Friday, January 13, 2012

Rahasia Kemenangan Generasi Salaf


http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/rahasia-kemenangan.htm

oleh Hasan al-Banna

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿٤٦﴾


"Jangan bertengkar, supaya jangan kamu gentar, dan kekuatanmu hilang. Bersabarlah. Sungguh, Allah Azza Wa Jalla bersama orang yang sabar." (QS. al-Anfal [8] : 46)

Saya percara bahwa generasi Salaf yang shaleh dapat memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, sebagaimana di dalam kitab-Nya:

"Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala di akhirat. Dan Allah cinta orang yang berbuat kebaikan."

Sebabnya, lantara dua hal yang sangat azas (pokok). Yaitu, pertama, kokohnya keimanan mereka kepada Allah dengan segela konsekuensinya. Selalu mengharapkan pertolongan Allah, dan selalu merasa memperoleh kekuatan dari-Nya, karena keimanan tadi.
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٨﴾
"Dan kekuatan itu hanya bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin". (QS. al-Munafiqun [63] : 8)

Para Salafush shalih, kondisi mereka ketika sedang berbicara, ketika sedang beramal, ketika sedang berjihad, ketika sedang berpergian, dan ketika sedang berada di daerahnya sendiri, mereka merasa berada, mereka merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah, merasa selalu dijaga dan diberi pertolongan serta dipelihara
.
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء وَلاَ أَصْغَرَ مِن ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴿٦١﴾

"Apa pun urusanmu dan bagian apapun yang kamu bacakan dari al-Qur'an, setiap kamu melakukan pekerjaan, tentulah kamu melakukannya, dan tiada tersembunyi dari Tuhanmu. Seberat dzarrah pun di bumi dan di langit, setiap apa yang lebih kecil, dan setiap yang lebih besar daripadanya, tentulah ada dalam kitab yang terang."(QS. Yunus [10] : 61)

Kedua, kokohnya bangunan persaudaraan mereka. Kuatnya hubungan jamaah mereka yang bertumpu pada kesucian hati, kebersihan jiwa, rasa persaudaraan dan cinta kasih yang tulus karena Allah. Semuanya itu menimbulkan sifat mau mengalah antara yang satu denganyang lain. Yakni, lebih mengutamakan kepentingan saudara seiman daripada kepentingan pribadinya.

Firman-Nya:

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٩﴾

"Tapi para Anshar yang mempunyai rumah (di Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan Muhajirin, mencintai orang yang hijrah ke tempat mereka, dan tiada menaruh keinginan dalam hatinya akan apa yang diberikan kepada Muhajirin. Mereka mengutamakan para pengungsi daripada dirinya sendiri. Sekalipun mereka dalam kemiskinan. Dan barangsiapa terpelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah yang beroleh keuntungan." (QS. al-Hasyr [59] : 9)

Demikianlah, jalinan persaudaraan mereka, sehingga ada di antaranya yang lebih mengutamakan saudaranya seiman daripada dengan hartanya, tenaganya, dan dengan apapun yang dimilikinya.

Disebutkan oleh al-Qurtubi bahwa orang-orang Muhajirin yang pada waktu itu belum mempunyai tempat tinggal di Madinah,mereka tinggal di rumah kaum Anshar. Ketika Rasulullah shallahu alaihi wassalam memperoleh rampasan dari kaum Yahudi Bani Nadhir, beliau memanggil orang-orang Anshar untuk menyampaikan rasa terima kasih.

Pernyataan itu disampaikan mengingat jasa baik mereka yang telah menyediakan rumah untuk tempa tinggal kaum Muhajirin berikut segala keperluan hidupnya. Kemudian beliau bersabda, "Kalau kalian mau, harta rampasan yang diberikan Allah kepadaku dari Bani Nadhir ini akan kubagi untuk kalian dan untuk kaum Muhajirin.Dengan catatan, kalian biarkan mereka mendiami rumah kalian, atau kuberikan semua harta rampasan ini kepada mereka dengan catatan mereka harus keluar dari rumah kalian".

Lalu, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz menjawab, "Kami berikan seluruh harta itu kepada kaum Muhajirin, dan kami biarkan mereka tinggal di rumah-rumah kami, sebagaimana semula". Kemudian, kaum Anshar yang lain menyahut pula, "Kami relakan dan kami terima ketetapan ini dengan senang hati, wahai Rasulullah".

Lalu Rasulullah shallahu alaihi wassalam memanjatkan doa, "Ya Allah. Berikan rahmat kepada orang-orang Anshar dan anak-anak orang-orang Anshar". Selanjutnya, Rasulullah shallahu alaihi wassalam, memberikan harta rampasan kepada kaum Muhajirin, dan tidak diberikan sedikitpun kepada kaum Anshar, melainkan kepada tiga orang saja, yang pada waktu itu sangat membutuhkan, yaitu Abu Dujanah, Simak bin Kharasyah, Sahl bin Hunaif, dan al-Harist bin Shimah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Tirmidzi dai Abu Hurairah ra bahwa seorang lelaki yang rumahnya dikunjungi seorang tamu yang hendak bermalam. Pada waktu itu si pemilik rumah hanya memiliki persediaan makanan untuk dirinya dan anak-anaknya saja. Lalu ia berkata kepada isterinya."Tidurlah anak-anak itu dan matikanlah lampunya. Sesudah itu berikanlah makanan itu kepada tamu kita. Kemudian turunlah ayat al-Qur'an:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

"Mereka mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka dalam kemiskinan." (QS. al-Hasyr [59] : 9)

Diriwiyatkan juga oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallahu alaihi wassalam, sambil mengatakan, "Aku kelaparan". Lalu Rasulullah mengirim utusan kepada salah seorang isteri beliau untuk menanyakan makanan. Kemudian Isteri Nabi Shallahu alaihi wassalam menjawab. "Demi Allah yang mengutus engkau, aku tidak mempunyai makanan apapun kecuali air," jawabnya.

Kemudian beliau mengutus isterinya yang lain, tetapi mendapatkan jawaban seperti juga. Demikianlah, hingga akhirnya semua isteri beliau di tanyai, tetapi semunya menjawab, "Aku tidak memiliki makanan apapun selain air". kemudian beliau berkata, "Siapakah diantara kalian yang sanggup menjamin orang ini pada malam har ini?". Si isteri menjawab, "Tidak. Melainkan makanan untuk anak-anak kita saja". Dia berkata, "Sibukkanlah anak-anak itu dengan sesuatu, sehingga mereka lalai. Kemudian, apabila tamu kita nanti sudah datang, matikanlah lampu dan tunjukkanlah kepadanya bahwa kita sudah siap hendak makan. Dan jika ia sudah mulai makan, kita pun pura-pura ikut makan".

Setelah si tamu datang, ia dipersilakan makan dan mereka pura-pura menemaninya makan. Sehingga, si Tamu makan dengan tenang. Keesokan harinya lelaki Anshar itu datang kepda Rasulullah shallahu alaihi wassalam menceritakan apa yang dilakukannya bersama tamunya semalam. Lalu beliau bersabda, "Sungguh Allah kagum (sangat senang) terhadap perbuatan mu sekelurga malam tadi".

Turunlah firman-Nya:
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٢٩﴾

"Muhammad Rasul Allah, dan orang-orang bersama ia keras terhadap orang kafir, kasih sayang antara sesama mukmin. Kau lihat mereka rukuk dan sujud. Inginkan karunia Allah dan keridhaan-Nya. Di wajahnya tanda-tanda bekas mereka sujud. Inilah perumpamaan mereka dalam Injil, seperti benih yang mengeluarkan batang, lalu menjadi kuat karenanya, lebat dan tegak atas batangnya, menyukakan hati para penabur, tetapi menimbulkan amarah orang-orang yang ingkar kepada mereka. Allah telah janjikan kepada orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan diantara mereka. Ampunan dan pahala berlimpahan." (QS. al-Fath [48] : 29)

Sesungguhnya kalian selamanya tidak akan dikalahkan, karena sedikitnya jumlah kalian, atau karena lemahnya persiapan material kalian, atau karena banyaknya musuh kalian,atau karena bersatupadunya musuh yang hendak membinasakan kalian. Andaikata seluruh penduduk bumi berhimpun menjadi satu, tiadalah mereka akan memperoleh sesuatu dari kalian apa yang telah ditentukan oleh Allah.

Tetapi, kalian akan dibinasakan, pertolongan akan dihapuskan bilamana hati kalian telah rusak, dan Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada kalian bila keadaan kalian demikian. Atau kalian akan mendapat bencana serupa, bilamana kalimat kalian sudah bersilang sengketa, pikiran kalian tidak berpadu setuju.

Adapun jika hati kalian bersatu, segala tujuan diarahkan kepda Allah, segala sesuatunya kalian lakukan karena semata-mata mentaati Allah dan demi mencari ridha-Nya, maka tak usahlah kalian bersedih hati. Kalian lebih tinggi, lebih unggul, dan Allah akan selalu menyertai kalian dan tidak akan menyia-nyiakan amal kalian.

Adakah bahaya yang lebih mengerikan yang akan menimpa kita, selain daripada bahaya hati, kelemahan jiwa dan semangat, beragamnya hawa nafsu dan bersilangsengketanya pendapat dan pikiran.

Tidak disangsikan lagi bahwa untuk mencapai semua itu, diperlukan perjuangan yang terus menerus dan berkesinambungan, yang pahit, lagi pula melelahkan.
Dan ini semua takkan terwujud kecuali adanya persatuan yang sempurna, persaudaraan yang kokoh, persaudaraan antara hati masing-masing, terus berusaha berjalan diatas jalan kebenaran dan selalu mengarahkan semua amalnya untuk kebaikan. Wallahu'alam

Kerja Seorang Muslim

http://www.eramuslim.com/oase-iman/miftah-alaflah-kerja-seorang-muslim.htm

Oleh Miftah Alaflah

Membaca cerpen fenomenal "Robohnya Surau Kami" karya A.A. Navis seperti mendapatkan sentilan halus, bahwa ada kewajiban yang kurang, yang belum dilakukan sebagai seorang muslim.
Bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau -masjid berukuran kecil- di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu.

Seorang Kakek bernama haji saleh, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi -Si Pembual- tentang seorang tokoh dalam cerita buatannya yang juga bernama Haji Saleh, yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Saleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan, dengan tekun. Tapi, saat "hari keputusan", hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Saleh malah dimasukkan ke neraka.

Haji Saleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka Tuhan menjelaskan alasan memasukannya ke neraka :

"kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang".

Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, akhirnya Si Kakek memutuskan bunuh diri.

Tentu saja cerita ini adalah cerita fiksi. Tapi kisah ini membawa pesan yang dalam bagi kita semua, bahwa kerja-kerja kita sebagai muslim tidak berhenti hanya sampai di situ : beribadah. beribadah tentu sebuah kewajiban. Tapi berkeyakinan bahwa kewajiban kita sebagai muslim hanya beribadah saja adalah sebuah kekeliruan. Tanpa memikirkan orang lain, tanpa memikirkan masyarakat, tanpa memikirkan umat, tanpa memikirkan negara.

Sebab perspektif berfikir yang demikian sama saja dengan kapitalis, berorientasi untuk kepentingan pribadi. Hanya saja pada tempat yang berbeda. Karena itu kita sepakat, bahwa sebaik-baik di antara kita adalah yang paling bermanfaat bagi saudaranya yang lain, yang memberikan pengaruh.

Sejarah membuktikan, bahwa umat ini tegak berdiri di kalangan orang-orang seperti Khalid bin Walid yang bukan hanya taat beribadah tapi juga memberikan sumbangan besar dalam militerisasi islam pada zamannya, atau Zaid bin Tsabit yang bukan hanya tidak pernah meninggalkan shalat tahajud tapi juga memiliki kapasitas keilmuan tinggi sehingga dipercaya sebagai penulis Alquran. Atau Umar bin Khattab yang bukan hanya sering menangis mengingat dosa-dosanya tapi juga seorang pemimpin ulung. Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah dan Kufah takluk di bawah kepemimpinannya.

Itulah mengapa di dalam banyak ayat, kita menemukan kata amanu -beriman- selalu diikuti dengan kata amal -bekerja-, sebagai upaya nyata mempertanggungjawabkan iman.
"dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman dan melakukan kerja-kerja kebaikan" Al baqarah : 25. Vertikal dan horizontal.

Karena sejatinya agama ini diturunkan oleh Allah, kata Fathi Yakan -seorang tokoh revolusioner-, untuk ditegakkan di muka bumi, ia tidak hanya berisi tuntunan individu manusia dalam menjalin hubungan dengan Tuhannya dalam aktivitas ibadah ritual saja, namun juga berisi sistem kehidupan untuk menjadi panduan bagi seluruh umat manusia dalam menata kehidupan.

Agama ini akan meraih masa depan cemerlang di tangan orang-orang yang memiliki semangat kerja-kerja kebaikan, semangat membangun, semangat untuk melakukan perubahan.

Bukankah "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan melakukan kerja-kerja kebaikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai". An nur : 55

A.A. Navis di zamannya menghadapi realita orang-orang seperti Haji Saleh. kita di zaman kita pun menghadapi Haji-haji saleh baru, bahkan lebih banyak lagi, atau jangan-jangan kita sendiri?

http://miftahalaflah.blogspot.com/

Thursday, January 12, 2012

Tanggal 901, cabaran konspirasi

NURUL IZZAH
Sinar Harian January 11, 2012
Tarikh 9 Januari 2012. Tempat Kompleks Mahkamah Jalan Duta. Hati mana yang tidak sedih apabila melihat ayahanda tersayang menunggu penghakiman yang akan memisahkan ayahanda daripada keluarga, lebih-lebih lagi apabila tuduhan palsu digunakan sebagai senjata politik.

Hati mana yang tidak berdebar menanti satu penantian yang bakal mengubah segala suasana kekeluargaan yang selama ini dinikmati; dirampas rakus pihak yang berkuasa.


Hati mana yang tidak gundah kerana berasa satu ketidakadilan menimpa keluarga ketika anak-anak, menantu dan cucu masih memerlukan ayah untuk tempat mengadu, menimba nasihat dan menumpang kasih.


Adakah salah untuk seorang anak memiliki perasaan yang sejuta rasa penuh amarah dan keharuan apabila ayahnya diperlakukan begitu rupa? Alhamdulillah, walaupun ayah dibebaskan daripada pertuduhan yang tidak sepatutnya dibicarakan langsung berdasarkan hujah-hujah dan pembuktian awal, rakyat berhak mendapat jawapan kepada semua persoalan mengenai perjalanan sebenar perbicaraan ini.


Apakah yang mendorong perbicaraan ini diteruskan mesti dicari kerana nyata sekali satu penganiayaan sudah berlaku bukan sahaja kepada individu, tetapi kepada integriti institusi kehakiman yang menjadi tunjang negara kita.


Mengapa tidak digunakan undang-undang syariah yang sedia ada iaitu qazaf dalam mengadili kes ini? Bukankah pemerintah sering menabik dada dan melaungkan kepada seluruh dunia bahawa Malaysia sebuah negara Islam? Ke mana perginya Islam itu?


Mengapa yang menuduh juga tidak didakwa sekiranya pertuduhan yang digunakan melibatkan perbuatan bukan paksaan tetapi secara rela? Bukankah ini pendakwaan yang hanya separuh jalan dan tidak sempurna?


Mengapa laporan doktor pertama tidak digunakan sepenuhnya? Bukankah tanda bukti awal pertuduhan nyata membuktikan kepalsuan tuduhan jijik sudah tidak berasas?


Mengapa bahan bukti yang diambil secara ‘curi-curi,’ dengan prosedur simpanan tempang sifatnya diterima bulat? Bukankah rekaan laporan kimia selepasnya terang-terang tidak ada nilai diguna pakai dalam pendakwaan?


Mengapa saksi-saksi penting seperti pegawai polis (yang mengaku bertemu di sebuah bilik hotel) serta yang berjawatan paling tertinggi di tanah air (yang pada awalnya menafikan bertemu kemudian mengaku pula bertemu untuk bantuan biasiswa) dengan si penuduh sebelum berlakunya kejadian yang menjadi asas pertuduhan dibenarkan tidak hadir pada perbicaraan?


Bukankah setiap rakyat tidak kira pangkat adalah sama darjat di mata undang-undang kerana demi keadilan semua saksi mesti didengar, diperiksa dan disoal jawab di mahkamah?


Mengapa perbicaraan diteruskan apabila segala unsur-unsur pertuduhan itu rapuh, berunsur palsu dan tidak memenuhi piawaian paling asas bahan bukti, termasuk kepincangan pemanggilan saksi jelas wujud? Bukankah perbicaraan ini sepatutnya untuk mencari kebenaran dan keadilan, bukan dijadikan pendakwaan terpilih untuk tujuan politik?


Kalau ini bukan namanya satu konspirasi politik apa pula namanya? Ke mana hilangnya pertimbangan dan peri kemanusiaan mereka yang merancang, melaksana dan bersubahat untuk memperkosa institusi kehakiman bagi tujuan sempit dan jahat pemerintah?


Ke mana hilangnya kemuliaan budaya bangsa yang tidak mengajar memfitnah dan menzalimi orang lain? Ke mana membisunya kebanyakan suara ulama, ilmuwan dan suara berdaulat melihat kezaliman yang melanggar batasan agama, budaya dan kemanusiaan dibenarkan berlaku?


Ke mana perginya keadilan, kebenaran, kewarasan dan kejujuran? Tetapi yang menjadi kemuncak kemarahan saya adalah makna sebenar dan kesannya kezaliman yang berlaku bukan sahaja kepada kami sekeluarga, tetapi kepada semua rakyat dan lebih utama kepada kemurnian negara yang dinodai dengan kedurjanaan mereka yang mahu berpegang kepada kuasa tanpa mengira apa institusi yang dirosakkan atau apa hak yang dicabul.


Sesungguhnya kebenaran akan tetap menghancurkan kebatilan dan kezaliman itu tetap akan dibalas kerana tidak seperti penghakiman di dunia, penghakiman di akhirat tidak boleh dibeli, dipalsukan atau diperdagangkan.


Inilah yang menjadi keyakinan dan asas kesabaran kami sekeluarga semenjak 13 tahun apabila segala jentera kerajaan dicemari untuk menyerang prinsip perjuangan menuntut keadilan dan demokrasi tulen untuk semua.


Terima kasih kepada semua pihak dan rakyat yang telah banyak menyokong dan beristiqamah dalam menghadapi cabaran konspirasi politik yang pada hemat saya masih belum reda. Ayahanda Anwar sudah bebas dan sekarang kita mesti bebaskan rakyat pula daripada kejahatan yang menggugat demokrasi. ALLAH Maha Besar
.
www.sinarharian.com.my tidak bertanggungjawab di atas setiap pandangan dan pendapat yang diutarakan melalui laman sosial ini. Ia adalah pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pandangan dan pendirian kami.

Monday, January 9, 2012

Kalau dunia nak kiamat pun, janganlah kita jadi pembawa dalilnya


 
Dalam kegawatan politik yang sedang dihadapi rakyat kini, banyak perkara yang dapat kita pelajari dan ianya melambangkan sikap dan nilai pemikiran masing-masing yang bermain dalam politik ini. Berbahas dalam politik tidak ada etikanya di sini. Kalau di negara maju mereka berbincang dan berbahas menggunakan isu yang sedang hangat diperkatakan ramai.

Tetapi di sini mereka berbincang tentang budi dan membalas budi walaupun yang berbudi itu sekarang sedang melencong jauh dari apa yang sepatutnya mereka lakukan dan perjuangkan. Kalau telah mendapat subsidi gigi palsu dari jabatan kesihatan mereka tidak boleh lagi menegur kerajaan yang korap itu dan wajib menyokong pimpinan yang melakukan korapsi itu.


Jika kita telah mendapat pinjaman untuk anak kita belajar ke luar negara, kita di minta jangan mempersoalkan apa-apa yang tidak baik yang dilakukan oleh kerajaan dan pimpinan. Rakyat di kurung pemikiran mereka semata-mata telah mendapat gigi palsu percuma dan pinjaman dan pembiayaan pelajaran anak-anak kita. Apabila termakan sedikit wang rakyat yang bukan pun wang BN atau pun UMNO, rakyat mesti duduk diam dan memerhatikan sahaja segala kerja rasuah dan salahguna kuasa oleh pihak yang memimpin.


Budaya ini telah dibentuk oleh UMNO sejak bertahun-tahun dahulu dan ini membuatkan orang Melayu tidak boleh berfikir jauh sedikit dari pemikiran mereka yang melakukan tekanan ini.


Telah banyak kali diperkatakan yang wang diberikan kepada rakyat itu adalah wang mereka sendiri. Kos gigi palsu itu dibiayai oleh pembayar cukai yang terdiri dari rakyat berbilang kaum dan agama serta rakyat yang menjadi ahli kepada parti kerajaan dan parti-parti pembangkang. Kos membiayai gigi palsu itu bukannya wang UMNO, malahan pemimpin-pemimpin UMNO yang mengeluarkan bantuan itu pun dibiayai oleh rakyat termasuk ahli PAS, DAP dan PKR.


Saya menulis ini kerana ramai yang menyuruh saya menulisnya kerana UMNO sedang berkempen yang segala bantuan itu adalah keperihatinan pemimpin kerajaan yang ada sekarang. Justru rakyat mesti mengundi parti kerajaan. Jika ini dilakukan terus-terusan maka elok cari formula supaya ahli-ahli kepada parti pembangkang itu tidak payah membayar cukai pendapatan kepada kerajaan dan membayar cukai jualan ke atas rokok yang di hisap oleh mereka yang telah menjadi ahli parti pembangkang.


Kalau ini dapat dilakukan maka barulah UMNO dan BN boleh mengaku yang wang pemberian untuk membiayai gigi palsu atau pinjaman pelajaran itu adalah hak UMNO untuk menagih sokongan melalui pemberian itu.


Oleh yang demikian maka kita tidak akan dapat melakukan perubahan walaupun wang negara kita telah di bawa keluar sebanyak RM1trillion sejak sepuluh tahun dahulu. Jika kita tidak melawan, segala kemungkaran ekonomi dan politik yang dilakukan oleh pimpinan kita, maka sampai bila-bila pun negara kita akan diperlakukan sekehendak hati pimpinan yang tidak jujur dan kita akan hanya menunggu kehancuran yang mungkin datang tidak berapa ketika sahaja lagi. Kemungkinan negara akan menghadapi pengalaman negara-negara kaya yang akhirnya tersungkur di hadapan mata masyarakat antarabangsa akan berlaku kepada negara kita.


Kalau kita tidak lakukan sesuatu maka cerita pemimpin menggunakan hampir RM2 billion untuk menyelesaikan perniagaan anaknya yang gagal, akan berlaku lagi. Negara perlu membeli kelengkapan senjata terus menerus untuk keselamatan negara. Jika tidak ada perubahan maka kita akan menanggung pembiayaan pembelian peralatan yang telah dinaikkan harga berlipat kali ganda untuk membayar ‘kick back’ kepada pihak yang bertanggungjawab dalam jumlah yang berbillion. Semuanya ini ditanggung oleh kita rakyat negara ini.


Itulah persepsi rakyat terhadap pemimpin-pemimpin parti yang memerintah kita. Baru-baru ini terbongkar isu NFC yang melibatkan Sharizat dan keluarganya. Sharizat telah diminta berhenti oleh banyak pihak kerana permasalahan yang beliau sedang hadapi. Sharizat membuat kenyataan, ‘siapa dalam UMNO yang tidak bermasalah?’ Kata-kata Sharizat itu selari dengan persepsi rakyat terhadap barisan kepimpinan hari ini.


Saya menyertai orang ramai yang telah merasakan keletihan mengikut perangai dan budaya UMNO ini. Kita disuruh menjadi rakyat yang setia tetapi mereka (pemimpin-pemimpin) tidak pernah menunjukkan sikap dan perasaan kesetiaan kepada negara tercinta ini.


Merekalah (pemimpin) yang telah menjadikan UMNO dan ahli-ahlinya serta rakyat yang telah di kelirukan itu untuk menjadi modal perniagaan peribadi mereka. Apabila ada rakyat yang berdegil tidak mahu menjadi modal kepada perniagaan peribadi mereka, rakyat gulungan ini dianggap sebagai pengkhianat pula sedangkan pengkhianat sebenar adalah di kalangan pimpinan yang mencuri wang rakyat dalam jumlah yang beratus billion ringgit nilainya.


Budaya dan pemikiran mereka (pemimpin-pemimpin) sudah terbalik. Yang benar dikatakan salah dan yang salah mereka katakan betul. Saya dan mereka yang sama pemikiran, tidak mahu menjadi gulungan yang menjadi pembawa dalil kedatangan kiamat.


Pembawa dalil kiamat selalunya bertindak dan mempunyai budaya serta pemikiran yang terbalik….yang baik nampak jahat dan yang jahat nampak baik. Yang hak terhimpit dan yang bathil bermaharajalela. Menuju ke jalan yang lurus tidak di gemari oleh mereka yang sedang berkuasa secara rakus.


Lagi pun Tuhan memberikan kita ingatan, ‘selagi masih ada umat ku yang masih berzikir kepada ku, walaupun seorang, dunia belum lagi akan kiamat’

Sunday, January 8, 2012

Cara mudah beri hadiah kepada arwah ayah

Posted on Saturday, January 07 @ 17:00:00 PST
Dilulus untuk paparan oleh mmas_forever

 Oleh: rozmal

"Baru-baru ini saya bersama ibu menziarahi makcik di Lubuk Cina, Rembau. Dalam perbualan makcik saya, salah satu topik dia menceritakan mengenai buat sedekah untuk beri pahala kepada mereka yang meninggal dunia. Kata makcik saya, apa yang arwah ayah saya suka minum dan makan. Kalau arwah ayah suka minum kopi dan sebagainya. Belikan barang-barang tadi dan berikan kepada orang yang memerlukan niat sedekah untuk arwah ayah. Itu lebih mudah katanya, jika tidak berkemampuan untuk membuat kenduri tahlil arwah dan sebagainya.


Semalam saya balik kampung di Bongek, Rembau. Pergilah sarapan di sebuah kedai berhampiran. Kedai tersebut, kedai kegemaran arwah ayah saya. Dia akan beli bungkus bawa balik makan dengan emak. Penuh kedai tersebut dari pelbagai lapisan orang setempat. Lalu saya berjumpa kakak yang empunya kedai, saya beritahu pada dia, ini hari Jumaat, saya minta dia kirakan semua yang sedang makan, untuk niat hadiah, sedekah untuk arwah ayah saya. Kira punya kira , untuk 5 meja penuh baru RM48.50.

Dalam hati saya kata, senangnya buat kenduri arwah cara macam ni.
Jadi kalau kita nak beri sedekah, beri makan, beri hadiah untuk arwah ayah atau ibu kita atau sesiapa sahaja di alam kubur, boleh buat bila-bila masa. Tak perlu tunggu cukup duit , pasang khemah buat kenduri tahlil arwah.

Teragaknya ingat arwah orang tua kita, bila sarapan tu, bayarlah untuk berapa meja yang kita mampu. Kalau pergi kedai runcit beli sekampit beras 5 kilo, kopi, gula, susu, beri pada jiran atau sanak saudara yang memerlukan.

Tadi lepas zuhur saya pun tanyalah Ustaz Dato Arshad apa yang saya lakukan tadi. Dato Arshad kata, elok sangatlah tu.
Seronok pula balik kampung rasanya.


Rozmal bin Malakan http://waghih.blogspot.com
"

Monday, January 2, 2012

Siapa lemahkan Melayu?

Oleh : NURUL IZZAH ANWAR
Tarikh : December 27, 2011
Sinopsis sejarah negara kita jarang sekali dipapar di dada media arus perdana. Walhal kisah lampau berserta pengajaran disemat di hati, semualah menjadi penentu kepada kejayaan kelak.

Mengambil hasrat ini sebagai pembuka kata, saya lontarkan persoalan berikut dalam meneliti liku-liku sebab-musabab kelemahan kita:


Siapa telah memerintah negara selama 54 tahun, tanpa putus dengan menggunakan undang-undang keras anti-demokratik?


Siapa bersubahat dengan penjajah British menahan dan tidak berusaha membebaskan pejuang kemerdekaan Melayu dari tahun 1948 hingga 1957?


Siapa lemahkan kuasa dan martabat raja-raja dengan pindaan perlembagaan pada 1993?


Siapa memberitahu seluruh rakyat raja-raja Melayu tidak relevan dan membahayakan bangsa pada 1993?


Siapa menghasut agar semua harta raja-raja disiasat dan dirampas pada 1993?


Siapa melemahkan institusi kehakiman dengan memecat Ketua Hakim Negara dan meminda perlembagaan pada 1988?


Siapa hancurkan Umno Lama ditubuhkan tahun 1946 dan ganti dengan Umno Baru pada 1988?


Siapa melemahkan kuasa politik Melayu dengan mengurangkan kerusi majoriti Melayu melalui proses persempadanan semula sejak 1999?


Siapa memberikan kerakyatan dan kad pengenalan biru kepada warga asing dengan mudah untuk undi?


Siapa lemahkan ekonomi Melayu dengan menjual RM50 bilion daripada RM52 bilion saham DEB semenjak 1970?


Siapa serahkan dengan mudah dan murah; Pulau Batu Putih dan tanah KTM ke Singapura dan Blok L dan M kepada Brunei?


Siapa menjual tanah rizab Melayu kepada bukan Melayu dengan merubah status tanah kepada pegangan bebas dengan mudah?


Siapa menenggelamkan Bank Bumiputera Malaysia Berhad yang diwujudkan daripada Kongres Ekonomi Bumiputera pada 1965?


Siapa memberikan lesen judi bertentangan dengan Islam kepada syarikat swasta tauke seperti Genting, Berjaya Sports Toto dan lain lagi?


Siapa lemahkan penguasaan matematik dan sains anak Melayu dengan mengubah bahasa pengantar kepada Bahasa Inggeris dan setelah berbelanja lebih RM6 bilion dan 8 tahun, sekarang mahu mengubah balik kepada Bahasa Melayu?


Siapa membebankan anak muda dengan hutang pendidikan tinggi melebihi RM25 bilion?


Siapa menyebabkan peluang pekerjaan anak muda berkurangan dengan dasar penggunaan buruh asing yang membantut kadar upah di pasaran buruh negara?


Siapa galakkan harga barang naik berganda dengan membenarkan monopoli seperti Bernas dan amalan herotan pasaran hanya menguntungkan para peniaga berterusan?


Siapa bebankan rakyat dengan kadar bil elektrik tinggi, berbanding negara jiran yang bukan pengeluar minyak?


Siapa bertanggungjawab meluaskan lagi jurang pendapatan dengan gini coefficient 0.492 yang kedua tertinggi di Asia di mana kaya bertambah kaya dan miskin bertambah miskin?


Siapa menjadikan harga kereta mahal dua kali ganda dengan dasar perlindungan otomotif yang membebankan rakyat dan menguntungkan industri otomotif?


Siapa bebankan rakyat dengan kadar tol lebuh raya tinggi, sedangkan kutipan cukai jalan dan saman, mampu menampung pembinaannya tanpa tol?


Siapa membenarkan harga rumah bertambah tinggi sehingga 15 kali gaji tahunan, berbanding piawaian antarabangsa dengan hanya lima kali gaji tahunan?


Siapa membenarkan syarikat gergasi merosot dan gagal sehingga hanya menjadi jaguh kampung seperti MAS, Perwaja dan Proton?


Siapa untung daripada bakal penyenaraian 800,000 hektar tanah perladangan milik peneroka dengan anak syarikat Felda yang rugi besar?


Siapa benarkan rangkaian stesen minyak Esso dijual bukan kepada LTAT yang wakili perajurit majoriti Melayu, tapi dijual kepada syarikat arak San Miguel dari Filipina?


Siapa untung apabila hasil khazanah minyak negara akan diberikan kepada syarikat milik anak-anak pemimpin melalui skim "marginal oil fields" (lapangan minyak pinggiran).


Siapakah yang menyebabkan kemerosotan Indeks Persepsi Rasuah Antarabangsa yang telah jatuh ke paras 60 dari 183 negara, berbanding tangga ke-37 pada 2003?


Natijahnya, kenalilah kita siapa penghasut, batu api dan pengkhianat agenda Melayu sebenar, dan bangkit mengganti kelemahan dengan kekuatan sebenar.

www.sinarharian.com.my tidak bertanggungjawab di atas setiap pandangan dan pendapat yang diutarakan melalui laman sosial ini. Ia adalah pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pandangan dan pendirian kami

Tuesday, December 27, 2011

Kaya tetapi hidup derita

Tazkirah Remaja
Bersama Mohd.Zawawi Yusoh


MANUSIA sebenarnya cenderung menjaga sesuatu yang dianggapnya berharga dalam hidupnya. Sebaliknya, tidak akan mempedulikan atau membuang saja sesuatu yang dianggap tidak berharga. Semakin bernilai sesuatu itu, semakin bersungguh-sungguh kita menjaganya.  Sesetengah manusia sangat menjaga hartanya kerana dianggap hartanya sangat berharga.

Ada pula yang sentiasa menjaga dan merawat mukanya supaya kelihatan awet muda kerana kecantikan adalah segala-galanya. Ada pula yang bermati-matian mempertahankan kedudukan kerana itu yang dianggap bernilai.

Kalaulah begini perilaku manusia, rupa-rupanya kita masih menganggap harta kebendaan adalah segala-galanya. Namun, ada juga yang bermati-matian menjaga hidayah dan petunjuk Allah.  Bagi golongan itu, mereka yakin hidup ini tidak akan selamat dan tenang tanpa bekalan taufik dan hidayah daripada Allah. Taufik dan hidayah sangat penting dalam diri manusia.

Pernah satu ketika seorang yang dibutakan matanya dalam permainan diminta supaya berjalan, tiba-tiba menangis. Dia berasa langkahnya berisiko, bimbang terhantuk dan jatuh tangga. Begitulah akibatnya kalau tidak dapat panduan.


Mereka yang berjalan tanpa arah sentiasa dalam keadaan cemas, takut dan bingung. Ramai golongan kaya yang menderita dengan kekayaan mereka. Pendek kata, orang yang jauh daripada petunjuk Allah dan al-Quran, apa saja yang Allah kurniakan kepadanya pasti menjadikan dirinya hina.


Harta, pangkat, kedudukan atau penampilan kalau tidak diiringi ketaatan pasti menyeksakan. Syaitan adalah penjajah yang tidak pernah berputus asa. Dalam satu perisytiharan, menurut hadis Rasulullah, syaitan pernah berkata: “Demi kebesaran-Mu, aku bersumpah wahai Allah, aku tidak akan berpisah dengan anak Adam selagi nyawanya masih di badan.”


Bayangkan kesungguhan syaitan, isytihar perang
 dengan manusia jika kita masih main-main pasti akan mudah tertipu. Syaitan ibarat tukang joget atau penari.

Maknanya, syaitan tahu siapa sasarannya dan bagaimana untuk melakukannya. Kita memberikan tumpuan kepada yang nampak di mata, yang besar biasanya menjadi tumpuan, yang kecil tidak berapa dipedulikan. Kita kadangkala lupa sesuatu yang tidak nampak itu sangat berharga. Iman kecil saja, tidak nampak lagi tapi sangat berharga. Jadi dalam hidup ini lihat dan utamakan pandangan Allah.

 

Mensyukuri segala nikmat Allah

AWAN tak selalunya cerah, laut bukannya selalu tenang, bumi mana yang tidak ditimpa hujan. Skrip hidup kita kadang-kadang tidak seperti yang kita harapkan.

Kita sering kali ditimpa rasa kecewa. Kecewa kerana sesuatu yang terlepas daripada genggaman tangan, keinginan yang tidak kesampaian, kenyataan yang tidak dapat diterima. Akhirnya ia mengakibatkan sesuatu yang mengganggu jiwa dan perasaan. Hidup ini ibarat sebuah belantara tempat kita mengejar segala keinginan.

Sememangnya manusia diciptakan Allah mempunyai kehendak dan keinginan. Namun tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. Setiap apa yang kita idamkan juga kadang-kadang tidak mampu menjadi kenyataan.
Bukan perkara mudah untuk menyedari dan menerima kenyataan bahawa apa yang bukan menjadi milik kita tidak perlu kita tangisi.

 
Ramai orang yang tidak sedar hidup ini sebenarnya tidak semestinya berjaya atau bahagia. Berapa ramai orang yang berjaya tetapi lupa apa yang mereka miliki itu semuanya pemberian Allah yang Maha Pemurah. Kejayaan itu menyebabkan seseorang menjadi sombong dan bertindak mengikut hawa nafsu.

Begitu juga kegagalan, kita dihadapinya dengan tenang dan sabar sedangkan dimensi tauhid dari pada kegagalan itu ialah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi hak kita di dunia, Allah pasti tunaikan. Namun apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita miliki.

Seorang mukmin tidak akan bersedih ketika ditimpa musibah dan malapetaka.
Tetapi mereka tetap bersyukur kepada Allah dan menjadikan musibah itu sebagai peringatan terhadap dirinya. Oleh itu, apabila seorang mukmin berasa sedih ketika ditimpa musibah, maka dia bukan mukmin sejati.

Apa saja musibah yang menimpa seorang mukmin, selalu menguntungkan dirinya seperti sabda Rasulullah dalam sebuah hadis: “Sungguh menakjubkan! Urusan orang mukmin selalu menjadi hal yang menguntungkan bagi dirinya. Dan yang demikian itu hanyalah dialami oleh seorang mukmin, Seorang mukmin bila ditimpa kesusahan, dan dia mengingati Allah, dengan jalan itulah dia akan memperoleh jalan penyelesaian yang terbaik. Dia tidak merasa tekanan batin dalam bentuk apapun, kerana penderitaan yang paling berat sekalipun, pasti ada jalan penyelesaiannya. Seorang mukmin selalu mengingati Allah dalam keadaan ditimpa penderitaan yang amat sangat sekalipun, baik dengan mengucapkan tasbih, takbir, istighfar, doa mahupun membaca al-Quran, sehingga membuat jiwanya bersih, bening, perasaannya tenang dan tenteram.

Rasulullah turut bersabda yang bermaksud: “Ingat akan Allah adalah penawar kalbu.” (Diriwayatkan Ad-Dailami oleh Anas). Maka wahai jiwa yang sedang gundah berduka lara, dengarkan firman Allah: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak mengetahui. (Surah Al-Baqarah ayat 216).

Maka janganlah hanyut dalam duka nestapa berpanjangan terhadap apa yang terlepas daripada genggaman atau dakapan. Lihatlah di sekeliling kita, cerminlah diri sendiri andai kita tidak kenal siapa yang ada di dalam cermin itu, ada baiknya kita mulakan mencari diri sendiri!

Manusia yang mulia menyedari dengan sepenuh hati bahawa dia hanyalah hamba, benar-benar hamba, dalam pengertian hamba yang sebenar-benarnya, baik secara teori mahupun praktikal.

Dia hanya berfikir bagaimana memberikan yang terbaik untuk kehidupan ini, semata-mata mengharap cinta-Nya, keredhaan-Nya dan lebih daripada itu kerana dia mencintai Allah, terpesona kepada keindahan Maha Pencipta, mabuk kepayang dengan ‘kecantikan’ Maha Pemurah.

Andai keinginannya tidak selari dengan keinginan Allah, apa yang diharapkannya esok hari tidak akan menjadi nyata. Malah apa yang terjadi adalah sebaliknya, maka kita mesti ikhlas menerima semuanya dengan senyuman dan reda.

Kehidupan ini hanya untuk-Nya. Dialah tujuan hidup dan sebaik-baik tujuan hidup! Yang lain pula hanya wasilah, alat, bekal atau modal untuk mencapai keredaan Allah.

Maka janganlah tangisi apa yang bukan milikmu kerana ia memang bukan milikmu! Kita ini adalah sebenar-benar hamba! Moga kita lebih kuat dan dekat kepada-Nya.