Tuesday, December 13, 2011

Jika Hidup Terasa Sulit (2)

13/12/2011 | 18 Muharram 1433 H | Hits: 798
Oleh: Ario Muhammad
0diggsdigg
email
Resah yang mengelana diriak hati
Adalah bagian dari cerita hidup yang senantiasa datang menghampiri
Berpeganglah kalian pada ayat-ayat-Nya
Karena ia mampu memberi inspirasi
Ia mampu menjadi obat bagi gersangnya rasa
Dan ia mampu menjadi penerang bagi jalan yang terasa gelap

dakwatuna.com - Bismillah…
Pernahkah kita mencermati sesungguhnya apa yang dicari oleh seorang pelancong ketika dia mengelana menembus semua belahan dunia? ataukah kita pernah sedikit merenung sebenarnya apa yang ingin didapatkan oleh seorang pendaki gunung ketika harus bersusah payah mencapai puncak mount everst? Pada hakikatnya mereka mencari kedamaian. Menelisik titik tertinggi dari sebuah pencapaian dalam hidup mereka, lalu dengan itu semua mereka akan merasa puas dan tenang karena berhasil mencapai apa yang mereka impikan.

Tapi, apakah semua pencapaian itu membuat mereka bahagia? kalau ia, kenapa mereka masih saja terus mendaki ganasnya pegunungan atau masih saja menghabiskan uang mereka untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut berulang-ulang kali?. Bahkan demi sebuah kualitas hidup sebagai seorang pendaki, mereka rela meninggal di dinginnya pegunungan sebagai bentuk kecintaan mereka dengan apa yang mereka geluti selama ini.

Jika kita memahami, sesungguhnya kebahagiaan itu takkan pernah terpuaskan jika kita hanya menjadikan DUNIA sebagai PATOKAN KEBAHAGIAAN. Seberapa berhasilpun engkau meraih mimpimu, niscaya kedamaian dan ketenangan itu takkan pernah engkau temukan jika dunia masih saja menjadi alasan untuk bekerja. Dia justru akan melemahkan, dia akan mengguncangkan, dan dia akan melahirkan keserakahan untuk terus-menerus diupayakan.
Lalu di manakah letak kebahagiaan itu?

Saudaraku… tak perlu kita jauh-jauh mencari dimana sumber kedamaian. Tak perlu kita menghabiskan uang hanya untuk mengejar dimana kepuasan itu berada. Sesungguhnya, ia begitu dekat dengan kita. Kita hanya butuh sedikit waktu untuk mengingat Allah, agar tenteram mengelana dalam hangatnya rasa.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah sajalah hati akan menjadi tenteram” (Ar-Rad : 28)

Bagi orang-orang beriman, mengingat Allah adalah bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Ia menjadi pengobat hati yang gundah gulana, ia menjadi penguat tatkala resah mulai menggelayut, bahkan ia menjadi penyalur rasa cinta kepada Allah tatkala rindu itu meletup-letup di dalam diri.

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al-Ahzab : 41-42)

Saudaraku… Terkadang kerasnya dunia membuat kita lupa untuk bersujud di pekatnya malam, kesibukan untuk mencari sesuap nasi membuat puasa menjadi sesuatu yang “mahal” harganya, bahkan shalat yang menjadi kewajiban kita hanyalah sebuah aktivitas tanpa ruh yang tidak memberikan energi bagi jiwa. Ia malah menjadi beban dan begitu berat untuk dikerjakan. Orang-orang yang lalai telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :
“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raf : 179)

Duniakah yang membuat kita lupa pada-Nya? dengan alasan mencari kedamaian kah sampai banyak pekerjaan dakwah yang terlupakan? Sejatinya, semua kerja-kerja kita seharusnya selalu membawa Allah di hati kita. Ruang dimana kita mampu merenungi sekerdil apa jiwa kita. Dia Zat yang seharusnya kita letakkan sepenuhnya di dalam jiwa kita bahkan Dialah Zat yang seharusnya kita ingat dan kita syukuri nikmat-Nya.

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya AKU ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Al-Baqarah : 152)

Adakah kebahagiaan yang paling menghangatkan sebahagia mengingat Allah? adakah rasa yang paling berharga selain kecintaan yang berlimpah kepada-Nya?

Saudaraku.. Sumber kenikmatan, kedamaian, serta kebahagiaan yang selama ini kita kejar. Sesungguhnya begitu dekat dengan kita.
Kita hanya butuh sedikit muhasabah terhadap diri-diri kita yang begitu hina, menisbahkan segala cinta dan rasa kita hanya untuk-Nya. Allah akan membersamai kita tatkala kita ingat kepada-Nya, Allah akan mengingat kita dalam diri-Nya tatkala kita mengingat-Nya dalam Jiwa kita dan Allah akan mengingat kita dalam suasana yang lebih baik tatkala kita mengingat-Nya pada suasana apapun.

Rasulullah SAW, bersabda :
“Allah SWT. Telah berfirman , “Aku menurut prasangka hamba-Ku tentang Aku; Aku bersama nya bila ia mengingat-Ku. Bila ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Bila ia mengingat-Ku di tengah khalayak, maka Aku mengingatnya di tengah khalayak yang lebih baik” (Mutafaq’alaih)

Ya…
Allah-lah sebaik-baiknya ZAT penolong..
DIA-lah yang akan senantiasa memberikan ruang bagi jiwa untuk menembus batas kebahagiaan yang selama ini kita cari….
Dan DIA lah yang seharusnya kita jadikan sebagai alasan kenapa kita harus belajar, bekerja, dan berkarya..

Yogya, 23 Februari 2009

Untuk sebuah perenungan..

Sungguh… Engkau lah yang kurindukan tatkala jiwa ini mengelana dalam batas-batas mimpi di pekatnya malam..
Engkaulah yang kunantikan tatkala raga ini bangkit dan memercikkan air di wajahku..
Engkaulah yang kucintai tatkala gersangnya hati melanda dan bahagianya jiwa merona..
Engkaulah yang kuharapkan menjadi pengobat bagi rasa yang kering ketika tertatih-tatih mengejar dunia..
Ya..
Engkaulah yang selalu kurindu.. Di ujung Sajadahku…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/16668/jika-hidup-terasa-sulit-2/#ixzz1gQO99lAt

Jika Hidup Terasa Sulit (1)

12/12/2011 | 17 Muharram 1433 H | Hits: 1.317
Oleh: Ario Muhammad
0diggsdigg
email
Sebuah energi bisa lahir dan bergerak
Tatkala sumbernya mampu kita nyalakan
Dialah yang menggerakkan
Dialah yang menguatkan
Dan dialah yang menyempurnakan
Kita hanya butuh berpikir, berilmu lalu beramal
Agar kedua sumber kekuatan ini mampu tertanam dalam diri
Ya…
Dua bekal terbesar dalam hidup ini
Adalah Keimanan dan Ketaqwaan
dakwatuna.com - Bismillah..
Jika letih mendera dan rasa seakan tak bisa meraba.. kepada siapakah kita bergantung?

Jika semua cara telah kita pikirkan dan semua proses telah kita jalani, tapi kekuatan untuk bangkit belum juga bersua.. di manakah kita bisa mencari?

Saudaraku…
Langit dan seisinya tak perlu kesulitan mencari sumber motivasi
Bahkan makhluk terkecil sekalipun telah mengetahui dimana tempat dia mengemis kasih dan dimana tempat dia memberikan rasa syukur…


Hanya pada Allah Subhanahu wata’ala semuanya bisa kita pasrahkan..
PadaNya lah semua harap terlabuhkan
PadaNyalah semua cinta terjewantahkan
Ya Dia-lah sumber kekuatan terbesar dalam hidup kita

2 bekal utama ketika seseorang ingin menjadikan Dia sebagai sumber kekuatan adalah KEIMANAN dan KETAQWAAN kepada-Nya.. dengan bekal ini engkau akan menembus kehidupan yang lebih dinamis, kokoh, mapan, kuat dan bersahaja. 2 bekal inilah yang memberikan kekuatan dahsyat bagi para Nabi dan Salafushalih untuk berkarya.

Bekalan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dapat memancarkan sumber-sumber kebaikan dalam hati dan jiwa, melahirkan potensi-potensi dan karya-karya yang besar serta bisa memupuk semangat dan tekad untuk merubah diri.

Dengan bekalan keimanan dan ketaqwaan, seseorang akan terjaga dari licinnya jalan perjuangan, tajamnya onak dan duri yang menghadang di depan serta mampu menjadi pribadi yang agung, mulia, berakhlaq dan memberikan kehidupan kepada sesamanya.
Hubungan dan keterikatan hati kita kepada Allah, perasaan untuk selalu diawasi dan selalu merasa Allah bersama kita adalah indikasi kita dekat dengan-Nya.

Dengan keimanan dan ketaqwaan Allah memerintahkan kita untuk BERSABAR, JANGAN BERSEDIH HATI dan JANGANLAH BERSEMPIT DADA karena Dia menjanjikan untuk selalu bersama kita.

“BERSABARLAH (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan PERTOLONGAN ALLAH dan JANGANLAH KAMU BERSEDIH HATI terhadap (kekafiran) mereka dan JANGANLAH KAMU BERSEMPIT DADA terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (An-Nahl : 127 – 128)

Orang-orang beriman akan selalu DIBERSAMAI OLEH ALLAH. Meski lelah bersua dan suara seakan tak terdengar lagi.

“Dan Sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang-orang yang beriman” (Al-Anfal : 19)

Dan orang-orang yang bertaqwa akan selalu dijaga dan dikuatkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wata’ala sumber segala kenikmatan

“Dan ketahuilah bahwa Allah bersama dengan orang-orang yang bertaqwa” (At-Taubah : 36)

Alangkah butuhnya kita kepadaNya. Saat ini jika masih saja resah menggelayut serta arus kehidupan terasa begitu sulit untuk diputuskan. Maka renungkanlah semua salah dan khilaf yang pernah terjadi, perbaikilah kedekatan kita kepadaNya, jemputlah 2 bekal ini agar Allah selalu bersama dengan kita.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/16665/jika-hidup-terasa-sulit-1/#ixzz1gQM3fPA5

KALAULAH SETIAP HARI BEGINI !!!



Pagi ini saya ke pejabat Sekolah Kebangsaan Seri Budiman, menghantar minyak hijau (minyak urat) kepada Zaini pembantu tadbir SKSB. Sempat berbual mesra dengan PK1 Cikgu Roshaya yang pernah bertugas bersama saya sewaktu di SKSS1 beberapa tahun lalu. Seri Budiman adalah sekolah pertama saya memegang jawatan sebagai Guru Besar pada tahun 2002 hinggalah Ogos 2008.

Sewaktu berbual tiba-tiba masuk seorang ibu bertanyakan tawaran anaknya lepasan UPSR baru-baru ini untuk masuk ke sekolah menengah. Ibu ini masih ingat saya sewaktu menjadi GB di SKSB. Beliau memberitahu saya anaknya sekarang yang pernah menduduki UPSR lapan tahun lalu berada di Universiti Malaya. tahun pertama  Seronok juga mendengar khabar bekas anak murid saya dapat menjejakkan kaki ke universiti. Itulah lumrah perasaan seorang cikgu, walaupun bukan darah daging tetapi rasa seronok dan terharu mendengarkan kejayaan anak didik kita.

Tetapi yang mendukacitakannya ialah anaknya telah hampir lapan tahun hilang penglihatan (buta), Saya terkedu sekejap mendengar penjelasannya. Puncanyanya ialah penyakit glokoma. Doktor tidak mampu hendak menyelamatkannya. Sekarang dia belajar dengan menggunakan laptop yang punyai suara. Tidak lagi menggunakan system braile. Canggih sungguh zaman sekarang. Komputer tersebut adalah sumbangan waktil rakyat di Kuala Terengganu.

Mengikut cerita ibu ini anaknya pernah sesat dalam UM sewaktu minggu pertama dia lapor diri. Seorang pemamdu teksi menghantarnya balik ke asrama. Inilah antara perkara yang merunsingkkanya. Cuma anaknya memerlukan pembantu khas, dan seorang daripada anaknya tinggal bersama anaknya yang sedang menuntut di UM. Itulah suka dan duka seorang ibu. Inilah kekayaan Allah, walaunpun cacat penglihatan tetapi mampu melanjutkan pengajian sehingga ke universiti.

Lama juga berbual dengan Zaini dan Roshaya, tetapi banyak berkisar mengenai hal sekolah, hal guru dan yang hangatnya hal gaji baru.

Hampir jam 12.30 tengah hari saya balik ke rumah dan bersiap-siap untuk solat zohor. Dari jauh dengar suara orang membaca surah Ysin melalui pembesar suara. Saya tahu kerana ada majlis Hol Marhum Tuanku di Masjid Terapung. Saya tidak dijemput walaupun ahli jemaah. Ataupun mungkin sewaktu pengumuman dibuat saya tiada di masjid tetapi mengikut kawab-kawan ahli jemaah sependapat dengan saya, masing-masinng tidak dengar pengumuman jemputan. Jadi saya hanya hadir apabila azan berkumandang untuk solat zohor berjemaah.

Sungguh menakjubkan ahli jemaah dengan pakaian kebangsaan (baju Melayu) bersampin seperti hari raya, memenuhi hampir tiga suku masjid. Kereta dan motosikal polispun banyak. Kenderaan memenuhi kawasan parking masjid.

Terfikir juga dalam hati saya, KALAULAH SETIAP WAKTU ADA PEMIMPIN KE, WAKIL RAKYAT KE, ATAU MB KE, ATAU SESIAPA SAHAJA YANG BERGELAR PEMIMPIN SANGGUP datang ke masjid setiap waktu solat, nescayalah masjid akan dipenuhi oleh rakyat jelata. Kerana dalam sejarah pengislaman di Tanah Melayu, apabila raja-raja atau ketua sesuatu negeri atau kampung atau daerah memeluk Islan, maka seluruh rakyatnya turut memeluk Islam. Inilah yang dikatakan kepimpinan melalui teladan.

Bilalah agaknya solat 5 waktu seperti solat jumaat? Ada akal fikirlah sendiri !!!!

Sunday, December 11, 2011

Kesan Sujud


Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

"Allah subhanahu wata’ala menyingkapkan sedikit cahaya agungNya, maka bersujudlah padanNya semua orang mukmin dan mukminat, maka tersisalah semua yang di masa hidupnya di dunia bersujud bukan karena Allah tapi hanya karena ingin dipuji orang dan ingin menunjukkan amalnya ( bukan sujud untuk ibadah kepada Allah ), maka tegak dan kakulah punggungnya tidak boleh bersujud". ( Shahih Al Bukhari )


Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, bahwa para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kelak kita dapat melihat Rabb kita"?, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "betul, sebagaimana kalian melihat matahari jika tidak ada awan apakah matahari itu terlihat jelas?, maka para sahabat menjawab: "tentu sangat jelas wahai Rasulullah", dan Rasul berkata: "bagaimana kalian melihat bulan purnama yang tidak diliputi awan"?, sahabat menjawab:  "pasti sangat jelas wahai Rasul", maka Rasulullah berkata: "seperti itulah kalian akan melihat Rabb kalian".

Ketika di mahsyar, di saat manusia dimuntahkan keluar oleh bumi, maka digiringlah orang-orang yang menyembah selain Allah ketika mereka ditanya: "siapakah yang kalian sembah", maka di saat itu muncullah sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah dan mengikuti sembahannya masing-masing, mereka diiring dan pisahkan dari kelompok yang lainnya. Tersisalah muslimin muslimat dan mereka diberi kemuliaan oleh Allah, dan Allah singkapkan sedikit tabir cahaya keagunganNya, cahaya kewibawaanNya. Dan ketika ditanyakan kepada mereka: "Mengapa kalian masih disini?", sedangkan yang lain telah pergi, maka mereka menjawab: "kami belum berjumpa dengan Rabb kami", dan ketika ditnya: "apakah kalian ingin melihat Rabb kalian?", mereka menjawab: "ya, jika Rabb kami mahu menunjukkan keindahanNya kepada kami", maka Allah mengangkat sedikit tabir keagunganNya dan semua pun bersujud, dan tersisa orang-orang yang tidak mampu bersujud. Mereka yang bersujud akan dipersilakan untuk melintasi jembatan shirat dengan cepat sehingga sampai dan masuk ke dalam surga Allah subhanahu wata’ala karena mereka Ahlus sujud, namun mereka yang tidak mampu bersujud dari kelompok berdosa, dan munafik yang jarang sekali sujud kepada Allah tetapi mereka muslimin ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyembah selain Allah, maka mereka akan diiring ke dalam api neraka untuk menghapus dosa-dosa mereka dan setelah itu mereka akan memasuki surga Allah subhanahu wata’ala. 

Seterusnya para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenal ummatmu kelak di dalam api neraka?", maka berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: "Aku mengenal ummatku diantara sekian banyak penduduk neraka itu dengan bekas sujudnya", Rasulullah bersabda:
"Allah mengharamkan api neraka untuk memakan bekas sujud"

Mereka yang pernah bersujud kepada Allah, bekas sujudnya akan tetap ada dan Allah mengharamkan api neraka untuk membakar anggota sujud, anggota sujud tidak dapat dibakar oleh api neraka, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Semoga dengan mendengar ucapan ini, saya dan saudara dimuliakan di hari kiamat kelak dengan kelompok ahli sujud, amin. Maka jagalah solat kita, karena itu adalah tanda kesetiaan kita kepada cintanya Allah, itulah jawaban cinta kita kepada Allah. Semakin engkau cinta kepada Allah maka engkau akan semakin asyik dalam solatmu, dan semakin asyik pula Allah menurunkan ketenangan kepadamu.

 

Friday, December 9, 2011

Sukarnya mencari Winnable Leader

Oleh : NORDIN MOHAMED
Tarikh : December 7, 2011 Sinar Harian
Nordin
Pendekatan memilih winnable candidate atau calon boleh menang untuk bertanding dalam pilihanraya adalah satu strategi yang pragmatik. Calon yang ada rupa, ada gaya, dikenali dan disenangi ramai, lebih-lebih lagi kerana ringan mulut, tangan dan tulangnya adalah ciri-ciri calon boleh menang.
 
Meskipun pendekatan memilih calon boleh menang itu diuar-uarkan oleh Pengerusi BN, Datuk Seri Najib Tun Razak, perkiraan calon sebegitu akan juga menjadi faktor pemberat dalam memilih calon untuk parti- parti lain yang bertanding pada PRU13 kelak.
 
Bagaimana pun, calon boleh menang ini, walaupun boleh menjadi wakil rakyat kerana mempunyai wajah atau peribadi yang bagus, ia masih belum mencukupi kehendak sebenar pemilih yang mahukan lebih daripada itu. Seseorang calon boleh menang mungkin disenangi dan dikenali dalam situasi yang harmoni. Tetapi ketokohan mereka yang sebenar perlu juga menyerlah sebagai pembela, penyuara dan seterusnya pejuang kepada pengundi dalam persekitaran dan suasana yang mencabar selepas memenangi kerusi yang ditandingi.
 
Justeru itu, ciri-ciri seseorang winnable candidate masih belum holistik karakternya jika dia tiada nilai tambah sebagai winnable leader. Ciri-ciri winnable leader inilah yang lebih sukar ditemui pada hari ini. Malah, (maaf cakap), mereka yang menjadi pemimpin yang telah menang pun ramai yang kini menampakkan tanda-tanda mereka bakal menjadi losing candidate sekiranya bertanding lagi!
 
Winnable leader, sebagai pemimpin mestilah duduknya di hadapan, bukan di belakang bersama pengikut, ataupun lebih buruk lagi, bersembunyi di belakang pengikutnya. Pemimpin boleh menang mestilah mempunyai karakter yang lebih handal daripada mereka yang dipimpin. 
 
Dalam apa sahaja isu yang diperkatakan, dialah yang tampil sebagai jurubicara. Dalam apa jua pemikiran, pendapat dan hujah yang diutarakan, pandangannya mestilah lebih jauh dan belum terjangkau dek akal pengikutnya. Dalam apa juga nilai, idealisme dan falsafah yang dianuti, pegangannya perlu lebih kental daripada orang yang di sekelilingnya. Sehinggakan pegangannya bukan sahaja menjadi panduan dan penyuluh pengikut, malah sukar diperkotak-katik dan diperlekeh oleh musuh politiknya.
 
Pemimpin boleh menang mesti bertanggungjawab, bukan bertanggungsoal! Maknanya kerjanya bukan semata-mata menyoal dan mempersoalkan apa sahaja yang dibuat oleh orang lain. Tetapi, pemimpin boleh menang perlu punyai jawapan kepada apa yang dipersoalkannya. Dia lebih bijak jika bertanya sesuatu bukan kerana tidak tahu, sebaliknya kerana ingin tahu samada jawapan orang yang ditanya itu lebih baik daripada jawapan yang ada di dalam kotak fikirannya. 
 
Winnable leaders atau pemimpin boleh menang juga adalah pemimpin yang bersedia untuk menjawab apabila disoal. Bukannya senyap sepi ketika pelbagai soalan bersimpang-siur ditujukan kepada dia dan kerjanya. Ataupun menyuruh orang lain untuk menjawab bagi pihaknya. Lebih buruk lagi bila dia memperlihatkan seolah-olah bertanya itu satu dosa hingga mempersalahkan pula mereka yang bertanya. 
 
Pemimpin boleh menang mestilah berani untuk berbeza daripada orang lain. Dia berani menyatakan benci kepada apa yang pengikutnya suka atau suka kepada apa yang pengikutnya benci dengan pendekatan wasatiyyah iaitu keseimbangan yang optima. Dia berkawan dengan musuhnya di hadapan para pengikutnya agar pengikutnya tahu bermusuh itu hanya dalam pertandingan bukannya dalam kehidupan. Dia sama sekali tidak berkawan dengan musuhnya secara sembunyi-sembunyi di belakang para pengikutnya.
 
Bila tiba waktunya, pemimpin boleh menang itu mudah sekali berundur kerana tahu bukan dia sahaja yang boleh menjadi pemimpin boleh menang. Rayuan pengikutnya agar dia terus memimpin akan didengar dan ditolak dengan baik. Tidak langsung menggunakan alasan dia mesti terus pemimpin kerana pengikut merayunya agar terus mengepalai perjuangan.

Pemimpin yang membuat keputusan kerana desakan pengikutnya membenarkan dirinya jatuh ke taraf pengikut pula. Pemimpin begini sudah hilang aura pemimpin boleh menang.
 
Yang penting, dalam apa jua tindakannya, pemimpin boleh menang sentiasa mempamerkan ketenangan walau berdepan dengan badai politik yang menggila kerana dia sentiasa bertimbang rasa ~ menimbang dengan fikiran dan merasa dengan hati sebelum melangkah.
www.sinarharian.com.my tidak bertanggungjawab di atas setiap pandangan dan pendapat yang diutarakan melalui laman sosial ini. Ia adalah pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pandangan dan pendirian kami.

Sunday, December 4, 2011

Keagungan Al-Quran

Mari Kita Cuba....!
Al-Quran adalah peninggalan Rasulullah kepada kita semua umatnya. Ada 2 benda yang Nabi Muhammad s.a.w tinggalkan kepada kita iaitu Al-Quran dan juga Sunnah untuk kita semua amalkan. Berapa kali kita membaca Al-Quran sehari? 1 kali? 2 kali atau dalam solat sahaja? Ganjaran paling senang nak dapat adalah melalui pembacaan Al-Quran kerana setiap huruf diberikan 10 ganjaran, tambahan pula Al-Quran adalah kalam Allah (datang daripada Allah sendiri bukan diciptakan manusia)
Tip yang akan kongsikan ni adalah cara untuk menghafal / mencari  muka surat setiap juzuk Al-Quran. Memang menakjubkan kerana hanya dengan menggunakan formula matematik ringkas, kita dapat tau muka surat setiap juzuk Al-Quran.Jom sama2 kita belajar...

Contoh 1 Jika anda ingin mengetahui Juzuk 5 di halaman ke berapa: 5-1 = 4, 4 perlu didarab dengan 2 jadi 4 x 2 = 8 Letakkan no 2 selepas jawapan. Jadi, juzuk 5 adalah pada halaman 82 Sekarang lihat pada Quran dan anda akan lihat Juzuk 5 bermula pada halaman 82. Menarikkan?

Contoh 2 Jika anda ingin mengetahui Juzuk 10 di halaman ke berapa: 10-1 = 9, 9 perlu didarab dengan 2 jadi 9 x 2 = 18 Letakkan no 2 selepas jawapan. Jadi, juzuk 10 adalah pada halaman 182

Contoh 3 Jika anda ingin mengetahui Juzuk 23 di halaman ke berapa: 23-1 = 22, 22 perlu didarab dengan 2 jadi 22 x 2 = 44 Letakkan no 2 selepas jawapan. Jadi, juzu 23 adalah pada halaman 442

Subhanallah, memang menakjubkan teman-teman. Sama-sama kita kongsikan kepada kawan-kawan kita, adik-adik kita, famili kita supaya kita sama-sama mendapat  manfaatnya..
 

Friday, December 2, 2011

Takabbur dan Sombong

Pengertian takabbur berarti sombong atau menampakkan keagungan pribadi. Dalam kitab Lisanul Arab, antara lain disebutkan bahwa at-takabbur wal istikbaar berarti 'atta'azzhum' (sombong). Firman Allah Ta'la menyebutkan pengertian tersebut antara lain, terdapat dalam surah al-A'araaf [7] ayat 146, yakni:
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ...
"
Allah akan memalingkan orang-orang yagn menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar".

Maksudnya, orang-orang itu telah mengganggap bahwa dirinya merupakan makhluk yang paling mulia yang tidak dimiliki oleh orangn lain. Sedangkan menurut istilah, takabbur ialah sikap seorang aktivis yang terlalu membangga-banggakan diri (ujub) yang berakibat dirinya selalu menghina atau meremehkan diri dan pribadi orang lain serta tida pantas untuk menerima kebenaran dari mereka.
Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda, "Tidak masuk surga barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kibr (sombong) sebesar biji zarrah".

Kemudian salah seorang sahabat bertanya, "Bagaimana jika ada seorang yang menyukai baju yang baik dan sandal yang bagus?".
Rasulullah shallahu alaihi wassalam menjawab, "Sesungguhnya Allah itu indah dan suka kepada yang indah".

Sedangkan takabbur dan izzah mempunyai perbedaan yang sangat mendasar sekali. Takabbur merupakan sikap sombong dalam kebathilan, sedangkan izzah merupakan sikap bangga dalam kebenaran. Atau dengan kata lain, takabbur adalah penolakan dan pengingkaran terhadap nikmat, sedangkan izzah adalah pengakuan terhadap nikmat, kemudian orang yang bersangkutan membicarakannya, sebagaimana yang telah disebutkan hadist diatas.

Faktor-Faktor Penyebab Takabbur

Karena sikap takabbur bararti sikap sangat ujub yang berdampak pada sikap menghina orang lain serta menganggap dirinya lebih tinggi dan unggul atau merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain, maka pada dasarnya faktor-faktor penyebab dan pendorongnya hampir sama dengan sikap ujub dan ghurur. Mungkin yang berbeda hanya tingkat keparahan gradasinya saja. Berikut akan saya coba kemukakan tambahan-tambahannya saja.

Pertama, sikap tawadhu' yang berlebihan oleh orang lain.
Ada sebagian manusia yang bersikap berlebihan dalam hal tawadhu', sampai-sampai mereka mencoba menjalankan hidupnya dengan sangat sederhana atau terlalu bersahaja.

Misalnya, mencoba meninggalkan kepantasan dan kelaziman dalam berpakaian atau dalam hal makan dan minum. Padahal, mereka itu merupakan orang-orang yang berkecukupan. Contoh lain, mereka tidak ikut serta menyumbangkan pemikiran dan pendapat yang dimilikinya kepada orang lain, atau selalu berusaha menolak kepercayaan, tanggungjawab, serta amanah yang diberikan orang lain kepadanya. Padahal, dia memiliki kemampuan untuk melaksanakan semua itu.

Setan akan menggoda dan membisiki mereka bahwa sikap yang telah diambilnya itu merupakan bentuk keunggulannya yang tidak dimiliki oleh orang lain, atau orang yang hebat lagi mulia. Karena mampu bersikap tawadhu'. Selain itu, juga merendahkan mereka akan merendahkan dan menghina orang lain.

Faktor yang dapat mengeliminasi sikap takabbur ini telah diingatkan oleh Allah dalam al-Qur'an dan Sunnah, yaitu tatkala kita diharuskan untuk senantiasa menyebut-nyebut nikmat yang dianugerahi Allah Ta'ala. Firman-Nya:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴿
١١﴾
"
Dan nikmat Tuhanmu, maka sebut-sebutlah". (QS. Adh-Dhuha [93] : 11)

Atau sabda Rasulullah shallahu alaihi wassalam, "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan". (HR. Muslim)
"Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, yang memuji-Mu karenanya, yagn memperolehnya, dan yang telah disempurnakan nikmat itu kepada kami". (Hadist dari kitab Ibnu Katsir).

Malik bin Nadhlah al-Jasyaimi berkata, "Aku mendatangi Rasulullah dengan mengenakan baju yang buruk. Kemudian Rasulullah bersabda, 'Apakah engkau memiliki harta?' Aku menjawab, 'Punya, ya Rasulullah'. Rasulullah bertanya lagi, 'Harta apa yang engkau miliki?'. Aku menjawab, 'Allah telah menganugerahiku onta, kambing, kuda, dan budak'. Mendengar jawabanku itu Rasulullah bersabda, 'Jika engkau dianugerahi harta oleh Allah, maka perlihatkanlah bekas nikmat Allah itu, dan kemuliaan-Nya kepadamu'." (HR. Abu Dawud)

Para ulama salaf telah memahami benar makna hadist itu, sehingga mereka selalu menjalankannya dan menegur orang yang tidak menyadari. Hasan bi Ali ra pernah berkata, "Jika engkau memperoleh suatu kebaikan atau engkau mengerjakan suatu kebaikan, maka bicarakanlah hal itu kepada saudaramu yang engkau percayai".

Abu Bakar bin Abdillah al Muzni pernah pula berkata, "Barangsiapa yang diberi kebaikan (kekayaan) lalu tidak tampak pada dirinya, maka ia termasuk orang yang dibenci oleh Allah dan menentang nikmat Allah (yang telah diberikannya)". (Kitab al-Jaami' li ahkaamil Qur'an. Qurthubi, 20/102).

Wallahu a'lam.