Tuesday, April 9, 2013


Rahsia Keajaiban Air Zam-Zam

Tak banyak yang tahu bagaimana caranya  zam-zam mampu mengeluarkan puluhan juta liter pada satu musim haji, tanpa pernah kering satu kali pun. Seorang peneliti pernah diperintahkan raja Faisal menyelidik air zam-zam untuk menjawab tuduhan kotor seorang doktor dari Mesir.

Berapa Juta Liter air zamzam?

Berapa banyak air zam-zam yang di “keluarkan” setiap musim haji? Mari kita hitung secara sederhana. Jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia pada setiap musim haji ini berjumlah sekitar dua juta orang. Semua jemaah diberi 5 liter air zam-zam ketika pulang nanti ke tanah airnya. Kalau 2 juta orang membawa pulang masing-masing 5 liter zam-zam ke negaranya, itu saja sudah 10 juta liter. Disamping itu selama di Mekah, kalau saja jamaah rata-rata tinggal 25 hari, dan setiap orang menghabiskan 1 liter sehari, maka totalnya sudah 50 juta liter !!.

Keanehan air Zamzam

Pada tahun 1971, seorang doktor dari negeri Mesir mengatakan kepada Press Eropah bahwa air Zamzam itu tidak sehat untuk diminum. Ia mengatakan bahawa kota Mekah itu ada di bawah garis permukaan laut. Air Zamzam itu berasal dari air sisa buangan penduduk kota Mekah yang meresap, kemudian mengendap terbawa bersama-sama air hujan dan keluar dari sumur Zamzam. Masya Allah.

Berita ini sampai ke telinga Raja Faisal yang kemudian memerintahkan Mentri Pertanian dan Sumber Air untuk menyelidiki masalah ini, dan mengirimkan sampel air Zamzam ke Laboratorium-laboratorium di Eropah untuk dikaji.

Tariq Hussain, insinyur kimia yang bekerja di Instalasi Pemurnian Air Laut untuk diminum, di Kota Jedah, mendapat tugas menyelidikinya. Pada saat memulai tugasnya, Tariq belum punya gambaran, bagaimana sumur Zamzam bisa menyimpan air yang begitu banyak seperti tak ada batasnya.

Ketika sampai di dalam sumur, Tariq amat tercengang ketika menyaksikan bahwa ukuran “kolam” sumur itu hanya 18 x 14 feet saja (Kira-kira 5 x 4 meter). Tak terbayang, bagaimana caranya sumur sekecil ini bisa mengeluarkan jutaan galon air setiap musim hajinya. Dan itu berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, sejak zaman Nabi Ibrahim AS.

Penelitian menunjukkan, mata air zamzam bisa memancarkan air sebanyak 11-18 liter air per detik. Dengan demikian, setiap menit akan dihasilkan 660 liter air. Itulah yang mencengangkan.

Tariq mulai mengukur kedalaman air sumur. Dia meminta pembantunya masuk ke dalam air. Ternyata air sumur itu hanya mencapai sedikit di atas bahu pembantunya yang tinggi tubuhnya 5 feet 8 inci. Lalu dia menyuruh asistennya untuk memeriksa, apakah mungkin ada cerukan atau saluran yang lain di dalamnya. Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ternyata tak ditemukan apapun!.




Sumur Zamzam

Dia berpikir, mungkin saja air sumur ini dimasukkan dari luar melalui saluran paip besar. Bila seperti itu kejadian nya, maka dia mampu melihat turun-naiknya permukaan air secara tiba-tiba. Tetapi dugaan inipun tak terbukti. Tak ditemukan gerakan air yang mencurigakan, juga tak ditemukan ada alat yang bisa mendatangkan air dalam jumlah banyak.

Selanjutnya Dia meminta pembantunya masuk lagi ke dalam sumur. Lalu menyuruh berdiri, dan diam ditempat sambil mengamati sekelilingnya. Perhatikan dengan sangat cermat, dan laporkan apa yang terjadi, sekecil apapun. Setelah melakukan proses ini dengan cermat, pembantunya tiba-tiba mengangkat kedua tangannya sambil berteriak: “Alhamdulillah, Saya temukan dia! Pasir halus menari-nari di bawah telapak kakiku. Dan air itu keluar dari dasar sumur”.

Lalu pembantunya diminta berputar mengelilingi sumur ketika tiba saat air pam (untuk dialirkan ke tempat pendistribusian air) dilakukan. Dia merasakan bahawa air yang keluar dari dasar sumur sama besarnya seperti sebelum air dipamkan. Dan aliran air yang keluar, besarnya sama di setiap titik, di semua kawasan. Ini menyebabkan permukaan sumur itu relatif stabil, tak ada guncangan yang besar

Mengandung zat Anti Kuman

Hasil penelitian sampel air di Eropah dan Saudi Arabia menunjukkan bahwa Zamzam mengandung zat fluorida yang punya daya efektif membunuh kuman, ia seperti sudah mengandungi ubat. Lalu perbezaan air Zamzam dibandingkan dengan air sumur lain di kota Mekah dan Arab sekitarnya adalah dalamnya yang mempunyai kuantiti kalsium dan garam magnesium.

Kandungan kedua mineral itu sedikit lebih banyak pada air zamzam. Itu mungkin sebabnya air zamzam membuat efek menyegarkan bagi jamaah yang letih.

Keistimewaan lain, komposisi dan rasa kandungan garamnya selalu stabil, selalu sama dari sejak terbentuknya sumur ini. “Rasanya” selalu terjaga, diakui oleh semua jemaah haji dan umrah yang selalu datang tiap tahun.

Mampu Menyembuhkan Penyakit

Nabi saw menjelaskan: ”Sesungguhnya, Zamzam ini air yang sangat diberkati, ia adalah makanan yang mengandung gizi”. Nabi saw menambahkan: “Air zamzam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu, maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail”. (HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas).

Rasulullah saw pernah mengambil air zamzam dalam sebuah kendi dan tempat air dari kulit, kemudian membawanya kembali ke Madinah. Air zamzam itu digunakan Rasulullah saw untuk memercik orang sakit dan kemudian disuruh meminumnya.

Dalam penelitian ilmiah yang dilakukan di laboratorium Eropah, terbukti bahwa zamzam memang lain. Kandungan airnya berbeza dengan telaga yang ada di sekitar Makah.

1. Kadar Kalsium dan garam Magnesiumnya lebih tinggi dibanding sumur lainnya, berkhasiat untuk menghilangkan rasa haus dan efek penyembuhan.

2. Zamzam juga mengandung zat fluorida yang berkhasiat memusnahkan kuman-kuman yang terdapat dalam kandungan airnya.

3. Yang juga menakjubkan adalah, tak ada sedikit pun lumut di sumur ini. Zamzam bebas dari kontaminasi kuman.

4. Anehnya lagi, pada saat semua telaga air di sekitar Mekah dalam keadaan kering, sumur zamzam tetap berair. Dan zamzam memang tak pernah kering sepanjang zaman.

Beberapa ulama fikih merekomendasikan agar jamaah haji membawa zamzam ketika pulang ke negaranya sebab zamzam itu mampu sebagai ubat untuk suatu penyembuhan. Dan ini terbukti, banyak jamaah dari Indonesia maupun negara lain yang pernah merasakan keajaiban air zamzam.

Molekul Air Apakah Ini?

Di sebuah hotel di kota Kuala Lumpur, Malaysia, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama, Jepang, memaparkan hasil kajiannya mengenai air yang ditulisnya dalam buku “The True Power of Water.” Sejumlah slide kristal molekul air dari berbagai sumber, seperti air dari mata air, sungai, laut, telaga dsb. ditayangkan pada kesempatan itu.

Beberapa molekul air yang ditelitinya berbentuk tak teratur, kecuali molekul air zam-zam. Susunan molekul air zam-zam berstruktur sangat indah, teratur, cantik bak berlian yang berkilauan, dan memancarkan lebih dari 12 warna jika dibekukan. Rangkaian bentuk heksagonal-nya sangat indah, cemerlang berkilau dan penuh warna ketika dibacakan ayat yang mulia. Ada satu kristal air yang nampak paling indah dan cantik, berbentuk seperti bunga atau cakra, bagaikan bertahta berlian mutu manikam, berkilau-kilau memancarkan belasan warna. “Molekul air apakah ini?” Tanya Masaru Emoto. Suasana mendadak senyap, hadirin nampak terpena dan tak tahu persis kristal molekul apa gerangan. Namun tiba-tiba seorang pensyarah dari Universitas Malaysia mengacungkkan tangan, “mungkin itu adalah molekul air Zamzam.” Katanya.Dr. Masaru Emoto balik bertanya, “mengapa Anda berpendapat bahwa itu adalah molekul air Zamzam?”Kata pensyarah itu, “Sebab air Zamzam adalah air yang paling mulia di dunia ini, jadi wajar kalau ia memiliki molekul berupa berlian yang berpendar indah.”Ternyata dugaan pensyarah itu benar. Itu memang air Zamzam. Penelitian Dr. Masaru Emoto telah menunjukkan bahwa air Zamzam memiliki molekul air paling cantik dan indah di antara air lainnya.

“Sebaik-baik air di muka Bumi adalah air Zamzam, di dalamnya ada makanan yang mengenyangkan dan ubat yang menyembuhkan penyakit.” (Thabrani dan Ibnu Hibban). Maha suci Allah Ta’ala dengan segala ciptaannya.

Monday, April 8, 2013


Adab mempelajari ilmu

Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD AL-BAKRI

SELEPAS dibincangkan mukadimah berkenaan dengan tempat yang dicari, maka di sini akan diteruskan lagi berkaitan dengan apa yang didapati oleh Nabi Musa AS yang akhirnya membuahkan hikmah dan ilmu.

Pada ayat 65 ini Ibnu Kathir berkata: Kemudian al-Bukhari juga meriwayatkan hal yang sama, daripada Qutaibah, daripada Sufyan bin ‘Uyainah dengan sanadnya. Di dalamnya disebutkan: “Kemudian Musa AS berangkat dan bersamanya seorang pemuda yang bernama Yusya’ bin Nun, ikut juga dibawa seekor ikan hingga akhirnya keduanya sampai di sebuah batu karang, lalu mereka turun di sana. Dan selanjutnya Musa merebahkan diri dan kemudian tidur."

Dalam hadis yang lain, Sufyan menceritakan daripada ‘Amr, ia berkata: “Dan pada dasar batu itu terdapat mata air yang diberi nama mata air kehidupan, yang airnya tidak menimpa sesuatu melainkan sesuatu itu akan hidup. Lalu mata air itu terpercik ke ikan tersebut, lalu ikan itu bergerak dan melompat daripada keranjang ke laut. Setelah bangun, Musa berkata kepada muridnya: “Bawalah ke mari makanan kita."
Sufyan menceritakan, lalu ada seekor burung yang hinggap di bibir perahu dan kemudian menenggelamkan paruhnya ke laut. Maka Khidhir berkat kepada Musa: “Apakah ertinya ilmuku dan ilmumu dan ilmu seluruh makhluk ini dibandingkan dengan ilmu Allah SWT melainkan hanya seperti air yang diambil oleh paruh burung tersebut." Dan kemudian ia menyebutkan hadis secara lengkap.

Sayid Qutub berkata: Di sini jelaslah bahawa pertemuan itu merupakan rahsia Musa sahaja bersama Allah SWT. Ia tidak diketahui oleh teman pemudanya sehingga kedua-duanya bertemu dengan hamba yang soleh itu. Oleh sebab itulah di dalam adegan-adegan kisah yang berikut ditunjukkan Musa dan hamba yang soleh itu sahaja.

Pada ayat 66 ini pula Ibnu Kathir berkata: Allah SWT menceritakan tentang ucapan Musa AS kepada orang alim, yakni Khidhir yang secara khusus diberi ilmu oleh Allah SWT yang tidak diberikan kepada Musa, sebagaimana Dia juga telah menganugerahkan ilmu kepada Musa yang tidak Dia berikan kepada Khidhir.

Al-Maraghi berkata: Nabi Musa AS dan muridnya kembali semula ke batu besar itu dan menemui Nabi Khidhir AS yang memakai baju putih. Kemudian Nabi Musa AS memberi salam kepadanya dan baginda AS bertanya tentang kedamaian negeri tersebut.

Nabi Musa memperkenalkan dirinya, “Aku ini Musa". “Musa daripada Bani Israel?" tanya orang itu. “Ya," sabda Nabi Musa. “Bolehkah aku mengikut kamu supaya kamu mengajarkan aku sesuatu daripada apa yang telah diajarkan Allah SWT kepadamu untuk aku jadikan pedoman dalam urusanku ini, iaitu ilmu yang bermanfaat dan amal soleh?"

Sayid Qutub berkata: Dengan adab sopan yang layak dengan seorang nabi inilah yang beliau bertanya dengan cara yang tidak pasti dan memohon mendapatkan pedoman ilmu ghaib daripada hamba yang soleh dan alim itu, tetapi ilmu orang ini bukan dari jenis ilmu pengetahuan manusia yang jelas punca-punca dan dekat natijah-natijahnya, malah ia merupakan sebahagian daripada ilmu pengetahuan laduni mengenai urusan-urusan ghaib yang di perlihatkan Allah SWT kepadanya sekadar yang dikehendaki-Nya.

Oleh sebab itulah Musa tidak berupaya menahan kesabaran terhadap tindakan-tindakan lelaki ini walaupun beliau seorang nabi dan rasul, kerana tindakan-tindakan ini pada lahirnya kadang-kadang bercanggah dengan logik akal dan peraturan-peraturan yang zahir. Oleh itu, hikmat-hikmat yang ghaib di sebaliknya pastilah difahami. Jika tidak, tindakan-tindakan itu akan tetap menjadi perkara aneh yang menimbulkan bantahan dan kecaman dan justeru inilah hamba yang soleh yang dikurniakan ilmu pengetahuan laduni itu menaruh kebimbangan bahawa Musa tidak akan berupaya menahan kesabarannya bersahabat dengan ia dan melihat tindakan-tindakannya.

Manakala pada ayat 67, Ibnu Kathir berkata: Pada saat itu Nabi Khidhir berkata kepada Musa: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Maksudnya, sesungguhnya engkau tidak menemaniku sebab engkau akan menyaksikan berbagai tindakanku yang bertentangan dengan syariatmu kerana aku bertindak berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah SWT kepadaku dan tidak Dia ajarkan kepadamu. Engkau juga mempunyai ilmu yang diajarkan Allah SWT kepadamu tetapi tidak Dia ajarkan kepadaku. Dengan demikian, masing-masing kita dibebani berbagai urusan daripada-Nya yang saling berbeza dan engkau tidak akan sanggup menemaniku.

Al-Maraghi berkata: Nabi Khidhir pun menjawab: “Hai Musa, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, kerana aku ini mempunyai ilmu daripada Allah SWT yang telah diajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui, dan kamu pun mempunyai ilmu daripada Allah SWT yang telah Dia ajarkan kepadamu, yang tidak aku ketahui." Hal itu kemudian dikuatkan dengan menunjukkan alasan kenapa Nabi Musa tidak akan mampu bersabar, sabda Nabi Khidhir.

Sunday, April 7, 2013


Zikrullah Sumber Bahagia

Ustaz Pahrol Mohd. Juoi


Alhamdulillah kita dipilih untuk berada dalam kebaikan. Mudah-mudahan dengan kita selalu mendengar sesuatu yang berkaitan ilmu ini, hati kita akan bercahaya. Perbincangan petang ini akan menyambung perbincangan minggu lepas. Minggu lepas telah kita bincangkan bahawa terdapat 2 cara manusia mencari bahagia – dari luar ke dalam, dan dari dalam ke luar. Manusia yang yakin bahawa bahagia itu datang daripada luar memburu harta, rupa, kuasa dan nama. Kita sudah pun membincangkan dan membuktikan bahawa golongan yang memiliki semua ini pada hakikatnya tidak juga mendapat kebahagiaan kerana ramai daripada mereka yang hidup tertekan dan terlibat dengan dadah, arak, masalah rumah tangga sehinggakan ada yang sanggup membunuh diri.

Sumber bahagia yang kedua pula adalah dari dalam ke luar – iaitu bersumberkan hati. Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya, “Ketahuilah bahawa dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang.” Inilah jawapan kebahagian yang dicari-cari manusia. Kebahagiaan itu datangnya daripada ketenangan hati. Ketenangan hati itu pula datangnya dengan mengingati Allah, iaitu melalui zikrullah. Ketenangan itu bukan dicari menggunakan akal, tetapi Allah sebagai pencipta yang mengurniakannya melalui kasih sayangnya kepada manusia. Inilah konsepnya, tetapi bagaimana pula dengan realitinya? Bagaimanakah yang dikatakan jika mengingati Allah, hati kita akan menjadi tenang. Katakan kita sedang sedih, adakah dengan mengucapkan 'Subhanallah', hati kita akan tenang? Jika kita sedang marah pula, adakah dengan menyebut 'Ya Laatif, Ya Laatif', kemarahan kita akan reda? Jika kita sedang ketakutan dan resah gelisah pula, adakah dengan mengucapkan 'Hasbunallah wa ni'mal waakil', hati kita akan tenteram?

Sebenarnya, dalam realitinya tidaklah semudah itu untuk dilakukan. Zikrullah itu pembawa ketenangan, namun dengan hanya menyebutnya, nampaknya kita belum lagi mendapat ketenangan. Berbeza dengan apa yang kita tahu daripada sejarah yang pernah berlaku kepada Siti Fatimah, puteri Rasulullah SAW. Oleh kerana merasa terlalu berat melakukan tugasan dalam rumah tangganya seperti terpaksa mengangkut air dari tempat yang jauh sehingga berbekas bahunya, mereka suami isteri bertemu Rasulullah SAW untuk meminta bantuan sekiranya Rasulullah SAW mempunyai pembantu rumah. Cerita ini kita semua pun tahu sebenarnya dan saya cuma ulang di sini. Dipendekkan cerita, Rasulullah tidak mempunyai pembantu dan menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik iaitu dengan mengajarkan Fatimah mengucapkan 'Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahuakbar 33x', untuk diamalkan sebelum tidur, dan zikir ini juga kemudiannya dikenali sebagai 'Zikir Fatimah'. Esoknya pagi-pagi lagi Fatimah bertemu ayahandanya dan menyatakan dia tidak lagi memerlukan pembantu rumah kerana dia telah merasa keringanan, ketenangan dan kelapangan jiwa untuk melakukan kerja-kerja rumah. Inilah kebenaran perumpamaan yang menyatakan, “Jangan meminta hidup yang senang, tetapi mintalah hati yang tabah.” Hati yang tabah hanya boleh diperolehi melalui zikrullah. Cuba kita padankan kisah benar yang berlaku ini kepada isteri atau ibu yang juga terlalu letih menguruskan rumah tangga yang penuh dengan cabaran hari ini. Macam-macam yang perlu dilakukan. Cuba ajarkan mereka zikir ini sebagai ganti kepada pembantu rumah. Walaupun ucapannya sama, bilangannya, ternyata kesannya jauh berbeza. Mengapa ini terjadi? Kesan zikrullah itu tidak sama kerana hati Ali dan Fatimah jauh berbeza dengan hati kita. Zikir tidak boleh diamalkan sebagai kalimah-kalimah yang bersifat 'surface' atau permukaan semata-mata. Kita mesti menyelam ke dalam kalimah itu dan mengamalkannya dengan lebih holistik iaitu secara multi-dimensi. Dengan cara itu, barulah akan ada kesannya kepada hati kita. Rupa-rupanya zikir ini terdiri daripada tiga iaitu:
·         Zikir Qauli iaitu zikir menggunakan lidah,
·         Zikir Qalbi iaitu zikir di dalam hati, dan
·         Zikir Fi'li iaitu zikir dengan anggota.

Oleh itu mungkin zikir-zikir yang kita amalkan sebelum ini belum memberi kesan kerana kita tidak mendirikan ketiga-tiga komponennya sekaligus. Mungkin lidah kita berzikir tetapi hati kita lalai. Mungkin hati kita mengingati Allah, tetapi anggota kita melakukan yang sebaliknya pula. Kita kena gabungkan kesemua elemen ini, barulah impaknya akan terasa. Contohnya, jika kita sebut 'Subhanallah', ertinya 'Maha Suci Allah'. Jadi kita kena faham betul bahawa Allah itu suci daripada segi zat-Nya, sifat-Nya dan Af al-Nya (perbuatan-Nya) berbanding kita. Namun kita kadang-kadang tak terasa kesucian Allah kerana dilindungi oleh rasa suci diri kita sendiri. Cuba kita lihat sebagai perbandingan, betapa kotornya, hinanya kita sebagai insan. Kita berasal daripada air mani yang hina, dikandung dalam perut ibu, bersebelahan sahaja dengan 'tong najis' ibu. Semasa dilahirkan pun kita keluar melalui saluran najis juga. Kemudian apabila kita membesar, semua anggota badan kita pun mengeluarkan najis. Tak kiralah secantik mana pun rupa seseorang, jika tak mandi seminggu berbau juga. Mata, kuku, kulit, gigi kita semuanya mengeluarkan najis. Jika kita mati pula, kita menjadi bangkai yang paling busuk sekali (maaf terpaksa menyebutnya). Tiada apa-apa pada diri kita ini. Sebab itulah kita tak layak menyembah Allah sebelum mensucikan diri daripada hadas kecil dan hadas besar. Kita kena cuci muka, tangan, rambut dan kaki sebelum menyembah Allah yang Maha Suci. Semoga selepas ini, ketika menyebut 'Subhanallah', mudah-mudahan ia akan meresap ke hati kita dan kita akan lebih terasa bahawa sesungguhnya Allah itu Maha Suci. Ini barulah dikatakan zikir qalbi.

Mari kita lihat dari segi perbuatan atau sifat Allah pula. Antara sifat Allah yang kita sedia maklum ialah Al-'Afu (Maha Pengampun) dan Al-Ghaffar(Maha Pemaaf). Allah SWT sangat cintakan kemaafan. Oleh sebab itulah kita sangat dianjurkan untuk berdoa meminta kemaafan dan keampunan dari Allah SWT. Mari kita bandingkan dengan sifat kita pula. Cuba kita ambil spesimen seramai 100 orang. Daripada jumlah ini, apabila ada orang bersalah padanya, berapa ramaikah yag bersedia memaafkan. Daripada 100, mungkin cuma 30 orang sanggup memaafkan. Baki lagi 70 mungkin cakap - “I see you di akhirat”. Daripada 30 orang ini pula, berapa ramai yang sanggup melupakan - 'forgive and forget'? Ramai yang sedia memaafkan tetapi sukar melupakan kesalahan yang pernah dilakukan terhadapnya. Katakanlah mungkin ada 5 orang yang sanggup 'forgive and forget'. Daripada 5 yang tinggal ini, berapa ramai yang boleh menyayangi orang yang berbuat salah kepadanya? Mungkin seorang? Mungkin juga tiada soeorang pun yang sanggup menyayangi orang yang pernah melukai kita. Ianya sangat sukar untuk kita lakukan.

Jadi cuba kita lihat betapa sucinya Allah SWT. Jika seseorang itu datang kepadanya dengan dosa dan kesalahan yang menggunung sekalipun, Allah Taala bukan sahaja menjanjikan keampunan bahkan Allah menyayangi orang yang bertaubat atas dosa-dosanya. Dalam suatu hadis yang panjang ada disebut bahawa Allah menyayangi, menyukai dan sangat gembira untuk menerima taubat hamba yang berdosa. Ianya diumpamakan seperti seorang musafir di tengah padang pasir yang kehilangan bekalan dan untanya. Oleh kerana terlalu kecewa musafir itupun mengambil keputusan untuk tidur dengan harapan biarlah mati ketika tidur. Tetapi alangkah gembiranya musafir itu apabila terjaga dan mendapati bekalan dan untanya telah kembali ke pangkuannya. Perasaannya seumpama mati hidup semula. Jika musafir itu terlalu gembira, Allah SWT lebih gembira lagi daripada musafir itu apabila ada hambanya yang bertaubat atas kesilapan lalu. Allah bukan sahaja memaafkan kesalahan orang yang berdosa, bahkan Allah memadamkan daripada catatan dan menyayangi orang yang yang bertaubat itu. Oleh itu bila kita sebut 'Subhanallah', jadikanlah ianya zikir qalbi dimana kita terasa di dalam hati betapa sucinya Allah, betapa penyayangnya Allah.

Seterusnya cuba kita lihat bagaimana Allah memandang hambanya. Kita ini kadang-kadang begitu cepat betul bersangka buruk atau prejudis takkala melihat contohnya sebuah kereta memotong kereta kita atau seseorang yang berpakaian agak 'XO- extraordinary'. Kita mula berdetik di dalam hati mengatakan yang orang itu berlagaklah, kurang beradab dan sebagainya. Walaupun kita tak ucapkan secara zahir, tetapi begitulah hati kita memandang orang sekeliling. Padahal orang itu tiada kena-mengena pun dengan kita. Kita tidak memandang orang dengan kasih-sayang, sebaliknya kita memandang orang dengan prasangka, curiga dan kehinaan. Sebab itulah dalam memberi salam pun kita memilih-milih orang. Walaupun seseorang itu Islam jika dia tidak senyum kepada kita, kita pun tidak mahu beri salam. Padahal Nabi SAW sendiri sudah menyebut bahawa di akhir zaman nanti, manusia hanya memberi salam kepada orang yang mereka kenali sahaja. Sewajarnya kita beri salam kepada semua umat Islam, tak kitalah kita kenal atau tak. Jadi apa yang menghalang kita daripada memberi salam? Itulah persepsi atau pandangan kita terhadap seseorang. Kita suka menghukum orang dari segi lahiriah sahaja. Allah SWT itu Maha Kaya, tetapi Allah tidak prejudis ketika melihat hamba-Nya. Penglihatan Allah dipenuhi kasih sayang, bahkan kasih sayang Allah melebihi kasih sayang seorang ibu yang paling menyayangi anaknya. Allah Maha Berkuasa tetapi Allah tidak zalim sebaliknya Allah penyayang. Allah Maha Kaya tetapi Allah tidak bakhil dan sebaliknya sangat pemurah. Allah Maha Mengetahui, tetapi Allah tidak membuka aib hambanya. Alhamdulillah dosa itu tidak berbau, jika sebaliknya, tentulah tiada siapa yang mahu dekat dengan kita lantarannya terlalu banyaknya dosa yang pernah dilakukan. Oleh itu, apabila menyebut “Subhanallah”, terasalah bahawa Allah itu Maha Suci melalui pandangannya, sifatnya, zatnya dan sebagainya. Ini barulah dinamakan zikir qalbi. Mudah-mudahan zikir sebegini ada kesannya kepada hati kita, sepertimana kesan zikir ini ke atas hati Fatimah dan Ali.

Seterusnya, komponen terakhir – zikir fi'li. Adakah perbuatan kita selaras dengan pengucapan kita? Adakah tindakan kita selaras dengan rasa hati kita? Adakah kita bertindak mengikut syariat yang Allah tetapkan? Orang yang betul-betul merasakan Allah itu Maha Suci, tindakannya juga akan mensucikan Allah, maksudnya dia cuba untuk melaksanakan tuntutan yang wajib dan juga yang sunat ke atasnya. Perkara yang haram pula, bukan sahaja dia meninggalkannya, malah dia mencegah orang lain daripada melakukannya juga. Inilah yang paling penting sebenarnya. Kita jaga hukum-hakam yang Allah tetapkan. Kita menyayangi semua makhluk Allah dan kita juga menjaga hati daripada sifat-sifat mazmumah (tercela). Ini barulah dikatakan zikir fi'li yang merangkumi perlakuan lahiriah dan juga batin atau hati kita. Dengan ketiga-tiga komponen ini, barulah zikir itu bersepadu untuk diamalkan. Semoga dengan pencerahan ini kita menyedari bahawa rupa-rupanya zikir kita selama ini sekadar terapung-apung di permukaan dan tidak menjunam ke dalam hati kita sehingga menimbulkan ketenangan yang sejati. Ketahuilah bahawa dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang. Tetapi jika kita sudahpun mengingati Allah, namun hati masih belum berasa tenang, pasti masih ada kekurangan sama ada pada zikir qaulinya, zikir qalbi atau zikir fi'linya. Saya rasa cukup dulu sebagai pencerahan. Mari kita berkongsi bersama pendengar pula.

Senarai soalan & jawapan:

S: Bagaimanakah konsep kemaafan dalam Islam? Katakan ada orang berhutang atau menzalimi kita, dan kita mengambil sikap tidak peduli dengan alasan 'malas nak layan'. Adakah sikap begini dituntut dalam Islam?

J: Pada pendapat saya, tindakan sebegitu tidak berapa tepat. Jika ada orang berhutang dengan kita, kita perlu maklumkan kepada mereka. Orang yang berhutang terlibat dengan dosa jika hutangnya tidak dilangsaikan. Jadi kita meminta hutang itu agar dia terlepas daripada menanggung dosa. Kecualilah kalau dia itu seorang yang susah dan tidak mampu, kita bolehlah menangguhkan atau menghalalkan hutang tersebut. Jika sebaliknya, kita perlu mengingatkannnya. Kita menuntut hutang bukan kerana hutang itu, tetapi kerana sayangkan dia agar dia tidak terlibat dengan dosa. Seterusnya kita juga boleh berdoa memohon hatinya dilembutkan untuk membayar hutang. Dalam kes dizalimi pun begitu juga. Kita bukan saja perlu tolong orang yang dizalimi, namun kita perlu juga tolong orang yang menzalimi. Bagaimana? Dengan memberhentikan kezaliman orang yang menzalimi. Jadi, sifat Islam ialah ambil endah dan ambil peduli. Sikap tidak ambil peduli bukan sifat Islam. Islam menyuruh kita menghalang kemungkaran dengan kuasa, dengan lidah atau paling kurang dengan hati. Orang Islam perlu reaktif dalam mencegah kemungkaran.

S: Seperti yang ustaz sebut bahawa zikir itu ada 3 bahagian. Saya sendiri pun sentiasa mengamalkan zikir, tapi saya masih rasa ada sesuatu kekurangan. Saya juga masih melakukan maksiat-maksiat contohnya seperti mengumpat. Jadi bagaimana nak tahu yang kita telah benar-benar ikhlas mengingati Allah, berzikir pada-Nya, sedangkan saya masih leka membuat kesilapan dan setelah berbuat kesilapan, barulah saya sedar yang saya telah buat silap lagi. Saya cuba untuk sentiasa ingat Allah, dan berzikir tapi masih lagi melakukan kesalahan. Jadi bagaimana nak ikhlaskan diri dalam berzikir, dan mewujudkan perasaan suka dan minat untuk berzikir.

J: Masalah ini kita semua pun menghadapinya. Dalam melakukan solat, berzikir dan mengingati Allah, kita masih terlanjur melakukan maksiat-maksiat dan gagal mengawal hawa nafsu kita. Apa yang penting sekali ialah kita masih ada rasa bersalah. Rasa bersalah itu menunjukkan bahawa hati kita masih hidup. Berbeza dengan orang yang hatinya mati, dia berasa gembira apabila melakukan kesalahan. Tetapi jika kita menyesal setelah melakukan kesalahan dan mungkin tertanya-tanya kenapa walaupun kita dah solat, kenapa kita masih sukar meninggalkan maksiat. Pada ketika ini, jangan berputus asa daripada rahmat Allah. Sekali lagi saya ingatkan, jangan sekali-kali berputus asa dengan rahmat Allah. Kita segeralah bertaubat, biarpun berterusan bertaubat sekalipun kerana masih mengulangi kesilapan yang sama. Jangan sesekali menganggap tak perlu bertaubat kerana dah tahu pasti akan mengulangi kesilapan lagi. Teruskan bertaubat, semoga kita mati dalam melakukan taubat, atau dalam perjalanan menuju taubat yang lain.

Imam Ghazali pernah ditanya, “Bagaimana keadaan aku berzikir tetapi hatiku lalai?”. Jawab Imam Ghazali, “Hendaklah engkau terus berzikir walaupun hatimu lalai. Sekurang-kurangnya lidahmu telah terpelihara daripada melakukan kejahatan.” 

Jadi kita kena teruskan berzikir walaupun hati lalai. Jika kita masih buat silap, berusahalah untuk memuhasabah diri dan bertaubat. Teruslah mengetuk pintu taubat dan pintu keredhaan Allah, InsyaAllah akan terbuka juga suatu hari nanti. Kita perlu terus berbaik sangka pada Allah. Kita juga perlu tambahkan ilmu, kerana ilmu akan memberi jalan untuk kita beramal. Seterusnya cari guru dan jadikan mentor yang dapat membimbing kita dan mengajar cara berzikir yang lebih spesifik, sesuai dengan keadaan dan keperluan kita. Dalam rancangan Mukmin Profesional ini kita cuma membuka gerbang sahaja dalam memberitahu kepentingan zikrullah. Mudah-mudahan para pendengar akan mendalami topik ini dan mencari zikir-zikir yang muktabar untuk diamalkan. Teruskanlah berzikir, bermujahadah, dan bertaubat kepada Allah SWT. Semoga kebaikan kita akan melebihi kejahatan kita suatu hari nanti, kerana kita terus 'berperang'. Tetapi jika kita berhenti berperang, sudah tentu kita akan kalah. Oleh sebab itu, yang penting kita tidak mengalah dan terus bermujahadah, biarpun kadang-kadang kita kalah.

S: Bagaimana memupuk perasaan untuk sentiasa berzikir, biarpun kadang-kadang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan seharian?

J: Soalannya – Terlampau sibuk bekerja sampai tak sempat nak berzikir. Jadi saya nak ubah sedikit - Terlampau sibuk bekerja sampai tak sempat nak makan. Ada ke orang macam tu? Tak. Walau sibuk macam mana sekalipun kita tetap tidak lupa untuk makan. Jadi, jika untuk mengambil makanan fizikal kita peruntukan waktu-waktu khas, mengapa kita tidak boleh lakukan yang serupa untuk mengambil makanan rohani iaitu zikir? Sepertimana badan jadi lemah apabila kita tidak makan, hati juga akan jadi lemah apabila kita tidak zikrullah. Bila hati lemah, kita takkan ada kekuatan untuk menempuh ujian hidup. Kadang-kadang kita bekerja untuk memburu sesuatu sehingga tidak sedar yang benda itu memburu kita kembali. Contohnya, kita bekerja untuk keluarga, tetapi dalam masa yang sama kita mengabaikan keluarga. Ada orang pula bekerja untuk mendapatkan duit tetapi sayangnya tidak sempat pun menikmati duit tersebut. Silapnya adalah kerana kita tak tahu keutamaan dalam kehidupan. Jadi sebenarnya, sebesar-besar zikir ialah solat. Jadi kita mesti utamakan solat dalam apa keadaan sekalipun. Perkara-perkara lain jatuh tempat kedua dan seterusnya. Zikrullah ini perlu difahami dari segi qaulinya, qalbinya dan fi'linya. Zikir itu bukanlah semata-mata kena berada di atas tikar sembahyang atau di sejadah. Sebaliknya ketika kita memandu sekalipun hati kita boleh sentiasa berzikir dan mengingati Allah. Seterusnya adalah penting untuk kita menjadikan kerja kita juga sebagai zikir. Bagaimana? Dengan memastikan pekerjaan yang dilakukan menepati enam syarat ibadah yang kita pernah bincangkan sebelum ini. Antara 2 yang terpenting ialah 2-i: iaitu ikhlas kerana Allah dan iktiba' iaitu mengikut sunnah Rasulullah. Menjadikan kerja sebagai zikir termasuk dalam kriteria zikir fi'li (perbuatan). Oleh itu jika kita betul-betul jadikan kerja kita sebagai ibadah, kerja itu juga boleh menjadi zikir kepada Allah. Contohnya jika kita sebagai guru, doktor, jurutera atau penoreh getah sekalipun, jaga keenam-enam prinsip ini supaya kerja menjadi ibadah. Dengan itu kita tak perlu memisahkan zikir daripada kehidupan kita. Memisahkan zikir daripada kehidupan kita umpama memisahkan ikan daripada air. Ikan sentiasa memerlukan air, manakala hati manusia pula sentiasa memerlukan zikir. Tanpa air, ikan mati. Tanpa zikir, hati akan mati. Jadilah inilah pesan saya agar kita sentiasa berzikir dengan menjadikan kerja sebagai ibadah.

S: Ada setengah pihak mengatakan zikir selepas solat, jika dikuatkan boleh mengganggu jemaah lain yang sedang solat. Jadi saya mohon penjelasan ustaz.

J: Ini merupakan persoalan khilafiah. Ada yang berpendapat zikir itu boleh dilakukan secara berjemaah, dan ada pula yang berpendapat zikir itu di dalam hati dan dilakukan sendiri-sendiri. Jadi mana satu nak ikut? Memandangkan ada khilaf, terpulang untuk mengikut yang mana satu yang dirasakan sesuai. Yang mana satu pun yang dipilih tidak menjadi kesalahan. Yang salah itu apabila kedua-dua kumpulan yang mengamalkan pendapat yang berbeza saling menyalahkan kumpulan yang lain atau jika kedua-duanya tidak berzikir langsung. Dalam hal ini kita ikut contoh ulama-ulama terdahulu. Mereka berjaya memanfaatkan persamaan dan menguruskan perbezaan dengan baik. Jadi jangan kita hari ini berbalah sehingga boleh menimbulkan keresahan dalam kalangan masyarakat. Sebaliknya masalah yang perlu diberi perhatian ialah majoriti manusia yang tidak berzikir langsung.

(Ya Allah, bantulah aku untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu).” (HR Abu Daud)

S: Saya pernah mengamalkan doa yang Nabi SAW anjurkan iaitu “Allahuma a'inni 'ala zikrika, wa syukrika, wa husni 'iba datik”. Kesannya menjadikan saya lebih mengingati Allah dalam setiap urusan yang saya lakukan. Jadi bagaimana untuk saya istiqamah dalam perkara ini?

J: Saya ada berjumpa dalam satu kitab yang menyatakan memang doa ini merupakan asas untuk membuat satu perhubungan yang baik dengan Allah. Doa ini diberikan Nabi SAW kepada sahabat yang amat dikasihinya iaitu Mu'az bin Jabal. Rasulullah SAW pegang tangan Mu'az sambil berpesan supaya Mu'az tidak sekali-kali lupa mengamalkan doa ini selepas solat. Kita minta dalam doa ini bantuan untuk: yang pertama untuk berzikir mengingati Allah, kedua untuk mensyukuri nikmat Allah, dan ketiga agar diperbaiki ibadah kita kepada Allah. Bila kita minta Allah permudahkan tiga urusan ini, InsyaAllah, ianya memang menjadi mudah. Jika tidak, kita akan merasa berat, lesu dan sukar mengingati Allah. Oleh sebab itu kita minta bantuan Allah agar kita mudah mengingati Allah. Ini memang satu amalan yang terpuji. Bagaimana pula untuk istiqamah? Tiada jalan lain selain daripada selalu berlatih dan bermujahadah. Jadi amalkan doa ini setiap masa, tidak terhad kepada ketika lepas solat sahaja. Orang mukmin itu apabila bersuara, dia berzikir, apabila diam, dia berfikir. Mudah-mudahan kita berterusan mengamalkannya. Pada yang belum hafal, usahakan untuk menghafal. Jika belum berjaya, hafal maknanya terlebih dahulu. Jika kita minta bantuan Allah, InsyaAllah Allah takkan mengecewakan kita.

Kesimpulan:

Saya ingin mengaitkan penerangan minggu ini dengan minggu yang lalu. Sebenarnya tidak salah untuk kita mencari harta, menjadi terkenal, menjaga rupa dan mempunyai kuasa, asalkan semuanya dilakukan berlandaskan zikrullah iaitu mengingati Allah. Apabila mengingati Allah, jika kaya, kita takkan sombong dan jika kita rupawan pula kita tidak angkuh. Contohilah Nabi Sulaiman yang kaya tetapi masih patuh pada Allah. Begitu juga dengan Nabi Yusuf yang rupawan, tetapi tetap mengingati Allah. Dan yang paling popular, dimana tidak pernah berlalu satu minit pun tanpa orang menyebut namanya, iaitu Nabi Muhammad SAW. 

Kepopularan atau keternamaannya tidak menghilangkan sifat kehambaan yang sentiasa mengharap kepada Allah. Hanya dengan mengingati Allah, kita boleh menjadi orang kaya, orang berkuasa, orag rupawan dan orang popular yang bahagia.
 kasihnabi   
Mukmin Profesional 14.05.2012

Hitung Kesyukuran, Bukan Kesukaran 

Ustaz Pahrol Mohd Juoi


Apabila berada dalam majlis ilmu, bermakna kita ada iltizam untuk menambah ilmu. Selagi kita terus menuntut ilmu, segala kesalahan-kesalahan kecil yang kita lakukan akan dimaafkan kerana kita dianggap seperti budak yang masih dalam proses pembelajaran. Meminjam analogi seorang ustaz – katakan sebuah kereta di hadapan kita masih belum bergerak walaupun lampu isyarat sudah bertukar hijau, tentu kita rasa nak marah. Tapi apabila ternampak 'sticker' L di kereta tersebut, kita pun tak jadi nak marah. Begitulah juga dengan kita, jika kita berterusan menuntut ilmu, kita mengharapkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan kerana kekurangan ilmu Allah ampunkan. Jadi mari sama-sama gantung L pada diri kita, semoga kita terus ingin cari ilmu dari buaian hingga ke liang lahad. Rasa tidak berilmu ialah rasa orang yang berilmu. Hanya orang yang berterusan menimba ilmu boleh mencapai kesempurnaan berilmu.

Fokus hari ini ialah syarat ibadah yang terakhir. Syarat ibadah ada enam, yang dipecahkan daripada dua syarat utama untuk menjadikan sesuatu pekerjaan itu ibadah iaitu niat mesti kerana Allah, dan kaedah mesti menepati sunnah. Syarat yang enam ialah:
·     niat yang betul
·     sah disisi syariat
·     pelaksanaan yang betul
·    buat yang terbaik
·    tak meninggalkan ibadah yang asas
·    kesannya baik

Jadi fokus hari ialah – Kesan yang baik. Enam syarat perlu dijadikan kayu ukur sebelum, semasa dan selepas kita melakukan sesuatu pekerjaan. Contoh, sebelum buat, tanya diri apa niat melakuan pekerjaan ini? Periksa juga hukum pekerjaan yang dilakukan – halal, harus, haram? Semasa buat, mesti gunakan kaedah yang terbaik. Seterusnya tanya diri adakah telah memberi yang terbaik? Mengapa? Tujuan ibadah adalah sebagai persembahan kepada Allah, jadi kerana Allah yang terbaik, tentulah Allah hanya inginkan yang terbaik sahaja. Jadi kita tak boleh buat sambil lewa. Seterusnya walau sesibuk mana sekalipun, jangan lupa tanggungjawab pada Allah → jaga solat, cari ilmu fardhu ain dan lain-lain. Selepas buat kerja, periksa apakah kesannya baik atau buruk?

Selepas sesuatu pekerjaan diselesaikan, ada 2 hasil yang boleh didapati. Pertama daripada segi keuntungan material, kedua kesan pada hati dan rohani kita. Kedua-dua kesan perlu baik. Bagaimana pula kita membelanjakan hasil yang diperolehi? Adakah ke arah kebaikan atau kemungkaran? Jika gaji disalurkan ke arah kemaksiatan, hilanglah kesemua lima syarat kerja sebagai ibadah yang disebutkan tadi. Pendapatan yang diperoleh juga perlu dizakatkan, kerana zakat mensucikan pendapatan tersebut. Semasa kerja ada kalanya kita terleka, mungkin tertidur, dan sebagainya. Jadi dengan zakat dapatlah mensucikan kekurangan-kekurangan yang tak disengajakan.

Jika rezeki diperoleh dengan cara yang baik, ianya akan mudah juga dibelanjakan ke jalan yang baik. Namun jika kita berasa sukar untuk buat kebaikan seperti sedekah dengan rezeki yang diperolehi, itu mungkin tandanya ada perkara tak elok dalam cara mendapatkan rezeki tersebut. Seperti jenaka pergaduhan antara wang RM1 dan RM50 yang ramai maklum, RM1 masuk keluar masjid atau surau saja, RM50 pula pergi 'shopping complex', tengok wayang dan sebagainya. Satu lagi analogi yang mudah: lebah biasanya hinggap di bunga-bunga yang cantik, kemudian balik ke sarang dan menghasilkan madu, yang mempunyai pelbagai kebaikan juga. Itulah perumpamaan orang beriman, dia mencari rezeki di tempat yang baik, dan daripada rezeki yang baik itu akan dibelanjakan ke arah kebaikan juga. Ini jelas menjadi teladan pada kita semua agar menilai semula cara kita bekerja dan bagaimana kita membelanjakan rezeki yang diterima. Perhatikan wang dalam dompet kita? Mudah atau susah nak keluarkan wang tersebut untuk kebaikan. Adakah pendapatan kita mudah dibelanjakan untuk keseronokan sahaja?

Seterusnya mari lihat kesan rezeki ke atas hati pula. Adakah dengan rezeki yang diperolehi menjadikan kita seorang yang bersyukur? Syukur ada tiga bahagian: syukur pada...
1.perkataan: sebut Alhamdulillah.
2.hati: bila mendapat sesuatu kejayaan, kita sedar itu adalah kurniaan Allah, bukan dari usaha kita semata. Ilmu, tenaga, pancaindera kita semunya milik Allah. Oleh itu segala pujian atas sesuatu kejayaan perlu kita pulangkan kepada Allah. Begitulah sikap Nabi Sulaiman apabila dipuji atas kelebihan harta dan kepandaiannya. Jangan kita bersikap seperti Qarun yang mengaku diberi harta kerana hasil kebijaksanaannya sendiri.
3.perbuatan: menggunakan nikmat yang Allah beri selaras tujuan nikmat itu dikurniakan atau juga dikenali 'law of gratitude'. Contoh: bakat yang Allah berikan digunakan untuk tujuan kebaikan, bukan kemaksiatan. Sebagai contoh - jika kita diberikan ilmu, gunakan ilmu untuk mengajar, jika diberikan harta, bantu orang yang susah. Secara analoginya, jika A pinjamkan kereta pada B, kemudian B bawa kereta dan langgar A pula, memang tak patut sungguh. Begitulah hakikatnya jika kita menggunakan nikmat yang Allah beri untuk melawan dan melanggar perintah-Nya. Inilah yang dinamakan orang yang zalim.

Jadilah hamba yang sentiasa bersyukur dengan kurniaan Allah. Jangan kita tamak. Ada satu kisah seorang raja ingin memberikan tanah kepada seorang lelaki. Sejauh mana dia berjalan itulah tanah yang akan menjadi miliknya dengan syarat dia pulang sebelum senja. Namun oleh kerana ketamakannya, lelaki tersebut tak balik-balik. Bila tamak, seseorang akan mengalami kesibukan yang tak ada hentinya, keletihan yang tak ada penghujungnya. Oleh itu jadilah orang yang bersyukur, kerana Allah sudah berjanji bahawa jika bersyukur, Allah pasti tambah nikmat. Kalau rezeki kita masih belum bertambah juga, mungkin kita belum bersyukur lagi kerana siapa yang tidak bersyukur dengan yang sedikit, tidak akan bersyukur dengan yang banyak. Ada juga ungkapan orang bijaksana: “Siapa yang tak sabar dengan yang sedikit, dia sukar syukur dengan yang banyak.” Oleh itu, hitunglah kesyukuranmu, bukan kesukaranmu dalan hidup ini. Lihat apa yang ada, biarpun sedikit, jangan lihat apa yang tak ada.

Soalan & jawapan:

S: Orang Islam tak bersyukur dengan keislaman yang dimiliki dan tidak berdakwah. Ini juga mengundang kufur datang dalam bentuk murtad. Mohon pandangan ustaz.

J: Orang Islam yang tak bersyukur bukan sekadar tak berdakwah, namun yang lebih parah ialah apabila dia tak jaga keislamannya. Bila kita tak jaga keislaman kita, ada kemungkinan Allah akan cabut keislaman kita. Analoginya jika kita hadiahkan anak kita basikal, namun basikal itu tak dihargainya dan tak dijaganya dengan baik. Kita tengok pun geram dan akhirnya kita ambil balik basikal itu dan menyimpan dan menguncinya. Begitulah kalau kita tak menghargai Islam yang kita memiliki. Orang Islam sepatutnya bersifat seperti air mutlak – suci dan mensucikan. Apabila nikmat Islam betul-betul sampai kepada kita, secara semulajadi kita akan terasa untuk menyampaikannya pada orang lain, kerana bila kita rasa seronok dengan sesuatu, kita akan suka berkongsi. Sama seperti jika kita jumpa kedai makan yang sedap, kita akan segera mempromosikannya pada rakan-rakan dan keluarga, sehingga kadang-kadang sanggup keluar belanja sendiri agar orang lain dapat rasa nikmat makan di kedai yang sedap tadi. Tetapi kenapa kita sukar nak berdakwah? Kerana kita sendiri tak merasa kemanisan Islam itu. Al-Shahid Hassan Al-Banna berkata: “Kemanisan Islam itu hanya dapat dirasa oleh orang yang menegakkan Islam dalam diri mereka.” Oleh itu bila kita cuba menegakkan Islam, pastinya bertemu kesukaran dan ujian, namun daripada situlah iman kita akan digilap. Islam hari ini telah digelapkan oleh orang Islam sendiri. Dia masuk sepenuhnya pun tidak, keluar sepenuhnya pun tidak. Dia berada di muka pintu dan menyebabkan gangguan orang yang nak masuk ke dalam Islam. Dia cuma mengamalkan Islam separuh dan meninggalkan separuh. Oleh itu mari sama-sama seru diri kita untuk menegakkan Islam dan menyeru orang lain bersama kita.

S: Jika kita dapat musibah, boleh ke katakan ia juga datang daripada Allah?

J: Memang Allah sebut dalam Al-Quran bahawa Allah turunkan musibah sesuai dengan kemampuan kita. Walaupun musibah membawa kesakitan, kegagalan dan sebagainya, ia tetap membawa hikmah yang tersendiri. Musibah boleh mengingatkan kita pada Allah, sedangkan nikmat boleh buat kita lupa pada Allah. Abu Zar Al-Ghifari pernah ditanya Rasulullah SAW tentang apa yang disukainya. Dia menjawab: “Lapar, sakit dan mati”. Pelikkan jawapannya? Kenapa begitu? Jawabnya lagi: “Bila lapar, hatiku lembut, bila sakit, dosaku diampunkan dan bila mati, aku akan bertemu dengan Allah.” Inilah orang beriman, dia melihat yang tersirat dalam setiap yang berlaku. Ini juga dikenali sebagai konsep 'reframing' di Barat. Contoh: jika kita diberhentikan kerja, sebenarnya itu adalah peluang kita mendapat pekerjaan yang baru. Ketika gagal, kita tak anggapnya sebagai kegagalan tapi sebagai cabaran. Kita ubah cara melihat sesuatu agar dapat melihat yang tersirat. Oleh itu jika dilanda musibah, sebutlah: “Innalillah hi wa inna ilai hiro ji un.” Ingatlah kita semua milik Allah, Allah boleh buat apa saja dengan kita. Jangan tanya kenapa kita, tapi bersyukurlah kerana Allah memilih kita untuk dididik-Nya.

S: Bagaimana jika usaha dakwah kita ditolak, dan seolah-olah telah ditutup pintu hatinya. Bagaimana cara terbaik mengajak mereka?

J: Kadang-kadang kita rasa geram bila benda baik yang kita nak sampaikan tak diterima orang. Yang paling utama, jangan marah apabila orang tak berubah seperti yang kita kehendaki, kerana kita sendiri pun tak berubah sepertimana yang kita kehendaki. Jadi, beri kemaafan dan beri kasih sayang. Asas dakwah ialah kasih-sayang. Kita boleh menyayangi seseorang tanpa memimpinya, tapi kita takkan boleh memimpin seseorang tanpa menyayanginya. Itulah resepi kejayaan dakwah Rasulullah SAW. Akhlak yang paling hebat pada diri Rasulullah ialah kasih-sayang. Baginda amat ambil-berat pada kesusahan orang lain. Islam hanya akan berjaya jika diseru dengan kasih-sayang, Islam takkan berjaya jika dieksploitasi dengan perasaan benci. Bila sayang, kadar kesabaran kita menghadapi karenah seseorang akan menjadi lebih tinggi. Analoginya jika bersama anak sendiri, apabila dia meragam, kita takkan terus marah kerana ada perasaan sayang padanya. Tapi jika itu anak orang lain, kita mungkin takkan begitu sabar. Dalam berdakwah, kita perlu juga ingat bahawa hidayah merupakan hak Allah, jangan kita susah hati untuk 'mengambil' tugas Allah. Kita hanya perlu terus berusaha. Jika dakwah kita tak diterima, jangan cepat membuat kesimpulan orang menolak dakwah kita. Mungkin sebenarnya orang menolak kerana cara kita yang tak betul. Contohnya jika kita campak makanan pada orang yang sangat lapar, orang itu pasti takkan makan walaupun dia amat lapar ketika itu. Sebab itulah, kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang benar, pada waktu yang benar. Ada tiga cara berdakwah:
1. Dengan hikmah – dengan sesuatu yang tersirat, cara ini sesuai untuk golongan bijak-pandai.
2.Dengan pengajaran-pengajaran yang baik – untuk golongan pertengahan. Cara ini sesuai untuk orang ramai.
3.Dengan hujah-hujah yang baik (berbahas) – dengan orang yang sederhana, tak bijak sangat, tak bodoh sangat.
S: Bagaimana untuk berdakwah apabila diri kita pun belum baik juga?

J: Cara membaiki diri kita ialah dengan mengajak orang lain melakukan kebaikan. Contohnya, jika nak basuh kain, hasilnya kain bersih, tangan pun jadi bersih. Jangan menunggu hingga kita betul-betul jadi baik, baru kita nak mengajak orang kepada kebaikan. Bila ditanya, kita pun tak dapat menjawab adakah kita baik atau tidak. Kita hanya boleh menjawab yang kita sedang berusaha, dan dalam pada itu mengajak orang lain berusaha bersama.

S: Pada pendapat saya dakwah secara individu memang payah. Jadi eloklah dilakukan secara berjemaah. Jadi sertailah contohnya jemaah tabligh yang memang aktif berdakwah.

J: Kita boleh lihat pandangan ini daripada dua sudut: prinsip dan pendekatan. Daripada sudut prinsip: Betul berdakwah dalam jemaah akan beri lebih kekuatan. Daripada sudut pendekatan pula: Contoh yang diberi ialah dengan mengikut jemaah tabligh. Sebenarnya ada banyak pilihan lain lagi, jalan menuju Allah ada sebanyak urat leher kita sebenarnya. Setiap pendekatan ada cara tersendiri. Biar ada banyak persatuan, asalkan ada kesatuan. Jangan nafikan kelebihan kumpulan lain, hormati satu sama lain. Saling membantu atasi kelemahan dan jangan berpecah kerana kepentingan peribadi.

Kesimpulan:

Walaupun kita boleh memberikan banyak pandangan dan pendapat, kita sebenarnya masih banyak kekurangan. Oleh itu mari kita serahkan diri pada Allah agar dibantu diberi kesempurnaaan. Semoga dengan perbincangan ilmu ini, hati kita semakin lembut dan semakin dekat dengan Allah. Setiap kita perlu rasa yang kita ada kelebihan tersendiri, barulah kita boleh bersyukur pada Allah. Jika kita rasa diri kekurangan sahaja, kita sukar mensyukuri nikmat Allah. Syukur akan menambah rezeki yang Allah beri, mungkin bukan pada kuantiti, tapi pada kualitinya. Jangan kita kufur, itu akan membuatkan kita akan sentiasa rasa tak cukup, walaupun rezeki yang diberi itu sudah banyak. Wallahu a'lam.

Mukmin Profesional ( IKIM fm 12.03.2012)

Friday, April 5, 2013


Pilihanraya dan harta awam 

Oleh Mohd Asri Zainul Abidin

 4 APRIL — Apabila kita membaca Sirah Nabi s.a.w kita merasa betapa kita umat Islam khususnya kepimpinan negara-negara umat Islam amat jauh dari mengambil teladan dari sirah baginda yang agung. Sekalipun nama Nabi Muhammad s.a.w itu sering digunakan oleh pelbagai pihak termasuk golongan politik, namun realitinya kita lebih banyak menggunakan lebel dari mengambil isinya. Menjelang pilihanraya, tentu pelbagai pihak akan menyebut nama Nabi s.a.w seakan merekalah yang paling dekat dengan ajaran baginda. Ada yang mengaku keturunan Nabi s.a.w untuk menebalkan poket dan mendekatkan diri kepada penguasa. Ada yang mengakui kononnya ‘salafi' bermanhaj salaf konon padahal merekalah yang menyimpang dari maqasid agama yang dibawa oleh Nabi s.a.w. Ada yang membangkitkan soal perkauman, lalu menyatakan perjuangannya diajar oleh Nabi s.a.w. Golongan politik pula akan menggunakan sesiapa sahaja dan apa sahaja yang boleh menguntung kehendak politik mereka. Jika nama Nabi s.a.w boleh dijual, mereka mungkin akan menjualnya untuk mendapatkan untung politik.
Tidak Pelik
Kita jangan hairan jika orang politik mempunyai pelbagai watak terutama musim pilihanraya ini. Kita mungkin melihat mereka bagaikan wali yang suci dengan penuh tawaduk bersujud di depan khalayak ramai dan media. Kemudian kita juga mungkin mendapati mereka penuh kerakusan kuasa, meratah harta awam, membohongi rakyat jelata, berjanji dusta dan menipu semahunya. Kesemuanya mungkin bagi yang menjadikan kuasa matlamat kehidupan mereka. Tidak kira apa jenama parti sekalipun, jika penyakit gila kuasa bersarang dan menguasai salur darah dan nafas seseorang, dia ketagih kuasa dan mungkin melakukan apa sahaja.
Hudaibiyah
Saya amat kagum dengan kejujuran Nabi s.a.w dalam melaksanakan janji yang menterai dan tidak pernah khianat kepada persetujuan yang dibuat. Perjanjian Hudaibiyah yang dibuat pada tahun keenam hijrah antara bukti yang mengkagumkan. Ramai juga sahabat tidak bersetuju dengan isi perjanjian tersebut yang dimenterai antara Nabi s.a.w dengan kaum Quraish Mekah yang terkenal sejak dari hari awal terus menerus memerangi Islam. Suhail bin ‘Amr mewakili pihak Quraish bagi memeterai perjanjian tersebut. Antara isi perjanjian yang dipersetujui yang ialah sesiapa dalam kalangan Quraish yang pergi kepada pihak Muhammad (kaum muslimin di Madinah) tanpa keizinan keluarganya hendaklah dipulangkan kepada pihak Quraish. Sesiapa dalam kalangan mereka yang bersama Muhammad yang pergi kepada pihak Quraish, tidak dipulangkan kepada pihak Muhammad'. (Isi perjanjian ini disebut dalam pelbagai riwayat dari al-Bukhari, Muslim, Ahmad, al-Baihaqi dll).
Nabi s.a.w telah bersetuju dengan kandungan perjanjian ini. Ditakdirkan semasa perjanjian dimeterai, anak Suhail bin ‘Amr sendiri yang dipanggil Abu Jandal yang menganut Islam datang kepada Nabi s.a.w dalam keadaan dirantai kerana disiksa oleh bapanya. Dia berjaya melarikan diri dari kepungan lalu datang mendapatkan Nabi s.a.w dan kaum muslimin. Kata Suhail kepada Nabi s.a.w: "Wahai Muhammad! Ini perkara pertama yang aku tuntut engkau laksanakan bagi perjanjian ini, engkau hendaklah kembalikan dia kepadaku". Nabi s.a.w cuba memujuk Suhail dengan pelbagai cara agar mengecualikan kes Abu Jandal ini. Namun Suhail tetap berkeras dengan isi perjanjian tersebut. Para sahabat begitu sedih melihat Abu Jandal yang menganut Islam tetapi disiksa dengan begitu dahsyat oleh bapanya. Dia dirantai dan dipukul.
Baginda Nabi s.a.w terpaksa mengembalikan Abu Jandal kepada bapanya disebabkan perjanjian tersebut. Abu Jandal menjerit dengan suara yang kuat menyebut: "Wahai kaum muslimin! Tergamak kamu mengembalikan daku kepada puak syirik yang akan menyiksa daku kerana agamaku?!". Rasulullah s.a.w bersabda kepada Abu Jandal: "Wahai Abu Jandal! Bersabar dan haraplah pahala. Sesungguhnya Allah akan menjadikan untuk engkau dan mereka yang tertindas bersamamu jalan keluar. Kita telah mengikat perjanjian dengan kaum Quraish. Kita terpaksa patuh dan mereka juga kena patuh. Kita sama sekali tidak mengkhianati mereka". (Riwayat Ahmad dan sebahagiannya dari al-Bukhari dan Ibn Ishaq).

Janji Ditepati
Demikianlah setianya Nabi s.a.w kepada perjanjian. Walaupun para sahabat ramai yang tidak bersetuju dan mencadangkan peperangan, namun bukanlah seorang nabi jika baginda mengkhianati perjanjian. Memamng, jika kaum muslimin memilih perang kemungkinan besar mereka boleh menang, buktinya dua tahun kemudian disebabkan Quraish sendiri yang melanggar perjanjian, Nabi s.a.w pun menawan Mekah pada tahun kelapan hijrah. Namun Nabi s.a.w tidak memilih perang atas strategi politik baginda yang kemudiannya terbukti amat berkesan.
Jika perjanjian dengan musuh Islam dipatuhi oleh Nabi s.a.w tanpa khianat, apatah lagi jika kita berjanji sesama muslim ataupun antara pemerintah dan rakyat. Setiap pihak, terutama yang mengaku muslim, yang sering menggunakan nama Nabi Muhammad s.a.w lebih wajar untuk mematuhi persetujuan yang disepakati.
Setiap parti dalam negara ini sudah ada kerajaan samada pusat ataupun negeri. BN dan PR juga sama. Pada musim piliharaya, mereka tidak boleh menggunakan harta negara ataupun negeri yang menjadi milik semua untuk kepentingan parti mereka. Kereta kerajaan, harta kerajaan dan kemudahan kerajaan tidak boleh digunakan secara khusus untuk kempen kepentingan diri ataupun parti.

Khianat
Mereka tidak boleh datang berkempen diri ataupun parti menggunakan kereta ataupun apa sahaja harta awam. Bukan semua sokong BN ataupun PR. Jika yang pro-BN redha, yang pro-PR mungkin tidak redha. Jika yang pro-PR redha, yang pro-BN mungkin tidak redha. Jika kedua pihak redha meredhai dalam membelasah harta awam, mungkin mereka yang tidak pro BN atau PR tidak redha. Maka, mereka jangan khianat amanah yang diberikan di tangan mereka.
Demikian juga media awam yang dibayar oleh harta kerajaan, hendaklah bebas dari kepentingan mana-mana parti politik. Sekian lama sejak merdeka, pihak penguasa sering ‘merembat' habis-habisan media-media awam ini, termasuk TV Hijrah yang kelihatan ‘agama' yang turut digunakan untuk kempen. Padahal ia dibiayai oleh harta awam yang menjadi milik bersama.
Dalam negara demokrasi yang berjanji satu proses pilihanraya yang adil, janji wajib itu dilaksanakan. Saya akur, telah berlaku usaha pembaikian pengurusan pilihanraya kita untuk membolehkan ia lebih adil. Kita hargai. Namun masih ada ruang yang patut dibaiki. Saya tidak fanatik mana-mana parti. Bukan juga penjilat mana-mana pemimpin kerajaan ataupun pembangkang. Saya juga tidak beriman dengan kejujuran mana-mana parti yang sedia ada itu. Namun setiap rakyat memerlukan maklumat yang saksama untuk dia membuat pilihan.
Media awam patutnya memainkan peranan tersebut. Jika ada media yang dimiliki oleh pihak-pihak tertentu, pihak lain juga patut diberikan lessen memiliki media mereka untuk membolehkan mereka menyiarkan pandangan mereka. Mana-mana pihak yang sanggup membentuk kerajaan yang memberikan hak tersebut, wajar disokong.
Akhirnya, setelah ruang mengenali setiap pihak dibuka secara adil, bermula dari mereka di universiti sehingga atuk dan tok wan di kampong dapat berfikir semampunya apa yang menjadi hasrat mereka sebagai rakyat, mereka pun mengundi. Undian itu mempunyai harga dan maruah diri rakyat. Percayalah, jika ruang sepenuh dibuka pun, tidak semestinya mereka akan menukar kerajaan ataupun memilih pembangkang. Jika mereka menukar pun, itu hak mereka yang diberikan oleh sebuah negara yang adil.
* Prof Madya Datuk Dr Mohd Asri bin Zainul Abidin adalah bekas Mufti Perlis.