Wednesday, August 3, 2011

KULIAH SUBUH MASJID TERAPUNG


Daripada Anas bin Malik, katanya, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang menghadiri majlis ilmu pada Ramadan, Allah mencatat setiap langkahnya menyamai ibadat setahun dan dia bersamaku (Rasulullah) di bawah Arasy.

Pagi ini Kuliah Subuh membincangkan mengenai kelebihan dan keistemewaan Ramadhan Bayangkanlah, teman anda mengajak anda ke kebun buah-buahan di kampungnya. Sampai sahaja anda di kebunnya anda dapati pelbagai jenis buah-buahan terdapat di kebun tersebut. Anda diberi kebebasan untuk mengambil seberapa banyak yang anda ingini. Malangnya masa yang diperuntukkan terlalu singkat.

Amat bodohlah jika anda melepaskan peluang yang ada. Durian, manggis, rambutan, duku, langsat dan pelbagai jenis buah-buahan terdapat dalam kebun tersebut. Mudah pula untuk memetiknya.

Begitulah ibaratnya bulan Ramadhan yang disediakan oleh Allah untuk umat Muhammad saw. Kalau kaki tangan awam sudah pasti jika boleh mereka inginkan setiap bulan adalah bulan Disember. Sebabnya bulan tersebut dibayar bonus oleh majikan. Begitulah keadaannya orang yang berilmu, orang-orang soleh yang dekat diri mereka dengan Tuhan, belum sampai Ramadhan mereka sentiasa berdoa agar diketemukan dengan Ramadhan yang akan datang.

Dipenuhi dengan pelbagai tawaran istemewa, ganjaran (bonus) berlipat kali ganda bagi amalan fardhu atau sunat yang dilakukan. Setiap detik waktu dalam bulan Ramadhan dipenuhi dengan keberkatan. Amat malang dan sungguh lemah fikiran bagi orang-orang yang mensia-siakan peluang keemasan yang Allah sediakan.

Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: "Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada Ramadan.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)

Apabila kita berpuasa, kita hanya memperolehi pahala puasa bagi diri kita sahaja. Tetapi kita bo;eh dapat pahala berpuasa lebih daripada seorang, jika kita sanggup belanja orang lain untuk berbuka puasa. Jika sepuluh orang kita belanja makan untuk berbuka puasa, maka pahala puasa 10 orang kita perolehi. Mudahkan. Biarrpun hanya dengan memberi seulas buah kurma atau secawan kopi atau air mineral, kita diberi ganjaran berpuasa mengikut jumlah orang yang makan makanan yang kita sediakan. Tidak semestinya sebungkus nasi. Tetapi segelas air, atau sebotol air mineral pun kita dapat pahala.

Begitulah Maha Pemurah dan Pengasihnya Allah dalam bulan Ramadhan ini.

Akhir sekali saya petik kata-kata Ustaz Ismail daripada UNISZA subuh tadi ialah; manusia seronok menyimpan harta untuk orang lain. Mereka tidak menyimpan harta untuk diri mereka. Mengapa begitu? Harta atau wang ringgit yang kita simpan di bank atau dalam rumah, sebenarnya bukan milik kita. Milik kita ialah harta atau wang yang kita keluarkan untuk sedekah, infaq atau kita belanjakan untuk kebajikan, itulah sebenarnya menjadi harta kita apabila kita mati kelak. Kita buat simpanan / tabungan akhirat. Apa yang kita simpan di dunia ini, bukan harta kita, tetapi dia menjadi hak atau harta orang lain. Boleh jadi selepas kita mati, isteri atau suami kita kahwin lain dan harta atau wang yang kita simpan akan diambil oleh mereka..

Sesuai dengan maksud hadis Nabi saw, apabila mati sahaja anak Adam, maka putuslah amalannya, kecuali 3 perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfat dan doa anak yang soleh kepada kedua ibubapanya. Wallahualam..

Tuesday, August 2, 2011

Kisah para tauladan menyambut kematiannya.

 
0diggsdigg
email

Di Atas Ranjang Kematian




dakwatuna.com - Saudaraku, berikut ini kisah para Nabi dan sahabat yang mulia saat menyambut kematiannya. Kisah-kisah mereka penuh teladan, sarat pesan dan menjadi bahan renungan.

Kekasih Allah Ibrahim Allaihi Salam

Bercerita Imam Muhasabi dalam kitab “Ar-Riayah” bahwa Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, allaihi salam:  ”Wahai kekasihku, bagaimana engkau menemukan kematianmu?” Dia berkata: Seperti tusuk besi (yang dipakai untuk membakar daging) yang diletakan di atas bulu yang basah, kemudian ditarik.” Kemudian Allah berfirman, “Sungguh (yang demikian itu) telah kami mudahkan kematian bagimu, Wahai Ibrahim.”

Nabi Allah Daud, Allaihi Salam

Diriwayatkan bahwa malaikat maut datang untuk menjemput Nabi Daud alaihi salam.  Daud berkata: “Siapakah engkau?” Dia menjawab, “kami yang tidak takut raja dan tidak mengabaikan orang-orang kecil, kami juga tidak menerima suap”. Daud berkata: “Jika demikian, anda adalah malaikat kematian?” Dia menjawab: “Ya”, Daud balik berkata: “Kok, mendadak begini, aku tidak mendapatkan pemberitahuan (terlebih dahulu)” Malaikat berkata: “Hai Daud, di mana sahabat-mu fulan? Di mana pula si fulanah, tetanggamu?” “Mereka sudah mati”, jawab Daud. “Bukankah itu pemberitahuan padamu untuk bersiap-siap.”

Nabi yang diajak bicara oleh Allah, Musa allaihi salam

Dikisahkan bahwa Nabi Musa allaihi salam ketika jiwanya berangkat menuju Allah, Allah berfirman: “Hai Musa, Bagaimana kau menemukan kematian?” Dia menjawab, “Aku mendapati diriku seperti burung hidup yang digoreng di atas penggorengan, tidak mati sehingga aku istirahat, dan tidak bertahan hidup sehingga aku terbang”. Diriwayatkan bahwa Musa berkata: “Aku menemukan diriku sebagai seekor kambing dikuliti oleh tukang daging dalam keadaan hidup”.

Ruh Allah, Isa allaihi salam.

Isa putra Maryam, allaihi salam, berkata, “Wahai kaum Hawariyin, berdoalah kepada Allah agar kalian dimudahkan pada saat syakrat (maut) ini” Diriwayatkan bahwa kematian lebih berat dari tebasan pedang, gorokan gergaji dan capitan gunting.

Rasulallah saw menggambarkan kematian kepada para sahabatnya.

Diriwayatkan dari Syahr bin Husyab dia berkata, Rasulullah saw ditanya tentang beratnya kematian? Dia (saw) bersabda, “kematian yang paling ringan adalah seperti bulu wol yang tercerabut dari kulit domba. Apakah mungkin kulit dapat keluar kecuali bersama bulu-bulunya itu?”

Abu Bakar As-shidiq, radiallahu anhu.

Ketika Abu Bakar radiallahu anhu menghadapi hari-hari kematiannya, dia sering membaca, “dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya” (Qur’an Surah: Qaaf 19).

Dia berpesan kepada Aisyah, puterinya: “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan baju baru daripada yang sudah jadi mayit.”

Di detik-detik menjelang kematiannya, ia berpesan kepada Umar dengan berkata, “Aku berpesan padamu dengan satu wasiat, sebab tak mungkin engkau mendahuluiku. Sesungguhnya Allah Maha Benar dengan tidak pernah membuat malam mendahului siang, dan siang tak pernah mendahului malam. Sesungguhnya, tidak diterima ibadah-ibadah sunah, jika yang wajib tak ditunaikan. Dan, akan diberatkan timbangan (kebaikan) di akhirat bagi mereka yang menunaikan hak-hak di dunia. Dan akan diringankan timbangan (kebaikan) seseorang di akhirat jika diikuti dengan kebatilan.

Umar bin Khathab, radiallahu anhu.

Ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh seseorang, Abdullah bin Abbas datang menjenguknya, dia berkata: “Engkau telah masuk Islam saat orang-orang (lain) masih kafir. Dan engkau selalu berjihad bersama Rasulallah SAW saat orang-orang (lain) malas. Saat Rasulallah SAW wafat dia sudah ridha denganmu”. Umar kemudian berkata, “Ulangi ucapanmu!” Maka diulang kepadanya. Dia kemudian berkata, “celakalah orang yang tertipu dengan ucapan-ucapanmu itu.”

Abdullah bin Umar, puteranya, berkata: waktu itu kepala ayahku di pangkuanku, saat sakit menjelang kematian. Ayah berkata, “letakan kepalaku di atas tanah!” Aku menjawab, “Bagaimana ayah, apakah tidak sebaiknya di atas pangkuanku saja.” “Celaka kamu, letakan di atas tanah.” Ayah setengah membentak. Kemudian, Abdullah bin Umar meletakannya di atas tanah. Umar berkata, “Celaka aku, celaka juga ibuku, jika Tuhanku tidak menyayangi aku.”

Ustman bin Affan, radiallahu anhu.

Setelah ditusuk oleh orang-orang yang memberontak, hingga darah mengalir ke janggutnya, Ustman berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu, dan pertolongan-Mu atas segala persoalanku, dan aku memohon pada-Mu diberikan kesabaran atas ujian ini.”

Setelah ia akhirnya wafat, para sahabatnya membuka lemari yang terkunci. Mereka mendapatkan satu kertas yang tertulis begini: “Bismillahirrahman ar-rahim, Ustman bin Affan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dan bahwa syurga adalah benar (adanya). Dan bahwa Allah kelak akan membangkitkan setiap yang dikubur pada hari yang tidak ada lagi keraguan padanya (kiamat). Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Atas nama-Nya kita hidup, atas nama-Nya kita mati dan atas nama-Nya pula kita akan dibangkitan, insya-Allah.”

Ali bin Abi Thalib, radiallahu anhu.

Setelah ditusuk, Ali radiallahu anhu berkata: Apa yang sudah dilakukan terhadap orang yang menusukku? Mereka menjawab, “kami telah menangkapnya”. Ali berkata, “Beri makan dan minum dia dengan makanan dan minumanku. Jika aku hidup, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku mati, maka pukulah dia sekali pukul saja, jangan kalian tambahkan sedikitpun.”

Kemudian Ali berpesan kepada Hasan, puteranya, agar memandikannya. Ali berkata, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengkafaniku, sesungguhnya aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras.”

Kemudian Ali berpesan lagi: “Bawalah aku di antara rakyat. Jangan terlalu cepat, juga terlalu lambat. Jika aku memiliki kebaikan, niscaya (dengan membawa aku ke hadapan mereka) kalian telah mensegarakan aku menuju kebaikan itu. Jika aku memiliki keburukan, kalian telah mengantarkan aku untuk bertemu dengannya sebelum aku dihisab.”

Amr bin Ash, radiallau anhu.

Pada tahun 43 hijriyah, Amr bin Ash menemui kematiannya saat ia menjadi gubernur di negeri Mesir. Pada hari-hari terakhir menjelang kematiannya, ia berkata, “Aku dulu seorang kafir yang paling keras…. Aku juga orang terkeras pada Rasulallah SAW. Sekiranya aku mati ketika itu, aku pasti masuk neraka. Kemudian, aku berbaiat kepada Rasulallah SAW. Tak ada manusia yang paling aku cintai melebihi beliau SAW. Tak ada yang … Sekiranya aku diminta untuk membuat naat (pada saat kematiannya), niscaya aku tak mampu. Sebab, aku tak pernah bisa berhenti menyeka airmataku sebagai kekagumanku padanya. Sekiranya pada saat itu aku mati, aku mesti masuk syurga…. Kemudian aku diuji setelahnya dengan kekuasaan… dan dengan hal-hal yang aku tidak tahu, apakah akan menolongku atau membebani aku” Kemudian, Amr bin Ash mendongakan kepalanya ke langit, dan berkata,
“Ya Allah… tak ada lagi (alasan) pembebas….. Sehingga aku dapat meminta maaf. Tak ada lagi kekuasaan sehinga aku minta tolong. Sekiranya Engkau tidak merahmati aku, nicaya aku termasuk orang-orang yang celaka!!” Begitulah selalu ia memohon ampun kepada Tuhannya, hingga ajal menjemputnya dan ia mengucapkan, “La Ilaha Illa Allah…”

Diriwayatkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, anaknya berkata padanya, “wahai ayah… engkau pernah berucap kepada kami…. semoga kami dapat bertemu sesorang yang cerdas yang dapat menceritakan suasana saat kematian. Engkaulah orang itu, ceritakan pada kami bagaimana kematian? Maka, Amr bin Ash berkata, “Wahai anakku, seakan-akan di punggungku ada lemari yang menindih, dan seakan akan bernafas dari lubah jarum ..

Huzaifah bin Yaman, radiallahu anhu.

Pada suatu hari di tahun ke tiga puluh enam hijriyah…. Huzaifah dipanggil menghadap-Nya. Saat ia berusaha untuk bersiap-siap menuju perjalanan ke negeri akhirat, masuk sejumlah sahabat ke kamarnya… Ia bertanya pada mereka. “Apakah kalian datang membawa kain kafan?” Mereka menjawab, “Ya” Dia berkata, “Tunjukan padaku!” Setelah melihatnya, ia mendapati kain kafan itu masih baru…. Dengan susah payah ia berucap, “Kain kafan apa ini? Sungguh aku hanya butuh dua helai kain putih yang tak terjahit…Sesungguhnya aku tidak menggunakannya di kuburan kecuali hanya sebentar hingga aku mengganti keduanya dengan yang lebih baik… atau yang lebih buruk.

Selanjutnya, dia mengucapkan kalimat yang tak jelas.. Para sahabatnya berusaha mendengarkan… ia berucap: “Selamat datang kematian. Kekasih yang datang dengan membawa rindu. Tak akan beruntung mereka yang menyesal (di hari ini).

Ruhnya kemudian terbang menuju Allah. Itulah salah satu hamba yang paling bertakwa….

Muadz bin Jabal, radiallahu anhu.

Sampailah Muadz bin Jabal ke ajalnya. Ia dipanggil untuk bertemu Allah…. Pada saat sakratul maut, setiap perasaan yang sesungguhnya akan mencuat, dan terucap di lidah seseorang, sekiranya ia masih dapat bicara. Ucapan yang dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari perjalanan hidup seseorang. Pada saat-saat seperti itu, Muadz mengucapkan kalimat yang sangat menakjubkan yang mengungkap cita-cita seorang mu’min. Ia menghadap ke langit, seakan berdialog dengan Tuhannya. “Ya…. Allah, aku dulu sangat takut pada-Mu. Tetapi hari ini aku ingin bertemu dengan-Mu. Ya… Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa aku tidak mendahulukan dunia untuk akheratku.”

Sa’ad bin Abi Waqash, radiallahu anhu

Pada suatu hari di tahun lima puluh empat hijriyah, Sa’ad bin Abi Waqash telah berusia di atas delapan puluh tahun. Setiap hari ia berharap segera menemui kematiannya. Salah satu anaknya menceritakan, “Suatu hari kepala bapakku aku letakan di pangkuanku, dia bernafas setengah-setengah. Aku menangis. Dia berkata, Apa yang membuatmu menangis, wahai puteraku? Seungguhnya Allah tidak akan mengazabku selama-lamanya. Aku yakin aku adalah penduduk surga.

Suatu kali, Rasulallah SAW telah memberinya kabar baik, dan dia beriman dengan kabar itu yaitu bahwa ia tidak akan diazab karena ia termasuk ahli surga. Nampaknya, ia ingin bertemu dengan Allah dengan mengumpulkan semua bekal yang ia punya. Ia kemudian menunjuk ke arah lemari. Kemudian lemari itu dibuka. Di dalamnya terdapat kain yang sudah sangat lusuh dan robek sana-sini. Ia meminta keluarganya untuk mengkafankannya dengan kain itu, seraya berkata, “Aku berjuang melawan orang-orang Musyrik pada perang Badr (dengan pakain ini), dan aku menyimpannya untuk hari ini!”

Bilal bin Rabah, Sang Muadzin Nabi

Ketika Bilal didatangi kematian… Istrinya berkata, “sungguh kami akan sangat bersedih.” Bilal membuka kain yang menutupi wajahnya, saat itu ia dalam sakratul mautnya. Dia kemudian berkata, “Jangan kau katakan demikian. Katakanlah, sungguh kami akan sangat bahagia” Kemudian dia berkata lagi, “Besok aku akan bertemu pujaanku, Muhammad SAW dan para sahabatnya.”

Abu Dzar al-Ghifari, radiallahu anhu.

Ketika Abu Dzar al-Ghifari mendekati kematiannya, istrinya menangis. Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sementara engkau mati di negeri yang tandus begini, sementara kita tidak punya kain untuk mengkafanimu”.

Dia kemudian berkata, “Tak usah bersedih. Aku beri kabar gembira untukmu. Suatu hari aku mendengar Rasulallah Saw bersabda, aku dan para sahabat lainnya ada di situ, “Di antara kalian akan ada yang mati di tempat yang tandus dan disaksikan oleh sejumlah orang-orang beriman”. Tak ada seorangpun dari para sahabat itu yang mati di padang tandus begini. Mereka meninggal di perkampungan dan di tengah-tengah masyarakat. Akulah yang akan mati di tempat tandus ini. Demi Allah, aku tidak berdusta.. tunjuki aku jalan..” Istrinya berkata, “Rombongan haji sudah berangkat, dan aku tak tahu lagi harus ke jalan mana”.

Di padang yang tandus itu, tiba-tiba ada serombongan kafilah lain yang lewat. Demi mendengar suara tangisan dari balik gubuk yang kecil, mereka berhenti dan bertanya-tanya, ada apa? Seseorang di antara mereka mengenali, subhanallah, ini Abu Dzar, sahabat Nabi yang mulia. Mereka menghentikan perjalanannya dan mengurus seluruh prosesi pemakaman Abu Dzar.

Abu Darda, radiallahu anhu.

Ketika Abu Darda menemui kematiannya, ia berkata:
Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku saat ini? Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku hari ini?Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri seperti aku detik ini?
Kemudian Allah mencabut ruhnya.

Salman Al-Farisi, radiallahu anhu.

Salman al-Farisi menangis saat hendak menemui kematiannya. Ia kemudian ditanya oleh kelaurganya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata, “Rasulallah saw telah memprediksi bahwa perbekalan kita (untuk mati) seperti perbekalan orang berkendara. Sementara di sekelilingku hanya ini perbekalanku.

Ada yang berkata, “Waktu itu di sisi Salman al-Farisi ada ijanah, jafnah dan muthaharah. Ijanah adalah becana (bak) tempat dimana air dikumpulkan. Jafnah: tempat mengumpulan makanan dan air. Al-Muthaharah adalah becana (bak) tempat orang mengambil air yang suci.

Anas bin Sirrin berkata, “Anas bin Malik hadir saat Salman al-farisi menemui kematiannya. Ia berkata, “Talqinkan aku dengan La Ilah Illa Allah, mereka tetap mengucapkan itu hingga ajal menjemputnya.”

Abdullah bin Mas’ud:

Ketika Abdullah bin Mas’ud menemui kematiannya, ia memanggil puteranya: “Ya Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku ingin berpesan padamu tentang lima hal. Jagalah demi menjalankan pesanku ini. Pertama: Hilangkanlah rasa putus asa dari hadapan orang banyak, sebab demikianlah kaya yang sesungguhnya.
Kedua: Tinggalkan mengemis (untuk kebutuhan hidupmu) dari orang lain, sebab yang demikian itu adalah kemiskinan yang kau datangkan sendiri. Ketiga: Tinggalkan hal-hal yang kau anggap tak berguna. Jangan sekali-kali sengaja kau mendekatinya. Keempat: Jika kau mampu, janganlah sampai terjadi padamu satu hari di mana hari itu lebih tidak lebih baik dari kemarin. Usahakanlah. Kelima: Jika engkau shalat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Resapi dan renungkan seakan engkau tak akan shalat lagi setelah itu


Sunday, July 31, 2011

PELEMBUT HATI DAN PENDIDIING DIRI

SURAH TAHA (AYAT 1- 5) PELEMBUT HATI DAN PENDINDING DIRI.



Surah Taha adalah surah yang ke 20, juzuk 16. Surah yang baik untuk melembut hati yang keras terutama sekali dibacakan kepada ahli keluarga yang keras hati, malas dan degil untuk beribadat kepada Allah SWT. Boleh diamalkan sebagai ayat pendinding diri. Ayat 1 hingga 5 yang dibaca oleh Saidina Umar Al-Khattab r.a yang pada masa dan ketika itu belum lagi memeluk Agama Islam, tersentuh hatinya dan beliau terus memeluk agama Islam pada hari itu juga dihadapan Nabi Muhammad SAW. 

Beliau seorang yang berani semasa kafir dan bertambah berani sesudah beriman. Sifat berani dan garang sehingga iblis atau syaitan pun tidak berani melintas dihadapan beliau lari lintang pukang jika bersua dengan Saidina Umar, inikan pula kita yang lemah semangat.

Semasa Nabi Muhammad s.a.w. mula menyebarkan Islam secara terang-terangan, Saidina Umar mempertahankan ajaran tradisi masyarakat Quraisy. Saidina Umar ialah antara orang yang paling kuat menentang Islam pada masa itu.

Menurut ahli sejarah Islam, semasa Saidina Umar dalam perjalanan untuk membunuh Rasulullah s.a.w., beliau bertembung dengan seseorang yang mengatakan bahawa beliau haruslah membunuh adik perempuannya dahulu memandangkan adiknya telah memeluk Islam.

Saidina Umar pergi ke rumah adiknya dan mendapati adiknya sedang membaca Al-Quran. Dalam keadaan yang marah dan kecewa beliau memukul adiknya. Apabila melihat adiknya berdarah, beliau meminta maaf dan sebagai balasan beliau akan membaca secebis ayat Al Quran kepada adiknya. Beliau berasa terharu apabila membaca dan mendengar ayat-ayat Al Quran yang begitu indah sehinggakan beliau memeluk Islam pada hari itu juga. Itulah kelebihan Surah Taha yang dibaca oleh beliau.

Selepas peristiwa terbabit, beliau berjanji akan melindungi Islam sehingga ke titisan darah terakhir. Dia menjadi khalifah kedua Islam pada 23 Ogos (633-644) bersamaan 22 Jamadilakhir tahun 13 Hijrah dan merupakan salah satu khalifah di dalam Khulafa al-Rasyidun.

Sebuah hadith dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahawa Rasulullah SAW berkata:
"Apabila Umar memeluk Islam, Jibril pun datang dan berkata: "Ya Muhammad, sesungguhnya seluruh makhluk langit bergembira dengan islamnya Umar"
Setelah memeluk Islam, Rasulullah SAW telah mengelarnya sebagai Al-Faruq kerana dapat membezakan di antara perkara yang benar dan bathil. Ketika ditanya oleh para sahabat bagaimana dia mendapat gelaran tersebut, Saidina Umar menjawab : "Pada suatu hari, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW : "Ya Rasulullah SAW, adakah kita dalam kebenaran ?"

Jawab Rasulullah SAW: "Benar"

Aku berkata lagi: "Kenapakah kita beribadah secara sembunyi ?"

Kemudian kami masuk ke Masjidil Haram membuat dua syaf, satu saya dan satu lagi Saidina Hamzah (berjemaah). Maka semua orang KAFIR Quraisy melihat ke arah kami berdua dengan perasaan yang sangat marah yang tidak pernah mereka terjadi sebelum ini, lalu Rasulullah SAW mengelarkan aku Al-Faruq! 

Dengan islamnya Umar, maka umat Islam yang sebelum itu sentiasa ketakutan menjadi kuat. Mereka telah berani solat secara terang-terangan di BaitulLah khususnya setelah peristiwa di atas. Di samping itu juga, orang Quraisy juga tidak berani menganggu orang Islam yang sedang beribadah kerana takut kepada Umar.


Terjemahan Ayat 1 - 5 (Surah Taha).
  1. Taa. Haa.
  2. Kami tidak menurunkan A-Quran kepadamu (wahai Muhammad) supaya engkau menanggung kesusahan.
  3. Hanya untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang takut yang melanggar perintah Allah.
  4. Al-Quran diturunkan dari tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
  5. Ia-itu Allah Ar-Rahmaan,yang bersemayam diatas 'Arasy.
Bacaan Untuk Anak/Suami Yang Degil Yang Tak Mahu Solat
Baca doa ini 3 x dan dihembuskan semasa anak/suami anda sedang tidur pada hidungnya semasa ia sedang menarik nafas masuk. Lakukan sekurang-kurangnya 7 malam semasa anak /suami sedang tidur nyenyak. InsyaAllah...


Wasallam.

Read more: http://www.resepirahsiaku.com/2011/02/surah-taha-ayat-1-5-pelembut-hati-dan.html#ixzz1Tg9Yoqfr

Friday, July 29, 2011

APAKAH DOA YANG PALING UTAMA DI BULAN RAMADAN DAN SIAPAKAH DIA UWAIS AL-QARNI?


Oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah sekalian. Kedatangan bulan  Ramadhan walaupun menjadi suatu kebiasaan kepada kebanyakan orang, tetapi sebenarnya ianya menjadi suatu mercu tanda kepada orang-orang yang ingin mencapai kepada matlamat penghidupan yang sebenarnya iaitu seperti yang disebutkan oleh Allah swt;



Surah Al-Baqarah:183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah:183)


Khususnya dalam kontek kita berpuasa disebutkan sebagai “La‘al lakum tattaqun” maksudnya dengan berpuasa kamu akan memperolehi darjat ketaqwaan kepada Allah swt. Menjadi suatu yang agak lumrah kepada insan, biasa disebut, di hafal dan diingati kalimah ini “La‘al lakum tattaqun”, tetapi pernahkah, sampaikah kita ke tahap “tattaqun” itu bila sampai Ramadan dan berakhir Ramadan?


Sampaikah kita kepada apa yang nabi sebut kepada isteri-isterinya dan kepada sahabat-sahabatnya iaitu “Faya ‘ajaban liman adraka ramada na fala yughfarulah”, iaitu maksudnya “Alangkah hairannya (ajaibnya) bagi orang yang telah sampai umurnya kepada menjelang Ramadan, apabila habis Ramadan hairan kalau dia tidak mengambil kesempatan untuk Allah mengampunkan semua dosa-dosanya”.

Tidak ada insan yang tidak berdosa melainkan nabi yang maksom. Kita lihat dizaman ini banyak perkara yang terpaksa kita telan dan kita tempuh. Akibatnya kita terpaksa menerima kemurkaan-kemurkaan Allah swt. kepada hamba-hambanya. Kita lihat dari bala bencana, musibah demi musibah, kita lihat dari berbagai-bagai kejadian yang tidak menyenangkan menunjukkan bahawa adanya kemurkaan Allah. Allah tidak akan murka melainkan kerana besarnya dosa manusia. Kerana itu datang ramadan, memanglah boleh menghairankan orang yang sempat hidup sampai Ramadan, apabila habis Ramadan dosa dia tidak terampun.
 

Sebab itu Siti Aisyah radiaAllahhu anha ingin sangat untuk bertemua peluang dengan malam Qadar (Lailatul Qadar), dia bertanya kepada nabi “Bilakah berlaku malam Qadar?”. Nabi bertanya kepada Aisyah semula “Apakah kamu nak buat bila kamu bertemu dengan malam Qadar?”. Aisyah menjawab “Saya tak tahu” kemudian Aisyah bertanya lagi “Apakah yang patut saya buat bila bertemu dengan malam Qadar itu?”. Nabi berkata kepada Aisyah “Malam itu malam yang amat baik untuk beramal dimalamnya dan amat mudah dimakbul Allah doanya”. Aisyah bertanya lagi “Apakah doa yang paling baik untuk aku berdoa pada malam itu?” Nabi jawab “ Kalau kamu sempat berjumpa dan mengetahui malam itu ialah malam Qadar berdoalah

Doa Paling Afdal Dibulan Ramadan
“Allah humma innaka ‘afuu ’un karimun tuhib bul ‘af wa fa’ fu ‘anni” (maknanya Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang sangat suka mengampun, ampunkanlah dosa-dosa ku).
 

Sebenarnya Nabi dah tahu yang Aisyah itu akan masuk syurga ertinya dosanya telah diampunkan oleh Allah tetapi kenapa Nabi masih menyuruh Aisyah untuk memohon kepada Allah agar diampunkan dosa?. Sedangkan Aisyah memang layak untuk tidak dimasukkan ke dalam neraka, hanya layak ke syurga. Soal dosa dan pahala dia dah tak kisah sangat tapi nabi masih menyuruhnya berdoa supaya Allah ampunkan dosa.
 

Saya nak kaitkan dengan satu kisah iaitu bila Allah bagi tahu kepada nabi Muhammad s.a.w.  iaitu ada insan yang akan lahir dikalangan Tabiin (“Tabiin” maknanya satu kumpulan insan yang tidak sempat berjumpa dengan nabi tetapi hanya sempat berjumpa dengan sahabat nabi sahaja. Kalau orang yang sempat berjumpa dengan nabi, itu dipanggil “Sahabat”. Kalau orang yang lahir kedunia ini setelah nabi wafat tetapi sempat berjumpa dengan Sahabat ia dipanggil Tabiin).
 

Nabi berpesan kepada Umar dan Ali, “Akan lahir dikalangan Tabiin seorang insan yang doa dia sangat makbul nama dia Uwais al-Qarni dan dia akan lahir dizaman kamu”.
 

Kita telah mengenali siapa dia Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali iaitu orang-orang yang telah disenaraikan sebagai “al-Mubasyirun bil Jannah” iaitu mereka dah dijamin masuk syurga.
 

Nabi seterusnya berkata kepada Umar dan Ali, “Dizaman kamu nanti akan lahir seorang insan yang doa dia sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dbesarkan di Yaman. Dia akan muncul dizaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia mintak tolong dia berdoa untuk kamu berdua.”
 

Sama juga macam kisah Siti Aisyah tadi, Umar dan Ali bertanya kepada nabi soalan yang sama iaitu “Apakah yang patut saya mintak daripada Uwais al-Qarni, Ya Rasulullah? Nabi menjawab “Kamu mintak kepadanya supaya dia berdoa kepada Allah agar Allah ampunkan dosa-dosa kalian”.
 

Banyak peristiwa sahabat yang berjumpa dengan nabi, mintak sesuatu yang baik kepada mereka, nabi menjawab “Pohonlah al-Maghfirah daripada Allah swt.” Jadi topik al-Maghfirah (keampunan) ini menjadi topik yang begitu dicari yang begitu relevan, hatta kepada orang yang telah disenaraikan sebagai ahli syurga. Kalau logiknya ahli syurga macam dah tak perlu kepada ampun dosa kerana mereka dah dijamin masuk syurga, tetapi tidak, nabi masih tekankan supaya mintak Allah ampunkan dosa.
Siti Aisyah telah bertemu dengan malam Qadar, dia telah berdoa sepanjang malam sampai ke subuh dengan doa yang nabi ajarkan iaitu “Allah humma innaka ‘afuu ’un karimun tuhib bul ‘af wa fa’ fu ‘anni” (maknanya Ya Allah, Kamulah Tuhan yang sangat suka mengampun, ampunkanlah dosa-dosa saya).

 

Memang benarlah firasat seorang nabi, Uwais al-Qarni telah muncul di zaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali. Memang mereka tunggu dan cari kabilah-kabilah yang datang dari Yaman ke Madinah, akhirnya bertemu mereka dengan Uwais al-Qarni.
Dengan pandangan mata luar, tidak mungkin dia orang yang nabi maksudkan. Kerana orang itu pada pandangan insan-insan biasa atau orang-orang yang datang bersama dengannya bersama kabilah menganggapkan dia seorang yang akal tidak sempurna (wire short), sesuatu yang macam tidak betul pada pandangan orang. Tetapi dia ada sesuatu…..

 

Asal usul Uwais al-Qarni
 

Dia asalnya berpenyakit sopak, badannya putih, putih penyakit yang tidak digemari. Walaupun dia sopak tetapi dia seorang yang soleh, terlalu mengambil berat tentang ibunya yang uzur dan lumpuh. Dia telah begitu tekun untuk mendapatkan keredhaan ibunya. Bapa dia meninggal dunia ketika dia masih kecil lagi. Dia sopak sejak dilahirkan dan ibunya menjaga dia sampai dia dewasa.
Satu hari ibunya memberitahu kepada Uwais bahawa dia ingin sangat untuk pergi mengerjakan haji. Dia menyuruh Uwais supaya mengikhtiarkan dan mengusahakan agar dia dapat dibawa ke Mekah untuk menunaikan haji.

 

Sebagai seorang yang miskin, Uwais tidak berdaya untuk mencari perbelanjaan untuk ibunya kerana pada zaman itu kebanyakan orang untuk pergi haji dari Yaman ke Mekah mereka menyediakan beberapa ekor unta yang dipasang diatasnya “Haudat”. Haudat ini seperti rumah kecil yang diletakkan di atas unta untuk melindungi panas matahari dan hujan, selesa dan perbelanjaannya mahal. Uwais tidak mampu untuk menyediakan yang demikian, unta pun dia tidak ada, nak sewa pun tidak mampu.
 

Ibu Uwais semakin uzur maka ibunya mendesak dan berkata kepada anaknya “Anakku mungkin ibu dah tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkanlah agar ibu dapat mengerjakan haji”.
Uwais mendapat suatu ilham, dia terfikir apa nak dibuat. Dia membeli seekor anak lembu yang baru lahir dan dah habis menyusu. Dia membuat sebuah rumah kecil (pondok) di atas sebuah “Tilal” iaitu sebuah tanah tinggi (Dia buat rumah untuk lembu itu di atas bukit).

 

Apa yang dia lakukan, pada petang hari dia dukung anak lembu untuk naik ke atas “Tilal”. Pagi esoknya dia dukung lembu itu turun dari “Tilal” untuk diberi makan. Itulah yang dilakukannya setiap hari. Ada ketikanya dia mendukung lembu itu mengelilingi bukit tempat dia beri lembu itu makan.
 

Perbuatan yang dilakukannya ini menyebabkan orang kata dia ini gila. Memang pelik, buatkan rumah untuk lembu diatas bukit, kemudian setiap hari usung lembu, petang bawa naik, pagi bawa turun bukit.
 

Tetapi sebenarnya niatnya baik. Kalau lembu kita buat begitu pagi sekali petang sekali daripada lembu yang beratnya 20kg, selepas enam bulan lembu itu sudah menjadi 100kg. Otot-otot (muscle) tangan dan badan Uwais menjadi kuat hinggakan dengan mudah mengangkat lembu seberat 100kg turun dan naik bukit.
Selepas lapan bulan dia buat demikian telah sampai musim haji, rupa-rupanya perbuatannya itu adalah satu persediaan untuk dia membawa ibunya mengerjakan haji. Dia telah memangku ibunya dari Yaman sampai ke Mekkah dengan kedua tangannya. Dibelakangnya dia meletakkan barang-barang keperluan seperti air, roti dan sebagainya. Lembu yang beratnya 100kg boleh didukung dan dipangku inikan pula ibunya yang berat sekitar 50kg. Dia membawa (mendukung dan memangku) ibunya dengan kedua tangannya dari Yaman ke Mekah, mengerjakan Tawaf, Saie dan di Padang Arafah dengan senang sahaja. Dan dia juga memangku ibunya dengan kedua tangannya pulang semula ke Yaman dari Mekah.

 

Setelah pulang semula ke rumah dia di Yaman, Ibu dia berkata kepada dia “ Uwais, apa yang kamu berdoa sepanjang kamu berada di Mekah?”. Uwais menjawab “Saya berdoa minta supaya Allah mengampunkan semua dosa-dosa ibu”. Ibunya bertanya lagi “Bagaiman pula dengan dosa kamu”. Uwais menjawab “Dengan terampun dosa ibu, ibu akan masuk syurga, cukuplah ibu redha dengan saya maka saya juga masuk syurga”.
 

Ibunya berkata lagi “Ibu nak supaya engkau berdoa agar Allah hilangkan sakit putih (sopak) kamu ini”. Uwais kata “Saya keberkatan untuk berdoa kerana ini Allah yang jadikan. Kalau tidak redha dengan kejadian Allah, macam saya tidak bersyukur dengan Allah ta’ala”. Ibunya menanbah “Kalau nak masuk syurga, kena taat kepada perintah ibu, Ibu perintahkan engkau berdoa”.
Akhirnya Uwais tidak ada pilihan melainkan mengangkat tangan dan berdoa. Uwais berdoa seperti yang ibu dia minta supaya Allah sembuhkan putih yang luar biasa (sopak) yang dihidapinya itu. Tetapi kerana dia takut masih ada dosa pada dirinya dia berdoa “Tolonglah Ya Allah kerana ibu aku suruh aku berdoa hilangkan yang putih pada badanku ini melainkan tinggalkan sedikit”

Allah swt. sembuhkan serta merta, hilang putih sopak diseluruh badannya kecuali tinggal satu tompok sebesar duit syiling ditengkuknya. (Kalau bagi nabi, baginda ada Khatam Nubuwah iaitu tanda kenabian, tanda pada nabi bersinar) Tanda tompok putih pada Uwais sebab dia mintak agar jangan dibuang kesemuanya, kerana ini (sopak) adalah anugerah, maka nabi sebut kepada Umar dan Ali akan tanda ini. Tandanya kamu nampak dibelakang dia ada satu bulatan putih, bulatan sopak.  Kalau berjumpa dengan tanda itu dialah Uwais al-Qarni.

 

Selepas tidak lama Uwais berdoa yang demikian, ibunya telah meninggal dunia. Dia telah menunaikan kesemua permintaan ibunya. Selepas itu dia telah menjadi orang yang paling tinggi martabatnya disisi Allah. Doa dia cukup makbul hatta penyakit sopak pun boleh sembuh. Mengikut al-Quran, Nabi Isa Alaihisalam yang pernah berdoa untuk kesembuhan penyakit sopak dizamannya.
Berbalik kita kepada point asal, Sayidina Umar dan Sayidina Ali dapat berjumpa dengan Uwais ini minta satu sahaja  iaitu minta supaya doakan supaya Allah swt. mengampun semua dosa-dosa mereka.

 

Ketika Uwais al-Qarni berjumpa Umar dan Ali, dia berkata “Aku datang ini dari Yaman ke Madinah kerana aku nak tunaikan wasiat nabi kepada kamu iaitu supaya kamu berdua berjumpa dengan aku. Aku datang ini nak tunaikan wasiat itulah”. Maka Uwais pun telah mendoakan untuk mereka berdua.
 

Doa yang paling utama di malam Qadar
 

Seperti yang saya sebutkam dipermulaan tadi “Faya ‘ajaban liman adraka ramada na fala yughfarulah”, Memang hairan orang yang dapat hidup sampai Ramadan ini, tetapi dosa dia tidak diampun.
 

Kalau malam ini malam Qadar, fokus kita selalunya memanglah nak minta hal-hal keduniaan. Kalau kita dapat rasakan dalam perasaan dalaman seorang insan kecil hamba Allah ini apa yang hendak kita mintak di malam Qadar? Saya rasa orang tidak begitu berminat untuk minta supaya diampunkan segala dosa, mereka akan minta yang lain pula, minta saham naik, perniagaan laris, dapat kahwin lagi dua, kaya, mesti pilihan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, sedangkan “Wallah yuridul akhirah”. Allah dan RasulNya lebih mengutamakan penghidupan akhirat itulah yang paling mustahak sekali.
 

Selama ini pun kita tidak tahu bahawasanya terampunkah dosa-dosa yang telah kita buat? walaupun kita rasa macam dosa itu Allah telah ampunkan.
 

Ada peluang yang macam ini iaitu malam Qadar atau berpeluang berjumpa dengan orang-orang yang konfirm macam tadi iaitu doa-doa mereka makbul seperti orang-orang yang soleh dan seumpamanya doa yang paling utama dan besar diminta ialah minta supaya Allah mengampunkan semua dosa-dosa kita.
Bukan kata orang lain sebagai contoh besar, hatta nabi yang dikatakan “Ghoforollah hu mat taqadaman”, Allah ta’ala ampunkan dosa dia yang telah lalu (jika ada) dan juga ampun untuk yang akan datang.

 

Tetapi kenapa nabi masih berdoa kepada Allah tiap-tiap hari tidak kurang dari seratus kali iaitu “Astagh firruka humma waatubu ilaih”. Sehari seratus kali , sembahyang baginda, berdoa panjang-panjang sampai dikataka juga (hadith Aisyah) sampai bengkak kaki nabi. Sampai Siti Aisyah berkata kepada nabi, “Ya Rasulullah, kenapalah sampai kamu teruk-teruk beribadah hingga bengkak kaki, sembahyang lama-lama, menangis lama-lama, tidakkah Allah telah ampunkan dosa kamu dahulu dan kemudian?”. Nabi menjawab “Kalau demikian adanya mengapa aku tidak menjadi hamba yang bersyukur”.
 

Syukur maknanya melakukan ibadah kepada Allah swt. Inilah yang saya katakan tadi, datanglah sistem yang Islam kemukakan kepada ummah, seluruh aktiviti-aktiiti ibadah, penumpuan kepada persiapan-persiapan yang dikatakan “Wa tazau wadu” kesemuanya ditujukan ke arah pembersihan diri, hati, akal dan budi daripada yang dipanggil “al-khush” (yang tidak baik).
 

Al-Quran memberikan satu analogi iaitu Bumi kalau sudah cantik dan subur dia mudah menumbuhkan pokok-pokok yang bermanfaat dan bagi bumi yang kotor (bagi maksud tidak sesuai ditanam tumbuhan) seperti tempat berbatu dan berpasir, tanam apapun tak tumbuh, kalau tumbuh pun dia tak jadi seperti tempat yang lain.
Maksudnya sama seperti insan, kalau yang disimpan dalam diri kita ini kotor (benda yang jijik) maka tidak akan keluar melainkan yang kotor juga. Kalau dalam diri kita baik, dia akan menumbuhkan yang baik, amal dia baik, kata-kata dia baik, akhlak dia baik, muammalah dia baik dan dia dikatakan orang yang baik.

 

Allah itu baik, Dia tidak terima amalan melainkan amalan yang baik juga. Sebab itu dari awal Islam datang dah ada sistem seperti contoh ayat-ayat al-Quran yang awal turun surah Al-Mudatsir, firman Allah yang bermaksud “Wahai orang-orang yang sedang tidur, bangunlah kamu beri peringatan kepada manusia (maknanya bergerak dalam satu wadah perjuangan, mengerakkan jiwa diri sendiri dan jiwa insan) dan kepada Tuhanmulah kamu wajib membesarkanNya, jangan mengagungkan yang lain, agungkan Allah swt. sahaja.
Caranya diberikan beberapa analogi seperti apa yang kamu pakai iaitu pakaian biasa, rumah tempat tinggal, kereta yang dinaiki dan apa sahajalah mestilah yang bersih, kamu kena sucikan dia. Sebab ini sangat kena dengan ayat yang nabi hayati. Diantara pakaian yang nabi suka pakai ialah pakaian putih yang melambangkan suci dan bersih. Walaupun kadangkala nabi pakai warna merah dan hitam didalam peperangan tetapi yang paling nabi sukai ialah warna putih.

Sebab itu kita lihat, pakaian haji putih, kain kafan putih (tak pernah nampak lagi kain kafan warna hijau, kain kafan biru lagi tak pernah nampak). Ditempat saya masjid-masjid gunakan kain putih sebagai alas tempat sujud. Serban umumnya putih. Serban nabi putih kadangkala ada yang hijau.

 

Apabila diluar memakai pakaian putih bersih maka didalam diri perlu buang segala kekotoran. Islam mengajar agar diluar bersih sehingga kedalam diri juga bersih. Kalaulah inilah yang nabi buat dari pada mula memanglah bulan Ramadan ini yang utama ialah untuk membersihkan diri.
 

Dengan puasa yang kita buat, malam kita bertarawih, berdoa secara bersistematik dari awal ramadan sampai akhir ramadan iaitu doa;

Doa Paling Afdal di Bulan Ramadhan
“Allah humma innaka ‘afuu ’un karimun tuhib bul ‘af wa fa’ fu ‘anni” (maknanya Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang sangat suka mengampun, ampunkanlah dosa-dosa ku).
 

Kalau dibuat setiap malam dari awal ramadan sampai akhir ramadan pastilah kita jumpa dengan satu malam yang mana malam ini ialah malam Qadar. Sebab dia pasti datang setiap tahun dibulan ramadan. Kalau kena malam itu maka sampailah tujuan tadi kita dapat memohon daripada Allah swt. minta yang paling berharga iaitu bermohon agar Allah mengampunkan semua dosa-dosa kita. Kalau bertemu demikian kita sampailah kepada matlamat tadi iaitu “La’al lakum tat takun” dengannya kamu bertaqwa, dengannya kamu sampai kepada matlamat yang dikatakan tadi.
 

“Ya ‘ajaban”, memang menghairankan orang yang sempat datang Ramadan kepadanya dia tidak manfaatkan ramadan itu untuk Allah ampunkan semua dosa-dosanya.
 

Semua krisis-krisis dunia, semua masalah yang insan hadapi didunia, yang kita hadapi hari ini dalam semua masalah, pergaduhan, hutang yang banyak, akan berakhir bila orang itu mati. Kita berjanji dengan orang, bertelagah, bergaduh, semua krisis-krisis dunia ini kepada seorang insan dia habis bila dia mati.
 

Tetapi krisis dosa dengan Allah ta’ala khasnya krisis keimanan, krisis kerana kita menyimpan dosa yang melibatkan iman dan sebagainya, didunia dia tidak menampakkan masalah tetapi sebenarnya ia akan bermula apabila telah hampir nak mati, masuk kubur lagi masalah, alam barzakh lagi masalah, sampai kepada alam mahsyar lagi bermasalah puncanya balik kepada dosa tadi.
Sebab itu nabi telah bagi satu garis panduan yang cukup senang kita faham. Kita tidak disuruh minta dimalam Qadar supaya turun emas dari langit, minta agar dikasihani oleh semua orang, minta agar dijadikan ketua selama-lamanya, untung berniaga, bukan itu yang patut diminta. Sebaliknya nabi bagi contoh kalau ini dapat kamu capai walaupun dunia kamu susah sekejap tetapi kamu akan berakhir krisis dunia ini bila kamu mati.

 

Jika kamu ada dosa ini mati bermula suatu penghidupan yang perit, malah dari sejak nak mati sekalipun sudah bermula, sampai kepada peringkat orang-orang yang “Zalimi an fusu hum” orang-orang yang menzalimi diri mereka dalam kehidupan ini kerana membiarkan dosa, banyak melakukan dosa, tidak cuba untuk membuang dosa, bila nak mati akan datang malaikat kepada mereka dengan pemukul untuk pukul muka, belakang hingga ke punggung mereka. Ia bermula daripada nyawa nak keluar, tergantung-gantung diantara langit dan bumi, diantara barzakh dengan tidak barzakh, masuk kubur terseksa.
 

Sebab itulah nabi nak lepaskan kita daripada seksaan ini semua, nak pastikan kepada isteri dia Siti Aisyah pun berpesan “Kalau kamu dapat malam Qadar jangan minta yang lain selain daripada minta supaya diampunkan Allah segala dosa”.
 

Ingatlah juga ketika nabi berpesan kepada orang yang dia sayangi iaitu Umar (bapa mertuanya) dan Ali (menantunya) kalau kamu berjumpa dengan Uwais al-Qarni mintalah supaya Allah ampunkan segala dosa kamu. Begitu juga nabi berpesan kepada sahabat-sahabat yang lain supaya bermohon supaya Allah ampunkan segala dosa.
 

Penutup
 

Memang telah menjadi tradisi kita di Darussyifa’, kita bertemu sekali dalam bulan Ramadan bersama-sama berbuka puasa, bersolat tarawih dan saya berpeluang untuk berucap mengajak diri saya dan mengajak semua orang. Kita akan manfaatkan Ramadan ini dengan fokus kita supaya tidak ada lagi dosa, kalau ada dosa diampunkan. Caranya kita jangan tambah dosa, yang ada selesaikan. Minta ampun yang berbaki daripadanya.
 

Dan AlhamdulilLah jika kita diambil oleh Allah dibulan Ramadan lebih-lebih lagi jika kita mati di Mekah di bulan Ramadan. Macam baru-baru ini orang Malaysia yang mati kemalangan jalanraya di Mekah, kita cemburu kerana Allah pilih dia dan tidak pilih kita. Pilih mereka yang dalam musafir, dalam keadaan buat Umrah, dalam bulan Ramadan pula, mati syahid dunia kerana mereka luka parah, kemudian disembahyangkan pula di Masjidil Haram yamg setiap malam sembahyang itu jutaan manusia yang mendoakan mereka masuk syurga. Jadi itu satu keberuntungan kerana Allah pilih mereka. Kita pula menunggu giliran entah dimana..
 

Maka persediaan kepada kita, pada saya, pada saudara sekalian, kita ambil peluang Ramadan ini untuk Allah ampunkan dosa kita semua. Supaya kita termasuk dikalangan hamba yang akan beruntung khasnya selepas kita kembali kepada Allah swt.

Selamat berpuasa, selamat berhari raya, maaf zahir batin, terima kasih kepada yang menganjurkan majlis malam ini Darussyifa’ dan kita mengharapkan kepada Allah swt.  agar sentiasa menghimpunkan kita sebagai orang-orang yang sentiasa berkasih sayang dan saling bermaaf-maafan menuju kepada kerahmatan dan keberkatan Allah swt.

Ramadhan: Memenuhi Fitrah Manusia



Tuan Guru Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat   
 
" Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa." - Surah al-Baqarah, ayat 183.
 
Memahami tujuan hidup

Manusia terdiri daripada dua unsur yang saling melengkapi di antara satu sama lain. Unsur tersebut ialah tubuh dan roh. Sejak zaman berzaman, tubuh jika mengalami sebarang masalah dapat dirujuk kepada bomoh dan hari ini digelar sebagai doktor. Kesemuanya ini dirujuk apabila tubuh ditimpa sebarang penyakit. Manakala roh ataupun jiwa, jika ditimpa sebarang masalah akan dirujuk kepada pawang atau bomoh.

Selalu juga berlaku, sebahagian atau segelintir orang mengambil langkah penyelesaian kepada pelbagai masalah itu dengan cara mengadu kepada kuasa lain selain Allah SWT. Cara itu adalah khurafat. Lalu lahirlah amalan memuja pokok, sungai, batu, cakerawala dan sebagainya.

Semua itu menunjukkan keperluan untuk melunaskan fitrah manusia yang ingin bertuhan. Secara fitrahnya, manusia perlu kepada Tuhan. Manusia sendiri tidak boleh menerima dengan akal bahawa dunia ini wujud tanpa pencipta. Lalu dengan keyakinan inilah, manusia mencari-cari siapa yang perlu dirujuk ketika menghadapi sebarang masalah. Lahirlah dari rasa fitrah tersebut amalan-amalan khurafat yang wujud semenjak zaman dahulu kala.

Islam kemudiannya datang bukanlah sangat untuk mengajar manusia bahawa di dunia ini adanya Tuhan kerana itu merupakan satu fitrah. Tetapi Islam datang untuk meletakkan fitrah manusia di landasan yang betul iaitu mengakui Tuhan itu hanyalah Allah SWT. Jiwa dan jasad manusia dipandu dengan jelas agar mengakui bahawa zat yang layak untuk disembah hanyalah Allah SWT. Dengan kata lain, manusia diseru agar mengabdikan diri hanya kepada Allah SWT. Pengabdian kepada Allah SWT merupakan misi utama penciptaan manusia. Inilah tujuan hidup manusia yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Pencipta.

Al-Quran panduan hidup

Tujuan hidup ini tidak dapat disebut oleh mana-mana ahli fikir jika tidak merujuk kepada al-Quran. Ahli-ahli sains mungkin dapat menyebut tujuan tanah, air, api, dan udara atau sebagainya adalah berguna kepada manusia. Demikian juga seorang ahli perubatan dapat menjelaskan khasiat ubat-ubatan yang dihasilkan. Namun, siapakah yang dapat menjelaskan tujuan hidup jika tidak Allah SWT sendiri?

Sebagaimana seorang yang datang dari ceruk kampung berdepan dengan pelbagai mesin di gudang yang besar, tidak akan mengetahui fungsi setiap jentera dan suis yang dilihatnya kerana tidak mempunyai kemahiran. Orang yang mengetahui fungsi mesin yang pelbagai itu ialah jurutera yang menciptanya atau sekurang-kurangnya mereka yang berpengetahuan tentangnya.

Demikianlah tujuan hidup manusia. Mustahil seorang manusia mengetahui tujuan dia sendiri diciptakan jika tidak diberitahu oleh kuasa yang menciptakan manusia, iaitu Allah SWT. Untuk memberitahu tujuan hidup inilah, dihantar rasul-rasul kepada manusia dari zaman berzaman. Merekalah (para rasul) yang ditugaskan untuk memandu manusia, bagaimana hidup ini perlu diselaraskan menurut kehendak Allah SWT.

Justeru jurupandu kepada umat ini ialah para ambiya’ khususnya di akhir zaman ini ialah Nabi Muhammad SAW. Baginda tidak mereka-reka jalan, baginda hanya menunjuk jalan berpandukan al-Quran.

Sehubungan itu, bersempena menyambut bulan Ramadhan al-Mubarak kali ini (1431H), maka seluruh kehidupan ini hendaklah mengambil pengajaran darinya. Antaranya mengambil ingatan sebaiknya kerana bulan Ramadhan merupakan bulan penurunan al-Qur an. Di antara sifat al-Quran ialah hudan linnas sepertimana firman Allah SWT:

" Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang hak dan yang bathil)."
- Surah al-Baqarah, ayat 185.

Puasa memenuhi fitrah manusia


Justeru, antara keberkatan utama bulan Ramadhan adalah difardhukan ibadat puasa sepertimana difardhukan ke atas umat terdahulu. Namun, puasa sebagaimana ibadat-ibadat lain juga merupakan keperluan bagi fitrah manusia. Jika sekalipun agama tidak mewajibkan puasa ini dilakukan, manusia sendiri tentunya akan mewajibkan ke atas dirinya untuk berpuasa kerana banyak manfaat daripadanya, termasuklah dari aspek kesihatan. Apatah lagi jika ia merupakan satu perintah daripada Allah SWT, maka lebih perlulah puasa ditunaikan sekalipun menempuhi sedikit kepayahan.

Salah satu manfaat besar puasa ialah dapat membukti sejauh mana tanda taat dan tunduknya manusia kepada tuhannya. Manusia selaku hamba Allah, sanggup bersusah payah (dengan berpuasa), demi membuktikan kepatuhan mereka. Sebagaimana kita bersusah payah untuk menjaga anak-anak kita yang kita sayangi, maka demikianlah kita mengutamakan ibadat sepanjang Ramadhan ini, sanggup kita bersusah payah demi Tuhan yang kita yakini.

Inilah sebab mengapa setiap amalan di dalam Islam perlu diasaskan kepada niat yang ikhlas. Niat yang ikhlas dalam erti kata lain melaksanakan amalan semata-mata kerana ia merupakan perintah Allah SWT. Bukan sahaja beribadat seperti solat dan puasa, bahkan berpolitik, berniaga, bersosial, berumahtangga semuanya kerana Allah SWT. Dari sinilah, hati kita perlu sentiasa diasuh untuk meyakini bahawa amalan yang dilakukan bukan kerana budaya turun temurun atau adat resam tetapi hanya kerana Allah SWT.

Manusia perlulah sentiasa yakin bahawa Allah SWT itulah yang bersifat dengan al-Khaliq (Yang Maha Mencipta), al-Baari (Yang Memberikan Kemampuan) dan al-Mushawwir (Yang Memberikan Bentuk). Keyakinan seperti ini membantu manusia untuk lebih meningkatkan amal ibadat kerana diyakini setiap amalan tersebut dinilai oleh Allah SWT yang menciptakannya. Keyakinan inilah juga yang akan mendorong manusia untuk berpuasa dengan sesungguh hati yang memenuhi tuntutan takwa kepada Allah SWT.

Ingatlah, hilangnya keyakinan terhadap Allah, maka akan hilanglah roh dari ibadat puasa tersebut. Hilangnya roh ibadat puasa itu, maka akan menghilangkan pula ganjaran yang disediakan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

"Betapa ramai orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa daripada puasanya kecuali lapar dan betapa ramai orang yang berqiyam tidak mendapat
apa-apa daripada qiyamnya kecuali hanya berjaga malam."
- Riwayat Ibnu Majah.

Semoga kita semua dapat memperbanyakkan amalan membaca al-Quran, bersedekah, qiyamullail dan sentiasalah berzikir mengingati Allah SWT di sepanjang Ramadhan. Malah, semua ini seharusnya sentiasa menjadi amalan rutin kita, bukan hanya ketika bulan Ramadhan. Harapan kita, agar bacaan al-Quran, sedekah, qiyam dan juga zikir yang kita amalkan sentiasa memandu kita di dalam mengurus tadbir hidup ini berpandukan al-Quran sebagai usaha kita memenuhi apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. InsyaAllah, Ramadhan pada tahun ini jauh lebih baik dari Ramadhan pada tahun-tahun yang lepas

Thursday, July 28, 2011

SELAMAT BERSARA HAJI KAMARUDDIN CHIK

SELAMAT BERSARA HAJI KAMARUDDIN CHIK
PENOLONG KANAN KOKURIKULUM SKSS1

Selamat Bersara Tuan Haji Kamaruddin Chik Penolong Kanan Kokurikulum, Sekolah Kebangsaan Sultan Sulaiman 1, Kuala Terengganu. SKSS1 kehilangan seorang tenaga penting khusus dalam pembangunan kokurikulum sekolah dan juga PIBG.

Rakan sejawat sewaktu mula bertugas di Sekolah Menengah Tun Telanai, Kuala Terengganu pada tahun 1980 hingga 1986. Kemudian diketemukan pula sewaktu bertugas di SKSS1 pada Ogos 2008 hingga saat akhir saya bersara pada akhir tahun 2010. Rakan sejawat yang banyak membantu dan melaksanakan tugas dan amanah sewaktu saya mengetuai SKSS1. Seorang yang sangat komited terhadap tugas dan tanggungjawab. Sentiasa membantu, memberi pandangan dan yang paling hebat Hj Din mampu mempengaruhi guru-guru untuk melaksanakan sesuatu tugas dan tanggungjawab bagi melaksanakan sesuatu aktiviti kokurikulum atau apa sahaja tugasan yang diamanahkan kepadanya. Saya bangga punyai rakan sejawat yang semikian rupa, semuga segala kerja buat yang telah dilaksanakan sepanjang kariernya mendapat ganjaran daripada Allah.

Selamat Bersara, semuga Allah merahmati kita bersama.

Tuesday, July 26, 2011

Warkah buat saudaraku anggota polis


Dr Mohd Asri Zainul Abidin
Malaysiakini Jul 26, 11

Assalamualaikum warahmatuAllahi wabarakatuhu,

Terlebih dahulu, pohon kemaafan jika warkah ini terbuka. Saya harap ia dapat dibaca oleh semua. Jika ada kebaikan, ambillah darinya. Jika tidak, campaklah ia ke tepi dan lupakan sahaja.


Ia hanya satu coretan dari seorang rakyat bawahan. Tanda cinta dan kasih kepada saudara yang saya lihat tercegat di segala penjuru negara atas tanggungjawab menjaga keamanan kita semua. Mata memandang, hati merintih dan berdoa agar tugasan saudara benar-benar diberikan pahala di sisi Tuhan dan diiktiraf di sisi rakyat.


Saudaraku anggota polis,


Kerja polis adalah satu kerja yang mulia kerana menjaga keamanan dalam negara. Penat lelah anggota polis dalam memastikan negara kita aman dan adil adalah pahala yang amat besar di sisi Allah jika pengamalnya jujur dan ikhlas.


Sepatutnya, tiada seorang pun rakyat yang cintakan keadilan dan keamanan akan membenci polis. Sebaliknya, perasaan fitrah; sayang dan menghargai akan tertanam dan mekar sebaik sahaja mendengar nama polis, melihat anggota atau apa sahaja perlambangan polis. Itulah perkara sewajarnya berlaku.
Cegah kemungkaran

Saudaraku anggota polis,


Tugas seorang anggota polis - sebelum tugasan kenegaraan- sebenarnya adalah tugasan yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya iaitu 'Menyuruh Kebaikan, Mencegah Kemungkaran'.

Itu moto asal pasukan polis. Sekalipun, tumpuan terbanyaknya kepada bahagian kedua iaitu 'Mencegah Kemungkaran'. Hakikatnya, polis berperanan menyelamatkan masyarakat dari kemurkaan Allah dengan dipastikan setiap penzalim akan dihalang, dicegah dan dihukum.

Jika itu tidak berlaku, masyarakat akan porak peranda dan menerima hukuman dari Allah. Allah berfirman: (maksudnya): “Telah dilaknat mereka yang kufur daripada Bani Israil melalui lidah Daud dan Isa bin Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan selalu menceroboh. Mereka sentiasa tidak berlarang (sesama sendiri) perbuatan mungkar yang mereka kerjakan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah lakukan. (Surah al-Maidah, ayat 78-79).

Nabi s.a.w pula bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang zalim, namun tidak menghalang tangannya, hampir Allah akan meliputi mereka dengan hukumanNya” (Riwayat Abu Daud, al-Tirmizi dan al-Nasai dengan sanad yang sahih).

Kami sebagai rakyat mengucapkan jutaan terima kasih kepada pihak polis yang telah menyelamatkan masyarakat dari kemurkaan Allah, kezaliman dan kerosakan.

Bahaya kuasa

Saudaraku anggota polis,

Namun, dalam masa yang sama, bidang tugas dan kuasa saudara yang menghalang kezaliman itu jika disalahgunakan boleh memberikan kesan yang sebaliknya.

Ia boleh bertukar dari melindungi yang tidak bersalah kepada menginayainya, menghalang yang zalim kepada memberi peluang kepadanya, memberi hak kepada yang berhak kepada merampas hak dari tuannya.

Jika itu berlaku, rosaklah masyarakat, hilanglah neraca keadilan, bermegah si zalim, kesakitanlah yang ditindas. Lantas, kebencian akan merebak, kepercayaan akan hilang dan saudaraku polis yang sepatutnya disayangi menjadi pihak dimusuhi, dibenci dan diragui.

Saudaraku anggota polis,
Ingin saya sebut di sini suatu tazkirah yang harapnya boleh memberikan manfaat kepada semua, khususnya mereka yang berkuasa seperti saudara.

Saudaraku, kezaliman itu adalah suatu racun. Ia bukan sahaja menyakitkan yang dizalimi, tetapi suatu hari akan membawa sengsara, bahkan mengorbankan si zalim itu sendiri.
Pada hari kita memukul orang yang tidak bersalah, melukai atau menfitnahnya, kita mungkin rasa selamat di balik peruntukan kuasa yang ada. Mungkin juga rasa selamat di balik pakaian lengkap kita yang mungkin gagal mangsa mengenali pelakunya.

Namun Tuhan tidak lupa. Akan ada harinya yang menanti kita di hadapan. Tangan yang memukul orang lain dan kaki yang menendang mangsa itu tidak akan terpadam catatannya sehingga kemaafan diberikan.

Ketika saudara pulang ke rumah berjumpa keluarga, si mangsa mendongak ke langit mengadu kepada Tuhan Yang Maha Berkuasa.

Doa orang dizalimi
Dengarlah baik-baik apa yang yang disabdakan Nabi SAW: "Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sesungguh antaranya dengan Allah tiada sebarang hijab (penghalang)" (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Ahmad, baginda bersabda: "Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sekalipun dia seorang yang jahat. Kejahatannya itu bagi dirinya" (hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).
Dalam riwayat Ahmad yang lain: "Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sekalipun dia seorang yang kafir kerana ia tidak ada hijab (penghalang untuk Allah menerimanya). (hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).

Saudaraku anggota polis,

Tiada siapa antara kita yang dapat menyelamatkan dirinya dari hukuman Tuhan. Seseorang mungkin telah melupai orang yang dizaliminya, atau si mangsa juga mungkin terlupa, atau pergi menemui Ilahi terlebih dahulu.

Namun doanya tetap hidup. Akan ada waktu, ia tetap datang bertandang dalam kehidupan si zalim; meragut kebahagiaannya, ketenteraman hidupnya dan mencampakkan derita dalam pelbagai warna dan rupa.

Mungkin si zalim ketika itu terpinga dan bertanya 'apakah salah saya?'. Dia terlupa bahawa Tuhan tidak lupa atas kezalimannya, di dunia dan akhirat sana.

Saudaraku anggota polis,

Dunia ini sementara. Setiap kita akan ada hari akhirnya. Akan berakhirlah sebuah kehidupan dan bermulalah mahkamah keadilan Tuhan.

Tunggu balasan

Tiada kuasa yang dapat membela, tiada pembesar yang dapat berkata. Semua tunduk menunggu balasan. Firman Allah (maksudnya): “Dan janganlah kamu menyangka bahawa Allah lalai akan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim; sesungguhnya Dia hanya melambatkan balasan mereka hingga ke suatu hari yang ketika itu terbeliak kaku pemandangan mereka, (kerana gerun gementar), mereka terburu-buru (menyahut panggilan) sambil mendongakkan kepala mereka dengan mata yang tidak berkelip, dan hati mereka yang kosong (kerana bingung dan cemas)”. (Surah Ibrahim 42-43).

Saudaraku anggota polis,

Sekali lagi pada hari itu si zalim akan bertemu dengan semua mereka yang telah dimangsakan, di hadapan mahkamah yang Maha Adil.
Tiada bukti yang dapat disembunyikan, diputarbelit dan ditipu kepada masyarakat manusia yang berkumpul ketika itu. Tiada media yang boleh diperguna dan tiada kuasa kerajaan yang boleh melindunginya.

Adil seadil-adilnya. Bak kata Nabi s.a.w: "Segala hak akan dibayar kepada empunya pada Hari Kiamat, sehinggakan akan dibalas untuk biri-biri yang bertanduk atas perbuatannya ke atas biri-biri yang tidak bertanduk" (Riwayat Muslim).

Sabda baginda juga: "Sesiapa yang ada padanya kezaliman terhadap saudaranya (muslim yang lain); seperti terhadap maruah dan selainnya, mintalah halal pada hari ini sebelum tiba waktu yang tiada dinar dan dirham (tiada harta iaitu pada Hari Kiamat).

Arahan atasan

Sekiranya baginya kebaikan (amalan soleh) maka akan diambil darinya dengan kadar kezalimannya. Jika tiada baginya kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizalimi lalu ditanggung ke atasnya" (Riwayat al-Bukhari).

Saudaraku anggota polis,

Saya tahu, kadang-kala ada keadaan yang sukar sebagai anggota polis yang terpaksa melaksanakan arahan 'atasan'. Maka, mungkin ada yang berkata 'kami hanya menjalankan tugas'.

Sudilah saudara mendengar nasihat tokoh Islam yang agung al-Imam Hasan al-Basri r.a. kepada Gabenor Iraq dan Khurasan iaitu 'Umar bin Hubairah. Ketika itu zaman pemerintahan Khalifah Yazid bin Abdul Malik.

Kata 'Umar bin Hubairah: “Sesungguhnya khalifah Yazid bin Abdul Malik kadang-kala menyuruhku melaksanakan perkara yang aku rasa tidak puas hati dari segi keadilan. Apakah jika aku melaksanakannya menjadi sutu kesalahan di sisi agama?

Kata Hasan al-Basri: “Wahai Umar bin Hubairah! Takutlah Allah mengenai Yazid, jangan engkau takutkan Yazid mengenai Allah. Ketahuilah sesungguhnya Allah azza wajalla dapat menghalang Yazid daripada bertindak ke atasmu, tetapi Yazid tidak dapat menghalang Allah daripada bertindak ke atasmu.

Wahai 'Umar bin Hubairah! Sesungguhnya akan turun kepadamu malaikat yang bengis dan keras, dia tidak akan menderhakai apa yang Allah perintahkannya. Dia akan mengambil engkau dari tempat dudukmu ini, dan memindahkan engkau dari istanamu yang luas, ke kubur yang sempit.

Tanggungjawab kepada Allah

Di sana tiada Yazid, hanya yang ada amalanmu yang menyanggahi Tuhan Yazid. Wahai 'Umar bin Hubairah! Sekiranya engkau bersama Allah dan ketaatan kepadaNya, ia boleh menghalangmu dari kejahatan Yazid di dunia dan akhirat.

Jika engkau bersama Yazid dengan menderhakai Allah, sesungguhnya Allah akan menyerahkanmu kepada Yazid. Ketahuilah wahai 'Umar bin bin Hubairah! Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam menderhakai Pencipta”. Maka menangislah Gabenor 'Umar bin Hubairah”. (rujukan: Mir at al-Jinan wa 'Ibrah al-Yaqzan)

Saudaraku anggota polis,

Kita boleh bertugas kepada sesiapa pun, tetapi jangan lupa tanggungjawab kita di hadapan Allah. Tiada cacatnya menjadi anggota polis. Saudara bukan musuh rakyat. Sebaliknya, saudara diperlukan rakyat.

Apa yang cacat dan menimbulkan kebencian awam adalah tindakan kita sendiri jika menyalahi prinsip-prinsip keadilan dan keamanan. Jika itu tidak berlaku, sayang dan cinta rakyat tertumpah kepada saudara.

Ingatlah kata-kata Abu Bakar al-Siddiq: “Benar adalah amanah, bohong adalah khianat”. Jika saudara benar, rakyat sayang, Allah juga sayang. Kedamaian jiwa pun menjelang. Jika saudara bohong rakyat benci, Allah juga benci. Rezeki tidak halal, hidup tidak bahagia.

Saudaraku anggota polis,

Inilah pandangan seorang rakyat marhaen awam seperti saya. Tiada kebencian antara rakyat dan saudara jika keadilan itu tertegak.
Rakyat awam bukan sahaja mahukan keadilan yang ditafsirkan oleh pihak saudara, tetapi keadilan yang dapat difahami oleh semua. Bukan sahaja adil dari segi bicaranya, tetapi hendaklah kelihatannya juga adil
.
Semoga Allah merahmati saudara dan tugas saudara. Diberikan rezeki yang halal. Bebas dari kezaliman dan rasuah. Kami akan bersama menyanjungi saudara! Selamat bertugas!