Thursday, August 11, 2011

You Get What You Give!


Pagi ini kuliah subuh menyentuh mengenai kelebihan Ramadhan. Dimulakan dengan kisah 10 orang sahabat yang disahkan dan dijamin oleh Rasulullah saw sebagai ahli syurga. Maknanya belum mati lagi dah diberi “sijil pengesahan” sebagai ahli syurga.  Kita pun ada macam-macam sijil tapi semua tak laku disisi Allah swt.

Salah seorangnya ialah Talhah bin Abdullah. Beliau memeluk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif dalam setiap peperangan selain Perang Badar. Dalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

Satu peristiwa berlaku pada zaman Rasulullah saw, ada tiga orang sahabat karib, dua diantara mereka meninggal dunia di medan perang, tetapi seorang meninggal di atas katil. Sahabat Rasulullah saw iaitu Talhah bin Abdullah bermimpi melihat orang yang meninggal di tempat tidur itu lebih dahulu masuk surga, lalu sahabat yang bermimpi itu mendatangi Rasulullah saw dan bertanya kenapa berlaku demikian rupa, padahal dia bukan meninggal di medan perang, atau mati syahid kerana jihad fisabilillah.

Apa Jawab Rasulullah SAW :"Bukankah dia sholat dan beribadah dan dia bertemu dengan Ramadhan maka dia berpuasa, maka bila ditimbang dengan dua sahabat yang meninggal di medan perang itu maka jauh sekali perbezaan timbangannya. (Aritnya lebih besar pahalanya). Maka tidak hairanlah kita mengapa para sahabat memanjatkan doa sebelum tiba Ramadhan, agar mereka diberi kesempatan untuk hidup dalam bulan Ramadhan.dan mereka sangat merindui datangnya bulan ini.

Rasulullah saw pernah mengingatkan :" Barangsiapa yang puasa di bulan Ramadhan, karena mengharap redho Nya, dan barangsiapa yang mendirikan qiyamul lail di dalamnya dan barangsiapa yang mendapati malam lailatul qadar maka Allah akan ampuni segala dosa yang dia miliki".

Rasulullah SAW bersabda : "Ingat bahwa amal perbuatan sesuatu bukan semata-mata yang menyebabkan seseorang masuk surga!." para sahabat hairan maka ditanyakan:"Apakah termasuk anda ya Rasulullah?" "Sama saya juga!" Maka para sahabat bertanya lagi apapula yang menyebabkan seseorang masuk surga. Jawab Rasulullah SAW ;"Karena Rahmat dan Magfirah (ampunan) dari Allah SWT kita boleh masuk surga..". Kedua hal tersebut ternyata ada di bulan Ramadhan, sebagaimana kita ketahui dalam hadist di nyatakan bahwa Ramdhan ini 10 hari yang pertama mendapat rahmat Allah swt, dan 10 hari yang ke dua mendapat Magfirah Nya dan 10 hari yang ke tiga itqum minannar (dijauhkan dari api neraka).
Terdapat dikalangan kaum muslimin yang keliru, mereka sanggup bersusah payah untuk ke masjid atau surau untuk mendirikan solat sunat Terawih. Tetapi tidak  ambil berat atau tak kisah untuk solat fardhu berjemaah di surau atau masjid. Walhal yang wajib lebih utama berbanding yang sunat.

Begitu juga amalan membaca Al Quran, ganjaran setiap huruf digandakan sepuluh pahala. Namun tidal begitu ramai yang sanggup membaca Al Quran. Tapi baca surat khabar mungkin lebih lama lagi masa diperuntukan. Marilah kita peruntukan lebih waktu kita untuk merebut sebanyak mungkin keberkatan bulan Ramadhan tahun ini.  Keberkatan bulan Ramadhan ini tidak memberi apa-apa erti atau kepada diri kita, jika kita tidak buat sesuatu untuk mendapat keberkatannya. You Get What You Give!

Wednesday, August 10, 2011

Tilawah dan Ramadhan

Oleh: Mochamad Bugi
 
0diggsdigg
email

dakwatuna.com – Pasti kita semua sudah tahu sabda Rasulullah SAW ini: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Karena itu Rasulullah SAW memperbolehkan kita untuk iri kepada mereka. “Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang dianugerahi Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia membacanya ketika menunaikan shalat di waktu malam dan siang hari; dan orang yang diberi harta lalu ia menyedekahkannya di waktu malam dan siang hari.”

Tentu saja rasa iri yang dimaksud Rasulullah SAW bukan dalam bentuk ekspresi negatif, tapi meniru apa yang dilakukan oleh manusia-manusia terbaik itu: belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah SAW sangat menghargai orang yang berusaha mengikuti jejak orang-orang terbaik itu meski belum sempurna dalam membaca Al-Qur’an. Kata Rasulullah SAW, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia pandai membacanya, beserta para malaikat pembawa catatan amal, yang suci dan berbakti. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan gagap dan ia kesulitan dalam membacanya, maka ia mendapatkan dua pahala.”

Rasulullah SAW juga menimbang seseorang dari kedekatannya dengan Al-Qur’an. Beliau membuat perumpamaan, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah atrujah, baunya harum dan rasanya enak. Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma, ia tidak beraroma tapi rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti bunga wangi-wangian, baunya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah hanzalah, ia tidak beraroma dan rasanya pahit.”

Dikali yang lain Rasulullah SAW menegaskan bahwa, “Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Qur’an, maka ia bagaikan rumah yang rusak.” Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an baik sendiri maupun bersama-sama. Rasulullah SAW bersabda, “Jika suatu kaum berkumpul di dalam satu rumah Allah dan membaca Al-Qur’an serta mempelajarinya secara bersama-sama, niscaya turun ketenangan kepada mereka. Mereka dilingkupi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk-Nya yang ada di sisi-Nya.”

Tidak hanya di dunia bekas interaksi kita dengan Al-Qur’an kita rasakan. Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari Kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan para ahlinya yang ketika di dunia mengamalkannya. Mereka didahului oleh surat Al-Baqarah dan Ali Imran, keduanya membela orang-orang yang membaca dan mengamalkannya.”

Dan, surga tingkat apa yang akan kita tinggali di akhirat nanti pun ditentukan oleh banyak sedikitnya hafalan Al-Qur’an kita. Rasulullah berkata, “Ketika di surga dikatakan kepada orang-orang yang hafal Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah dalam derajat surga dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu adalah di akhir ayat yang engkau baca.”

Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk menjaga hafalan Al-Qur’an. “Selalu jagalah Al-Qur’an ini, demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sungguh Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang ada dalam ikatannya.” Rasulullah SAW menegaskan bahwa, “Sesungguhnya orang yang hafal Al-Qur’an bagaikan pemilik unta yang terikat. Jika ia selalu menjaganya, maka ia memegangnya. Sedangkan jika membiarkannya, maka unta tersebut akan lepas dan kabur.”

Pahala Tilawah di Bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan ini kita diminta oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa dengan ihtisaban seperti dalam sabdanya, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuhi keimanan dan ihtisaban, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ihtisaban maksudnya penuh perhitungan. Berhitung seperti seorang pedagang mengkalkulasi berapa keuntungan yang ingin didapat dari dagangannya. Kenapa Rasulullah SAW meminta kita berhitung dalam berpuasa di bulan Ramadhan? Karena Ramadhan bulan mega bonus!
Kita tentu sudah tahu bahwa membaca Al-Qur’an satu huruf akan diberi pahala oleh Allah SWT 10 point. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan sebanding dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miimadalah satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.”

Tapi, khusus di bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah menjadi 70 kali lipat. Setidaknya hal itu di surat pada hadits cukup panjang ini. “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka  kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikit pun.”

Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah SAW berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan), dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Ash-habani dalam At Targhib. Namun, didhaifkan oleh Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib dan Dhiya Al-Maqdisi di Sunan Al-Hakim. Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah mengkategorikan ini hadits munkar.

Jika kita tidak bisa menggunakan kelipatan pahala 70 kali atas tilawah yang kita kerjakan di bulan Ramadhan, mungkin kita bisa menggunakan hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim ini: “Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.”Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan, “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.”

Jadi, ketika membaca ayat pertama surat Al-Baqarah yang terdiri dari 3 huruf, yaitu alif lam mim, kita punya potensi mendapat puasa antara 3 x 10 = 30 sampai 3 x 700 = 2.100.

Menurut penelitian Imam an-Nasafi yang dicatatkan dalam kitab Majmu Al-Ulum Wa Mathliu An-NujumAl-Futuhuat Al-Ilahiyah, Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat, dan 1.027.000 huruf. Jadi, jika berhasil mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an sekali saja, kita akan dapat pahala sebesar 1.027.000 x 700 = 718.900.000. dan dikutip Imam Ibn Arabi dalam mukaddimah

Rasulullah SAW memberi batas bawah bagi seorang muslim dalam hal tilawah adalah minimal khatam Al-Qur’an sekali dalam sebulan. Tapi, muslim yang cerdas tentu tidak merasa cukup Cuma khatam sekali di bulan Ramadhan. Kalau cuma sekali ya rugi karena tidak beda dengan bulan-bulan yang lain. Jadi, harus bisa khatam lebih dari dua kali.

Terlebih lagi ketika Lailatul Qadar. Jangan sampai tidak tilawah di malam itu. Allah SWT menyatakan bahwa nilai Lailatul Qadar lebih baik daripada 1.000 bulan atau setara dengan 354.000 kali malam biasa. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
Berapa pahala yang bisa kita peroleh jika membaca 1 juz Al-Quran pada saat Lailatul Qadar? Jika kita asumsikan jumlah huruf dalam setiap juz sama, maka angkanya kira-kira 1.027.000 : 30 = 34.233 huruf. Jumlah potensi pahala yang bisa kita dapat di malam itu adalah 34.233 x 700 x  354.000 = 8.482.937.400.000. Subhanallah, angkanya triliunan!

Surat Al-Qadr turun karena suatu saat Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat tentang seseorang dari Bani Israil yang berjuang fii sabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Laki-laki itu selalu beribadah pada malam hari hingga pagi dan di siang harinya berjihad memerangi musuh.
Para sahabat kagum sekaligus iri kepada lelaki itu. Allah memberi kesempatan kepada lelaki itu selama 1.000 bulan untuk konsisten beribadah dan berjihad. Sementara, para sahabat banyak yang masuk Islam pada umur tidak muda lagi. Sementara potensi usia hidup umat Nabi Muhammad SAW hanya 60 tahun. Jadi, para sahabat merasa tidak mungkin menyamai ibadah yang dilakukan oleh lelaki dari Bani Israil yang diceritakan Rasulullah SAW.

Allah Maha Adil. Allah SWT memberikan Lailatul Qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jika kita beribadah saat Lailatul Qadar, Allah SWT menggandakan nilainya menjadi 354.000 kali lipat. Tilawah satu juz dapat pahala 8.482.937.400.000. Kalau 3 juz, 25.448.812.200.000! Maka merugilah orang yang tidak memperbanyak tilawah saat Lailatul Qadar.

.

SELESAIKAN URUSAN DENGAN ALLAH DAHULU



Pagi ini saya punyai dua tiga urusan penting yang perlu diselesaikan. Pertama hantar anak ke sekolah kemudian terus ke rumah Mok Ngal (ibu saudara orang rumah saya) untuk mengaji. Kedua ,ke klinik mengaji, juga di bangunan MARA  Kemudian hari ini juga saya perlu ke Pejabat Agama untuk urusan pembayaran zakat dan fitrah.

Dan yang paling ‘urgent’ iailah mendapatkan tanda tangan daripada dua orang jiran rumah saya untuk surat kebenaran membina garage dalam kawasan rumah saya sendiri?. Ini adalah kehendak Majlis Perbandaran Kuala Terengganu bagi kelulusan pelan rumah yang sudah dibina lebih sepuluh tahun lalu tetapi pelannya masih belum selesai, kerana kerenah birokrasi dan kelembapan serta ketidak cekapan urusan MPKT. Maaflah kalau ada orang MPKT yang baca tulisan saya. Tapi itulah hakikatnya. Apa boleh buat MPKT ada kuasa boleh saman tuan punya rumah jika tidak akur dengan arahannya.

Akhirnya saya memutuskan pergi mengaji, walaupun terpaksa menunggu sejam lebih untuk masuk membaca Quran depan Ustaz Fuad, Tok Guru mengaji saya yang banyak membimbing orang dewasa yang kurang celik Quran, termasuklah diri saya, tetapi setelah bersara ada keinsafan dan kesedaran untuk membetulkan bacaan kitab suci AlQuran, Sepatutnya urusan baca Quran telah selesai di bangku sekolah lagi tetapi oleh kerana sesuatu yang tidak dapat dielakkan saya tergolong dalam golongan yang lemah dalam membaca Al Quran. Salah saya sendiri.

Alhamdulillah jam 10.00 pagi saya selesai mengaji dengan Ustaz Fuad, kemudian saya ke Pejabat Agama Islam untuk menjelaskan bayaran zakat simpanan dan zakat fitrah untuk isteri dan anak-anak serta ibu saya. Beres semuanya. Tak ramai yang datang menjelaskan zakat fitrah, mungkin kerana terlalu awal lagi kot bagi kebanyakan umat Islam. Mungkin mereka menunggu waktu sunat iaitu malam atau pagi raya kot?

Memandangkan saya akan menunaikan umrah pada 16 Ogos ini saya perlu selesaikan urusan saya dengan Allah terutama soal zakat fitrah, jika tidak nanti segala ibadah akan tergantung tidak diterima Allah.

Selesai urusan saya dengan Allah, jam menunjukkan 11 pagi. Hari dah lewat, Selepas mendapatkan tanda tangan dua orang jiran saya, surat kebenaran bina garage kereta di rumah saya sendiri, saya ke pejabat pesuruhjaya sumpah untuk pengesahan surat tersebut. Kemudian bergegas ke pejabat tukang pelan di Losong untuk menyerahkan surat tersebut untuk dihantar kepada MPKT. Kebetulah pembantu am pejabat pelan baru nak ke MPKT untuk menghantar surat. Alhamdulillah surat saya dapat di hantar bersama pada saat itu.

Apa yang saya dapat iktibar daripada peristiwa kecil ini, ialah APABILA KITA SELESAIKAN SEGALA URUSAN KITA DENGAN ALLAH, MAKA ALLAH AKAN PERMUDAHKAN SEGALA URUSAN KITA SESAMA MANUSIA.

Saya sangat yakin dan percaya jika dalam hidup ini, kita dahulukan segala urusan kita dengan Allah mengatasi  urusan lain, maka Allah akan memberi pertolongan kepada kita untuk menyelesaikan apa jua urusan atau masalah yang kita hadapi. Contoh yang paling mudah, jika dah masuk waktu solat, walau apapun tugas atau kerja yang kita lakukan, tentulah tidak dapat menandingi kepentingan menyahut seruan atau suruhan Allah. Kita tinggalkanlah kerja-kerja lain, lakukanlah solat. Kemudian sambunglah tugas yang perlu diselesaikan.

Sewaktu bertugas dahulu saya sering menghadiri mesyuarat dengan pegawai atasan, Kadang-kadang mereka mengendalikan mesyuarat tidak peduli langsung untuk menghormati wakktu. Solat zohor hampir waktu asar. Apa nak buat manusia selalu dilekakan oleh urusan dunia. UTAMAKANLAH URUSAN DENGAN ALLAH, INSYAALAH ALLAH AKAN SELESAIKAN URUSAN KITA.

Air Ramadhan

Oleh: Imam Rohani
0diggsdigg
email
dakwatuna.com - Air adalah asal muasal dari segala macam bentuk kehidupan. Dari air bermula kehidupan dan karena air peradaban tumbuh dan berkembang. 70% bumi terdiri dari air, dan tubuh kita sebagian besar terdiri dari air. Tanpa air peradaban akan surut dan bahkan kehidupan akan musnah karena bumi akan menjadi sebuah bola batu dan pasir raksasa yang luar biasa panas, masif, dan mengambang di alam raya menuju kemusnahan.

Demikian halnya dengan asal muasal dan maksud penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan ketaatan kepada RabbNya, pengingkarannya akan mendapatkan balasan sebagaimana umat-umat terdahulu, seperti kisah nabi kaum nabi Nuh As yang ditenggelamkan oleh air bah, kaum nabi Luth As yang di azab dengan gunung berapi, dsb. Ketidakadaan ketaatan dan ibadah kepada RabbNya, akan mendatangkan azab dan kemusnahan kehidupan manusia

Allah SWT berfirman :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)

Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu).” (QS. Al-Hajj: 48)

Hadits Nabi SAW :
Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal RA., dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Turmudzi)

Di antara waktu kehidupan manusia dalam melakukan ibadah dan ketaatan kepadaNya dalam 12 bulan, ada satu bulan yang sangat istimewa yaitu Ramadhan. Bulan yang penuh ampunan, bulan dibelenggunya syaithan. Bulan lebih baik dari seribu bulan, bulan amalan ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT. Ibarat siklus air (hidrologi), Ramadhan adalah puncak siklus ketaatan dan ibadah kepada RabbNya.

• Air Ramadhan adalah kebutuhan dasar hidup manusia

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa manusia dapat tahan hidup lebih lama tanpa makanan dari pada tanpa air. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang tidak membutuhkan air. Ibadah dan ketaatan kepada Rabbnya adalah kebutuhan dasar manusia, dan Ramadhan adalah waktu puncak ibadah dan ketaatan.

• Air Ramadhan yang dinantikan

Ibarat kita melakukan perjalanan panjang kehidupan selama satu tahun perjalanan, maka dahaga itu sangatlah kuat, dan Allah SWT telah menyediakan air pelepas dahaga itu yaitu Ramadhan. Kekeringan ruhiyah , kegersangan jiwa harusnya tersirami oleh amalan Ramadhan kita, dan ia juga menjadi bekal menghadapi perjalanan kehidupan selanjutnya.

• Air Ramadhan yang menyejukkan

Jika lingkungan kita banyak terdapat air maka suasana menjadi sejuk, tumbuhan yang mengandung dan menyerap air, akan membuat rumah tampak asri dan indah. Amalan-amalan Ramadhan yang salah satu ibrahnya adalah ibadah sosial, harusnya menjadikan menjadi pribadi yang indah karena keindahan akhlaqnya orang yang berpuasa dan dapat menyejukkan lingkungan sosialnya.

• Air Ramadhan yang menyegarkan

Di suatu hari yang sangat terik, terkadang kita sangat menginginkan minum sesuatu yang sangat melegakan dan menyegarkan tubuh kita, semisal es cendol, kelapa muda, es pisang ijo, atau yang lainnya. Demikian halnya dalam kehidupan kita yang disibukkan dengan sejuta aktivitas, maka kita memerlukan sesuatu yang dapat merefresh kepenatan pikiran dan rutinitas, ia adalah amalan Ramadhan kita.

• Air Ramadhan menghidupkan kembali

Ketika kemarau panjang, banyak tumbuhan mengering dan bahkan tampak mati, tapi saat musim hujan tiba tumbuhan menjadi sangat cepat tumbuh, tampak hijau dan sangat subur. Pasang surut kehidupan keimanan itu adalah biasa, iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang, namun jangan dibiarkan terlalu lama kekeringan keimanan kita, karena ia akan menyengsarakan dan mematikannya. Dan Ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk menghidupkannya.

• Air Ramadhan penghilang debu dan noda

Air adalah bahan utama untuk membersihkan debu dan noda, dan untuk hasil yang lebih maksimal dapat ditambahkan detergen dan pewangi. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa, baik disadari ataupun tidak disengaja, dan sebaik-baik orang yang salah dan berdosa adalah mereka segera bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Ramadhan bulan magfirah (pengampunan). Saat yang paling tepat kita menghapus debu dan noda kehidupan, dan dibarengi dengan amalan-amalan Ramadhan kita

Wallahu A’lam bishshawab.

Tuesday, August 9, 2011

Isu murtad: Bukti ditemui dalam tong sampah

Fazy Sahir | August 9, 2011

FMT turut menerima tentatif program serta kertas soalan sebagai bukti dakwaan mengaitkan kegiatan penyebaran agama bukan Islam kepada penganut agama Islam.
EXCLUSIVE
 
PETALING JAYA: Di sebalik kontroversi yang membabitkan Jabatan Agama Islam Selangor (Jais) kerana menyerbu Gereja Methodist Damansara Utama (DUMC) di Petaling Jaya minggu lalu, kini terdapat bukti yang menjelaskan keadaan sebenar pada majlis makan malam tersebut.
FMT turut menerima tentatif program serta kertas soalan bersifat ‘menguji pengetahuan’ dalam bahasa Malaysia dan Inggeris – sebagai bukti dakwaan mengaitkan kegiatan penyebaran agama bukan Islam kepada penganut agama Islam.

Soalan yang tertera adalah menjurus kepada fahaman agama Islam secara keseluruhannya seperti membabitkan; Nabi Muhammad, Al- Quran, rukun Islam, kitab, solat dan lain-lain.

Kertas dua halaman yang mengandungi 12 soalan itu didakwa diberikan kepada para peserta yang menyertai majlis makan malam tersebut yang turut disertai oleh penganut agama Islam.
Kertas tersebut dibahagi kepada empat corak soalan iaitu isi tempat kosong, beri jawapan ya/tidak, padanan jawapan dan pilihan jawapan.

Antara soalan itu adalah ‘Apakah maksud perkataan Islam, Muslim, Quran? Apakah enam perkara iman seseorang Muslim, solat lima waktu dalam Islam, malaikat manakah yang dipercayai menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad dan tahun bilakah Nabi Muhammad dilahirkan.

Berapa banyak Surah dalam Al-Quran? Berapa kali nama Isa disebut di dalam Al-Quran dan kenapa orang Islam bersalam menggunakan sarung tangan?

Pendedahan itu dibuat oleh Pengerusi Sahabat Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM) Dr Dzulkhaini Husain yang mendakwa kepingan-kepingan kertas soalan itu ditemui dalam sebuah tong sampah.
 
Sambil mempertahankan tindakan Jais yang memeriksa gereja terbabit  Dzulkhaini berkata turut menjadi tanda tanya apabila kertas soalan seperti itu diagihkan dalam majlis makan malam yang dikatakan  untuk membantu golongan tidak bernasib baik dan memerlukan.

“Ketika kejadian itu terdapat kira-kira 100 orang dengan nisbah kehadiran satu perlima daripadanya adalah penganut Islam; 12 orang dewasa (tiga lelaki, sembilan wanita) dan lapan kanak-kanak,” katanya.

Beliau memberitahu apabila Jais masuk ke dalam, kertas soal jawab ini dah berkecai-kecai dan dimasukkan ke dalam tong sampah.
“Kalau niat baik kenapa nak masuk tong sampah? Apabila masuk tong sampah, Jais sita untuk dijadikan maklumat (bukti) di mahkamah.

“Malah bila mereka ini keluar seorang demi seorang, Jais meminta kad pengenalan (IC) untuk dilihat. Jais tidak ambil kad pengenalan daripada kanak-kanak memandangkan mereka tidak ada IC. Tindakan Jais ini benar.

“Tidak berlaku mereka (Jais) pecah pintu, hal itu berlaku diluar gereja, dengan sasaran (orang). Namun masih ada yang melemparkan fitnah mengatakan Jais pecah pintu dan berlaku kekasaran,” jelasnya.

Nyanyian “Alhamdulillah”, “Allahuakhbar

Sementara itu, didapati tentatif program makan malam tersebut turut diselit nyanyian berupa lagu – Alhamdulillah dan Allahuakhbar.

Melalui penelitian FMT, program bermula jam 6.30 petang, Rabu lalu dan sepatutnya berakhir jam 9.55 malam seperti yang tersedia dalam tentatif program itu.
Turut diselitkan dalam tentatif program berkenaan ialah ucapan aluan daripada Paderi Kanan DUMC Daniel Ho serta beberapa pembentangan kertas kerja projek oleh beberapa peserta.
Kemudian bermulalah nyanyian ‘Alhamdulillah dan Allahuakhbar’ dan sesi sembahyang yang diakhiri dengan nyanyian lagu ‘Sejahtera Malaysia’.

“Adakah ini ada sangkut-paut dengan ‘thanksgiving’ dan ‘methodist’? Mengapa ayat-ayat yang diharamkan digunakan oleh orang bukan Islam dalam enakmen agama bukan Islam (kawalan perkembangan agama lain dikalangan orang Islam 1988).
Sesudah itu, pada pukul 9 15malam, berlaku satu upacara sembahyang ‘intercession’ iaitu gaya sembahyang orang Kristian di mana meminta Nabi Isa untuk memohon kerestuan Tuhan mereka.
“Ingat pada masa itu ada 20 penganut agama (Islam) kita termasuk kanak-kanak ada di tempat itu, terpesong atau tidak, akidah mereka? Terpesongkan?

“Perkara ini dikeruhkan lagi, ada soal jawab tentang apa dia agama Iislam, mengapa orang Kristian methodist perlu melakukan perkara ini?,” soal Dzulkhaini.

Pada Rabu lalu media melaporkan Paderi Kanan DUMC Daniel Ho menjelaskan bahawa majlis makan malam di gereja terbabit adalah dianjurkan atas semangat 1Malaysia oleh Harapan Komuniti, sebuah NGO yang menawarkan bantuan kepada golongan yang tidak bernasib baik dan memerlukan.

.

THE THIRD POWER


Ms. Ambiga, who is ethnic Indian in a country that is mostly Malay and mostly Muslim, said that the protesters “exploded many myths” about Malaysians, such as the notion that people of different ethnic and religious backgrounds could not work together and that the middle class was “too comfortable to step up to the plate.” 

Her photograph has been burned by ethnic Malay nationalists, there have been calls to revoke her Malaysian citizenship and she has been threatened, via text message, with death. The movement she leads, Bersih, an alliance of 62 nongovernmental organizations pressing for electoral reform, has been declared illegal, and a demonstration that brought thousands of its followers into the streets of this capital city last month ended with nearly 1,700 arrests.

But having stared down these challenges, Ambiga Sreenevasan, 54, a University of Exeter-educated lawyer and former president of the Malaysian Bar Council, is now being hailed by many here as the “new symbol of civil society’s dissent.”

“She has not been afraid to speak the truth to power,” said Ibrahim Suffian, director of the Merdeka Center, an independent polling firm in Kuala Lumpur.

Over peppermint tea in a busy cafe recently, Ms. Ambiga squirmed uncomfortably at the attention she had attracted.

“This focus on me is actually ridiculous,” said Ms. Ambiga. “It’s a true citizens’ movement, because the citizens have taken ownership of Bersih.”

The Coalition for Clean and Fair Elections, or Bersih — “clean” in Malay — got its start in November 2007. Members of the political opposition and civic groups defied restrictions on gatherings of more than five people without a permit and rallied for changes in an election system they said unfairly favored the governing coalition, which has been in power since Malaysia achieved independence in 1957.

The demonstrators were dispersed by tear gas, and some were arrested. They did not achieve their immediate demands, which included better access to the state-owned news media by opposition candidates and the use of indelible ink on voters’ thumbs to help prevent fraud. But their action was credited with winning support for the opposition and contributing to the governing coalition’s poor showing in the 2008 election, when it fell below a two-thirds majority for the first time.

Ms. Ambiga did not attend that rally in 2007, but earlier in the year she had led a march of more than 2,000 lawyers calling for judicial reform. And while she runs a commercial litigation practice, she has also devoted considerable time to pro bono cases involving the rights of squatters, indigenous people and women. In 2009 she became the first Malaysian to receive a U.S. State Department “International Women of Courage” Award.

Maria Chin Abdullah, executive director of Empower, a nongovernmental organization that promotes women in politics, said it was because of Ms. Ambiga’s “commitment, dedication and leadership in defending human rights and democracy” that she and other N.G.O. leaders approached her to lead Bersih 2.0, the second incarnation of the electoral reform movement.

Ms. Ambiga agreed, on the proviso that it be “civil society-driven,” and not simply a tool of opposition parties.

Again, Bersih pushed for an end to electoral fraud, media access for all parties and a minimum 21-day campaign period before any election. But Ms. Ambiga said she never expected the event to unfold the way it did.

What began as a call for reform morphed into widespread anger at the government’s handling of the activists. When Bersih was declared an unregistered and therefore illegal organization, barred from demonstrating in the capital, and more than 200 people were arrested in the weeks leading up to a July 9 protest, Ms. Ambiga said, the effect was to prompt even more people to join in the rally. Bersih estimated that there were 50,000 protesters; the police put the figure at 5,000 to 6,000.

As the demonstrators tried to march to Stadium Merdeka, the police fired tear gas and water cannons to disperse the crowds. Among those arrested was Ms. Ambiga, who, along with the others, was released that night.

“While I was sitting there the most wonderful things were happening in Kuala Lumpur, which I could only read about that night,” she said. “It brought tears to my eyes. I just didn’t for a minute expect Malaysians to rise to the occasion in the way they did that day.”

Even though the rally was blocked, she said, Bersih has heightened public awareness of the need for free and fair elections. “A number of people have told me that they may not have voted before, but they’ll definitely vote next time,” she said.

Even now, though, she does not call herself an activist.
“I think I’m an advocate for a cause,” she said. “In a sense it was a learning experience for me, pulling myself out of the comfort of the Bar Council and all its support that it had, including finances, coming into this organization that didn’t have a single cent.”

Ms. Ambiga, who is ethnic Indian in a country that is mostly Malay and mostly Muslim, said that the protesters “exploded many myths” about Malaysians, such as the notion that people of different ethnic and religious backgrounds could not work together and that the middle class was “too comfortable to step up to the plate.”

She attributes her willingness to get involved in public causes to her upbringing. She cites as an inspiration her late father, a doctor who helped establish the National Kidney Foundation.

“I suppose I’ve been brought up to always try and do the right thing no matter what the odds,” said Ms. Ambiga.

Haji Sulaiman Abdullah, also a former president of the Bar Council, said he was not surprised by “the breadth and depth of leadership she has brought to the Bersih movement.”

“Even the ordinary man in the street has come to appreciate what Ambiga stands for,” he said.
The events of recent weeks offer plentiful fodder for a compelling election campaign narrative, but Ms. Ambiga shoots down any possibility that a political career could be in the offing. “I don’t have the stomach for it,” she said.

In fact, it has been Ms. Ambiga’s ability to define the Bersih movement as a cause apart from partisan politics that has enabled her to unite Malaysians, said Mr. Suffian, of the Merdeka Center.
Bersih has pledged that its campaign would continue and has called for people to wear yellow on Saturdays, but no more protests are planned for now.

“People keep saying, ‘What next?,’ but, quite frankly, I think the citizens have taken it upon themselves to organize things around the country using the yellow theme, the theme of democracy. What I think Bersih has achieved is the awakening,” Ms. Ambiga said.

She said there have been positive responses from the Election Commission, for example, making it possible for Malaysians living overseas to vote. Its announcement that it would introduce a biometric fingerprinting system, she said, was an admission that there had been a problem of election fraud.

When pressed on how Bersih would respond if the government did not meet other demands, such as equal media access, before the next election, which must be held by mid-2013, Ms. Ambiga’s tendency to deflect the focus from herself resurfaced.

“It’s not me making the decision,” she said. “It will be the rakyat” — Malay for “people” — “making the decision.”

SEMAK KUALITI PUASA KITA


Sudah sembilan hari kita berpuasa. Alhamdulillah setakat ini belum seharipun kita tinggalkan puasa, kecualilah wanita yang uzur syarie.

Bagaimana agaknya nilai atau kualiti puasa kita ? Jika hanya sekedar tak makan tak minum, ramai orang bukan Islam mampu berbuat demikian. Maksudnya segala amalan cakap bohong, mengumpat, melihat benda-benda yang haram, hasad dengki, mencuri tulang  sewaktu bekerja. Tidak amanah dan  perkara-perkara yang sewaktu dengannya berjaya kita tinggalkan, InsyaAllah matlamat puasa agar kita menjadi insan bertakwa mungkin tercapai.

Bagaimana pula solat lima waktu, sudah terlaksana atau tidak. Jika masih tidak cukup atau selalu lewat meuunaikannya, tentu kesan atau prestasi puasa kita perlu disemak semula. Dua hari lepas jiran rumah saya meninggal dunia. Usianya dah hampir 75 tahun. Tapi ada juga orang yang baru berusia 35 tahunpun meninggal dunia. Umur kematian tidak boleh jangka.

Bulan puasa ini roh umat Islam meningkatkan tinggi, sebabnya perangai atau sifat haiwan dikekang dan dikawal. Makan, minum sex tidak dibenarkan waktu siang hari. Bila tabiat haiwaniah ini dapat di kawal,  rohani akan meningkat. Itulah sebabnya masjid dan surau agak ramai yang hadir berjemaah, terutama waktu Isyak dan Terawih. Sanggup pula solat sampai 20 rakaat ?

Bila masuk sahaja awal Syawal, masjid dan surau seperti sediakala. Kalau  jemaahnya hanya sekedar dua saf, maka itulah kekal keadaannya. Mengapa berlaku demikian, sebabnya waktu itu segala tingkah laku haiwan seperti makan, minum dan apa sahaja pantang larang sewaktu bulan puasa sudah boleh dilakukan bila-bila masa sahaja. Maknanya sifat haiwan sudah mulai menguasai diri kita. Cuma kita belum jadi haiwan sahaja.

Itulah agaknya salah satu hikmah berpuasa, Allah hendak mengembalikan insan kepada sifat fitrah iaitu suci bersih. Apabila sifat malaikat mampu dibangunkan dalam jiwa insan sudah pastilah tabiat PATUH, TAAT, AKUR DAN TAKUT kepada perintah Allah menjiwai diri umat Islam.

Amalan puasa sebenarnya ingin melahirkan  insan yang sentiasa sedar, insaf dan takut bahawa setiap masa, saat dan ketika, walau dimanapun kita berada, Allah sentiasa melihat,mendengar, memerhati dan mengetahui apa yang kita lakukan, fikirkan, cakapkan, atau rasakan. Allah tidak akan menerima amalan puasa kita kalau hanya sekedar tak makan dan tak minum tetapi jika maksiat mata, telinga, mulut dan lain-lain anggota masih seperti biasa tanpa segan silu, maka hanya lapar dan dahaga sahajalah yang kita dapat, tak lebih daripada itu.

Dan sungguh malang sekalilah, ruhul syiam (kesan puasa) atau KPI (key perfomance indicator) berpuasa itu hanya kekal dalam bulan puasa sahaja. 

Marilah kita isikan masa puasa yang masih berbaki ini dengan panduan dan kurikulum puasa yang telah digariskan oleh Allah swt sebagaimana disampaikan oleh oleh Rasulullah saw.

Jangan lupa buku teks wajib Ramadhan iaitu Al Quran perlu dibaca secara ” tadarus” iaitu ada yang membaca ada yang mendengar untuk diperbetulkan, difahami dan dihayati. Selamat meneruskan perjuangan agar puasa benar-benar sebagai perisai daripada gangguan syaitan dan iblis serta yang pentingnya perisai daripada azab api neraka.