Friday, January 28, 2011

Prestasi dan Prestise

25/1/2011 | 19 Shafar 1432 H | Hits: 1.691
Oleh: adi putra
 

dakwatuna.com – Saya akan memulai tulisan ini dengan beberapa firman dari Allah dan petuah kekasihNya, Rasulullah SAW
“…maka berlomba-lombalah kamu dalam hal kebaikan…” (QS Al-Baqarah 148)
“…sungguh yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi ketaqwaannya…” (QS Al-Hujurat 13)
“…sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.” (HR Bukhari)
Kawan, tiga buah hujjah di atas sedang berbicara pada kita tentang satu hal, prestasi. Prestasi adalah suatu hal yang sangat penting, sehingga dia menjadi pantas diserukan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasul. Berprestasi sebenarnya menjadi tuntutan bagi setiap muslim, karena harga seorang muslim di hadapan Allah nantinya ditentukan oleh prestasi taqwa yang dia ukir selama hidup di dunia. Allah dan Rasul memberikan sebuah pattern bahwa yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi prestasi taqwa-nya.
Tapi sadar kita atau tidak, ada saudara kembar yang selalu hadir bersama prestasi, yaitu prestise, kebanggaan. Prestasi dan prestise adalah dua hal yang mungkin akan selalu hadir bersama. Ketidakbijakan kita untuk menempatkan mereka dengan baik bisa berujung petaka bagi kita, kalau tidak akan di dunia, mungkin petaka di akhirat. Yang harus kita sadari adalah bahwa prestise hanyalah merupakan konsekuensi logis ketika prestasi luar biasa telah terukir. Prestise seharusnya bukanlah sesuatu yang menjadi alasan dan membuat kita mau bergerak. Lihatlah apa yang didapatkan oleh manusia-manusia sekelas Abu Bakar Sidq, Khalid bin Walid, Muhammad Al-Fatih, Thariq bin Ziyad, sampai Hasan Al Banna. Mereka adalah manusia-manusia yang bergerak karena dorongan nuraninya, karena kecintaan dan kepatuhan pada Tuhannya, mengukir prestasi-prestasi yang sangat agung, sehingga prestise adalah suatu hal yang hadir dengan sendirinya, bukanlah hal yang mereka kejar.

Namun sebaliknya, mungkin banyak di antara yang sering terjebak pada kondisi dimana kita sering berpikir prestise terlebih dahulu, sering berpikir ketenaran atau keterkenalan di awal. Sehingga tak jarang fokus pada prestise itulah yang membuat kita tak pernah mengukir prestasi, ataupun kalau prestasi itu pernah hadir hanya akan menjadi prestasi di mata manusia saja, tidak di mata Allah. Bukankah kita sudah sama-sama tahu, betapa penting yang namanya niat, betapa sangat menentukan yang namanya niat, seperti yang diungkapkan dalam Hadits Arba’in yang pertama, “sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya…”. Jika prestise menjadi niat utama kita bergerak, maka akan sangat rugi lah kita, karena ia hanya akan menjadi fatamorgana saja, begitu “wah” di mata manusia tapi nol besar di mata Allah.

Kuingin ingatkan pada pribadi ini dan pada kawan-kawan semua, berhati-hatilah. Luruskan lagi niat di setiap gerak dan ibadah kita, di setiap tegak dan sujud kita. Buang jauh-jauh perasaan mau bergerak karena hanya mengejar sebuah prestise, tapi bergeraklah karena kita sama-sama ingin berprestasi di mata Allah. Semoga setiap helaan nafas kita menjadi bagian prestasi yang akan terukir indah dan akan menjadi penolong kita nanti di hadapan Allah.

Terakhir, sebuah pertanyaan renungan, sudah adakah prestasi yang kita ukir sampai detik ini yang bisa kita banggakan di hadapan Allah kelak??’
Wallahu’alam bisshawab

Thursday, January 27, 2011

Kita semakin sensitif terhadap agama

oleh ABDUL JALIL ALI
Sinar Harian 1/27/2011 7:20:48 AM
Di Johor, sikap calon wanita Pas enggan bersalaman dengan lelaki, dijadikan isu dalam kempen Pilihan Raya Kecil Dewan Undangan Negeri (DUN) Tenang. Di seberang Tambak Johor, Lee Kuan Yew menggesa umat Islam Singapura agar tidak terlalu berpegang kuat kepada ajaran Islam.

Di mana-mana pun isu berkaitan agama – Islam atau bukan Islam – selalu menarik minat umum. Sekiranya tidak ditangani dengan berhemah, perkara yang dianggap paling kecil pun boleh jadi panjang meleret sehingga mencetuskan kehangatan yang luar biasa. Seminggu dua ini ada keresahan, khasnya dalam kalangan kaum India di negara kita, sehingga memaksa kerajaan mengadakan banyak perbincangan, NGO menganjurkan perdebatan, para cendekiawan berdiskusi, dan pemimpin kaum India mendabik dada sebagai wira. Malah ada beberapa penunjuk perasaan ditangkap polis. Semuanya gara-gara perkataan ‘paria’ yang disebut hanya dua kali dalam Interlok, novel Sasterawan Negara, Datuk Abdullah Hussain yang menjadi buku teks sastera sekolah menengah.

Bagi sesetengah orang, ini isu remeh. Tetapi bagi penganut agama Hindu, perkataan yang disebut dalam novel itu adalah satu penghinaan besar. Samalah juga halnya dengan kenyataan Menteri Mentor yang juga bekas Perdana Menteri pulau republik itu, dalam buku terbarunya, ‘Lee Kuan Yew: Hard Truths to Keep Singapore Going’, yang segera mendapat reaksi hangat orang Islam kita. Perkasa menyifatkan Kuan Yew sebagai ‘mentor nyanyuk’ dan menganggap kenyataannya dalam buku tersebut adalah satu penghinaan terhadap Islam. “Kita akan mengajar Lee, dan akan bertindak dalam waktu terdekat ini,” kata Setiausaha Agungnya, Syed Hassan Syed Ali dalam satu kenyataan media. Bersalaman dengan bukan muhrim pun adalah isu agama.

Sebab itu tidak menghairankan apabila keengganan Normala Sudirman bersalaman dengan penyokongnya, dibangkitkan sebagai modal kempen oleh Presiden MCA, Datuk Seri Dr Chua Soi Lek pada pilihan raya kecil di Tenang. Menurut Chua, pendirian calon Pas itu dianggap menimbulkan kebimbangan sebagai pemimpin yang tidak mesra rakyat. Mungkin ketua MCA itu tidak memahami Islam. Sebab itu kenyataannya yang dibuat untuk membantu calon UMNO, Mohd Azahar Ibrahim, mungkin menjadi senjata makan tuan. Saya menyokong Timbalan Perdana Menteri, Tan Sri Muhyid­din Yassin yang menyarankan MCA supaya berhenti main isu salam calon Pas. Katanya, ada banyak lagi isu yang lebih mendesak yang boleh ditimbulkan dalam konteks pilihan raya kecil itu.

Tetapi di luar kempen DUN Tenang, ramai pihak masih tidak puas hati dengan Soi Lek. Mufti Perak, Tan Sri Harussani Zakaria mahu supaya orang nombor 1 MCA itu memohon maaf kepada umat Islam kerana mempertikaikan tertib bersalam wanita Islam. Katanya, apa yang dikatakan oleh Soi Lek adalah satu penghinaan terhadap Islam. Perkasa menyokong apa yang dikatakan oleh mufti tersebut. Menurut Syed Hassan, seperti yang dilaporkan media, isu itu sepatutnya tidak dibangkitkan langsung sebab sudah jelas orang Islam, baik lelaki mahu pun wanita, memang tidak boleh bersentuhan dengan pihak yang bukan muhrim.

Sehingga rencana ini ditulis tidak ada tanda-tanda Soi Lek akan meminta maaf. Harap-harap beliau, dan siapa sahaja yang sepemikiran dengan beliau kini, memahami sensitiviti orang Islam. Jangan cakap sembarangan, sebab orang Islam pun mudah sensitif, sama seperti orang Hindu dan penganut lain-lain agama. Akhir-akhir ini sensitiviti terhadap agama, termasuk Islam, mudah tercetus di tempat kita. Silap sikit sahaja bercakap mengenai agama, kita akan dianggap menghina. Baru-baru ini seorang bukan Islam @ seorang anggota MCA mengadu gema azan subuh dari sebuah masjid di Bangsar dikatakan mengganggu penduduk. Orang Islam menganggap itu sebagai satu penghinaan terhadap agama. Dia akhirnya meminta maaf setelah umat Islam di kawasan tersebut meng­adakan tunjuk perasaan.

Harap-harap selepas ini jangan ada lagi cakap-cakap yang meminta supaya azan di masjid dan surau diperlahankan. Sementara kita bersetuju dengan Harussani, Perkasa dan siapa sahaja yang menentang penghinaan terhadap Islam yang dilakukan oleh orang bukan Islam, kita juga sepatutnya menentang penghinaan terhadap Islam yang dilakukan oleh orang Islam sendiri. Barang kali Soi Lek boleh dimaafkan dalam isu amalan bersalam dalam Islam sebab beliau bukan orang Islam dan tidak tahu hukum-hakam agama. Sama juga halnya dengan isu melarang laungan azan di surau dan masjid yang dibangkitkan oleh orang bukan Islam yang tidak tahu hukum.

Betapa pula sekiranya orang Islam sendiri secara terang-terangan melakukan amalan-amalan yang ditentang oleh agama? Tidakkah juga mereka dianggap sebagai menghina agama? Kita marah dan cepat melenting apabila seorang wakil rak­yat wanita Cina masuk ke surau dengan hanya memakai kebaya dan tidak menutup kepala. Betapa pula halnya dengan sekian ramai wanita Islam, termasuk dalam kalangan orang terkenal, yang tidak menutup kepala? Ada sesetengah kita yang seolah-olah sengaja menolak kaedah kesopanan Islam dengan menggayakan pakaian yang mendedahkan aurat. Buka atas, buka bawah. Buka lengan, buka betis, tanpa sedikit pun rasa malu dan bersalah. Ini juga satu penghinaan terhadap agama.

ALAM ADALAH AYAT-AYAT ALLAH

LALAT


 
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun,  ….
Para ilmuwan telah menemukan bahwa susunan tubuh lalat itu sangat kompleks. Serangga ini menggunakan teknik yang canggih dalam kegiatan terbang dan hidupnya. Para ilmuwan sekarang mengakui bahwa mereka tidak dapat meniru lalat dalam masalah penerbangan meskipun teknologi canggih berkembang begitu pesat di Barat pada masa kini. Bisa dikatakan bahwa jumlah penelitian yang menarik pada lalat lebih dari sepuluh ribu penelitian.
 
Para ilmuwan mengatakan, "Kami masih belum tahu banyak tentang makhluk aneh ini”. Bahkan mereka sering mengadakan konferensi dan seminar dalam upaya untuk meniru makhluk yang lemah ini. Mereka mengakui bahwa mereka tidak kunjung memiliki kemampuan untuk membuat sel tunggal!! Di sinilah pentingnya firman Allah Ta`ala yang menantang orang-orang ateis:
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ * مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ) [الحج: 73-74].
“Hai manusia, sebuah perumpamaan telah dibuat, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa”
 
Apakah kita telah mengenal Allah dengan sebenarnya padahal kita telah menyatakan beriman kepada-Nya?
--------------------
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel
www.kaheel7.com/id

Wednesday, January 26, 2011

Gejala sosial kronik


Oleh Faizul Azlan Razak  BH 2011/01/26

623 anak tak sah taraf di Terengganu tahun lalu

KUALA TERENGGANU: Seramai 623 anak tidak sah taraf dilahirkan di negeri ini tahun lalu, dipercayai akibat pergaulan bebas terutama di kalangan wanita Islam.

Lebih mengejutkan, daripada jumlah itu kadar tertinggi dicatatkan pada Mei tahun lalu dengan 72 kelahiran, diikuti 60 kelahiran pada September.


Berdasarkan perkiraan kasar, pasangan terbabit dipercayai melakukan perbuatan terkutuk itu sembilan bulan sebelum kelahiran, iaitu sekitar akhir Ogos dan Disember atau lebih tepat lagi pada sambutan Kemerdekaan Negara dan Tahun Baru.

Pengarah Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) Terengganu, Ghazali @ Suhaimi Muhammad, berkata jumlah kelahiran anak tidak sah taraf itu dicatatkan di sembilan pejabat JPN Terengganu membabitkan bayi pelbagai agama daripada pasangan tempatan dan bukan warga negara.

Katanya, pejabat JPN Kuala Terengganu mencatatkan jumlah anak tidak sah taraf tertinggi dengan 188 kelahiran diikuti Besut (102), Dungun (78), Setiu (68), Kemaman (63), Hulu Terengganu (43), Marang (30), Al-Muktafi Billah Shah (28) dan Kerteh (23).

“Melihatkan perangkaan ini, ia jelas sangat menggerunkan kerana menandakan gejala sosial semakin kronik. Lebih menyedihkan, majoriti bayi dilahirkan beragama Islam dan tidak diketahui siapa bapa sebenarnya.

“Senario ini juga secara tidak langsung membuatkan JPN menjadi beban kepada masalah sosial dan boleh menyebabkan berlaku masalah lain di kalangan masyarakat terutama membabitkan masa depan bayi terbabit.
“Jadi, kita meminta kerjasama Jabatan Agama Islam Negeri dan Jabatan Kebajikan Masyarakat untuk bersama membanteras pergaulan bebas bagi mengelak mereka terjerumus ke lembah maksiat dan melahirkan anak luar nikah,” katanya selepas Majlis Penganugerahan Taraf Kewarganegaraan Malaysia di pejabat JPN Terengganu, di sini, semalam.

Seramai lima orang menerima sijil warga negara mengikut Perkara 15A Perlembagaan Persekutuan dan lapan lagi mengikut Perkara 19(1)(a) Perlembagaan Persekutuan dengan lapan berasal dari Kemboja serta masing-masing satu dari Indonesia dan India.

Ghazali berkata, walaupun anak luar nikah mendapat keistimewaan sama rata dari segi kemudahan kesihatan dan pendidikan, namun bayi berkenaan berdepan risiko masa depan tidak menentu.

Effective Doa

Doa is a Weapon - Effective Time for Doa






Doa is a Weapon - Effective Time for Doa

Actually I am saddened to know many people do not know how to make a simple doa. They forgot to do:

1. The basics of starting and closing the niyat with Salawat.
2. The need to close doa with "Ameen"
3. etc
4. etc

The Prophet (peace be upon him) has said that the doa is our weapon. But we claim to be believing Muslims, yet we do not know how to do this.

When we do not know how to operate our own weapon, we will find alternatives from the non-Muslims which we think is ok.

At the personal level, even some Muslims are practising meditation from non-Muslim Yoga teachers. And some are learning the "frequencies aura internal energies" from the Eastern Religions to enhance their incomplete doa. And there are some will recite Quran together for purpose of healing with the other reciters reading other scriptures from other religions (Buddha, Hindu, Christian etc) as part of UNIVERSAL Worship ? MASHALLAH........

At the national level, what we do is buy weapons from non-Islamic superpowers and trying to fight the Islamic enemies, and pay much money for replacement weapons, upgrade weapons, and the too many ammunitions. In the end, wars are never-ending and we end-up buying from them, and they get richer !

Wake up and please learn to make full use of doa so that ALLAH will response to our prayers. Many times what happen to our doa, is that the doa is "hanging" because it is not complete. The same way happens if we send an application without completing the mandatory details, the application get KIV.

If the Prophet and the Sahabah and the Imam/Ulama can make doa in the proper way, why don't we do the same? Is it because we feel our amal is higher than them ?, or we are better than them ?! Shocked

Please stop dreaming, our life is too short for dreaming. Wake up and start learning make proper doa.
The Etiquette of Making Du`a

In His book ‘Du`a; The Shield of A Believer; Arrows of Light in The Darkness of Night’, Sheikh Salamah Abul-Kamal, a Muslim writer and Da`iyah, mentioned some manners pertaining to making Du`a:

“1-Praising Allah and sending peace to His Prophet, peace and blessings be upon him.
2-Admitting one’s sins and showing repentance.
3-During supplication, one should begin with himself.
4-Repeating one’s supplication three times.
5-Asking Allah with firm will and seriousness.
6-Using short rich expressions in supplication.
7-Observing humbleness and humility during supplication.
8-The voice of the suppliant should be neither so loud nor so low.
9-The suppliant should end his supplication with saying ‘Ameen’ meaning ‘O Allah! Accept my supplication!’
10-Gaining provision through lawful means.”

Based on the English translation of the book, published by Dar Al-Manarah, Egypt.

The Optimum Times for Making Du`a

There are many optimum times of Du`a mentioned by scholars. The late Imam Hasan Al-Banna, in his Tract of Munajaah, sheds light on some of them, as follows:

“1-Between Azan and Iqamah. It reported that the Prophet, peace and blessings be upon him, said: Du`a made between Azan and Iqamah is not rejected.” The Companions said: “What shall we say, O Messenger of Allah?” “Seek Allah’s grace in this world and in the afterlife”, replied the Prophet, peace and blessings be upon him.” (Reported by Abu-Dawud and At-Tirmizi)

2-In prostration. Abu Hurairah, may Allah be pleased with him, quotes the Prophet, peace and blessings be upon him, as saying: “The nearest a Muslim is to his Lord is while he is in prostration. So, make Du`a in it.” (Reported by Muslim, Abu Dawud and An-Nasa’i)

3-While on travel and while being subject to oppression. The Hadith of the Prophet, peace and blessings be upon him, reads: “Three kinds of Du`a are surely answered; the Du`a of an oppressed, the Du`a of a traveler and the Du`a of a parent against his son or daughter.” (Reported by Abu-Dawud and At-Tirmizi)

4-In the middle of the night. Also, Abu Hurairah, may Allah be pleased with him, quotes the Prophet, peace and blessings be upon him, as saying: “Almighty Allah manifests Himself at the first heaven, during the last third of night, and says: ‘Is there any suppliant so that I answer him? Is there anyone asking so that I fulfill his need? Is there any seeker of forgiveness so that I forgive his sins.’”

Based on Imam Al-Banna’s Tract of Munajaah, published by Dar Ash-Shihab, Egypt.

Almighty Allah knows best.


Mustajab Doa Ibu untuk Anaknya.


Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam telah berpesan kepada kita betapa mustajab doa seorang ibu untuk anaknya. Dalam Sahih Muslim, baginga kisah seorang lelaki, Juraij, yang begitu kuat beribadah kepada Allah. Hari-harinya diisi dengan solat sunat. Beliau mempunyai tempat khas untuk solat - pondok kecil yang agak tinggi tempatnya.

Pada suatu hari, ibunya datang menziarahinya. Sambil mendongakkan kepalanya, si ibu memanggil anaknya: "Juraij, saya ibumu, cakaplah denganku!"


Juraij khusyuk beribadah dan berkata dalam hatinya: "Ya Allah, saya utamakan solatku atau ibuku?"


Juraij memilih meneruskan ibadahnya. Ibunya letih berteriak dan akhirnya meninggalkan tempat Juraij.


Esoknya ibunya datang dan memanggilnya lagi tetapi Juraij tidak mengendahkan dan terus beribadah.


Ibunya pulang ke rumah dengan rasa hampa dan marah dalam hatinya. Semasa itulah wanita itu berdoa: "Ya Allah, Juraij itu adalah anakkku, aku mahu bercakap dengannya tapi dia menolak bercakap denganku. Ya Allah, jangan engkau matikan dia kecuali Engkau tunjukkan padanya akan pelacur."

Ada gembala kambing yang sentiasa menggembala kambingnya di sekita pondok Juraij. Gembala kambing itu terserempak dengan 'bunga desa' yang cantik. Mereka berasmara sehingga wanita itu hamil dan akhirnya melahirkan anak. Namun gembala itu menghilang.

Semasa ditanya orang kampung, anak siapakah itu, wanita ini sekadar menuding ke arah pondok Juraij. Orang-orang kampung beramai-ramai mendatangi Juraij dan memanggilnya dengan marah. Juraij keluar kehairanan. Mereka menuduhnya berzina sehingga wanita itu melahirkan bayinya. Juraij bertanya: "Di mana bayi itu"

Maka mereka membawa bayi itu menghadapnya. Juraij berkata: "Tinggalkan aku untuk solat dan berdoa."

Sesudah itu, Juraij menepuk perut bayi dan bertanya: "Wahai bayi, siapakah bapamu?"

Dengan izin Allah, bayi itu menjawab: "Bapaku ialah gembala kambing di kampung ini."

Penduduk kampung terkejut dan malu kerana merobohkan pondok Juraij dek tertipu oleh wanita itu. Mereka berjanji akan membangunkan pondoknya dengan emas dan perak, namun Juraij menlak dan meminta pondok seperti asalnya.

Rasulullah menyatakan kisah Juraij menunjukkan betapa kuat doa seorang ibu, apatah lagi yang disakiti anaknya.

Banyak iktibar daripada kisah Juraij.
  • Kewajiban anak memenuhi panggilan ibu lebih utama dibandingkan menyempurkan ibadah sunat. Dengan hadith ini, dihukumkan menurut fiqah bahawa memenuhi panggilan ibu adalah wajib berbanding meneruskan solat sunat.
  • Doa ibu sangat mustajab - sama ada maksud baik atau tidak. Oleh itu, ibu perlu berhati-hati dan usah ikut perasaan. 
  • Ibu harus sentiasa memantau dan mengambil tahu akan keadaan kehidupan anak-anaknya agar tidak terjadi salah faham antara kededuanya.
  • Ibu haru ssentiasa mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya, terlebih lagi pada waktu solat dinihari.
  • Ibu harus sentiasa menjaga mulutnya dan usah mudah tersinggung - maafkanlah dan nasihatkan serta sentiasa berdoa untuk anaknya.
  • Sebagai pengasuh, ibu perlu dilengkapi ilmu demi memupuk anak yang soleh. 
 Seorang alim besar, Syeikh Sya`roni Ahmadi Al-Qudsy berkata: "Doa ibu adalah seperti jelmaan malaikat, bahkan ibu adalah seperti jelmaan malaikat yang nampak. Ertinya, hati-hatilah dengan doa ibumu kerana doanya begitu cepat dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta`ala."

Para ibu sekalian, berdoalah sentiasa akan kebaikan anak-anak anda di dunia dan akhirat


Tuesday, January 25, 2011

Bagaimana orang politik mencari pengaruh

oleh ONG TEE KIAT
Sinar Harian 1/25/2011 7:12:41 AM
Orang politik memang biasa mencari pengaruh, biar apa cara sekali pun. Ada percaya kepada cara jujur, iaitu melalui kerja bersungguh-sungguh tetapi lebih ramai juga cenderung kepada jalan pintas yang kurang membebankan, sama ada dari segi kewangan mahupun guna tenaga.
Publisiti sememangnya mustahak bagi kerjaya seseorang ahli politik kerana ia faktor penentu yang akan mencorakkan persepsi rakyat terhadap tokoh berkenaan. Namun kebergantungan melampaui batas terhadap publisiti tanpa kerja yang ikhlas dan jujur hanya akan memperdayakan sesetengah rakyat buat jangka pendek sahaja.

Ini bererti sebarang jalan pintas bagi orang politik mencari pengaruh tidaklah akan berkekalan. Bagi mereka yang bijak mencari jalan pintas bagi mempopularkan diri, satu amalan lumrah yang tidak dapat diasingkan daripada mereka ialah amalan politik bermusim.

Mungkin sesetengah pihak menyamakan keadaan ini dengan sikap hangat-hangat tahi ayam seseorang. Namun pada hakikatnya, sifat yang dimaksudkan lebih merupakan sifat kurang tabah sehingga sesuatu minat atau tugasan tidak berkekalan. Walhal politik bermusim lazimnya diamalkan secara bermotif dan terancang. Umpamanya, menjelang pilihan raya umum atau kecil sering kelihatan wujudnya khidmat rakyat yang mendadak.

Ada kalanya pemberian peruntukan mengejutkan pun turut diumumkan. Permasalahan lapuk yang lama terbiar juga tiba-tiba mendapat keprihatinan pelbagai pihak. Sebenarnya segala-gala berita baik berupa ‘durian runtuh’ ini boleh menjadi kenyataan semata-mata kerana perhitungan politik untuk meraih sokongan rakyat. Ketika orang ramai rasa terharu atas keprihatinan orang politik yang dicurahkan terhadap mereka, perlulah tertanya-tanya pada fikiran mereka mengapa tidak permasalahan dan rintihan rakyat, khasnya yang lapuk, ditangani dari semasa ke semasa? Mana letaknya kejujuran mereka dalam usaha menyelesaikan masalah? Dalam hubungan ini, terdapat juga pemimpin politik yang gusar atas adanya pelbagai tuntutan rakyat setiap kali menjelangnya pilihan raya.

Memang tidak disangkal wujudnya seribu gelagat manusia, termasuk mereka yang suka mengambil kesempatan, tetapi kalaulah orang politik tidak mengamalkan politik bermusim dengan begitu terserlah, maka tidaklah perlu rakyat tunggu sekian lama untuk membangkitkan rintihan dan tuntutan mereka. Demikian juga, sekiranya keperluan rakyat dapat dilayani sepanjang masa dengan penuh kepekaan, maka tiadalah ruang bagi mana-mana pihak mengeksploitasi rintihan dan permasalahan. Ini adalah logik yang cukup mudah difahami tetapi malangnya orang politik yang kurang peka itu tidak semestinya memahami logik berkenaan. Biarpun janji-janji mendadak itu dapat dikotakan, namun hasilnya kurang dihargai rakyat kerana keikhlasan orang politik yang terlibat, sering dicurigai.

Dari segi keberkesanan kos pula, sebarang projek dilaksanakan secara mendadak semata-mata untuk menepati matlamat politik tertentu biasanya juga mengakibatkan perbelanjaan luar jangkaan kurang keberkesanan kosnya. Memandangkan wujud pelbagai kesan negatif akibat amalan politik bermusim itu, rakyat cukup terkeliru lagi terkilan atas berleluasanya amalan politik sebegini. Setiap kali kita kedengaran hebatnya cemuhan parti pembangkang terhadap parti pemerintah atas pengumuman peruntukan khasnya dalam kempen pilihan raya umum dan kecil. Namun, mereka tidak berani menuding jari kepada diri sendiri biarpun mereka sedar sesetengah tindak-tanduk mereka sebenarnya tidak lain daripada dua kali lima.

Berikutan tsunami politik dalam PRU 12 pada 2008, ramai pengundi rasa terkilan apabila satu demi satu janji Pakatan Rakyat ditaburkan dalam kempen pilihan raya tinggal impian semata-mata, kononnya kerana kekangan tertentu yang timbul akibat dasar Kerajaan Negeri (kerajaan BN) sebelumnya. Pada hemat saya, alasan ini mengelirukan. Realitinya, di negeri-negeri dikuasai PR sekarang, biarpun adanya kekangan dimaksudkan, kerajaan PR tetap boleh membatalkan sebarang keputusan atau dasar sedia ada untuk memudahkan pelaksanaan dasarnya.

Bagi pengundi yang bijak, janji-janji pelbagai tidak lagi diterima secara menyeluruh serta membuta-tuli. Rakyat berhak hendak tahu bagaimana dan bila janji-janji itu dapat dilaksanakan. Tidaklah wajar sekiranya pihak PR terus berdolak-dalik bahawa kegagalan mengotakan janji mereka adalah disebabkan kekangan dasar pemerintahan sebelumnya, ataupun kerana mereka masih belum lagi menerajui tampuk pemerintahan di Putrajaya. Natijahnya, rakyat tetap mengharapkan agar kedua-dua pihak BN dan PR terus peka terhadap rintihan dan tuntutan rakyat berbilang kaum setiap masa serta bersungguh-sungguh bertindak mengatasinya selaras dengan semangat 1Malaysia: “Rakyat Didahulukan, Pencapaian Diutamakan.” *

Penulis :Datuk Seri Ong Tee Keat merupakan mantan Menteri Pengangkutan. Beliau juga ialah Ahli Parlimen Pandan.