Tuesday, March 12, 2013


Tiga Cerita Sejarah, Modal Mengukir Sejarah Kemenangan
 Oleh: Muhammad Anis Matta, Lc - 
Ilustrasi. (scenery-wallpapers.com)

dakwatuna.com - Jika kita ingin mengukir cerita sejarah kita, cobalah berimanijinasi, menghayal. Hayalkan semua cerita yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita, cucu-cucu kita, kepada orang yang datang sesudah kita. Mungkinkah cerita itu suatu waktu akan menjadi tema khutbah generasi yang akan datang? Mungkinkah cerita itu akan menjadi catatan sejarah yang akan dibaca oleh puluhan tahun generasi yang akan datang? Itulah cerita yang harus kita buat, cerita yang akan menjadi kenangan, dan sekaligus menjadi amal yang akan mengantarkan kita masuk surga.

Untuk itu, mari kita kenang tiga cerita sejarah ini:

1. Cerita Ain Jalut

Jengis Khan telah membunuh 3 juta orang dalam kurun waktu sekitar 20 tahun. Dia bukan hanya membunuh 3 juta orang, tapi juga membumi-hanguskan tumbuhan dan binatang. Salah satu strategi perangnya adalah mengirimkan ketakutan kepada musuhnya sebelum ia sampai kepada musuhnya. Karena itulah dia membasmi semua yang ditemui di depannya. Termasuk di antaranya adalah membakar seluruh perpustakaan yang ada di Baghdag, Jengis Khan akhirnya menaklukkan Baghdad. Bayangkan bagaimana pada suatu hari ketika Jengis Khan ada di baghdad, seorang wanita Tartar mengumpulkan 100 laki-laki muslim dan berkata, “Hai kalian laki-laki! Tundukkan kepala kalian!” kemudian perempuan menyembelih satu persatu laki-laki itu, dan tidak satupun yang melawan. Tahukah kalian berapa orang yang dibunuh Jengis Khan di Bagdhad? 80 ribu orang! Sampai-sampai muncul mitos di dunia Islam, khususnya di Syiria, Damaskus yang mengatakan “Kalau pasukan Tartar itu datang jangan dilawan, biarkan dia mengambil apa yang dia mau.”

Di sebuah tempat yang dilalui oleh Jengis Khan, ada sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Khawarizim, kerajaan ini juga dihancurkan oleh Jengis Khan, seluruh raja-rajanya dibantai. Tapi ada seorang anak yang merupakan keponakan raja yang selamat dari pembantaian itu, dibawa lari oleh pembantu bersama putri raja, saudara sepupu. Kemudian di tengah perjalanan diculik, dibawa ke India. Dalam perjalanan diculik lagi dan dijual sebagai budak, terus-menerus dijual sebagai budak dan berpindah-pindah tempat hingga akhirnya dia sampai ke Damaskus. Begitu sampai ke Damaskus dia diterima oleh seorang pengusaha dan pengusaha ini mempunyai majelis ilmu. Pengajar di majelis ilmu itu adalah seorang ulama besar dalam bidang fiqh. Setelah ia mendapatkan pendidikan yang baik, budak ini kemudian disisipkan masuk ke Mesir, lalu dia menjadi tentara mesir. lalu kemudian di tengah jalan, rajanya meninggal dan pengganti rajanya ini adalah seorang anak kecil yang berumur 7 tahun. Lalu akhirnya yang memimpin kerajaan itu adalah seorang perempuan yang bernama Syajaratu Dur. Tapi kerajaan mengalami bencana, sedang Mesir adalah kota terakhir yang akan diambil-alih oleh Tartar. Dalam kacau seperti itulah akhirnya terjadi pembunuhan di istana, dan Syajaratu Dur dibunuh. Kemudian muncullah lelaki budak ini memimpin Mesir, periode inilah yang disebut sebagai zaman budak-budak. Siapa nama budak ini? Namanya Al-Muzaffar Qutuz, laki-laki inilah yang kemudian menyiapkan Mesir untuk melawan dan menghentikan seluruh ekspansi Tartar. Penghentian ekspansi Tartar itu terjadi dalam sebuah pertempuran besar yang bernama Ain Jalut.

Pertempuran itulah yang selanjutnya yang mengubah sejarah cucu-cucu Jengis Khan, karena sejak kekalahan itu cucu-cucu Jengis Khan akhirnya masuk Islam dan mereka berbalik menyebarkan Islam ke Asia Tengah sampai ke Asia Selatan. Sisa-sisa cucu Jengis Khan yang paling terakhir yang mendirikan kerajaan Mughal di India yang kemudian menciptakan Taj Mahal, kerajaan yang berumur 200 tahun.

Sebuah perlawanan yang menghentikan penjajahan, kemudian membalikkan penjajah itu menjadi muslim dan kembali menjadi pembangkit Islam. Itulah peristiwa Ain Jalut. Sejarah itu catatan tentang pembalikan situasi.

2. Cerita di Hittin

Perang salib telah berlangsung selama 200 tahun dan terjadi dalam 8 gelombang. Selama 7 gelombang kaum muslimin menderita kekalahan, sampai datang Shalahuddin Al-Ayyubi.

3. Cerita Pembebasan Konstantinopel

Seorang anak muda diangkat menjadi khalifah pada umur 16 tahun dan para senior di kerajaan itu meremehkan anak muda ini. Apa yang bisa dilakukan anak muda ini? Para senior dan sesepuh di kerajaan tidak percaya dengan kemampuan anak muda yang berumur 16 tahun. Ketika terjadi guncangan, dia gagal. Ia sempat mengembalikan kerajaan kepada ayahnya, tapi kemudian diberikan kembali. Akhirnya dia mulai berpikir, ada satu cara untuk membuat para senior di kerajaan ini bisa percaya padanya. Lakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan mereka. Seorang penyair Arab berkata, “Walaupun aku adalah generasi yang datang paling ujung, aku akan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh para pendahulu.” Apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang terdahulu? Membebaskan Konstantinopel. Sudah 700 tahun Rasulullah memberikan janji bahwa itu akan dibebaskan, dan sejak khalifah Utsman kaum muslimin sudah berusaha untuk sampai ke sana, tapi tidak satu pun yang pernah sampai. Sampai datang anak muda ini yang ingin membuat cerita sejarah, cerita yang akan dikenang. Anak muda itu adalah penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih.

Saudara sekalian, kita harus menjadi penghayal besar yang ingin menulis cerita sejarah kehidupan. Jangan pernah membiarkan orang lain menulis cerita kehidupan kita. Jangan pernah membiarkan orang lain melakukan sesuatu yang membuat mereka menentukan masa depan kita. Tidak boleh ada orang yang menentukan masa depan kita! Kitalah yang bertanggung jawab untuk menulis cerita dan masa depan kita sendiri. Cobalah bayangkan bahwa anak dan cucu kita membaca sejarah perjuangan politik Islam di Indonesia dan menemukan nama kita dalam sejarah itu. Bisakah kita membayangkan sebelum kita wafat, sebelum kita mengucapkan dua kalimat syahadat yang terakhir, kita hanya ingin menyampaikan doa yang sederhana kepada Allah “Ya Allah, jika di tahun 2014 itu adalah amal besar yang telah kulakukan, sepenuhnya ikhlas hanya untuk-Mu, maka jadikanlah amal itu menjadi pengantar aku masuk ke surga.” Bisakah kita membuat cerita seperti itu? Bisa!!!!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/03/29104/tiga-cerita-sejarah-modal-mengukir-sejarah-kemenangan/#ixzz2NJqV8tnV


Demokrasi, pluraliti dan PRU-13

Dr Sidiq Fadhil

Pilihan raya dalam sistem demokrasi adalah hari kebesaran kuasa rakyat. Ia harus disambut dengan semangat hormat terhadap suara rakyat, yang bukan lagi “suara anjing menyalak bukit”, tetapi suara berdaulat yang membawa kata putus, sebagai aktualisasi prinsip al-sha`b masdar al-sultah (rakyat adalah sumber kekuasaan).

Tetapi pilihan raya hanya akan benar-benar menjadi hari kuasa rakyat, apabila rakyat dapat menggunakan hak demokratiknya dengan bebas dan cerdas, bijaksana dan penuh rasa tanggungjawab. 

Dalam kaitan inilah relevannya gerakan pencerdasan rakyat untuk memungkinkan mereka membuat pertimbangan yang adil dan rasional, dan seterusnya menentukan pendirian dan pilihan yang tepat. 

Dengan demikian barulah pilihan raya dapat menjadi mekanisme demokrasi yang menghasilkan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.


Demokrasi dan Media

Dalam era kekuasaan media, rakyat seringkali tidak dapat melihat sesuatu dalam realiti seadanya. Banyak negara yang masih mengamalkan pilihan raya, tetapi tidak mengamalkan kebebasan media (freedom of the press), yang diamalkan adalah kebebasan daripada media (freedom from the press) dalam pengertian pemerintah yang bebas daripada kritik dan sorotan media.

Media yang telah kehilangan kebebasan dan diperburuk dengan kehilangan etika tidak lagi mampu memaparkan kebenaran, tetapi lebih banyak bertindak sebagai alat propaganda politik, termasuk menghitamkan yang putih dan memutihkan yang hitam.

Demikianlah orientasi sebahagian media masa kini sehingga kita harus mengajak rakyat lebih tekun berdo`a: 
Rabbana arina ‘l-haqqa haqqan wa ‘rzuqna ‘ttiba`ah, wa arina ‘l-batila batilan wa ‘rzuqna ‘jtinabah 

(Ya Tuhan, perlihatkan kami kebenaran itu nyata benarnya dan kurniakan kami keupayaan mengikutinya, dan perlihatkan kami kebatilan itu nyata batilnya dan kurniakan kami keupayaan menghindarinya).

Kebebasan media adalah bahagian integral daripada demokrasi. Kerana itu pilihan raya tanpa kebebasan media hanya akan menghasilkan pemerintahan yang kehilangan legitimasi demokratik (democratic legitimacy).

Sebagai image maker media selalu melakukan pencitraan palsu sehingga yang tampak bukan citra hakiki sebuah parti, dan bukan wajah asli seseorang calon. Pemalsuan citra yang begitu berleluasa, pasti akan mencederai demokrasi, kerana ia bererti menafikan hak rakyat mendapatkan maklumat yang benar, lengkap dan seimbang tentang calon dan parti yang bertanding. Bagaimana mungkin rakyat akan membuat pilihan yang tepat jika sudah tertipu dengan pencitraan kosmetik media propaganda.


Mengundi Sebagai Kesaksian

Dilihat dari perspektif agama, mengundi dalam pilihan raya bukan sekadar hak, yang boleh diterima dan boleh pula ditolak. Lebih daripada itu sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Shaykah Yusuf al-Qaradawiy, ia adalah kewajiban pelaksanaan kesaksian (shahadah) yang tidak boleh ditolak apabila dipanggil,

“…Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. …” -- al-Baqarah:282. Tidak keluar mengundi bererti menyembunyikan kesaksian (katm al-shahadah), suatu kesalahan berat yang dicela dalam al-Qur’an, “…Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, kerana barangsiapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa)…” --- al-Baqarah: 283.

Kesaksian dalam konteks pilihan raya bererti pernyataan sikap dan penilaian yang jujur terhadap kelayakan seseorang calon dan partinya, berdasarkan kriteria asas: qawiyyun amin (kuat dan dapat dipercaya) dan hafizun `alim (berintegriti moral dan berkompetensi intelektual).

Kerana itu yang harus layak bukan hanya calon dan parti, tetapi juga pengundi-pengundinya yang harus memenuhi syarat kesaksian yang terumus pada kata al-`adl (keadilan), “…dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu…” -- al-Talaq:2. Kesaksian adalah amanah. Mengundi parti atau calon yang tidak layak adalah penghkhianatan terhadap amanah yang menepati istilah qawla ‘zur (kesaksian palsu) dalam al-Qur’an.

Memberikan kesaksian palsu adalah dosa berat yang digandingkan dengan syirik sebagaimana yang firmankan oleh Allah s.w.t., “…,maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.” -- al-Hajj:30. 

Ternyata mengundi dalam pilihan raya tidak hanya memerlukan kefahaman serba-serbi tentang demokrasi, tetapi juga kesedaran tanggungjawab moral. Justeru, kesaksian harus dilaksanakan dengan jujur, semata-mata kerana Allah, bukan kerana kepentingan diri, kaum kerabat dan suku-sakat, “…dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu kerana Allah.” --. al-Talaq:2.

Untuk memungkinkan rakyat melaksanakan tanggungjawab kesaksiannya dalam pilihan raya, mereka tidak boleh naïf -- tidak mengerti bahasa politik, tidak mampu memahami sepak teranjang serta simpang-siur politik, dan tidak dapat mengenal mana wajah asli dan mana wajah hiasan citra kosmetik. 

Ranah politik memang banyak jebakan dan jerangkap samarnya, ada angguk yang bererti tidak, ada geleng yang bermakna ia, dan banyak sumpah yang mengandung fitnah.

Demokrasi hanya akan sihat dan subur di tengah rakyat yang sedar, cerdas, jujur dan enlightened. Demokrasi akan mati dalam oreintasi politik ke-fir`aun-an yang mengekalkan kekuasaan dengan strategi pembodohan rakyat, “(Dengan yang demikian) maka Fir`aun memperbodohkan kaumnya, lalu mereka mematuhinya; sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasiq – derhaka..” -- al-Zukhruf:54.

Rakyat yang telah lama diperbodoh tidak lagi mampu membezakan keadilan daripada kezaliman, mereka tidak tahu bahawa hak-hak asasinya dirampas, dan tidak sedar kekayaannya dirompak. Yang mereka tahu siapa yang memberikan wang adalah orang baik yang wajar disokong, tanpa menyedari bahawa si pemberi sebenarnya adalah penyamun yang telah merompak habis harta-bendanya.

Jadilah mereka rakyat yang senasib dengan kaum Nabi Hud `a.s. yang setia menyokong kezaliman, “…dan (mereka) menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi durhaka.’ -- Hud:59; atau menjadi rakyat yang bodoh sombong seperti kaum Nabi Nuh `a.s., “…dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya.” -- Nuh:21

Wednesday, March 6, 2013

Autisma

SEMAKIN ramai ibu bapa di Malaysia mempunyai anak yang disahkan mempunyai masalah autisme.

Hampir setiap hari pasti ada yang membawa anak bermasalah autisme ke Pusat Rawatan Islam Al-Hidayah bagi mendapatkan rawatan.

Menurut Persatuan Kebangsaan Autisme Malaysia (NASOM), setiap seorang daripada 150 kanak-kanak yang dilahirkan di seluruh dunia memiliki autisme dan dianggarkan 47,000 orang kanak-kanak di Malaysia menghidapnya.

Ada antara mereka memiliki tanda-tanda masalah autisme kronik dan ada yang baru sahaja di peringkat awal.

Umur anak-anak tersebut turut berbeza; dari berumur 6 bulan hingga lewat 20-an.  Kadangkala, bukan sahaja pesakit autisme mendapatkan rawatan bahkan ibu bapa dan ahli keluarga mereka juga ekoran tekanan yang kuat gara-gara menjaga pesakit tersebut.

‘Wahai anak dengarlah keluhan bonda’

Tazkirah Remaja
Bersama Mohd.Zawawi Yusoh


SEMPENA Hari Ibu, marilah wahai anak dengarlah suara hati ibumu ini: Wahai anakku, bertahun-tahun berlalu dan tahun itu adalah kebahagiaan dalam kehidupanku.

Satu ketika dulu doktor datang menyampaikan khabar berita kehamilanku, diri ini bercampur rasa gembira dan bahagia. Semenjak berita gembira itu, aku membawamu ke mana-mana saja selama sembilan bulan.

Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan, tetapi semua itu tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungkanmu, wahai anakku! Aku begitu gembira tatkala berasakan melihat terajang kakimu dan balikan badanmu di perutku.

Aku berasa puas setiap aku menimbang diriku kerana semakin hari semakin bertambah berat perutku bererti engkau sihat dalam rahimku.

Penderitaan yang berpanjangan menderaku, sampailah saat itu ketika fajar pada malam berkenaan aku tidak dapat tidur atau memejamkan mataku barang sekejap.
Aku berasakan sakit tidak tertahan dan rasa takut yang tidak dapat dilukiskan. Sakit itu terus berlanjutan sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis.

Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir...tangisanku bercampur dengan tangismu.

Semua itu, sirna keletihan dan kesedihan. Hilang semua sakit dan penderitaan malah kasihku padamu semakin bertambah dan bertambah.

Aku peluk dan cium dirimu sebelum meneguk satu titis air yang ada di kerongkonganku. Wahai anakku...sudah berlalu tahun daripada usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua-dua tangan kasih sayangku.

Sari pati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap hari; agar aku melihat senyumanmu.
Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu agar aku berbuat sesuatu untukmu...itulah kebahagiaanku!

Kemudian, berlalulah waktu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufik untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, kumis dan jambang tipis yang menghiasi wajahmu menambah ketampananmu.

Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkahwinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu.

Saat itu pula hatiku mulai serasa terhiris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia bercampur dengan duka, tangis bercampur pula dengan tawa.

Bahagia kerana engkau mendapatkan pasangan dan sedih kerana engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku. Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat.

Kiranya setelah perkahwinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang sirna bagaikan matahari yang ditutupi kegelapan malam.

Tawamu selama ini ku jadikan buluh perindu, sekarang tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran.

Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi kerana engkau sudah melupakanku dan melupakan hakku. Terasa lama hari-hari yang ku lewati hanya untuk ingin melihat rupamu.

Detik demi detik ku hitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian ku rasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu.

Setiap kali berderit pintu aku menyangka engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telefon berdering aku rasa engkaulah yang menelefon.

Setiap suara kenderaan yang lewat aku rasa engkaulah yang datang. Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping.

Yang tersisa hanyalah kesedihan daripada semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku...ibumu ini tidaklah meminta banyak dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.

Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar dapat juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu: Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan buang wajahmu ketika ibu hendak memandang wajahmu!

Yang ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, satu tempat persinggahanmu agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik.

Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkau pun berlalu pergi.

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau buah daripada kedua-dua tanganku, engkaulah hasil keletihanku.

Engkaulah laba daripada semua usahaku! Kiranya dosa apa yang kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu dan aku tidak mengingin yang lain. Wahai anakku! Hatiku terhiris, air mataku mengalir sedangkan engkau sihat.

Orang sering mengatakan engkau seorang lelaki baik, dermawan dan berbudi. Anakku...Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan?

Bukan kerana apa-apa? Akan tetapi hanya kerana engkau berhasil mengalirkan air matanya...Hanya kerana engkau membalasnya dengan luka di hatinya... hanya kerana engkau pandai menikam dirinya dengan belati derhakamu tepat menghujam jantungnya...hanya kerana engkau berhasil pula memutuskan tali silaturahim?

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu syurga bagimu. Maka titilah jambatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaaf dan balas budi yang baik.

Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah seperti hadis: “Orang tua adalah pintu syurga yang di tengah.

“Sekiranya engkau mahu, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!” (Hadis riwayat Ahmad). Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadis yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar kamu lalai iaitu Nabi s.a.w yang mulia bersabda: Daripada Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?

Beliau berkata: “Solat pada waktunya”, aku bertanya: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Berbakti kepada kedua-dua orang tua”, dan aku bertanya: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, nescaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih).

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahawa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi s.a.w dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, Rasulullah ditanya: “Siapa dia, wahai Rasulullah?, Baginda menajwab: “Orang yang mendapatkan kedua-dua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke syurga.” (Hadis riwayat Muslim).

Anakku...Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah kerana sekiranya keluhan ini membumbung menembus awan, melewati pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada ubatnya serta tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya.

Aku tidak akan melakukannya, nak! Bagaimana aku melakukannya sedangkan engkau jantung hatiku... Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku.

Bagaimana ibu tegar melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku. Bangunlah, nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu.

Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam... Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu kepadamu.

Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dan pada ibumu, peganglah kakinya! Sesungguhnya syurga di kakinya.

Saturday, March 2, 2013

Nabi tak pernah galak ummah meminta jawatan

 Zamanuddin Jusoh
 
Kita dianjur untuk teliti, kaji sahsiah pemimpin dilantik

Al-Quran tidak menyebut secara langsung mengenai politik seperti perkataan akidah dan fadilat atau kelebihan. Kedua-dua perkataan ini juga tidak disebut secara langsung oleh Allah SWT. Namun, al-Quran dipenuhi perkara yang menjurus kepada keimanan berkaitan akidah dan segala bentuk kebaikan bagi menuntut kelebihan serta ketinggian.
 
Justeru, penyertaan ulama dalam menentukan hala tuju sesebuah negara adalah bertepatan dengan kehendak agama Islam. Lebih jelas jika dirujuk kepada sesetengah definisi politik yang mengaitkan pentadbiran dunia dengan landasan agama.

Ini menunjukkan Baginda SAW tidak menggalakkan seseorang meminta jawatan khususnya dalam kepemimpinan disebabkan jawatan adalah satu bebanan dan tanggungjawab yang perlu dipikul serta akan dipersoalkan oleh Allah SWT”
Ungkapan al-Quran yang menjurus kepada politik adalah kekuasaan atau ‘mulk’. Firman Allah SWT: “Katakanlah (Wahai Muhammad) bagi Allah segala kekuatan dan kekuasaan. Diberikan kuasa kepada siapa yang dikehendaki. Memuliakan serta menghinakan sesiapa yang dikehendaki.” (Surah Ali-Imran, ayat 26)

Al-Quran menjelaskan kekuasaan satu ketentuan daripada Allah SWT yang dikurniakan kepada sesiapa yang dikehendaki. Al-Quran mengaitkan kekuasaan dan kekuatan dengan nabi khususnya Nabi Sulaiman, Daud dan Ibrahim.

Zulkarnain juga disebut sebagai mereka yang berpengaruh dan mempunyai kekuasaan hebat. Bagaimanapun, mereka amat berhati-hati dengan segala kurniaan ini kerana segala khazanah dan kekayaan berada di depan mata.

Tak galak minta jawatan
Oleh itu, Baginda SAW tidak pernah menggalakkan seseorang meminta jawatan kecuali jika diminta orang lain di atas kelayakan yang dimiliki. Namun, sikap meminta-minta jawatan adalah perkara yang tidak disukai Baginda SAW.

Baginda bersabda kepada Ibn Samurah: “Wahai Abd Rahman Ibn Samurah jangan engkau memohon sesuatu jawatan dalam kepemimpinan. Sesungguhnya jika diberikan jawatan itu dengan permintaan itu, maka engkau akan mengharunginya tanpa mendapat pertolongan. Tetapi jika engkau diberikan kepemimpinan tanpa meminta, maka engkau akan mendapat pertolongan dan dibantu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Daripada Abu Musa, katanya: “Aku dan dua orang lelaki dari kaumku masuk kepada Nabi SAW di mana salah seorang daripada dua lelaki berkenaan berkata: Lantiklah kami menjadi ketua wahai Rasulullah. Yang seorang lagi juga berkata demikian. Lalu Baginda SAW bersabda: Sesungguhnya kami tidak melantik atau memberi jawatan kepada sesiapa yang memintanya atau bercita-cita untuk mendapatkannya.”

Ini menunjukkan Baginda SAW tidak menggalakkan seseorang meminta jawatan khususnya dalam kepemimpinan disebabkan jawatan adalah satu bebanan dan tanggungjawab yang perlu dipikul serta akan dipersoalkan oleh Allah SWT.

Apatah lagi jika kita tidak dapat berlaku adil dan akibatnya adalah kecelakaan pada hari kiamat nanti. Lebih parah jika seseorang itu tiada kelayakan dan kemampuan memikul tanggungjawab.

Beri amaran

Baginda SAW terus menerus memberi amaran dengan sabdanya: “Sesungguhnya jika kamu diberi jawatan, maka bersedialah kamu menghadapi penyesalan pada hari akhirat.” (Riwayat Bukhari daripada Abu Hurairah)

Ulama beranggapan tidak sepatutnya bagi yang berakal bergembira dengan suatu kelazatan yang akan diikuti dengan penyesalan. Ada juga berpendapat keinginan untuk memperoleh kuasa adalah sebab kepada berlakunya perbalahan dalam kalangan manusia sehingga terkadang menyebabkan pertumpahan darah, kerosakan harta benda dan pencabulan maruah.

Sahabat Baginda SAW tidak pernah mengimpikan jawatan penting dalam masyarakat, bahkan mereka sentiasa mengelak supaya tidak dilantik kerana mengetahui risiko yang akan ditanggung kelak.

Namun, Abu Bakar terpaksa menerima kerana keputusan yang diambil sahabat lain melalui syura berdasarkan kriteria yang ada pada beliau. Antaranya, beliau pernah menemani Baginda SAW dalam peristiwa hijrah, pernah diminta mengimamkan solat berjemaah ketika Baginda SAW sedang sakit serta pengorbanan yang besar terhadap hartanya untuk agama Islam.

Kita dianjurkan untuk meneliti dan mengkaji sahsiah mereka yang akan dilantik supaya dapat memikul tugas yang diamanahkan dengan baik dan berjaya. Kelayakan dalam sesuatu bidang adalah menjadi ukuran dan keutamaan dalam menilai kemampuan seorang pemimpin.

Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa melantik seseorang sebagai ketua dalam kumpulannya sedangkan masih ada kalangan mereka orang yang lebih layak daripadanya maka sesungguhnya dia mengkhianati Allah SWT dan Rasul-Nya serta mengkhianati orang beriman.”

Sesungguhnya, kita berada di kemuncak zaman yang pernah digambarkan Baginda SAW lebih seribu tahun lalu. Berlaku perebutan serta perbalahan dalam mendapatkan jawatan dan akhirnya akan berlaku kerosakan kepada masyarakat.

Kita bertanggungjawab sepenuhnya di hadapan Allah SWT terhadap jawatan yang diberi serta jawatan terbaik adalah daripada pilihan masyarakat dan merekalah penilai sebenar kedudukan serta kemampuan kita.

Friday, March 1, 2013



Pemimpin adil selamat di akhirat
Abd Razak Muthalib
Pemimpin adil selamat di akhirat  
SEMUA insan pasti akan menemui suatu detik yang tidak dapat dielak lagi. Sama ada dia seorang rakyat jelata atau pemerintah negara, detik itu pasti akan tiba. Tidak mengira pangkat apa yang disandang, setinggi mana nama dijulang, berapa guni harta di gudang, detik itu tetap akan datang.


Detik inilah yang dinamakan kematian

Kematian bukanlah noktah terakhir untuk segala-galanya. Ia adalah fasa pemindahan dari suatu alam ke alam yang lain. Dari alam kehidupan di dunia berpindah menuju ke alam kehidupan di akhirat. Akhirat sebenarnya destinasi yang dituju. Di sana akan disoal siasat satu persatu. Keadaannya tidak menentu. Lain orang lainlah nasib keadaannya. Ada yang di dalam ketenangan dan kebahagiaan di bawah naungan Tuhan. Ada yang terseksa di dalam kepanasan, kehausan dan kelemasan.

Rasulullah SAW memberikan gambaran suasana kedahsyatan pada hari tersebut: “Pada hari Kiamat didekatkan matahari kepada makhluk sehingga jaraknya satu batu. Pada ketika itu, manusia berada di dalam peluh masing-masing menurut kadar amalan jahat yang dilakukan. Ada yang (peluhnya) sekadar sampai di buku lali, lutut, pinggang dan mulut (sambil Baginda menunjukkan isyarat ke mulutnya). (Riwayat Muslim dan Tirmizi)

Namun, Rasulullah SAW memberikan kita khabar gembira tentang siapakah yang akan mendapat layanan istimewa, yang selamat dari azab siksaNya.

Abu Hurairah melaporkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh golongan yang ALLAH SWT akan naungi mereka pada hari yang tiada naungan selain naungan ALLAH SWT: pemimpin yang adil, pemuda yang hidup dalam melakukan ibadat kepada ALLAH SWT, lelaki yang jiwanya sentiasa terikat dengan masjid, dua orang yang berkasih-kasihan kerana ALLAH SWT bertemu dan berpisah keranaNya, lelaki yang diajak oleh wanita yang cantik dan berkedudukan untuk melakukan zina, lalu dia menjawab: sesungguhnya aku takutkan ALLAH SWT, lelaki yang memberikan sedekah dan disembunyikan sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberi oleh tangan kanan, dan lelaki yang mengingati ALLAH SWT secara seorang diri lalu mengalirkan air matanya”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadis ini, Rasulullah SAW menyenaraikan tujuh golongan yang akan selamat dan mendapat perlindungan ALLAH SWT di akhirat kelak. Namun, ia bukanlah bermakna hanya tujuh golongan ini sahaja. Di dalam hadis-hadis yang lain, baginda menyenaraikan lagi golongan yang lain seperti yang dikumpulkan oleh al-Hafiz Ibn Hajar di dalam Fath al-Bari.

Namun, memadai dengan satu hadis yang kita baca, ia telah mampu menggetarkan seluruh jiwa. Persoalan yang kita perlu tanya: selamatkah aku di sana? Kedudukan yang kita miliki, harta yang kita cari, rumah yang kita diami, kenderaan yang kita naiki, anak pinak yang kita sayangi; apakah itu semua dapat membantu kita untuk selamat di akhirat nanti?.

Di dalam senarai tujuh golongan yang akan selamat mendapat naungan ALLAH SWT, Rasulullah SAW mulakan dengan menyebut pemimpin yang adil. Seseorang yang dilantik menjadi pemimpin, jawatan tersebut akan membuka pintu yang luas untuknya meraih keredaan ALLAH SWT. Namun, jawatan tersebut juga boleh menyebabkannya dihumban ke dalam api neraka. Reda ALLAH SWT bagi pemimpin yang adil.


Azab dan siksa dijanjikan bagi pemimpin yang zalim

Pemimpin yang adil, merupakan nikmat yang terindah buat rakyat. Pemimpin yang zalim menjadi musibah yang akan meruntun kebahagiaan umat. Mungkin ada yang akan bertanya, tergamakkah pemimpin untuk menzalimi rakyatnya sendiri? Ya dan sejarah telah pun membuktikannya. Hari ini juga kita dapat menyaksikannya sendiri. Cuma mungkin jalan ceritanya berbeza dan wataknya bersilih ganti.

Justeru, Rasulullah SAW mengingatkan kita: “Sesungguhnya selepas aku ini akan adanya para pemimpin yang melakukan kezaliman dan pembohongan. Sesiapa yang membenarkan pembohongan mereka dan menolong kezaliman mereka, maka dia bukan dariku dan aku bukan darinya. Dia tidak mendatangi telaga (di syurga). Sesiapa yang tidak membenarkan pembohongan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka, maka dia dalam kalanganku dan aku dari kalangannya. Dia akan mendatangi telaga (di syurga)”.

(Al-Haitami berkata: Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan al-Tabrani di dalam al-Kabir dan al-Awsat. Para perawi salah satu sanad al-Bazzar dan Ahmad adalah para perawi Sahih al-Bukhari)

Pemimpin yang adil ialah mereka yang menjalankan urusan pentadbiran mereka berpandukan keadilan. Tidak ada lagi keadilan yang paling utama selain keadilan syariat ALLAH SWT. Mereka yang menjadikan syariat sebagai landasan utama pentadbiran, maka itulah pemimpin yang adil. Namun, jika syariat tidak menjadi rujukan, diganti pula dengan nafsu yang merosakkan, di celah itulah akan munculnya kezaliman.

Rasuah, riba, pecah amanah, pembohongan, penyelewengan harta, penafian hak, penindasan kuasa; ini semua adalah contoh-contoh api kezaliman yang memadamkan cahaya keadilan. Bukan setakat kita diharamkan untuk melakukan kezaliman, bahkan kita juga ditegah cenderung menyokong mereka yang zalim. ALLAH SWT mengingatkan kita: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang berlaku zalim, maka jika kamu melakukan demikian, api neraka akan membakar kamu, sedang kamu tidak ada sebarang penolong pun selain dari ALLAH SWT. Kemudian ( dengan sebab kecenderungan kamu itu) kamu tidak akan mendapat pertolongan”. (Surah Hud: 113)

Sekiranya kita bencikan kezaliman, langkah pertama ialah jangan berlaku zalim ke atas diri sendiri. Urus dan tadbir kehidupan diri sendiri dengan penuh keadilan, berpandukan syariat Tuhan. Keadilan dituntut ke atas pemimpin, dan setiap kita adalah pemimpin untuk diri sendiri.

Apabila kita mengurus dan mentadbir diri sendiri dengan keadilan, kita juga mahukan mereka yang menguruskan hal ehwal rakyat dan negara adalah dari kalangan mereka yang adil. Mudah-mudahan keadilan yang berteraskan syariat yang kita tegakkan ini, menjadi hujah untuk kita mengacapi nikmat di akhirat nanti
.
Bacaan cara Rasulullah SAW, sahabat
SYAHIDATUL AKMAL DUNYA

AL-QURAN, diturunkan daripada ALLAH SWT kepada junjungan besar, Nabi Muhammad SAW untuk menjadi petunjuk umat Muhammad dalam mengemudi kehidupan seharian Muslim itu.
Menelusuri sejarah penurunan al-Quran, terdapat banyak pandangan ulama mengenainya, namun yang jelas al-Quran melalui tiga peringkat iaitu pertama; turun ke loh mahfuz dengan jumlah yang satu, kedua; turun ke baitil izzah di langit dunia dengan jumlah yang satu dan ketiga; turun dari langit dunia ke bumi kepada Nabi ALLAH SWT secara berperingkat dalam tempoh 23 tahun.

 

Sempena Maulidur Rasul lepas, pentafsir al-Quran sedunia merangkap pensyarah di Universiti Mu’tah, Jordan, Syeikh Solah Khalifa Muhammad Khalifa didatangkan khas oleh Universiti Antarabangsa Madinah (Mediu) bagi menerangkan secara tepat mengenai cara mengenali bacaan (qiraat) berdasarkan pembacaan Nabi SAW dan para sahabat Baginda.
 
Pengertian qiraat al-Quran Syeikh Solah Khalifa menerangkan sejelasnya pengenalan, sejarah dan kaedah pembacaan Riwayat Hafsin ‘an Aa’sim dan  Riwayat Syukbah serta bagaimana untuk mengetahui qiraat al-Quran merangkumi selain daripada yang sering digunakan di Nusantara.
 

“Secara etimologi, perkataan qiraat adalah dalam bentuk masdar dari perkataan qaraa yang bermaksud bacaan. Sedangkan menurut terminologi, terdapat banyak pendapat ulama mengenai pengertian makna qiraat ini. Menurut Syeikh al-Dimyathi, qiraat adalah: “Suatu ilmu untuk mengetahui cara pengucapan lafaz al-Quran.”
 

“Menurut Imam Shihabuddin al-Qushthal, qiraat adalah “Suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbezaan ahli qiraat, seperti bersangkutan dengan aspek bahasa, i’rab, isbat, fasal dan lain-lain yang diperoleh dengan cara periwayatan,” katanya dalam wacana al-Quran di Dewan Utama tingkat 14, Mediu, Plaza Masalam, Seksyen 9, Shah Alam.
 

Menurutnya, berdasarkan definisi itu,  jelas qiraat al-Quran berasal daripada Nabi SAW. Dimaksudkan qiraat dalam perbahasan ini, iaitu cara pengucapan lafaz- al-Quran sebagaimana diucapkan Nabi SAW atau sebagaimana yang diucapkan sahabat di hadapan Nabi lalu Baginda bersetuju dengannya dan Qiraat al-Quran pula diperoleh berdasarkan periwayatan Nabi SAW, baik secara fi’liyah mahupun taqririyah.
 
Munculnya perbezaan qiraat
 

Mengenai hal ini, terjadi perbezaan pula dari para ulama mengenai apa sebenarnya yang menyebabkan perbezaan tersebut. Berikut adalah pendapat-pendapat para ulama:
 

Sebagaimana ulama berpendapat bahawa perbezaan qiraat al-Quran disebabkan kerana perbezaan qiraat Nabi SAW, ertinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Quran, Baginda membacakannya dalam berbagai versi qiraat. Contoh: Nabi SAW pernah membaca ayat 76 surah ar-Rahman dengan qiraat yang berbeza.
 

Pendapat lain mengatakan: Perbezaan pendapat disebabkan adanya takrir Nabi SAW terhadap berbagai qiraat yang berlaku dalam kalangan kaum Muslimin pada zaman itu.
 

Ada pendapat mengatakan, perbezaan qiraat disebabkan kerana perbezaannya qiraat yang diturunkan oleh ALLAH SWT kepada Nabi SAW melalui perantaraan malaikat Jibrail.
Jumhur ulama ahli qiraat berpendapat bahawa perbezaan qiraat adalah disebabkan adanya riwayat para sahabat Nabi SAW berbagai versi qiraat yang ada.

 

Sebahagian ulama berpendapat, perbezaan qiraat disebabkan adanya perbezaan dialek bahasa dalam kalangan bangsa Arab pada masa turunnya al-Quran.
 

“Kesimpulannya, qiraat bukanlah hasil ijtihad para ulama, karena ia bersumber daripada Nabi SAW. Namun untuk membezakan mana qiraat yang berasal daripada Baginda dan mana yang bukan, maka para ulama menetapkan syarat-syarat tertentu.
 

“Ada tiga syarat bagi qiraat al-Quran untuk digolongkan sebagai qiraat sahih, iaitu:  

 Harus memiliki sanad yang sahih.
Harus sesuai dengan rasm mushaf salah satu mushaf Usmani.

Harus sesuai dengan kaedah bahasa Arab. Jika salah satu daripada syarat ini tidak dipenuhi, maka qiraat itu dinamakan qiraat yang lemah,” ulas Syeikh Solah Khalifa yang berasal dari Mesir ini.

 
Kelebihan mempelajari qiraat
 

Dengan berbagai variasi qiraat, maka banyak sekali manfaat atau faedah di antaranya: menunjukkan betapa terpelihara dan terjaganya kitab ALLAH SWT daripada perubahan dan penyimpangan, meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-Quran serta dapat membuktikan kemukjizatan al-Quran dari segi kepadatan makna, kerana setiap qiraat menunjukkan sesuatu hukum syarak tertentu tanpa perlu pengulangan lafaz.
 

Syeikh Solah Khalifa berkata, bacaan al-Quran menurut Riwayat Hafs daripada ‘Asim adalah bacaan majoriti umat Islam di dunia.
“Mengikut statistik, 95 peratus daripada umat Islam membaca al-Quran mengikut riwayat ini.

 

“Toriq atau cara pembacaan yang masyhur pada qiraat ini menjadi pegangan  umat Islam di dunia umumnya dan di Malaysia khasnya adalah toriq al-Syatibiyyah, iaitu toriq yang dibawa oleh Imam al-Syatibi,” katanya yang mendapat pendidikan daripada Universiti al- Azhar, Mesir dan pernah berguru dengan Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah, Syeikh Mutawali Sya’rawi dan Syeikh Abdul Hamid Khishk.
 

Ini bermakna qiraat Imam ‘Asim juga telah diriwayatkan oleh Imam Syukbah. Melalui perbincangan Syeikh Solah Khalifa bersama Kementerian Dalam Negeri (KDN) baru-baru ini berkenaan mencadangkan percetakan al-Quran yang mempunyai dua riwayat iaitu Riwayat Hafsin dan Riwayat Syu’bah. Kedua-duanya tidak ketara perbezaan hanya dalam beberapa lafaz dan keduanya adalah bersumberkan sanad Imam ‘Asim. 

Sanad Imam ‘Asim:
Imam ‘Asim mengambil bacaan dari =
  1. Abd Rahman Assulami
  2. Abu AmruAlSyaibani
  3. Abu Ubaid al Salma
  4. Zirr bin Hubaisiy al Asadi
Abd Rahman Assulami ambil bacaan dari =
  1. Ali bin AbiTolib
  2. Uthman bin Affan
  3. Zaid bin Thabit
  4. Ubai bin Kaab
  • Zirr bin Hubaisiy ambil bacaan daripada Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain
  • Sanad Imam ‘Asim yang diambil qiraat dan diriwayatkan oleh Imam Hafs daripada ‘Asim, daripada Abd Rahman Assulami, daripada Ali bin Abi Talib dan daripada Rasulullah SAW.
  • Sanad Imam ‘Asim yang diambil qiraat dan diriwayatkan oleh Imam Syu’bah, ‘Asim, Zir bin Hubaisy, Abdullah bin Mas’ud daripada Rasulullah SAW.

Mazhab bacaan qiraat yang dikumpulkan oleh Imam Syatibi:-

Imam Nafi (Madina) dan dua perawinya:
1) Qaaloon, 2) Warsh

Imam Ibn Kathir (Makkah) dan dua perawinya:
1) Qunbul, 2) Bazzi

Imam Abu ‘Amru (Basra: Iraq) dan dua perawinya:
1) Duri, 2) Susi

Imam Ibn ‘Amir (Syam) dan dua perawinya:
1) Hisham, 2) Ibn Zakwaan

Imam Aasim (Kufah: Iraq) dan dua perawinya:
1) Shu’aba, 2) Hafs

Imam Hamzah (Kufah: Iraq) dan dua perawinya:
1) Khalaf , 2) Khallad

Imam Kisaa’i (Kufah: Iraq) dan dua perawinya:
1) AbulHaarith, 2) Duri