Thursday, January 20, 2011

Anda Ingin Dikenang Sebagai Apa?

OPINI | 11 November 2010


Membaca sebuah renungan didalam buku yang berjudul “You Are Not Alone” yang ditulis oleh sahabat remaja saya, Arvan Pradiansyah. Membuat hati saya berkecamuk, bergetar dan menyisakan berbagai pertanyaan. Arvan, membuka bab 15 bukunya dengan mengilustrasikan sebuah kisah tentang Alfred Nobel. Begini kisahnya, suatu ketika Alfred Nobel sakit keras dalam jangka waktu yang cukup lama. Setelah lama tak terdengar kabarnya, suatu pagi sebuah surat kabar menyampaikan berita yang cukup mengejutkan: “Alfred Nobel, Sang Penemu Dinamit Meninggal Dunia”. Berita itu tentu saja mengejutkan terutama bagi Nobel sendiri yang sebenarnya saat itu masih hidup. Tapi terlepas dari keterkejutannya, Nobel menemukan sesuatu yang sangat mencerahkan. “Ternyata jika aku meninggal, aku akan dikenang sebagai penemu dinamit. Dinamit adalah sesuatu yang menghancurkan. Aku tak ingin dikenang sebagai penemu dinamit”, ujarnya.

Untunglah Nobel masih punya waktu untuk memperbaiki hidupnya. Ia justru dikenang sebagai orang yang membawa perdamaian bukannya yang menciptakan peperangan. Peristiwa itu membantu Nobel untuk menyusun misi hidupnya. Ia kini dikenang sebagai pembawa perdamaian dengan hadial Nobelnya.
Seperti apakah Anda ingin dikenang ketika Anda meninggalkan dunia ini? tanya Arvan, dalam bukunya. Pertanyaan inilah yang membuat hati saya berkecamuk, ya seperti apakah nanti kita dikenang oleh orang-orang terdekat kita, anak, istri (pasangan kita), keluarga besar, tetangga, teman se kantor, teman se organisasi dan masyarakat sekitar kita, ketika kita telah tiada?

Pikiran saya sepertinya tidak ingin segera menjawab pertanyaan di atas, namun malah jauh membayangkan sesuatu, ya membayangkan sebuah kematian. Saya sedang membayangkan keranda jenazah yang membawa jenazah saya (anda bisa membayang itu diri anda) ke pemakaman, saya membayangkan orang-orang terdekat kita, isteri, anak, keluarga, kerabat, teman-teman yang mengantarkan ke pemakaman. Mereka melihat jenazah dimasukkan ke liang lahat, dan melihat tanah-tanah yang menimbun jenazah tersebut. Setelah proses pemakaman selesai, kita bertanya-tanya, kenangan apa yang kira-kira dirasakan oleh orang-orang yang telah mengantarkan jenazah ke pemakaman itu?. Pertanyaan ini sangat penting untuk kita jawab. Dengan menjawab pertanyaan ini kita bukan hanya menemukan hal-hal yang penting dalam hidup kita tetapi hal-hal yang paling penting dan paling berharga.

Semua umat beragama mempercayai ada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini. Sebagai seorang muslim, saya beriman kepada hari akhir, artinya bahwa setelah kehidupan di dunia ini, masih ada kehidupan yang panjang dan kekal di akherat kelak. Kematian jasad akan mengakhiri proses kehidupan. Namun ada 3 hal yang masih bisa berhubungan dengan jiwa orang tersebut diakherat, 3 hal tersebut adalah kebaikan kita, baik berupa perbuatan maupun harta benda yang diberikan dan dimanfaatkan bagi kehidupan kebaikan orang lain, sehingga orang terbantu dan memanfaatkan kebaikan tersebut untuk mengabdi kepada Tuhannya, atau yang biasa disebut sedekah jariyah, yang kedua adalah Ilmu yang bermanfaat dan Anak-anak yang berkualitas, memiliki akhlak yang baik yang memiliki prinsip dan menjunjung kebaikan atau yang biasa kita kenal dengan istilah anak yang saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.

Kembali kepada sesi pemakaman tadi, jiwa kita akan melihat bahwa isteri kita yang telah bersama kita dalam suka dan duka, yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang, yang telah mendidik, melatihnya untuk beribadah dengan harapan menjadi anak yang saleh. Isteri kita telah kita tinggalkan untuk selamanya, kenangan apa yang telah kita tinggalkan untuknya?, apakah kenangan pahit, kenangan yang menyakitkan sehingga dia hanya berbasa-basi saja dengan kesedihannya, atau kenangan yang indah, mempesona dan membahagiakannya, sehingga dia betul-betul bersedih dan berjanji menjaga harta yang paling berharga kita yaitu anak-anak yang kita cintai agar menjadi anak yang saleh yang selalu mendoakan oranng tuanya?

Bagaimana kita melihat Anak-anak kita setelah kita tiada, apakah dia dapat hidup berkecukupan, apakah bekal ilmu dunia dan ilmu agama dapat membuat dirinya menjadi orang baik dan sukses, orang baik yang bermartabat dan orang baik yang bermanfaat buat orang lain dalam lingkup yang lebih besar. Apakah anak kita terus menjaga shalatnya, terus menjalankan ibadah dengan baik?, apakah setiap selesai shalat masih melaksanakan kebiasaannya mendoakan orang tua?. Semua yang baik-baik seperti ini adalah harapan kita semua, kita berharap anak-anak kita mengerti betapa kita mencintai mereka. Kita berupaya sekuat tenaga, pikiran untuk membuat dirinya siap menghadapi hari depan yang diharapkan?, namun apakah mereka bisa mengetahui dan mengenang hal ini seperti yang kita harapkan?

Bagaimana orang tua kita, kakak dan adik kita sepeninggalan kita?, apakah mereka akan mengenang kita dengan baik?, apakah silaturrahim selama ini terjaga dengan baik? Apakah kebiasaan saling membantu, berbagi dan saling mendoakan masih terus menjadi tradisi keluarga besar ini?, apakah mereka merasa kehilangan dan merindukan kebersamaan, bersenda gurau, bernyanyi dan beribadah bersama dan masa-masa yang begitu membahagiakan? Atau mereka hanya sekedar kehilangan sebentar dan melupakannya dalam beberapa hari?.

Bagaimana teman-teman kerja dan lingkungan kita mengenang kita?, apakah mereka merasa kehilangan orang yang telah bersama-sama kita dalam sebuah visi dan misi yang kita telah disepakati. Apakah mereka merasa mendapat manfaat dari keberadaan kita selama ini, apakah kita dapat memberikan kontribusi yang positif dari usaha yang diperjuangkan teman-teman kerja kita? atau sebaliknya mereka merasa senang dengan ketiadaan kita, bila kita pejabat, pasti sebentar lagi akan ada promosi untuk jabatan yang kita tinggalkan.

Membayangkan kondisi demikian membuat perasaan saya menjadi campur baur, ada rasa takut, khawatir, ragu-ragu, dan gamang. Namun, ada pula secercah harapan apabila kehidupan kita sehari-hari diisi dengan rasa saling menghargai, perhatian yang saling melengkapi dengan pasangan hidup kita dan curahan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak kita sehingga punya harapan yang besar mereka dapat diandalkan untuk memberi doa ketika kita telah tiada suatu hari kelak. Ada sebuah harapan apabila kita telah menjaga silaturahim, semangat saling berbagi, saling menghargai yang kita berikan kepada sahabat-sahabat kita, tetangga kita orang tua kita, sehingga mereka merasakan hidup yang tentram, bersemangat dan berbahagia seperti yang juga kita rasakan. Ada harapan bila kita dapat membuat suatu karya cipta yang sangat dibutuhkan masyarakat dan hasil karya tersebut terus digunakan sampai jauh setelah kita tiada.

Apakah kita harus sehebat Alfred Nobel agar dapat dikenang? Semua orang memiliki kapasitas yang berbeda, rasanya terlalu jauh kalau membandingkan diri kita (baca:saya) seperti Alfred Nobel. Kita perlu mengarahkan hidup kita, kita bisa meredefinisikan misi hidup kita, dan kita bisa merencanakan sebagai apa kita kelak dikenang. Buat saya, setelah membaca 2 buah buku terbaru dari Arvan Pradiansyah, yaitu buku 7 Laws of Happiness dan You Are Not Alone di atas, dan membaca 2 buah buku terjemahan dari Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni yang berjudul La Tahzan (Jangan Bersedih!) dan buku Berbahagialah.…, membuat saya berpikir bahwa ilmu yang bermanfaat tersebut bisa dimulai dari menyampaikan sebanyak-banyaknya tulisan yang bermafaat. Sebagai kepala keluarga, saya ingin dikenang sebagai kepala keluarga yang baik yang sukses mengantar kedua anak saya menggapai apa yang dicita-citakan. Sebagai anggota masyarakat, saya ingin dikenang sebagai guru yang mumpuni dan penulis buku yang bukunya menjadi inspirasi kebaikan bagi kehidupan banyak orang. Itulah sebagian misi hidup saya. Lalu, bagaimana dengan Anda, Anda ingin dikenang sebagai Apa?!.

Samarinda, 08 Nopember 2010.
Salam hangat,
JOKO WAHYONO
Tulisan sejenis ada di : www.jokowahyono.com

Friday, January 14, 2011

Berhati-hati Memilih Pemimpin


Dalam surah al-Hajj ayat 40-41, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menolong sesiapa yang menolong Agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Gagah, lagi Maha Perkasa. Iaitu mereka yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf serta mencegah perbuatan yang mungkar. Dan kepada Allah sahajalah kembali segala urusan”.

Dalam ayat ini Allah menceritakan tentang golongan yang mendapat pertolongan daripada Allah. Mereka ialah golongan yang ‘diteguhkan kedudukan mereka di muka bumi’ berdasarkan kalimat ‘makkannaahum fil ardh’ dalam surah al-Hajj ayat 41. Imam al-Hasan dan Abu al-‘Aliyah mentafsirkan golongan ini sebagai ‘golongan daripada umat ini yang diberikan kemenangan oleh Allah’. Imam Ibn Abu Najih mentafsirkannya sebagai ‘pemimpin-pemimpin’. Imam ad-Dahhak mentafsirkannya sebagai ‘mereka yang kurniakan kerajaan dan kekuasaan oleh Allah’. Kesemua pendapat ini dilaporkan dalam al-Jamik li Ahkamil Quran oleh Imam Qartubi.

Pemimpin yang bagaimanakah yang mendapat pertolongan dan diredai Allah? Secara dasarnya Allah tidak memberi cek kosong kepada para pemimpin, sebaliknya yang diberikan kepada mereka adalah amanah dan tanggungjawab. Antara tanggungjawab itu ialah “mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf serta mencegah perbuatan yang mungkar”.

Pemimpin Dan Solat
Seseorang pemimpin Muslim memerlukan bantuan dan pertolongan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, dan penolong yang terbaik baginya ialah Allah. Justeru pemimpin Muslim perlu sentiasa mendekati Allah dengan beribadah kepadanya, dan ibadah yang paling penting ialah solat.

Seorang Muslim yang tidak melaksanakan solat tidak layak menjadi pemimpin. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nabi bersabda, “Sebaik-baik pemimpinmu ialah mereka yang kamu kasihi dan mereka mengasihimu dan kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu. Sejahat-jahat pemimpinmu ialah mereka yang kamu benci dan mereka membencimu dan kamu mengutuk mereka dan mereka mengutukmu.’ Sahabat-sahabat pun berkata, ‘Bolehkah kami menentang mereka?’ Jawab Nabi, ‘Tidak, selama mana mereka tetap menegakkan solat’.”

Hadis ini menunjukkan apabila seseorang pemimpin Muslim memperkecilkan solat, dia perlu turun dari jawatan kepimpinannya.

Pemimpin Dan Zakat
Hubungan yang baik dengan Allah perlu disusuli dengan hubungan yang baik sesama manusia. Dalam erti kata yang lain, seseorang pemimpin Muslim perlu berada di masjid untuk beribadah dan perlu juga berada di rumah rakyat untuk membantu mereka. Kebajikan rakyat tidak boleh diabaikan termasuk dalam aspek material dan kesenangan duniawi. Jika boleh kemiskinan dibasmi sepenuhnya dan semua rakyat hidup dalam keadaan senang lenang.

Antara contoh yang terbaik ialah pemerintahan khalifah Omar bin Abdul Aziz. Beliau terkenal sebagai seorang pemimpin yang bertakwa lagi adil. Pemerintahannya memakan masa 30 bulan. Dalam masa itu kemiskinan berjaya dibanteras dan rakyat ketika itu hidup dalam kemewahan. Berhubung dengan ini Yahya bin Said meriwayatkan, “Khalifah Omar Abdul Aziz mengutus aku untuk mengutip zakat di Afrika. Aku pun melaksanakan tugas ini dan kemudiannya aku pun mencari golongan fakir miskin untuk di berikan zakat namun golongan ini tidak aku temui. Sesungguhnya khalifah Omar Abdul Aziz telah menjadikan kami manusia yang kaya raya”.

Ibadah zakat yang disebutkan dalam surah al-Hajj ayat 41 menekankan tentang aspek ini. Kebajikan rakyat dalam aspek duniawi tidak boleh dipandang ringan.

Pemimpin Dan Amar Makruf Nahi Mungkar
Terdapat sebahagian pemimpin Muslim yang tidak melupakan solat dan zakat, tetapi mereka melupakan tanggungjawab untuk mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkiran. Mereka juga tidak layak memimpin masyarakat. Berhubung dengan ini Imam Qartubi, dalam al-Jamik li Ahkamil Quran, melaporkan perkataan Imam Sahl bin Abdullah yang bermaksud, “Mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaran adalah wajib ke atas mereka yang berkuasa serta ulama”.

Tidak ada kemuliaan bagi mereka yang mengabaikan amar makruf dan nahi mungkar. “Makruf” bermaksud “sesuatu yang baik mengikut pandangan syarak dan akal,” dan “mungkar” pula bermaksud “sesuatu yang berlawanan dengan makruf sebagai contoh, meninggalkan perkara yang difardukan serta kewajipan, ataupun melakukan perbuatan yang haram sama ada berbentuk dosa kecil ataupun besar”. Tafsiran ini disebutkan oleh Muhammad ibn Illan Al-Makki dalam Dalilul Falihin (Maktabah Al-Halabi, Mesir; jilid 2)

Aspek ini amat dipentingkan oleh Islam sehinggakan, mengikut riwayat Muslim, Nabi mengizinkan penentangan dilakukan jika pemimpin melakukan ‘kufran bawaahan.’ Sahabat Abdullah bin Samit meriwayatkan, “Kami berbaiah (iaitu membuat perjanjian taat setia) agar tidak menentang kepimpinan melainkan jika berlaku ‘kufran bawaahan’ di mana di sisi Allah bukti-buktinya adalah amat jelas.” Imam Nawawi mentafsirkan ‘kufran bawaahan’ sebagai ‘maksiat yang dilakukan oleh seseorang pemimpin yang jelas bercanggah dengan kehendak agama Allah dan kaedah-kaedah Islam’. Hal ini dilaporkan dalam kitab Sahih Muslim bi Syarhi An-Nawawi (Al-Matbaah Al-Fikriah; juz. 12, 1924).

Justeru seseorang yang tidak menyeru kepada makruf dan pada ketika yang sama membiarkan serta menggalakkan perbuatan mungkar (dan yang lebih teruk lagi ialah dia sendiri terlibat melakukan kemungkaran itu), maka dia tidak layak menjadi pemimpin umat. Qadhi Iyad memfatwakan, “Apabila berlaku ke atas seseorang pemimpin tanda-tanda kekufuran, perbuatan mengubah syariat ataupun amalan bidaah, wajiblah dilucutkan kepimpinannya dan gugurlah ketaatan rakyat kepadanya. Ketika itu beliau hendaklah digantikan dengan seorang yang adil”. Fatwa ini dilaporkan dalam Sahih Muslim bi Syarhi An-Nawawi (Al-Matbaah Al-Fikriah; juz. 12, 1924).

Usaha untuk mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaran tidak akan dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa ilmu. Justeru seseorang pemimpin Muslim wajib menguasai ilmu apatah lagi ilmu agama. Rata-ratanya kita sudah mengetahui bahawa ilmu yang diperlukan bukanlah semata-mata ilmu tentang tajwid, rukun solat, mandi wajib, wuduk, tayamum dan yang seumpamanya. Ia lebih dari itu.
Di samping itu beliau juga merupakan peribadi yang bersedia untuk terus belajar dan mendengar serta menghormati pandangan golongan ilmuwan terutamanya dalam bidang agama.

Berhati-hati Memilih Pemimpin
Ketika dalam perjalanan kita disuruh berhati-hati di jalan raya. Hadis-hadis pula menyuruh umatnya berhati-hati ketika memilih pasangan hidup serta kawan. Maka dalam konteks memilih pemimpin ia sudah pasti lebih dituntut lagi kerana isunya adalah lebih besar dan kesannya lebih meluas.
Dalam surah Al-Baqarah ayat 124, Allah berfirman,  “Berkata Allah (kepada Ibrahim), ‘Sesungguhnya Allah akan menjadikan kamu Imam (pemimpin) untuk manusia’. Berkata Ibrahim, ‘Dan juga dari keturunanku.’ (Berfirman Allah), ‘Janji-Ku tidak akan diberikan kepada mereka yang zalim’.”

Ayat ini menunjukkan pemimpin tidak boleh dilantik secara sembarangan. Sehubungan dengan ini Imam Qartubi dalam Al-Jamik li Ahkamil Quran berkata, “Ayat ini (iaitu al-Baqarah ayat 124) merupakan dalil bagi satu jemaah ulama Islam bahawa pemimpin-pemimpin mestilah dari golongan yang adil, ihsan dan mulia…..Adapun yang fasiq dan zalim mereka tidak layak menjadi pemimpin”.
Nukilan Dr. Danial bin Zainal Abidin Untuk mindasuper.com

Hasil Nukilan : Dr. Danial Zainal Abidin

TERKURUNG DALAM RUMAH !!!

Tidak pernah berlaku dalam sejarah hidup saya, terkurung dalam rumah sendiri, kereta ada buah tetapi tak boleh nak dikeluarkan daripada kawasan rumah. Seolah-olah terperangkap dalam rumah sendiri. Itulah yang berlaku pagi khamis 13 Januari 2011.

Kebetulan pagi itu saya ada ceramah yang perlu disampaikan di SK Sentol Patah, Marang mulai jam 8.00 pagi. Tetapi jam 7.30 pagi dengan gopoh gapah yang bersiap. Dengan pakai baju batek, selur warna biru, berasa dah lama tak pakai baju batek semenjak bersara. Kalau dulu setiap hari Khamis pakailah baju batek.

Tiba-tiba orang rumah yang terkejut bila tekan remote control pintu pagar tak bergerak, rupa-rupanya "black out" (tiada letrik). Puas selongkar gerobok nak cari kunci pintu gate untuk dijadikan manual, tak jumpa. begitulah bila keadaan panic semua benda yang dicari tak jumpa. Akhirnya dengan muka yang tebal minta pertolongan Che Bakar, jiran depan rumah untuk hantar ke sekolah. Mujur pula anak saya ponteng sekolah hari khamis, jika tidak terpaksalah lewat ke sekolah.

Saya begitu gelisah, panik, tak tahu nak buar apapun sebab kereta ada tetapi tak boleh keluar rumah. Akhirnya jiran saya datang menawarkan keretanya untuk ke SK Sentol Patah.

Alhamdulillah, selesai masalah. Tapi minyak keretanya reserve, warna kuning tanda tak cukup minyak. Saya bercadang untuk beli minyak di Rusila, tetapi terkejut dan bimbang juga, sebab lampu jalan di Rusila dan Ru Rendang juga tidak berfungsi, tandanya tiada letrik juga. Nasib baik Shell di Rusila pakai generator dan bolelah beli minyak kereta yang dah reserve. Selamat!!.

Saya sampai di SK Sentol Patah jam 8.10 pagi, ada seroang sahaja ibubapa yang baru hadir, berasa lega juga. Saya dismbut oleh Encik Zaki, Guru Besar SK Sentol Patah. Menunjukkan kerunsingannya kerana letrik tiada. Bila tiada letrik PA system, note book dan LCD tak boleh digunakan. Saya dibawa ke kantin sekolah untuk minum pagi, kerana ibubapa hanya dua tiga orang sahaja yang sampai.

Sambil memerhati kawasan sekolah yang tenang, kerana muridnya tak sampai dua ratus orang, hanya ada 6 kelas sahaja. Bangunan lama setingkat, kecuali pejabat dua tingkat. Murid tahun 2 ada pjk di atas tapak runtuhan bangunan. Padang sekolah ada, tetapi ditenggelami air.

Sambil berbual dengan Cikgu Zaki, makan nasi lemak dan teh tarik. Jam 9.10 pagi barulah boleh bermula majlis, kerana dewan hampir penuh dengan kaum ibu lebih ramai, kaum bapa adalah 5 orang sahaja. Saya sudah biasa dengan keadaan begini. Bila ada majlis perjumpaan dengan ibubapa, biasanya kaum ibulah yang paling ramai. Itulah  dikatakan syurga di bawah tapak kaki ibu, sebab kaum ibu lebih prihatin kepada anak-anak berbanding kaum bapa. Kaum bapa sibuk sokmo!!!

Setelah menyampaikan taklimat kepada ibubapa mengenai program kecemerlangan Tahun 6, akhirnya Cikgu Zaki menjemput saya untuk menyampaikan ceramah, tetapi masa dah lewat hampir 9.45 pagi.

Tak banyak yang boleh saya sampaikan cuma ada beberapa perkara yang saya utarakan kepada ibubapa dalam majlis tersebut ialah mengenai tanggungjawab dan amanah ibubapa terhadap pendidikan anak-anak. Saya timbulkan kisah sewaktu zaman Saidina Umar Al Khattab menerima pengaduan seorang bapa mengenai anak lelakinya yang dikatakan derhaka, tetapi dihujah oleh anaknya dengan menyatakan bahawa ayahnyalah yang derhaka kerana pertama memilih ibunya daripada kalangan perempuan yang tidak baik perangainya, tidak mendidik dan memberikan ilmu yang cukup kepadanya dan ketiga menamakannya dengan nama yang tidak baik. Akhirnya Saidina Umar bersetuju bahawa ayahnyalah yang derhaka terhadap anaknya.

Kedua, saya berkongsi pengalaman mengurus di SKSS1 mengenai program tasmek diwaktu pagi sebelum memulakan sesi pembelajaran. Saya menyarankan agar ibubapa mempastikan anak-anak mereka boleh baca Quran, solat cukup 5 waktu dan berikan makanan yang baik lagi halal., Al Quran  mampu melembutkan hari anak-anak, menerangkan hati mereka, mempebaiki tingkah laku mereka. Disamping itu saya tunjukkan video clip sesi tasmek di SKSS1.

Lebih kurang 40 minit bercakap saya menamatkan ceramah ringkas, banyak perkara yang tidak sempat disampaikan kerana aturcara majlis terlalu suntuk. Akhir sesi sewaktu minum dikantin GB memberitahu saya ada penjaga yang menyumbang seratus ringgit untuk membeli Quran kepada murid-murid. Alhamdulillah ada respon terhadap ucapan saya. Dan seorang wanita bukan orang Terengganu mendekati saya dan meminta no telefon untuk dihubungi kemudian. Mungkin nak jemput saya berceramah di tempat beliau bertugas.

Inilah pengalaman pertama saya selepas bersara, sempat juga berkongsi ilmu dengan ibubapa. SEronok juga jika ada sekolah yang sudi menjemput saya. Hari sabtu ini saya akan ke SK Gong Badak untuk perkembangan staff, guru-guru sekolah tersebut.

Tuesday, January 11, 2011

Warkah dari Pesakit


Published by syifahidayah under Uncategorized

Semua yang berlaku adalah ketentuan Allah swt dan sembuh dari penyakit yang dihadapi adalah ketentuan Allah swt juga. Sepanjang 12 tahun pengalaman saya dalam perubatan ilmu Al-Quran ini, ramai pesakit yang sudah sembuh dan ada juga yang tidak dapat disembuh. Sebab itu saya selalu menasihati pesakit kita boleh berikhtiar tetapi yang menentukan sembuh atau tidak sembuh adalah Allah swt.

Di dalam video Astro Oasis siri Penawar Syifa yang terdapat didalam blog saya ini terdapat banyak testimoni dari pesakit-pesakit yang telah sembuh dan ada juga pesakit dalam siri itu yang telah kembali kepada Allah saw. Di bawah ada testimoni dari seorang pesakit saya yang menghidapi penyakit thyroid. Bacalah testimoni beliau semoga ia boleh menjadi pelajaran kepada kita semua.
————————————————————————————————
Assalamualaikum wbrt, 

Tuan Haji Lokman,
Bersama ini saya sertakan catatan ringkas tentang penyakit thyroid dan complication terhadap mata saya, seterusnya rawatan yang telah saya ambil di hospital dan juga rawatan di Perubatan Syifa Al-Hidayah. Semoga dengan catatan ringkas saya ini dapat meyakinkan bahawa perubatan Islam tidak terbatas untuk penyakit-penyakit gangguan sihir semata-mata, malah termasuk juga penyakit fizikal yang jelas dan diakui oleh perubatan moden.

Saya juga mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan setinggi-tinggi terima kasih kepada Tuan Haji dalam membantu perawatan penyakit saya.

Sekian terima kasih.
—————————————————————–

Nama saya Puan A dan berumur 40 tahun. Saya telah dikesan mempunyai penyakit Hyperthyroidism semenjak tahun 1991 ketika berusia 21 tahun. Hyperthyrodism adalah keadaan di mana keadaan kelenjar thyroid yang aktif menyebabkan penghasilan paras hormon thyroid yang tiggi dalam darah. Akibat daripada aktiviti hormon thyroid yang aktif menyebabkan kesan-kesan seperti rasa panas yang keterlaluan (heat intolerance) dan banyak berpeluh, rasa berdebar-debar (palpitation), rasa capat marah, keadaan jari yang terketar-ketar (fine tremor), gangguan kitaran haid dan cirit-birit (diarrhoea).

Semenjak itu saya telah mengambil ubat Carbimazole sebagai rawatan dan mengikuti rawatan susulan di hospital secara teratur.  Walaupun keadaan penyakit saya terkawal dengan pengambilan ubat, tetapi saya  telah mengalami beberapa kali relapse (berulang) dan pada tahun 2004 saya telah menjalani rawatan radioactive iodine (RAI) sebagai alternative rawatan memandangkan keadaan saya yang kerap relapse. 

Dengan rawatan RAI ini, penyakit Hyperthyroidism dijangka dapat dikawal tetapi akan menyebabkan pesakit mengalami keadaan sebaliknya iaitu Hypothyroidism di mana paras hormon thyroid menjadi terlalu rendah pula dan pesakit perlu mengambil ubat Thyroxine sebagai gantian kerana tubuh badan kita memerlukan paras hormon thyroid yang optimum untuk berfungsi dengan baik. 
Dalam tempuh setahun selepas saya menjalani rawatan RAI, keadaan kesihatan saya secara keseluruhannya adalah stabil dan terkawal dengan pengambilan ubat Thyroxine dan rawatan susulan di hospital. Walau bagaimanapun, saya mula mendapat kesan sampingan penyakit Hyperthyroidism, di mana saya mengalami keadaan di mana mata saya “membengkak” secara unilateral (sebelah kiri lebih besar daripada sebelah kanan) dan bola mata kiri agak menonjol keluar. Saya tidak merasa sebarang kesakitan dan Alhamdulillah fungsi penglihatan juga tidak terjejas secara keseluruhannya. Saya dirijuk kepada klinik pakar mata di hospital yang sama dan pakar mata telah kenal pasti penyakit mata saya sebagai Dysthyroid Eye Disease.  Sebagai rawatan saya perlu mengambil ubat Prednisolonedan sejenis ubat immune-suppressant untuk meredakan kesan radang pada tisu mata.

Saya faham bahawa rawatan moden adalah hanya untuk mengelakkan fungsi mata saya terjejas dan mengalami keadaan yang lebih rumit. Rawatan moden tidak mampu memulihkan keadaan fizikal mata saya yang telah menjadi “tidak normal” di mana bola mata kiri saya kelihatan lebih menonjol keluar. Saya harus terima kenyataan dan keadaan tersebut dengan pasrah dan redha.
Semasa saya terus menjalani rawatan susulan di hospital, pada sekitar pertengahan tahun 2008, keluarga saya telah mencadangkan agar turut mencuba perawatan Islam di Perubatan Syifa al-Hidayah dalam masalah kesihatan saya.  Dalam perawatan tersebut saya telah disarankan untuk membaca ayat-ayat Al-Quran tertentu setiap pagi selepas solat Subuh dan juga sebelah malam selepas solat Magrib atau Ishak. Saya juga diberi air minum dengan niat agar penyakit saya disembuhkan. Semenjak itu saya telah terus mengikuti rawatan susulan mengikut temujanji yang diaturkan. Di samping itu, saya masih meneruskan pengambilan ubat seperti yang dinasihatkan oleh doktor pakar di hospital.

Setelah terus menjalani rawatan di Perubatan Syifa Al-Hidayah dari masa ke samasa, Alhamdulillah keadaan fizikal mata saya beransur-ansur bertambah baik. Keadaan “bengkak” mata kiri saya beransur-ansur kurang dan bola mata yang menonjol keluar juga semakin kurang ketara. Di samping itu, paras hormon thyroid saya terus terkawal. Perubahan fizikal mata saya yang semakin baik turut diakui oleh doktor pakar yang merawat saya. Begitu juga mereka di sekeliling saya, keluarga dan rakan-rakan turut menyedari perubahan fizikal mata saya.

Kini, saya masih lagi meneruskan perawatan di Perubatan Syifa Al-Hidayah dan juga dihospital.  Alhamdulillah, saya bertambah yakin bahawa setiap penyakit itu ada ubatnya, dan Al-Quran itu adalah sebaik-baik penawar kepada segala penyakit


Ku sangka sihir rupanya saka…

Published by syifahidayah under Gangguan Saka,Gangguan Sihir

Kami menaiki Mas flight ke Sandakan pada hari Jumaat, 17 Desember 2010. Dalam flight kami leka main iPad jadi perjalanan yang makan masa 2 jam setengah tidak rasa lama. Sejak ada ipad ni, kami jarang tidur dalam flight. Sepanjang perjalanan, saya tulis nota dalam iPad perkara-perkara yang harus kami lakukan until membuat persedian dan rancangan penubuhan organisasi baru kami Pusat Rawatan Islam Al-Hidayah. 

Sampai di Sandakan, jam 6.30 petang, hari sudah malam. Di sini waktu magrib awal, jam 5.45 petang sudah magrib. Ini adalah kali pertama kami menjejakan kaki kami di bumi Sandakan. Sahabat kami Fairul menjemput kami di lapangan terbang. Pertama kali berjumpa dengan Fairul. Ini semua kehendak Allah, pergi ke tempat yang kami tidak pernah pergi tapi sudah ada sahabat yang menyambut kedatangan kami. Semua kemudahan logistik, tempat penginapan dan tempat until berubat telah disediakan. Alhamdulilah syukur kepada Allah.

Keesokan hari, Sabtu kami dibawa ke pejabat Fairul untuk mengubat. Ketibaan kami sangat di nanti oleh penduduk Sandakan. Ramai pesakit dari persekitaran kawasan Sandakan dan dari Sempurna, Lahat Datu, Tawau dan Suan Lamba datang untuk berubat dengan kami. Terdapat juga pesakit yang datang untuk membuat rawaatan dari Kota Kinabalu dan Brunai datang berjumpa dengan kami hari itu.

Seperti biasa berbagai jenia penyakit dirawat dari penyakit kanser, kerosakan buah pinggang, SLE, cerebral parsi, urat saraf hingga ke sakit gangguan sihir dan saka. Pada keselurohannya kebanyakan pesakit yang kami rawat di Sandakan adalah sakit gangguan sihir atau gangguan sihir. Dalam lawatan kali ini, kami merawat sebanyak 100 orang pesakit.

Kami rasa pelik bila berubat disini sebab 75% dari penyakit yang diubati terdiri dari sakit gangguan sihir atau gangguan saka. Kebanyakan daripada pesakit yang datang tidak sedar mereka ada gangguan saka dalam badan mereka. Terdapat beberapa insiden yang kami sangka benda halus dalam badan pesakit itu adalah gangguan sihir tetapi gangguan saka.  Bila ditanya kepada sahabat kami Fairul kenapa ramai pesakit gangguan disini, dia menyatakan amalan sihir menyihir dan perbomohan adalah amalan budaya yang masih kuat diamalkan dari dahulu hingga sekarang. 

Terdapat banyak amalan-amalan kurafat yang masih dipraktikan dikalangan masyarakat disini.  Antara amalan kurafat yang sangat popular ialah kegunaan tudung muka mayat atau tudung penutup muka jenazah. Tudung penutup muka ini jadi rebutan dikalangan orang-orang pengamal ilmu sihir. Mereka menggunakan tudung penutup muka mayat untuk membuat sihir ilmu pemisah atau sihir penghalang jodoh atau menutup rezeki sesaorang. Amalan sihir yang dikutuk dan dilaknati oleh Allah swt masih lagi berleluasan di kawasan ini.

Saya merawat seorang pesakit lelaki berumur 18 tahun. Mengikut kedua ibubapa pesakit itu, anak mereka sering hilang akal dan selalu mencederakan diri sendiri di rumah. Bila discan, terdapat 46 ekor jin dalam badan pesakit ini. Selepas disoal jawab, didapati pesakit ini pernah mengikut kumpulan KRK (kappa rho kappa), sebuah kumpulan berasal dari Phillipines. Untuk menjadi anggota kumpulan ini, pesakit ini dikehendaki melalui acara permujaan yang bertentangan dengan agama islam. Amalan syirik ini melibatkan pemujaan iblis dan merosakkan aqidah. Bila diteliti di tangan pesakit, terdapat tanda 3 titik yang sejajar yang melambangkan anggota kumpulan ini.

Kami solat zohor untuk hari itu di Masjid Besar, Sandakan. Sungguh strategic lokasi masjid itu terletak di atas sebuah bukit dan di tepi pantai. Kami diberitahu semasa kejadian tsunami dua tahun lepas, ramai penduduk Islam dan bukan Islam di kawasan itu berhimpun di masjid itu untuk menyelamatkan diri, walaupun disitu ada sebuah rumah berhala Cina yang juga terletak diatas sebuah bukit. Kenapa orang bukan Islam tidak pergi ke rumah berhala Cina dan berlari ke masjid itu sebab teringat peristiwa di Acheh di mana orang ramai yang berhimpun di masjid terselamat dari ancaman tsunami. Bila keadaan bergini ramai yang bukan Islam percaya akan keajaiban kekuasaan Allah tetapi masih lagi tidak mahu menganut agama Allah.

Keesokan hari, kami berpeluang menziarah Kampong Sim Sim, perkampungan atas air di tepi pantai. Memanglah unit dan berlainan persekitaran kampung atas air yang menempatkan beratus rumah rumah penduduk tempatan. Rioh sekampung bila ada berita artist dari Semenanjung menziarah perkampungan mereka. Kami puas bergambar atas titian kayu usang yang menyambung rumah-rumah disitu. Gerun juga bila berjalan atau titian kayu yang sudah usang sebab dibawah air laut yang dalam. 

Kami sempat pergi ke Sepilok kawasan hutan simpanan untuk kediaman orang-orang utan. Selain dari menengok orang utan disitu, kami sempat berjumpa dengan 9 raja jin disitu. Kami diberitahu tempat itu terdapat 9 negeri jin. Kami dihampiri oleh beberapa ekor raja jin yang ingin mendampingi kami. Kami menolak perlawaan raja jin itu atas sebab kami ikut akan perintah Allah swt melarang umat Muhammad mendampingi golongan Jin. Bila perlawaan mereka kami menolak, dengan sinis seorang dari raja Jin itu berkata “bodoh sebodoh bodoh manusia..”. 

CONFIRM HAJI LOKMAN BERSARA!!!(PENGASAS SYIFA AL HIDAYAH)



Setelah membaca SMS daripada Haji Lokman pada minggu lepas, saya mula yakin bahawa beliau akan berhenti kerja. Dua hari lepas  saya mengambil beliau dari Aiport Sultan Mahmud, Kuala Terengganu bersama Asyraf Muslim, beliau mengesahkan telah letak jawatan 24 jam pada 31 Disember 2010. Berakhirlah kerjaya beliau setelah hampir 15 tahun berkhidmat di Suruhanjaya Securiti  sebagai Pengurus Keselamatan.Sebelum itu beliau pernah bertugas dengan Shell di Miri, Sarawak.

Sekarang beliau akan menumpukan sepenuh masa sebagai Pengurus Pusat Rawatan Perubatan Al Hidayah di kediaman beliau di Villa Bestari, Sungai Pusu, Gombak. Klinik Perubatan Al Hidayah akan beroperasi seperti klinik biasa, iaitu dibuka setiap hari kecuali Sabtu dan Ahad. Masa operasi bermula jam 9.00 pagi himgga 5 petang, kemudian sebelah malam  dibuka mulai jam 9.00 malam hingga 11.30 malam.

Setelah hampir sepuluh tahun lebih beliau menjalankan rawatan perubatan Syifa Al Hidayah hanya di waktu malam sahaja, kecuali hujung minggu daripada siang hingga ke larut malam, akhirnya beliau mengambil keputusan untuk menjalankannya sepenuh masa. Tahniah dan syabas kepada Tuan Haji Lokman kerana berani mengambil langkah yang positif kearah melaksanakan amanah Allah, dalam usaha menyakinkan masyarakat bahawa ayat-ayat suci Al Quran, kalam Allah mampu menjadi penawar, penyembuh segala jenis penyakit samaada yang berpunca daripada gangguan mahkluk halus ataupun berpunca daripada virus atau kuman ataupun penyakit ”medical”.

Selama dua hari satu malam beliau dan Asyraf memberi rawatan pelbagai jenis penyakit di rumah saya di Kuala Ibai yang melibatkan hampir 300 orang pesakit. Bermula jam 10.30 pagi Sabtu (8.1.2011) hingga Ahad (9.1.2011) jam 2.00 petang. Tak sempat nak berbual panjang dengan beliau disebabkan kesibukan melayani terlalu ramai pesakit yang hadir samaada yang baru pertama kali ataupun yang sudah ada temujanji.

Hari sabtu rawatan sehingga jam 3.00 pagi. Jarang-jarang ada klinik yang beroperasi sehingga pagi. Tetapi bagi Haji Lokman dan Asyraf waktu itu masih awal lagi, kerana di rumah beliau biasanya jam 4.00 pagi barulah selesai memberi rawatan. Jam 6.00 pagi bangun tidur bersiap pula untuk ke tempat kerja. Itulah rutin kehidupan Haji Lokman.

Suatu perubahan yang terpaksa dilakukan dalam melaksanakan rawatan ini mulai pertengahan bulan ini, ialah beliau terpaksa mengenakan bayaran untuk setiap rawatan yang diberi. Berbeza sebelum ini, pesakit hanya memasukkan wang ikut keikhlasan hati ke dalam Tabung Anak Yatim yang disediakan. Tetapi memandangkan beliau sudah tiada sumber pendapatan lagi kerana telah berhenti kerja, maka untuk menyara keluarga dan menampung kos hidup yang semakin tinggi, beliau dengan izin Allah akan mengenakan sedikit bayaran untuk perkhidmatan yang diberi. Berapa jumlahnya, tak mahal, hanya RM50.00 seorang bagi sakit biasa, tetapi jika ada unsur rasukan bayarannya RM80.00 seorang. Manakala 10% daripada bayaran tersebut akan dimasukkan ke dalam Tabung Pembinaan Rumah Anak Yatin Janda Baik.

Saya kira jumlah bayaran tersebut tidak membebankan. Bukan bermakna beliau ”menjual ayat Quran” tetapi sebagai manusia, beliau perlu makan, minum, tempat tinggal dan perjalanan serta pergerakan beliau dengan kapal terbang dan kereta perlu dibayar. Oleh itu saya yakin dan percaya bagi sesiapa yang pernah menerima rawatan beliau, bayaran tersebut tidaklah seberapa berbanding dengan harga kesembuhan daripada rawatan tersebut.

Sewaktu memberi rawatan di Kuala Ibai pada dua hari lepas ada beberapa peristiwa yang menyebabkan saya terkejut iaitu kereta ambulan KTS masuk ke ruang laman rumah saya.  Rupa-rupanya seorang pesakit yang telah tidak sedar diri beberapa hari kerana sawan dibawa oleh anak-anaknya untuk mendapatkan rawatan daripada Haji Lokman. Dengan katil sekali gus dibawa masuk ke dalam klinik. Ada 5 orang pesakit dirawat yang berkerusi roda. Dan yang menariknya ada seorang bayi yang baru dilahirkan kembar tiga turut juga berubat.

Begitu juga seorang wanita berumur 73 tahun tetapi  masih sihat dan kuat daya ingatannya datang dari Johor Bahru seorang diri dengan bas ekspres, hadir untuk kali kedua untuk berubat dengan Haji Lokman. Yang menariknya beliau masih mempunyai ibu yang berusia lebih 90 tahun. Sungguh ajaib, kuasa Allah memberkati beliau. Ingatannya masih baik dan mampu menggunakan telefon bimbit dengan mudah sekali. Banyak lagi kisah menarik yang ingin saya kongsikan dengan pembaca mengenai gelagat pesakit yang ”menyerbu” rumah saya pada hari Sabtu. Pelbagai alasan yang diberi oleh pesakit untuk membolehkan mereka masuk cepat berjumpa dengan Tuan Haji Lokman, keadaan ini memeningkan kepala serta menyebabkan stress kepada jiran saya yang sungguh baik hati, suami isteri membantu secara sukarela bagi menguruskan kemasukan pesakit untuk berjumpa dengan Haji Lokman. Mereka ialah Tuan Haji Abu Bakar dan isterinya yang saya panggil "Kak Yah".

Untuk makluman pembaca saya telah mengenali Tuan Hajo Lokman lebih daripada 7 tahun. Orang yang memperkenalkan kami berdua ialah Ustaz Haji Mohd Shukri bin Ali, Pegawai Agama Istana Terengganu. Sewaktu itu saya menjadi Guru Besar di SK Seri Budiman, Kuala Terengganu.


Pada awal tahun 2004 kehadiran pesakit tidak seramai sekarang. Tetapi semenjak program "As Syifa" keluar dalam TV Astro, permintaan melambung tinggi, sehingga pesakit terpaksa menunggu sampai lebih empat bulan barulah boleh berjumpa dengan Haji Lokman.


Saya bersyukur kerana mengenali Haji Lokman. Apa yang menyebabkan saya seronok bersama beliau, ialah secara tidak langsung saya turut terlibat dalam usaha untuk mempromosikan kepada semua orang agar membaca al Quran. Untuk sembuh, pesakit wajib membaca ayat-ayat yang diberi. Membaca ayat-ayat ini ibarat makan ubat. Jika tidak dibaca ayat yang disyorkan, maka seolah-olah pesakit tidak makan ubat.


Bagi mereka yang kurang mesra dengan al Quran, maka mereka perlu belajar membaca al Quran. Sesungguhnya membaca al Quran ini ibarat komputer yang memerlukan Windows untuk menghidupkannya. Jika windows itu rosak ataupun 'corrupt' maka komputer tak akan hidup.


Begitulah manusia, apabila meninggalkan al Quran, seolah-olah komputer yang dibeli mengguna pakai program yang direka sendiri. Akhirnya timbullah pelbagai masalah. Kita berhenti dulu setakat ini.


Bersambung.......

Friday, January 7, 2011

ARTIKEL BERKAITAN DENGAN PERUBATAN ALTERNATIF

Mulai esok 8 Januari 2011 rumah saya akan mula dikunjungi oleh pesakit yang akan menjalani rawatan dengan Perubatan Islam Al Hidayah yang diasaskan oleh  Tuan Haji Lokman bin Abdul Hamid. Pagi ini hampir 50 orang pesakit telah menempah nombor giliran untuk bertemu beliau. Walaupun sudah hampir 200 orang pesakit yang telah ada temujanji, tetapi dengan suasana cuaca yang lembab dengan hujan yang lebat, saya jangka mungkin, ramai yang ada temu janji mungkin tidak hadir, kerana masalah hujan. Ada pesakit dari Kuantan dan Kota Bharu yang telah menelfon saya memaklumkan tidak dapat hadir kerana bimbang tersekat di perjalanan.

 Insya Allah Tuan Haji Lokman dengan Asraf Muslim akan nula berubat pada beok pagi mulai jam 11.00 pagi hingga waktu 12 malam. Pada hari ahad iaitu 9 Januari klinik akan dibuka sehingga jam 1.00 petang sahaja. Pesan saya, para pesakit diminta bersabar sewaktu menunggu, kerana biasalah pesakit yang dijangka hadir ramai, dan memerlukan tahap kesbaran tinggi untuk menanti giliran. Allah kasih kepada mereka yang sabar. Dan proses menunggu itu sebenarnya sebahagian daripada proses terapi. Allah menguji tahap kesabaran kita. Jika nak semboh kenalah bersabar.

Sempena dengan kehadiran Tuan Haji Lokman dan Asyraf Muslim saya muatkan artikel berkaitan dengan kaedah perubatan berasaskan ayat al Quran untuk tatapan dan renungan kita bersama. Artikel ini pernah keluar dalam Berita Harian pada tahun 2009 sempena dengan satu seminar perubatan Islam yang diadakan di UUM, Sintoj, Kedah.

---------------------------------------------------------------------uuuuuu-----------------------------------------------------------------------

 

200 peserta kupas isu makhluk halus

SINTOK 26 Jun 2009 - Lebih 200 peserta menghadiri Bengkel Perubatan Islam yang mengupas tentang gangguan makhluk halus dan cara mengatasinya di Dewan Seminar Fakulti Teknologi Maklumat (FTM) Universiti Utara Malaysia (UUM), semalam.

Bengkel itu bertujuan memberi pengetahuan kepada warga universiti ini mengenai kaedah dan cara mengatasi perkara-perkara ghaib termasuklah jin, iblis atau lebih dikenali sebagai makhluk halus.Memang tidak dinafikan sejak kebelakangan ini banyak perkara mengenai unsur kehilangan, sesat jalan dan perkara ghaib sering diperbincangkan di media massa.

Program setengah sehari itu dikendalikan oleh seorang pengamal perubatan Islam, Sharhan Shafei dan tiga orang pembantunya. Sharhan berkata, semua pihak harus akur kewujudan makhluk halus di alam ini sejak kejadian Adam a.s. bagi menyesatkan manusia dengan perangai dan niat jahatnya seperti yang tersebut di dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Walaupun kebolehan makhluk ini mengatasi manusia namun manusia lebih hebat kerana manusia dijadikan dari tanah yang diberikan akal fikiran sementara iblis dan syaitan dijadikan dari api, kata Sharhan.``Apabila kedua makhluk ciptaan tuhan ini bermusuh berbagai cara digunakan untuk mengatasi pihak lawan sama ada cara halus atau kasar,'' katanya, di sini.

Bagaimanapun, kata beliau, sebagai ciptaan Allah, manusia diberikan kelebihan untuk menangkis serangan makhluk halus atau ghaib dengan amalan-amalan yang diajar al-Quran.Kata beliau, al-Quran merupakan petunjuk dan mengandungi seluruh aspek kehidupan serta tidak ketinggalan dalam bidang perubatan spiritual dan fizikal yang merangkumi ubat bagi roh dan jasad sekali gus.

Bomoh kena beriman


MENURUT Islam, hukum menggunakan khidmat bomoh atau seumpamanya dalam perubatan tradisional terbahagi kepada dua iaitu harus dan haram.

Keharusan menggunakan khidmat bomoh dalam perubatan tradisional tidak bersifat mutlak. Ia dibatasi dengan syarat tertentu seperti perubatan bomoh itu menyebutkan nama Allah atau salah satu namanya; menggunakan ayat al-Quran dan doa yang diamalkan oleh nabi dan rasul; dan menyakini bahawa perkara itu tidak dapat memberi kesan secara tersendiri, bahkan adalah dengan ketentuan Allah. (Al-Qardawiy, 1994:1:319).

Perubatan bomoh menjadi haram jika cara rawatannya itu bertentangan dengan syarak. Misalnya, menggunakan khidmat jin, pemujaan, jampi, mantera dan sebagainya yang tidak mengikut cara rawatan yang diharuskan oleh Islam. Ia juga menjadi haram apabila orang yang berubat benar-benar beriktikad bahawa bomoh itulah menyembuhkan penyakitnya tanpa bergantung kepada Allah.

Kesan daripada amalan mempercayai bomoh ini sangat besar. Ia telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Jika ia terus diamalkan, akan mendatangkan imej buruk kepada Islam dari pandangan agama lain.Akidah adalah penentu kaitan seseorang dengan Islam, manakala syariah pula sebagai pengukur keteguhan dan kekuatan akidah. Akidah Islam adalah akidah yang bebas daripada sebarang unsur syirik dan khurafat. Syirik adalah pencemaran terhadap akidah, sementara khurafat adalah pencemaran terhadap kewarasan berfikir.

Menggunakan khidmat bomoh yang mengubati dengan cara yang salah seperti menggunakan khidmat jin, jampi mantera dan pemujaan bukanlah jalan penyelesaian yang hakiki bagi semua penyakit dan masalah yang dihadapi. Usaha menyelesaikan sesuatu masalah digalakkan oleh Islam. Tetapi, biar bertepatan dengan fitrah kemanusiaan dan selari dengan ajaran al-Quran dan sunnah.

Setiap bomoh hendaklah merasakan bahawa setiap sesuatu yang dilakukannya itu kerana takut kepada Allah. Pada masa sama, orang yang menerima rawatan daripada bomoh pula harus memastikan rawatannya tidak bercanggah dengan Islam. Ingatlah peringatan Rasulullah bermaksud: "Sesiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, nescaya akan memasuki neraka." (Hadis riwayat Muslim dalam Kitab Iman, Hadis No. 134)

FAKTA - Mengenai Bomoh

- Islam, akil baligh serta mengetahui apa yang diucapkannya.
- Tidak melakukan perkara yang membawa syirik, sama ada melalui iktikad, perkaraaan atau perbuatan.
- Tidak meninggalkan ibadat wajib dalam Islam.
- Tidak melakukan maksiat, jenayah dan yang bertentangan dengan undang-undang.
- Tidak memecahbelahkan masyarakat/keluarga.
- Tidak mentafsir Islam mengikut hawa nafsu.
- Tidak memasukkan atau menggunakan unsur bercanggah dengan Islam seperti sihir, ilmu hitam dan menurun.
- Tidak bersahabat dengan makhluk ghaib dengan tujuan mendapat pertolongan dalam perkara yang ditegah syarak walaupun dikatakan dengan`jin Islam'.
- Tidak meminta pertolongan jin dalam rawatan perubatan sehingga membawa kepada syirik.
- Tidak meminta pertolongan jin untuk mencari kekuatan dan kehebatan.
- Tidak meminta dan menggunakan khidmat jin untuk sihir/nujum atau`menurun'.
- Tidak melakukan ramalan buruk atau baik pada masa akan datang dan tidak menyatakan ramalan yang lalu dengan cara tebakan, tenung dan sebagainya.
- Mengikhlaskan hati dan amalan semata-mata Allah.
- Sentiasa bertakwa kerana Dia saja yang memberi kebaikan/pertolongan.
- Sumpah tidak dibolehkan ketika perbomohan, sebaliknya hanya ikrar mengikut kesesuaian.
- Pengamal perbomohan tidak boleh taat secara membuta tuli kepada bomoh.
- Bacaan, amalan dan ikrar yang ada dalam pengakuan hendaklah selaras dengan akidah dan syariat.
- Dalam ikrar (fizikal atau mental) hendaklah tidak mempunyai unsur mensyirikkan Allah dan menjatuhkan maruah seseorang

.

Adab Semasa Perbomohan
- Tidak mendakwa perkara yang ghaib.
- Bomoh tidak boleh takbur dan tidak boleh menganggap orang lain lemah dan lekeh.
- Bomoh hendaklah melarang pesakitnya memuja, mengagung dan taksub kepadanya.
- Bomoh hendaklah mengikut adab sopan dan tata tertib Islam ketika menolong seseorang sama ada bersendirian atau bersama pesakit.
- Hendaklah menjaga kesopanan susila adab sebagai orang Islam.

Berubat hanya kerana Allah

ISLAM menitikberatkan soal akidah, syariah dan akhlak. Segala amalan dan kepercayaan yang tidak berdasarkan kepada sumber asal al-Quran, hadis, ijmak dan qias adalah ditolak.

Dalam urusan perubatan kepada pesakit, satu perkara perlu diingat oleh semua pihak, bahawa hanya Allah berkuasa mutlak menentukan sesuatu dan menjadikannya, lebih-lebih sesuatu dan menjadikannya, lebih-lebih lagi sakit dan sembuh adalah hak-Nya.  Manusia hanya disuruh berusaha dan berikhtiar.

Firman Allah bermaksud: “Dan janganlah engkau (wahai Muhammad SAW) menyembah atau memuja yang lain dari Allah, yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan juga tidak dapat mendatangkan mudarat kepadamu. Oleh itu, sekiranya engkau mengerjakan yang demikian, maka pada saat itu menjadilah engkau dari orang yang berlaku zalim (terhadap diri sendiri dengan perbuatan syirik itu).” (Surah Yunus, ayat 106)

Islam juga tidak membenarkan umatnya menggunakan sihir kerana Rasulullah bersabda bermaksud: “Jauhilah tujuh perkara yang merosakkan”. Sahabat bertanya: “Apakah tujuh perkara itu?” Baginda menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh perempuan baik melakukan maksiat terkutuk.” (Hadis riwayat al-Bukhari, Kitab Sahih al-Bukhari, Kitabul Hudud, Bab 44 ms 33)


Bagaimanapun, umat Islam tidak dilarang untuk menggunakan jampi. Rasulullah bersabda bermaksud: “Berkata Abu Zubair, aku dengar Jabir bin Abdullah berkata, seorang lelaki daripada kami telah disengat kala jengking. Ketika itu kami duduk bersama Rasulullah. Maka, berkata seorang lelaki wahai Rasulullah! Bolehkah aku jampi? Baginda bersabda “Barang siapa yang mampu antara kamu untuk memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah dilakukan.” (Hadis riwayat Imam Muslim – Bab Istihbab al-Ruqyah min Al-Ain wa An Namlah wal Hummah wal An Naqrah, Jld 9, ms 5905)

Jampi boleh guna ayat al-Quran, bahasa difahami

PERBOMOHAN tidak boleh dikaitkan dengan zat Allah dan sifat-Nya atau maksud di sebalik kalimah atau nama Allah atau sifat-Nya. Contohnya, mengatakan ilmu bomoh itu diterima terus daripada Allah atau kudratnya adalah kudrat Allah atau melalui mimpi berjumpa wali, malaikat atau lainnya.

Pengamalan bomoh tidak boleh diertikan sebagai maksud yang tersirat daripada diri atau jasad dan roh Rasulullah SAW, malaikat, nabi dan orang salih seperti Nur Muhammad menjelma ke dalam diri dan sebagainya.

Mengikut Garis Panduan Perbomohan Menurut Islam yang dikeluarkan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia, tidak boleh memuja dan memperhambakan diri kepada sesuatu kuasa atau peribadi yang dipercayai boleh mendatangkan nasib baik atau buruk kepada seseorang, contohnya, seperti wali syeikh, rijalul ghaib, roh datuk nenek, sahabat, hantu, dewa, keramat, kubur, keris, busur, batu, kayu, cincin, kain kuning atau putih.Dalam perbomohan juga, tidak boleh menggunakan tangkal dan azimat yang mengandungi rajah atau tulisan yang tidak difahami seperti objek tertentu dan bercampur aduk dengan ayat al-Quran. Jangan menganggapkan tangkal mempunyai kuasa.

Penggunaan jampi dibolehkan dan digunakan dengan syarat:
- Menggunakan ayat al-Quran.
- menggunakan bahasa yang difahami.
- Jangan mengiktikadkan bahawa jampi itu yang memberi kesan sehingga si pesakit menjadi sembuh, sebaliknya Allah yang berkuasa.

Mengikut garis panduan itu, tidak boleh mengamalkan bacaan tertentu yang tidak difahami maknanya. Ia dikhuatiri mengandungi kata-kata pemujaan kepada berhala, iblis, syaitan atau nama berhala orang kafir serta bercampur aduk dengan ayat al-Quran.

Selain itu, tidak boleh membaca mana-mana ayat al-Quran secara songsang, seperti Qul Huwallah.

Dalam perbomohan Islam, tidak boleh menggunakan al-Quran secara tidak wajar menurut syarat.
Contohnya, menggantung al-Quran dan tunggu berpusing atau tidak untuk dijadikan alasan tertentu. Jika berpusing begini dan jika tidak, begini pula maksudnya. Semuanya ini termasuk menghina al-Quran (Istihza’)

Perkara lain yang dilarang adalah meninggalkan ibadat wajib yang dituntut Islam seperti sembahyang lima waktu dan puasa Ramadan ketika melakukan amalan perbomohan.

Tidak boleh mengguna perbuatan ‘menurun’, memanggil roh orang mati atau sebagainya dalam kaedah perbomohan.

Perkara lain yang perlu diberi perhatian mengikut garis panduan itu adalah mengenai bayaran perkhidmatan atau pengeras. Sebarang pengeras tidak boleh digunakan dalam perbomohan jika ia dikaitkan dengan untung nasib, buruk atau baik.Bayaran perkhidmatan hanya dibolehkan mengikut kesesuaian perubatan dengan tidak terlampau tinggi hingga boleh memberatkan atau menindas dan tidak membawa maksud tolong-menolong.

Perbomohan mengikut Islam juga melarang upacara yang mengandungi unsur penyembahan, pemujaan, memohon bantuan atau memperhambakan diri kepada kuasa atau tenaga ghaib seperti mempersembahkan sedulang makanan dan menyembelih ayam.

FAKTA - Syarat perbomohan

- Tidak menggunakan sihir, ilmu hitam, tilik, tenung, nujum, ramalan tapak tangan dan silap mata.
- Tidak mengaitkan pengeras dengan suatu akibat.
- Tidak percaya kepada sial dan mudarat menimpa seseorang.
- Tidak melakukan syirik seperti semah pantai, sembelihan binatang, buang ancak.
- Tidak menyembelih binatang untuk sesuatu tujuan yang bukan syarie.
- Tidak mnggunakan amalan/bacaan tertentu menggunakan unsur meminta izin/bantuan daripada makhluk ghaib.
- Tidak menyajikan makanan untuk menjamu penunggu.
- Tidak mentaati bomoh atau seseorang pada perkara yang jelas bercanah dengan akidah dan syariat Islam.
- Menolak syarat yang bertentangan dengan akidah, syariah dan akhlak Islam.
- Tidak boleh dikaitkan dengan pantang larang sesuatu unsur pemujaan, meminta izin, perlindungan atau bantuan daripada makhluk ghaib seperti hantu, jin, penunggu atau orang halus dan sebagainya.
- Tidak boleh memenuhi kehendak pantang larang bomoh sehingga melakukan perkara yang ditegah Islam. Ia seperti meninggalkan tangung jawab sebagai suami atau isteri, membuka aurat, bersunyian antara pesakit yang lain jantina dengan bomoh saja.
- Perkara yang harus dan halal dalam syariat Islam tidak boleh dihukumkan haram atau sebaliknya.
- Tidak menurut apa-apa pendapat bomoh yang bertentangan dengan apa juga perkara berhubung akidah, syariah dan akhlak Islam.

Minta bantuan roh wali, jin dalam perbomohan khurafat

Oleh Mohd Shukri Hanapi

BANYAK amalan khurafat dan syirik yang bertentangan dengan ajaran Islam masih diamalkan dalam masyarakat Islam hari ini. Antaranya menggunakan khidmat bomoh, dukun, pawang atau seumpamanya dalam perubatan tradisional.

Kuatnya kepercayaan segelintir masyarakat Islam kepada bomoh jelas dilihat apabila mereka sering menemui bomoh ketika ditimpa sesuatu masalah, sakit atau untuk menghidupkan adat istiadat dan perkara khurafat. Mereka mempercayai bomoh dapat mengubati penyakit atau menyelesaikan masalah.

Masyarakat yang memang percayakan kepada kebolehan bomoh atau pawang ini berpendapat ‘perkara misteri dan mistik seperti gangguan hantu perlu diselesaikan dengan cara yang mistik dan misteri juga’.

Begitu pun, khidmat bomoh yang berakar umbi dalam masyarakat Melayu tidak boleh disalahkan secara menyeluruh. Sebaliknya, kegiatan mereka perlu ditinjau agar tidak bercanggah dengan Islam.

Tidak dinafikan, sesetengah amalan perubatan tradisional bomoh ini mempunyai unsur kesalahan dan kesesatan. Kesesatan yang dimaksudkan adalah pada perbuatan bomoh dan kelakuan orang yang berubat itu sendiri.

Biasanya, kesesatan yang sering berlaku dalam perlakuan atau perbuatan bomoh adalah mereka mempunyai hubungan dan meminta pertolongan daripada jin sebagai 'khadam'.
Sewaktu melakukan perubatan, kononnya jin akan menjelma masuk ke dalam badan mereka. Penjelmaan ini dipanggil 'Tanasakhul Arwah'. 'Menurun' yang dilakukan untuk mengubati pesakit itu bergantung kepada pertolongan dan kuasa jin bagi membantu merawat pesakit.

Berkaitan amalan ini, tidak ada nas daripada al-Quran, hadis dan pendapat lain yang muktabar yang boleh dipakai bagi menyokong bahawa jin dan arwah wali boleh menjelma masuk ke dalam diri seseorang serta memperkenalkan dirinya dengan nama yang dijelmakan.

Memohon sesuatu perkhidmatan daripada jin memang berlaku dan ia akan memberikan khidmatnya. Tetapi, khidmatnya itu ada imbalannya seperti melakukan apa juga amalan yang menyebabkan syirik kepada Allah atau berbuat sesuatu yang membawa penuturnya terkeluar daripada Islam.

Selain itu, perubatan bomoh kebanyakannya tidak menggunakan kaedah agama seperti menggunakan ayat al-Quran. Meskipun, kadang kala sesuatu perubatan itu dimulakan dengan lafaz 'basmalah' dan diakhiri dengan selawat. Namun, antara 'basmalah' dan selawat itu dimasukkan jampi mantera yang berbentuk seruan kepada jin bagi meminta pertolongan dalam mengubati pesakit. Ada juga bomoh yang menggunakan ayat al-Quran dan pada bacaan awalnya betul, tetapi pada akhir bacaannya ada sedikit perubahan dan penambahan.

Dalam mengubati pesakit, sesetengah bomoh menyebut nama 'benda' sebagai memuja sambil membaca-baca mantera dengan menggunakan istilah dalam bahasa yang tidak difahami.

Jelasnya, kepercayaan kepada sesuatu selain Allah boleh menyebabkan seseorang itu terkeluar dari Islam.

Allah berfirman bermaksud: "Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). Dan Tuhanmu (Allah) telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya." (Surah al-Israk, ayat 22-23).

Firman-Nya lagi bermaksud: “Orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk." (Sural al-An'am, ayat 82).

Selain itu, ada hadis yang memberi amaran kepada umat Islam terhadap perkara ini dan menegah mereka bergantung harap kepada jampi dan tangkal semata-mata untuk sembuh daripada penyakit. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesungguhnya jampi, tangkal dan sihir adalah syirik." (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Baihaqi dan al-Hakim).

Jampi mantera dengan kata-kata yang tidak difahami (rukaiyah) adalah ditegah. Berlainan pula mengenai sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah seperti: "Wahai Tuhan kami, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah kesusahan, sembuhkanlah dan Engkaulah yang menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan daripada Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan apa-apa kesan kesakitan." (Hadis riwayat al-Bukhari - dipetik daripada al-Qardawiy, 1994:1:318).

Tuesday, January 4, 2011

Nilai Islam masih kurang dalam budaya korporat

Oleh Shuhairimi Abdullah

BH 2011/01/04

Pembangunan keusahawanan tanpa asas agama suburkan semangat materialistik, individualistik

FAKTOR keagamaan perlu dijadikan nilai teras dalam merangka model keusahawanan. Keperluan kepada nilai rohaniah mampu mengawal manusia daripada melakukan sebarang pencerobohan yang boleh menggugat kepentingan agama dan kemaslahatan manusia.


Al-Buraey dalam karyanya Administrative Development: An Islamic Perspective menjelaskan komitmen mengaplikasikan nilai agama dalam amalan keusahawanan masih kurang dipraktikkan. Kelemahan ini kerana pengusaha terpengaruh orientasi nilai ekonomi kapitalis yang bermotifkan elemen material.
Sistem ekonomi abad 21 yang berorientasikan sistem ekonomi kapitalis menyaksikan organisasi korporat berperanan dominan dalam bidang ekonomi.

Pemusatan kuasa ekonomi global Barat pada syarikat multinasional mengancam penjajahan semula sesebuah negara yang turut memberi kesan kepada nilai hidup dan budaya setempat.

Jika budaya negatif ini tidak disaring dengan elemen agama, ia boleh memberi impak tidak baik dan mempengaruhi amalan keusahawanan. Dalam konteks itu terbuka kemungkinan peniruan budaya korporat yang membawa bersama gaya hidup materialistik yang tamak, mementingkan diri, rakus dan boros.

Usahawan Melayu memerlukan model budaya korporat berteraskan agama supaya dapat memiliki kekuatan ekonomi yang tumbuh daripada penghayatan agamanya. Meskipun ini bukanlah suatu yang mudah namun pendekatan keagamaan akan dapat mendisiplinkan perilaku manusia.
 

Dalam era persaingan ekonomi seperti sekarang, pembinaan budaya dan kelompok usahawan memang tidak dapat dielak tetapi usaha ini hanya akan bermanfaat andainya budaya keusahawanan dapat memberikan landasan peribadi unggul kepada individu usahawan.

Kajian Perbadanan Usahawan Nasional Berhad (PUNB) pada 2006 mendapati 65 peratus nisbah kegagalan usahawan Bumiputera berpunca masalah disiplin dan integriti yang lemah, manakala 35 peratus disebabkan masalah perniagaan yang diceburi.

Bekas Ketua Pegawai Eksekutif PUNB, Mohd Nasir Ahmad, berkata kajian dilaksanakan terhadap projek usahawan Bumiputera dalam bidang peruncitan (PROSPER) mendapati sebahagian besar usahawan Bumiputera gagal membentuk disiplin dan integriti hingga menyebabkan perniagaan dijalankan gulung tikar.

Kehidupan masyarakat hari ini bersifat kompleks berbanding masyarakat silam. Tambahan dalam era globalisasi, golongan usahawan lebih terdedah kepada pelbagai risiko dan saingan bersifat terbuka.

Oleh itu, timbul kecenderungan segelintir usahawan meminggirkan ajaran agama demi mengejar cita-citanya untuk berjaya dalam lapangan yang diceburinya. Banyak kajian mendapati sebahagian besar usahawan Melayu menceburi bidang perniagaan menghadapi pelbagai masalah.

Antaranya, terlalu bergantung kepada subsidi kerajaan yang giat berlaku pada era 70-an dan 80-an, berterusan sehingga kini.

Bagi sesetengah usahawan yang menghadapi masalah kekurangan modal terpaksa mendapatkan bantuan pinjaman institusi kewangan mengenakan kadar bunga pinjaman termasuk meminjam daripada ‘ceti’ yang mengenakan kadar faedah tinggi hingga membebankan mereka.

Realiti yang berlaku ini bercanggah dengan keusahawanan Islam dan jelas wujudnya halangan yang terpaksa ditempuh usahawan sehingga ada kala terpaksa meminggirkan pendekatan agama dalam amalan keusahawanan mereka.

Usahawan Perusahaan Kecil dan Sederhana (PKS) Bumiputera selalunya ‘mudah lupa’ apabila berada di puncak kejayaan. Mereka beranggapan perkara remeh-temeh tidak boleh menggugat prestasi syarikat perniagaan.

Kajian yang dilakukan Biro Pembangunan IKS, Dewan Usahawan Muda Bumiputera Malaysia (BEPI-DUMBM) mendapati antara perkara asas sering diabai pengusaha IKS Bumiputera ialah:




  • Tidak amanah, jujur, telus dan bertanggungjawab dengan perniagaan sendiri.






  • Tidak menjaga kebajikan pekerja sebaik mungkin.




  • Gagal membayar gaji, elaun, KWSP pekerja mengikut jadual.




  • Bertukar gaya hidup dari mengamal sistem kehidupan Islam kepada kehidupan Barat.




  • Terlalu sibuk dengan perkara yang tidak berhubung kait urusan perniagaan seharian.




  • Mengabaikan soal kualiti produk dengan sengaja.




  • Tidak mempunyai pasukan Penyelidikan dan Pembangunan (R&D) yang bertauliah serta mengambil sikap sambil lewa dalam pengurusan kewangan dan pentadbiran syarikat.




  • Mempunyai sikap ego dan berfikiran sempit dalam menghadapi situasi menjelang AFTA 2003.




  • Mempunyai budaya ‘tunggu dan lihat’ barulah berfikir untuk mencari peluang yang pada ketika itu sudah terlambat.

    Usahawan yang berjaya perlu sentiasa mempunyai sikap positif untuk merangsang aspirasi kejayaan mereka. Pastinya, kejayaan berkenaan perlu dirangsang dengan asas agama. Oleh itu, usahawan berjaya apabila kaya nilai kerohanian bukan sekadar kaya material.


    Islam mempunyai pandangan berbeza dalam hal ini kerana segala tingkah laku manusia dicorakkan melalui pedoman wahyu yang hakiki.


    Pembangunan keusahawanan yang tidak diimbangi asas agama akan menyuburkan semangat materialistik dan individualistik dikalangan usahawan.


    Akibatnya, usahawan hilang arah tujuan yang merugikan mereka bukan saja di dunia tetapi juga di akhirat kelak





  • KOMEN CGSYED




  • Saya sengaja memasukkan artikel ini untuk tatapan kita bersama kerana sepanjang saya mengurus sekolah dari tahun 2002 hingga akhir 2010, saya sering berurusan dengan kontraktor Bumiputera. Memang ada yang jujur dan amanah serta profesional, tetapi bilangannya terlalu kecil, mengikut anggaran saya kurang daripada 20%  Sementelahan pula jika projek tersebut lebih berbau politik. Contohnya dekat pilihanraya, ataupun projek tersebut diselia oleh konsultan ataupun JPP suatu masa dahulu.


    Kadang-kadang projek yang diberi kepada kontraktor tanpa berasaskan kepada keperluan sekolah ataupun tanpa merujuk kepada (GB) selaku tuan rumah. Pernah berlaku suatu masa dulu beberapa orang kontraktor datang menemui saya selaku GB memaklumkan bahawa dia dapat projek contohnya, tukar atap bangunan, tukar nako, tukar pintu, tukar dinding daripada kayu kepada batu. Walhal ada atap masih baru, ada tile baru diganti.
    Selaku GB (tuan rumah) kita lebih tahu apa sebenarnya keperluan sekolah waktu itu, tetapi pegawai yang di atas tanpa turun melihat atau bertanyakan keperluan sekolah memberikan projek kepada kontraktor.


    Apa yang boleh kita rumuskan, projek ini lebih bermotif untuk memberi pekerjaan kepada kontraktor Bumiputera yang menyokong satu-satu fahaman politik. Yang menjadi mangsanya pihak sekolah, kerana kebanyakan kontraktor yang tidak diselia oleh JKR atau JPN atau PPD bermasalah.


    Kerja disiapkan melepasi masa yang ditetapkan, hasil kerja tidak memuaskan, malahan kadang-kadang menimbulkan masalah baru kepada sekolah.Inilah antara pengalaman yang sering saya hadapi dahulu tetapi kes seumpama ini seolah-olah diterima pakai sebagai budaya perniagaan kaum Bumiputera. 


    Pernah satu ketika saya terbaca artikel, penulis memberi pandangan sinis, satu kenyataan, "Peniaga Bumiputera tidak boleh berjaya kalau tidak ada kabel(kroni)!" Sukar untuk menerima kenyataan ini tetapi dari satu aspek seolah-olah ada kebenaran berdasarkan kenyataan yang dihadapi.


    Begitu juga satu-satu projek seperti jalur lebar untuk kemudahan internet di sekolah, sehingga hari ini saya difahamkan oleh guru-guru di SKSS 1, kemudahan internet masih bermasalah dan tidak berfungsi. Pelbagai pegawai dari Kementerian atau Jabatan hadir untuk melihat, tetapi tiada apa yang boleh dilakukan. Projek gajah putih.


    Walhasil saya amat bersetuju dengan kenyataan penulis artikel tersebut,nilai agama sangat penting. Tak kira, kontraktor ke, peniaga ke, pengurus ke, atau siapa sahaja yang diberi amanah untuk melaksanakan tanggungjawab tidak menghayati nilai-nilai agama, biar besar mana serban atau kopiah yang dipakai, tidak memberi faedah. 

    Pernah satu ketika sewaktu projek membina makmal komputer di SKSB, Juruteknik JKR yang menyelia projek berkopiah, tetapi apa yang terjadi, kerana maknga dan tidak teliti serta tidak porfessional, projek itu terbengkalai dengan meninggalkan runtuhan laluan serta  kemusnahan taman herba di sekolah itu, rupa-rupanya projek tersebut masih belum diluluskan. Akibatnya sekolah terpaksa menguruskan untuk membersihkan runtuhan serta kemusnahan tersebut, kerana kontraktor yang memulakan kerja, meninggalkan projek tersebut. Beberapa tahun kemudian barulah projek itu diuruskan oleh kontraktor yang lain.

    Akhir sekali saya ingin berkongsi dengan pembaca, saya pernah menasihatkan kontraktor sewaktu lawatan tapak bersama jurutera JKR satu ketika dahulu, apa pesan saya kepada mereka,

    Fikirkanlah bahawa sekolah yang tuan-tuan nak buat projek ini semuanya Melayu, Islam. Mungkin ada waris warah atau sanak saudara tuan-tuan disini, elakkan daripada buat kerja yang menganyayai bangsa dan keturunan kita. Pastikan hasil keuntungan yang diperolehi yang nak dibagi kepada anak isteri akan jadi darah daging itu halal, sebab dia akan mempastikan rumah tangga, anak-anak kita Allah berkati mereka."

    Wallahualam, maaflah kalau ada yang tersinggung. Inilah diantara pengalaman pahit yang pernah saya alami.