.   being highly visible and available to students and staff.
When school officials possess and practice these six dimensions of leadership, students will be more successful and they will be more effective leaders. Such leadership is an essential element in excelling schools.
As the school’s vision is shared at the beginning a new school year, the leader should be
specific about the knowledge, attitudes, skills, aspirations, and behaviors that are necessary for everyone to achieve it. Once these are in place, you can spend the rest of the year going for deep implementation of the vision.

The Six Dimensions of Leadership

When carrying out an assertive instructional role, the leader must (1) have a vision along with goals that are in line with the curricular and instructional programs, giving students the best possible educational opportunity; 
(2) assess the educational program, coordinating the curricular/instructional activities as appropriate; 
(3) select staff members according to the needs of the school; and (4) provide professional development that helps people perform their jobs better.

The leader must never lose sight of the direction a school is going; thus he or she must be goal and task-oriented. This means that the person is action-oriented, creatively brings the resources together, and is the facilitator not only for his or her ideas, but for processing those ideas for change.

Leaders must be well-organized regarding time, a precious commodity in our schools. They must prioritize, develop an educational plan, and implement the plan. Delegating to others needs to become a part of the routine. By delegating responsibility to staff, the effective leader not only maintains a leadership role but maximizes autonomy while creating ownership among the staff.
Just holding high expectations is not good enough; the leader must communicate them to staff and students. He or she must be positive, enthusiastic, and see obstacles as challenges.

The leader emphasizes the hard work, dedication, greater professionalism, and initiatives that should be undertaken by the staff.
Leaders who are effective have the instructional programs as their number one priority. It is imperative that a significant amount of time be spent in classrooms every day to conduct classroom observations. This is not to say that the time needs to be formal; walking daily through each classroom helps because it allows leaders to assess the needs of the curriculum, instruction, and assessment elements. School leaders have a major responsibility to supervise and evaluate teachers. Those leaders who are well trained, conscientious, and spend time in the classrooms regularly can make better judgments about how effective the teacher is when working with students.

It is extremely important for a leader to be highly visible and available to students and staff. In this way the leaders are able to be in touch with what is happening in the school environment.
Visibility must be accompanied by availability so that students and staff can participate in the communication that needs to take place.
Giving consideration to these dimensions is essential to becoming an effective school leader; one where students are successful in learning those skills and concepts that have been defined in the standards-based curriculum. Being a leader in the 21st century is based on these dimensions. Your role as a leader is to direct, encourage, support, and develop the people in your school organization. Their successes are yours, and their failures are yours as well.You know you are a leader when you remember to (1) use the language of leadership; (2) give staff members the tools they need to teach; (3) include an explanation as to why things should be done; (4) demonstrate flexibility and zero tolerance (i.e., be flexible whenever you can and firm when you must); and (5) hire people who are smarter than you, knowing that doing so proves you are smarter than those you hired.

Reflections

“The most important thing in life is to decide what’s most important” (Blanchard, 2007). When you can apply this quote to your leadership style, you will be on your way to becoming an effective leader. Think about questions such as these:
1.   What are my beliefs about leading a school?
2.   What can people expect from me?
3.   How will I set an example for them?

Schools need leaders who are leading at a higher level. Let’s think about how to accomplish this in our lives so that we are all leading at a higher level than we are at the moment. You can be a leader who makes a positive difference in our schools, so go out and do it! Look at all of the people who are counting on you.
As you reflect on this article, discuss school leadership with your colleagues. You should be able to answer the question: “How Do You Lead to Improve the Quality of Student Learning?

References
Blanchard, Ken. (2007). Leading at a Higher Level. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, pp. 276-295.
Sparks, Dennis. (Winter 2009). Reach for the Heart as Well as the Mind, The Journal of the National Staff Development Council, pp. 48-54.
Nancy A. Clarke is an educational consultant who facilitates this process. After 25 years as a classroom teacher, elementary principal, and director of curriculum in Arizona schools, she has spent the past 10 years as a professional development trainer for curriculum/assessment development and educational leadership. In this capacity she has worked in public, private, and charter schools nationwide. She is willing to discuss the contents of this article with you;
contact her at rnclarke37@andiamo-tel.com.
Shirley B. Stow is an educational consultant working with schools to improve the
teaching/learning environment in public, private, and charter schools nationwide. After working as a classroom teacher, elementary principal, and curriculum director, she was the director of a research-based school improvement model center at Iowa State University for 25 years. In that capacity she served as a professional development trainer for curriculum/assessment and educational leadership in schools across the United States, in Canada, in the Department of Defense Dependents Schools, in Western Europe, and in the Taipei American School in Taiwan. She is willing to discuss the contents of this article with you; contact her at sbstow@q.com.