Saturday, February 16, 2013

Tahukah Anda, Waktu Tidur Yang Tidak Diperbolehkan Dalam Islam?


Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan. yaitu :

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
 

Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
 
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).

Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”

(DZ/pologolun)

http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/tahukah-anda-waktu-tidur-yang-tidak-diperbolehkan-dalam-islam.htm


Monday, February 11, 2013

BEROK DAN BUNGA

Ustaz Pahrol Mohd Juoi
1fb8d2d7c882fbaba1a2c09d1d9cbe68_L

Hari kekasih, hari eksploitasi dan manupulasi rasa cinta untuk menderhaka kepada Pencipta cinta (Allah).

Atas dorongan untuk meraikan cinta kononnya, batas akidah, syariat dan akhlak dilanggar semahu-mahunya. Cinta yang dicipta indah oleh Allah yang Maha indah, menjadi punah. Dikotori oleh pemujanya seperti kera yang merosakkan bunga.

Cinta yang suci untuk tujuan yang suci telah dicemari. Cinta yang berfokuskan seks – yakni cinta yang diilhamkan oleh Tuhan kepada haiwan itulah yang dipuja oleh manusia yang bertamadun!

Mengapa jadi demikian? Ini kerana masih ramai manusia yang sedang mengalami kekosongan jiwa (emptines). Hidup hanya untuk memenuhi kehendak nafsu yang inginkan kepuasan material dan fizikal, urat, daging dan tulang. Apabila persoalan paling ‘basic’ (asas) dalam hidup tidak terjawab dengan tuntas… Itulah akibatnya.

 Apakah persoalan itu? Ya, mengapa kita dihidupkan? Orang Islam yakin bahawa Allah tidak mencipta manusia sia-sia. Manusia punya tugasan dan peranan yang sangat besar. Al Quran menegaskan Allah ciptakan manusia dengan tujuan menjadi hamba-Nya dan khalifah di muka bumi.

 Selagi kita berpegang kepada tujuan hidup ini dan melaksanakannya, hidup kita akan dipenuhi ketenangan. Kekosongan jiwa, minda dan masa kita akan terisi dengan sepenuhnya. Kita boleh melaksanakan apa jua aktiviti yang tidak terkeluar daripada kerangka tujuan hidup yang telah ditentukan Allah itu. Selagi manusia bertindak selaras dengan tujuan penciptaannya, maka selagi itulah ia akan tenang, selamat dan bahagia.

 Sebaliknya jika tujuan hidup ini diabaikan, maka kekosongan jiwa pun berlaku. Pada waktu itu jiwa meronta-ronta bagaikan ikan tanpa air. Akibatnya, manusia terus mencari. Pencarian ini bukan menambah ketenangan, tetapi tambah mengusutkan.  Apabila panduan Islam diabaikan, maka jalan atau kaedah yang salah telah dipilih.

 Pada waktu inilah budaya hidup Barat mencelah. Remaja menyangka budaya Barat itu penawar yang akan memberi hiburan dan ketenangan. Padahal ia adalah racun yang sangat bisa. Bukan sahaja masalah yang sedia ada tidak akan selesai, malah masalah yang sedia ada pun akan semakin membesar. Itulah bahana budaya Barat yang menawarkan kepada remaja kita produk yang bernama “Hari Valentine”.

 Malangnya, produk itulah yang sentiasa dipromosikan dan diiklankan sehingga menjadi budaya secara langsung ataupun tidak. Apabila sudah menjadi budaya, yang palsu nampak benar, yang salah nampak indah dan hebat. Remaja, yang masih membina kematangan akan terpengaruh untuk menerima. Dirasanyakan yang datang dari Barat itu semuanya baik, hebat dan agung belaka. Apatah lagi yang menjadi figur mempromosikan budaya buruk ini adalah artis atau celebriti yang menjadi pujaan para remaja itu selama ini. Maka mudah mereka terikut.

 Lagipun ada sesetengah berpandangan tidak ada implikasi agama dalam soal ini. Apa salahnya, cuma hiburan, cuma suka-suka… Sedangkan mereka tidak sedar semua ini ada kesan dari segi mempengaruhi fikiran, hati, perasaan dan sikap seseorang.  Sesuatu yang dilarang oleh Islam, pasti ada kesan buruk pada hati, jiwa dan perasaan samada disedari atau tidak, samada jangka panjang atau jangka pendek.

 Kesan yang paling cepat ialah remaja kita akan ikut menyerupai mereka dari segi cara berfikir, emosi dan jiwa. Akhirnya, ini akan mempengaruhi tingkah laku dan kelakuan. Rasulullah  SAW bersabda: “ Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum ia akan menjadi kaum itu.”

 Sebenarnya, perayaan Hari kekasih bukan semata-mata perayaan luaran sahaja. Ia datang dalam bentuk pakej yang yang ‘menyerang’ remaja secara multi dimensi.  Ia datang dengan idea kebebasan tanpa batas seperti pendedahan aurat, pergaulan lelaki-wanita  secara bebas, tarian, lagu dan unsur-unsur hedonisme yang cukup membahayakan. Perayaan itu bukan setakat pemberian hadiah, kad atau bertukar-tukar ucapan, tetapi diiringi pertemuan, sentuhan dan lain-lain yang jika tidak diawasi dan dibatasi syariat pasti mencecah batas-batas ‘menghampiri zina’.

 Bila hari kekasih diuar-uarkan dengan segala bentuk dan elemennya, dan ia diterima sebagai satu budaya yang biasa… Para remaja akan menerima itu sebagai satu isyarat  ‘menghalalkan’ sesuatu yang dilarang oleh Islam sebelum ini.  Tanpa disedari, remaja yang terpengaruh dengan sambutan Hari kekasih ini akhirnya, menjadi lali dan akhirnya ketagih dengan apa sahaja yang datang dari barat, yang kononnya agung dan canggih. Pada ketika itu generasi kita sebenarnya sudah dijajah kembali dari segi minda dan akan terus menjadi bangsa pengguna (konsumer) bukan pencipta dalam arus globalisasi masakini.

 Bila Islam melarang sesuatu, pasti ada rasional di sebalik larangan itu. Cuma sebagai manusia, kita kekadang belum nampak apa rasionalnya pada peringkat awal. Ilmu manusia yang terbatas tidak akan dapat menjangkau ilmu Allah yang Maha luas. Inilah yang dikatakan suruh atau larang dalam Islam adalah berasaskan iman kepada Allah. Kita beriman kepada Allah dalam ertikata kita yakini Allah SWT maha Bijaksana, maha  Penyayang, Maha Belas Kasihan untuk tidak menganiayai hamba-hambaNya dalam apa jua perintah suruh dan larang-Nya.

 Mengapa hari Kekasih dilarang untuk disambut oleh orang Islam? Sebab sejarah sambutan hari itu sendiri sudah dikaitkan dengan sesuatu yang bertentangan dengan akidah. Apabila kita turut merayakannya, seolah-olah kita juga turut merelai atau meredhai kebenaran akidah mereka. Seperkara lagi, apakah Islam yang kita anuti, malah agama yang paling unggul di dunia, sudah ketandusan cara untuk menghargai rasa kasih sesama manusia?

 Islam punya kaedah sendiri yang lebih benar dan tepat untuk meraikan rasa kasih dikalangan manusia. Namun Islam hanya membenarkan rasa kasih itu dijalinkan dalam bentuk ikatan yang sah agar rasa cinta dibina atas asas-asas yang kukuh, mulia dan terhormat.

 Cinta dalam Islam mesti diasaskan pada tanggung-jawab, pembelaan, pendidikan, penjagaan dan perlindungan atas nama Allah. Cinta mertabat tinggi ini lebih sejati dan hakiki berbanding cinta di atas kad ucapan, kotak hadiah, lagu, pakaian, cincin dan lain-lain elemen Hari kekasih. Hari pertunangan,  pernikahan, ulang tahun perkahwinan, hari mendapat cahaya mata… adalah hari-hari kekasih yang sepatutnya disambut meriah dengan erti dan makna yang lebih mendalam dan ikhlas. Bukan seperti Hari Valentine yang bersifat luaran, gimik dan penuh kepura-puraan yang acapkali untuk mewajarkan sahaja pelempiasan hawa nafsu seks atas nama cinta suci!

 Ingatlah, tidak akan ada kebahagiaan yang sejati dengan melanggar hukum Allah. Ini sepatutnya diterima dengan hati yang terbuka, dengan penuh kesedaran bahawa Tuhan yang mencipta manusia maka Dialah yang paling arif menentukan apakah yang diperlukan oleh manusia untuk tenang dan bahagia. Jika kita mencintai Allah yang Maha Pengasih, kita akan mampu mengasihi sesama manusia pada setiap masa, keadaan dan ketika. Bagi orang Islam setiap hari adalah Hari Kekasih!

Saturday, February 9, 2013



Komplikasi Jiwa Muslim: Bagaimana berfikir hebat?
Dr. HM Tuah Iskandar al-Haj
SOALAN:

Komplikasi Jiwa Muslim oleh Dr. HM Tuah Iskandar al-Haj
Kita pasti kagum dengan orang yang dapat memula­kan sesuatu yang berbeza sedangkan suatu masa dahulu idea itulah yang diperlekehkan. Kisah orang berjaya selalunya ada cerita luar biasa di sebaliknya. Saya percaya Dr. Tuah juga begitu. Jika tidak, mana mungkin dapat menghasilkan sebegitu banyak karya yang mengagumkan.


Budaya membaca dalam kalangan masyarakat kita seperti yang diketahui memanglah rendah. Namun buku-buku Dr. telah banyak diterbitkan dan ada yang diulang cetak berkali-kali. Bagaimanakah semua ini boleh berlaku dan apakah agaknya petua untuk menjadi luar biasa ini?



JAWAPAN:

Ya betul! Untuk menjadi luar biasa, saudara kena berfikir secara luar biasa. Disebabkan itu mungkin saudara akan dikatakan ‘kurang normal’ bahkan juga gila, tetapi hakikat­nya seorang pereka memang memiliki ‘idea gila’.


Tidak perlu merujuk kepada para pereka bertaraf dunia, di tanah air kita juga sering mendapat jolokan ini. Sewaktu saya melawat Ladang Nasuha, pengasasnya iaitu Tuan Haji Nasuha pernah memberitahu saya, betapa dia pernah dituduh gila kerana menanam pokok herba.


Memanglah aneh kerana ketika itu orang sibuk menanam anak getah ataupun kelapa sawit tetapi beliau menanam pokok herba. Tidak nampak potensinya untuk menjadi duit tetapi kini ladang herba nasuha menjadi begitu terkenal di serata dunia.


Bahkan, sekarang ini beras tiruan hasil campuran bahan mentah daripada isi ikan, ayam, jagung, sayur-sayuran dan ubi kentang turut direka. Ia sungguh menakjubkan sehingga meraih minat Suruhanjaya Tinggi Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu Bagi Pelarian (UNHCR) yang mahu menjadikan­nya bekalan bagi menampung keperluan penduduk dunia dalam mendepani masalah kekurangan makanan.


Perekanya adalah seorang anak tempatan, Wan Abu Bakar Wan Omar yang berasal dari Kelantan. Lebih ‘gila’, dia langsung tiada memiliki latar belakang kejuruteraan mahupun sains. Tetapi produk beras alternatif ciptaannya yang dinamakan BVita itu mencuri perhatian dunia.


Produk baru ini dihasilkan dengan menggunakan mesin ciptaan Wan Abu Bakar sendiri. Tiada berbeza dengan beras biasa, beras optik ini juga boleh dimasak sesingkat lima minit. Ia juga boleh dinikmati dengan ditambah air panas sahaja sekali gus sesuai bagi kegunaan kecemasan dan anggota keselamatan.


Semua ini timbul pada tahun 1998 ketika rantau Asia dilanda krisis ekonomi meruncing. Saya tiba-tiba terfikir apa akan terjadi sekiranya dunia tidak lagi mampu mengeluarkan beras terutama jika tanah sawah terbatas.


Dari situ, saya cuba menghasilkan beras gentian daripada campuran isi ikan, ayam atau sayur-sayuran. Menggunakan mesin yang saya cipta sendiri. Alhamdulillah...  ia berjaya,” katanya.


Ironinya, beras BVita yang diinginkan oleh UNHCR itu adalah produk sama yang pernah dipersembahkan Wan Abu Bakar kepada seorang pegawai tinggi kerajaan bergelar profesor.


Ketika PBB memintanya menghasilkan lebih banyak beras seumpama itu, pegawai berkenaan menempelaknya dengan alasan bagaimana seseorang yang tiada asas pertanian boleh menghasilkan beras gentian sedangkan dia yang bergelar profesor tidak mampu ber­buat demikian. Beliau juga pernah dilabel gila. Bukan sekali malah dua kali menjadi bahan ketawa pegawai yang kononnya lebih berkelayakan.


Apa yang saya paparkan sekadar contoh tentang mereka yang berfikir luar biasa bakal dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa juga. Biasa-biasa akan berkesudahan se­bagai biasa sahaja, tetapi berfikir luar biasa akan menjadi luar biasa atau dalam erti kata lain... hebat! Pada saya, inilah sebenarnya yang lebih menepati istilah inovasi dan kreativiti. Islam juga menggalakkan kita berfikir.

Daripada Imran katanya:

“Aku bertanya ya Rasulullah, apa dasar kerja orang yang bekerja?” Baginda menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu.”- HR Bukhari


Manusia adalah makhluk yang bekerja. Bahkan manusia tidak akan mendapatkan suatu apa pun kecuali apa yang diusahakannya sendiri. Oleh itu tidaklah menghairankan jika kita juga sering mendengar bahawa masuk syurga atau neraka itu sangat ditentukan oleh amalan, perbuatan dan usahanya ketika di dunia.


Aspek-aspek kerja dalam Islam sesungguhnya ter­kandung dalam bentuk yang sangat luas mencakupi seluruh kehidupan itu sendiri. Ia bersifat fizikal, intelektual dan juga spiritual.


Apa yang ditekankan oleh Islam ialah agar kita bekerja atau berusaha untuk kebaikan dan dengan cara yang baik. Ini kerana orang yang beriman dan bekerja dengan baik, ALLAH SWT akan memberinya kehidupan yang baik.


Sesungguhnya kerja dengan amal mempunyai ter­jemahan yang sama di dalam Islam meskipun masyarakat mengenalinya dari sudut yang berbeza. Amal seringkali diberi makna pada tindakan atau kerja kebajikan.


Mana­kala kerja dikategorikan pada tindakan manusia yang meng­­hasilkan upah atau gaji dalam bentuk wang mahu­pun material dan sebagainya yang bersifat ekonomi. Ini untuk menjaga kelangsungan hidup bagi diri sendiri atau orang di bawah tanggungjawabnya.


Dalam Islam, dasar kerja atau amal adalah niat yang akan membezakan sama ada sesuatu tindakan itu berupa kebajikan atau tidak. ALLAH SWT menegaskan bahawa menjadi satu kewajipan kepada kita untuk melakukan yang terbaik dalam memikul amanah kerana ALLAH SWT tidak akan memberatkan seseorang dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya.


Oleh sebab itu, seseorang itu dikurniakan-NYA kelebihan yang tersendiri. Untuk itu dia akan dimudahkan mengerjakan apa yang dia telah mahir (tahu) tentang sesuatu itu. (Sumber: JAKIM)


Kelulusan akademik semata-mata tidak boleh di­gunakan sebagai pengukur tunggal daya kreativiti dan inovasi seseorang. Lihat bagaimana akhirnya Pos Malaysia mendapat idea untuk menghantar ubat secara berkala kepada pesakit tanpa perlu menunggu lama di hospital.


Idea ini timbul selari dengan kehidupan dan keperluan semasa, bukan sama sekali dengan pencapaian akademik.


Sememangnya kecerdikan seseorang itu banyak ditolak oleh kemahuannya untuk berfikir secara berbeza atau luar ‘kotak’. Kadang-kadang semakin ‘gila’ idea seseorang sebenarnya semakin kreatif dan berinovatif jadinya.


Mereka inilah yang akan berfikir secara luar biasa sehingga kehidupan kita menjadi semakin baik setiap masa. Para pereka sama ada besar mahupun kecil (daripada sekecil-kecil barang permainan sehinggalah sebesar-besar barang seperti roket yang dilancarkan ke bulan) merupakan mereka yang tidak berfikir secara biasa tetapi amat luar biasa.


Kesimpulannya, jika saudara ingin menjadi seorang yang kreatif dan berinovasi tinggi, berfikir dan rangsanglah diri dengan pemikiran luar biasa agar saudara turut menjadi hebat. Islam berbangga dengan umatnya yang cemerlang lagi terbilang bukan sahaja di dunia tetapi juga di akhirat sana.

Friday, February 8, 2013


Kerajaan adil, negara stabil

Nik Muhammad Nasri ,08 Feb 2013
Allah berfirman di dalam al-Quran, maksudnya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan apabila kamu menetapkan hukum antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menetapkan hukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhanNya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa mendengar, lagi sentiasa melihat.” (Surah an-Nisa : ayat 58)

Sebab turun ayat

Ayat di atas turun ketika Nabi Muhammad SAW membuka Makkah dalam peristiwa Fath Makkah. Nabi memanggil Uthman bin Talhah yang memegang kunci Kaabah. Nabi bersabda: “Unjukkan aku anak kunci Kaabah.” Uthman membawa anak kunci tersebut. Apabila  Nabi membuka tangannya untuk menerima kunci, Al-Abbas bangun lalu berkata: “Aku bersumpah dengan bapa dan emakku. Berikan kunci itu supaya aku himpunkan dengan tugas memberi minum jemaah Haji.” Uthman menahan tangannya.  Nabi bersabda: “Berikan kunci itu wahai Uthman!” Uthman berkata: “Nah! Ambillah dengan amanah dari Allah.” 

Nabi bangun dan membuka pintu Kaabah. Baginda keluar dari Kaabah lalu bertawaf. Jibril turun kepada Nabi memberitahunya supaya mengembalikan anak kunci tersebut. Nabi memanggil Uthman lalu diberikan kembali anak kunci tersebut. Kemudian Nabi membaca ayat Surah an-Nisa. ayat 58 ini.

Maksud dan huraian ayat

Jelas kepada kita dari sebab turunnya ayat di atas pentingnya sifat amanah dan berlaku adil dalam menjatuhkan hukuman dan dalam semua keadaan. Sifat amanah, berhukum dengan adil adalah di antara ciri-ciri istimewa agama Islam. Ia mesti ada kepada mereka yang diberikan amanah dan tanggungjawab menghukum di antara manusia. 

Sifat amanah dan adil banyak disebut di dalam al-Quran dan hadis Nabi SAW. Di antaranya firman Allah, Maksudnya: 

“Sesungguhnya Kami (Allah) kemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-ganang (untuk memikulnya). Semuanya enggan memikul amanah itu dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya. Dan manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia itu suka melakukan kezaliman dan sangat jahil.” (Surah al-Ahzab : ayat 72)

Ibn Abbas berkata: ‘Amanah yang dimaksudkan ialah perkara ketaatan dan yang diwajibkan. Dibentangkan amanah itu kepada langit, bumi dan gunung-ganang sebelum dikemukakan kepada Adam. Mereka tidak mampu memikulnya.’ Itulah firman Allah: Maksudnya: “Dan manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia itu suka melakukan kezaliman dan sangat jahil.”

Al-Hakim at-Tirmizi meriwayatkan daripada Ibn Abbas, katanya: Nabi SAW bersabda, maksudnya:

“Allah berfirman kepada Nabi Adam: “Wahai Adam! Aku  kemukakan amanah itu kepada langit dan bumi tetapi mereka tidak mampu memikulnya. Adakah engkau bersedia memikulnya dengan semua perkara yang ada di dalamnya? Adam bertanya: “Wahai Tuhan! Apa yang ada di dalamnya? Allah berfirman: “Jika kamu buat baik, kamu dibalas dengan kebaikan. Jika kamu sia-siakan, kamu akan disiksa.” Adam menerima dan bersedia memikulnya. Adam tidak lama tinggal di dalam syurga melainkan sekadar waktu di antara solat pertama dan waktu Asar sehingga akhirnya syaitan menyebabkan dia terkeluar darinya.

Amanah merangkumi perkara taat kepada Allah dan perkara yang diwajibkan yang ada kaitan dengan pahala dan dosa. Ini termasuk amanah harta seperti simpanan dan amanah yang ada pada tubuh badan sendiri seperti pancaindera. Bahkan dalam setiap ibadat yang dilakukan ada ciri amanah yang mesti disempurnakan.  

Dalam konteks sebuah kerajaan moden ia meliputi wang negara, wang rakyat, agensi kerajaan, jabatan, peruntukan, pelbagai tabung dan lain-lain. Mengkhianati amanah awam ini sangat besar dosanya kerana melibatkan banyak wang dan banyak pihak disebabkan sifat tidak amanah seorang dua atau beberapa orang yang fasik. Inilah yang kita dengar dari Laporan Ketua Audit Negara dan pelbagai skandal melibatkan pemimpin besar dalam negara yang berkaitan dengan harta awam ini. Mereka tidak ada sifat amanah dan mereka sebenarnya tidak layak memikul amanah itu.

Firman Allah dalam ayat yang lain, maksudnya: 

“Dan orang yang memelihara amanah (yang dipikulnya) dan janji-janjinya.” (Surah al-Mukminun : ayat 8)

Serta firman-Nya, maksudnya: 

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Surah al-Anfal : ayat 27).

Ayat-ayat al-Quran di atas menekankan kepentingan dan kelebihan sifat amanah, menunaikan janji dan amaran supaya tidak mengkhianati amanah dalam pelbagai aspeknya.

Begitu juga hadis-hadis Nabi SAW yang menyebutkan tentang sifat amanah dan adil. Di antaranya, maksudnya: 

“Tidak sempurna iman bagi orang yang tiada sifat amanah. Tidak sempurna agama bagi mereka yang tidak menunaikan janji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban daripada Anas bin Malik).

Menunaikan amanah adalah kewajipan. Apabila disia-siakan amanah maka tunggulah saat kehancurannya. Justeru, melantik pemimpin yang memimpin sebuah kerajaan yang penuh amanah adalah satu nikmat yang besar dari Allah. Di situlah turunnya rahmat, datangnya berkat, selesanya hidup rakyat tanpa ada perasaan takut diganggu-gugat. 

Selepas sifat amanah ditunaikan datang pula giliran berhukum dengan adil antara manusia. Justeru, sifat amanah dan adil menjadi dua asas penting hukum Islam. Sama ada berkait dengan ibadat, muamalat, munakahat, jinayat, politik, ekonomi, sosial dan seluruh sistem kehidupan.  

Konsep Adil Dalam Islam

Perkataan adil mempunyai makna yang luas dan sangat  bererti. Menurut Ibn Atiyyah: ‘Adil ialah melaksanakan setiap perkara fardhu yang terdiri dari akidah, syarak dan hubungan dengan manusia dalam menunaikan segala amanah, meninggalkan kezaliman, prihatin dan memberikan hak. (al-Bahr alMuhit j 5/ms 529) 

Menurut Al-Baidhawi: ‘Adil ialah pertengahan dalam urusan aqidah, amalan dan akhlak.’

Adil ialah memberikan hak kepada empunyanya tanpa kurang dan meletakkan sesuatu pada tempat yang layak dengannya. Adil menjadi topik perjuangan para Nabi dan rasul sepanjang zaman. Ia menjadi prinsip utama yang diperjuangkan oleh para pemimpin yang benar. Adil adalah asas kepada sebuah pemerintahan. Ia menjadi ciri penting mengukur sebuah tamadun untuk membangun, maju atau sebaliknya. Apabila keadilan ditegakkan, kehidupan mereka akan sejahtera. Ia membangkitkan nilai positif lain sehingga menjadikan masyarakat itu benar-benar hidup dalam sebuah sistem yang boleh melindungi mereka.

Akal yang waras sentiasa mahukan keadilan ditegakkan. Bagi sebuah masyarakat, keadilan mesti ditegakkan sehingga orang yang lemah dapat mengambil balik haknya. Orang yang kuat tidak akan melampaui batas kepada mereka yang lemah. Keamanan akan tercapai dan sistem akan tersusun dengan baik.

Keadilan adalah prinsip kemanusiaan sejagat. Sebuah bangsa terhormat ingin mencapai nilai keadilan ini, sekalipun agak berbeza dari segi pendekatan dan metodnya bagi mencapai keadilan yang diimpikan itu. 

Berdasarkan hakikat pentingnya sifat adil ini, maka perintah supaya berlaku adil sangat banyak di dalam al-Quran. Di antaranya ialah firman Allah, maksudnya: 

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Surah an-Nahl : ayat 90)

Menurut Abdullah bin Mas’ud, ayat al-Quran ini merupakan ayat terbaik yang menghimpunkan kebaikan dan kejahatan.

Ibn Abi Hatim meriwayatkan daripada Muhammad bin Kaab al-Qurazi, katanya: Umar bin Abdul Aziz memanggilnya lalu berkata: ‘Beritahu saya sifat adil’ Saya (iaitu Muhammad) berkata: ‘Bakhin (iaitu satu perkataan yang menunjukkan besarnya pertanyaan itu). Engkau bertanya mengenai satu perkara yang sangat besar. Jadilah bapa kepada manusia yang kecil, anak kepada manusia yang lebih dewasa, saudara kepada mereka yang sebaya, begitu juga bagi perempuan. Balaslah manusia menurut kadar dosa/kesalahan mereka dan kadar tubuh mereka. Jangan kamu pukul seseorang satu rotan kerana ikutkan emosi, kelak kamu dianggap melampaui batas.’ 

Ibn al-Arabi membahagikan keadilan kepada tiga bahagian:

1. Adil dengan Allah iaitu mengutamakan hak Allah mengatasi kehendak peribadi, mencari redha Allah daripada menuruti hawa nafsu sendiri, menjauhi larangan dan menjunjung perintah Ilahi.

2. Adil dengan dirinya sendiri iaitu menegah diri daripada melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya binasa, menahan sifat tamak kerana menurut kehendak syarak, membiasakan diri dengan sifat memadai dan mencukupi pada setiap masa dan keadaan.

3. Adil dengan manusia lain iaitu bersedia berkorban, tidak khianat dalam perkara kecil atau besar, merasai denyut nadi kesusahan orang lain, tidak menyakiti orang lain dengan perkataan dan perbuatan, sabar menghadapi ujian disebabkan manusia lain.

Jika dilihat kupasan Ibn al-Arabi mengenai keadilan ini dalam konteks sebuah kerajaan yang adil, maka perlaksanaan sifat adil itu yang mengambilkira ketiga-tiga aspek di atas tentu sekali menjadikan urus tadbir kerajaan tersebut yang merangkumi semua agensi di bawahnya sebagai sesuatu yang tiada tolok banding dari segi kehebatannya.

Al-Quran juga menyebut mengenai keadilan dalam berucap sekalipun terhadap kaum keluarga dan ketika bercerita mengenai harta anak yatim dan melakukan aktiviti ekonomi. Ini terdapat dalam surah Al-An’am ayat ke 152. 

Allah berfirman, maksudnya: “Wahai orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) kerana Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangan sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (surah al-Maidah : ayat 8).

Prinsip keadilan sejagat sangat jelas dari ayat di atas. Allah mengingatkan orang mukmin yang dilantik menjadi pemerintah agar berlaku adil sekalipun terhadap musuh atau mereka yang tidak sebulu dengan pemerintah. Berlaku adil adalah manifestasi dari takwa dalam diri.

Hadis-hadis Nabi SAW juga banyak mengungkapkan mengenai keadilan ini. Di antaranya hadis yang bermaksud: ‘Umat ini sentiasa berada dalam kebaikan selama mana ia benar dalam percakapan, adil dalam menjatuhkan hukuman, mempunyai sifat belas kasihan apabila diminta supaya belas kasihan.’ 

Dalam satu riwayat daripada Ali bin Abi Talib, katanya: ‘Menjadi tanggungjawab pemerintah berhukum dengan adil dan menunaikan amanah. Apabila ia melakukan demikian wajiblah ke atas orang Islam mentaatinya kerana Allah memerintahkan kita supaya menunaikan amanah dan berlaku adil, kemudian memerintahkan supaya mentaatinya.’

Apabila kita bercakap mengenai adil, maka lawannya ialah zalim. Sebagaimana Allah menyanjung sifat adil, maka begitu juga Allah memberi amaran kepada mereka yang zalim dalam firman-Nya, yang bermaksud:

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahawa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) akan terbelalak.” (Surah Ibrahim : ayat 42).

Ayat di atas mengingatkan kepada si zalim, termasuk kerajaan yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya supaya jangan merasa selesa, aman, tenteram dan tidak ada apa-apa balasan dari perbuatan zalim mereka terhadap rakyat kerana Allah tetap akan membalasnya di akhirat nanti. 

Di antara bentuk kezaliman yang besar ialah berhukum dengan hukuman yang lain dari apa yang diturunkan oleh Allah dan kezaliman pemerintah itu sendiri. Hal ini kerana kezaliman pemerintah berkait dengan rakyat. Implikasi dari zalim atau adilnya pemerintah akan memberi kesan langsung kepada rakyat itu sendiri. 

Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman yang menerangkan Allah telah mengharamkan kezaliman ke atas zat-Nya Yang Maha Mulia dan mengharamkan kezaliman sesama manusia.

Nabi SAW Tegakkan Keadilan

Rasulullah SAW menegakkan keadilan dalam seluruh aspek hidup, sama ada secara peribadi, dalam keluarga, dalam kalangan sahabat dan dalam pemerintahan. Contohnya, Nabi SAW menyelesaikan pertikaian antara kabilah Arab meletakkan Hajar al-Aswad di dalam peristiwa Kaabah dibina semula selepas runtuh disebabkan banjir dengan cara tersendiri yang memuaskan semua kabilah. Nabi SAW berlaku adil dalam kalangan para isterinya walaupun bilangan mereka ramai. Baginda mengiktiraf Perjanjian Fudhul yang dimeterai ketika zaman jahiliah oleh kabilah Arab bagi memerangi kezaliman. Nabi SAW melaksanakan hukuman qisas iaitu balasan setimpal kepada seorang Yahudi yang melukakan kepala seorang hamba perempuan.

Kesimpulan

Pemerintah yang adil mendapat naungan Arasy Allah di akhirat. Mereka yang berjuang menegakkan kerajaan yang adil mendapat pahala yang besar. Rahmat dan berkat turun kepada pemerintahan yang adil.

Penulis berasal dari Kampung Gong Limau, Cukai, Kemaman, Terengganu dan merupakan penceramah bebas
Hari Valentine bertentangan syarak

Roh perayaan  bercampur perbuatan maksiat bercanggah dengan akidah Islam

Budaya menjadikan Valentine’s Day sebagai perayaan diminati untuk diraikan bersama kekasih amat menggusarkan kita sebagai umat Islam. Ada yang mengirimkan kad ucapan, hadiah, menyanyikan lagu cinta, membuat upacara tari-menari dan mengadakan acara makan malam disinari cahaya lilin. Bertukar perasaan di taman bunga sehingga berkucupan dan akhirnya sanggup menggadaikan kehormatan diri sendiri demi membuktikan kesetiaan kepada teman masing-masing. 

Janganlah hanya dengan alasan inginkan keseronokan serta mengikut peredaran zaman, sanggup membelakangkan al-Quran dan as-Sunnah”

Menurut Ken Sweiger, perkataan Valentine berasal dari bahasa Latin bermaksud ‘yang maha perkasa, yang maha kuat, dan yang maha kuasa’, digunakan pada zaman Rom Kuno kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. 

Sedar atau tidak, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi ‘to be my Valentine? maka ia telah melakukan suatu perbuatan yang bercanggah dengan akidah umat Islam dan dimurkai Allah SWT kerana telah meminta seseorang menjadi “sang maha kuasa”. Hal ini sama dengan usaha menghidupkan kembali semangat budaya pemujaan berhala.

Berdasarkan pandangan tokoh agama, menyambut atau meraikan Hari Valentine bertentangan dengan syarak. Menurut Panel Kajian Akidah (PKA) dan Panel Kajian Syariah (PKS) Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), amalan itu haram dan bertentangan ajaran Islam. 

Begitu juga Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia kali ke-71 yang bersidang pada 22 hingga 24 November 2005, memutuskan amalan merayakan Hari Valentine tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Roh perayaan itu bercampur perbuatan maksiat adalah bercanggah dan dilarang Islam. 
Justeru, ditegaskan pengharaman dan larangan bukanlah kerana ingin menghalang keseronokan yang menjadi trend zaman moden tetapi berlandaskan kepada apa yang dinyatakan dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Oleh itu, umat Islam diminta tidak merayakan hari berkenaan yang bertentangan ajaran Islam sebenar serta boleh merosakkan akidah dan akhlak umat Islam. Janganlah hanya dengan alasan inginkan keseronokan serta mengikut peredaran zaman, sanggup membelakangkan al-Quran dan as-Sunnah. 

Ingatlah, agama Islam tidak sesekali melarang umatnya bercinta kerana cinta adalah fitrah semula jadi manusia, namun mestilah berdasarkan hukum Islam bukannya berteraskan hawa nafsu semata-mata.

Berdasarkan pemerhatian, perkara ini berlaku kerana kualiti keimanan umat Islam yang semakin lemah dan kekaburan kita dalam menegakkan prinsip asas agama yang menjadi tunjang kehidupan seseorang Muslim. 

Kita jangan lupa bahawa syaitan dan sekutunya telah berjanji kepada Allah SWT untuk terus menyesatkan orang yang beriman. Firman Allah SWT: “Dan sungguh, aku akan menyesatkan mereka, dan memperdayakan mereka dengan angan-angan kosong, dan menyuruh mereka membelah telinga binatang ternak; dan menyuruh mereka mengubah ciptaan Allah. Dan sesiapa yang mengambil syaitan menjadi pemimpin yang ditaati selain dari Allah, maka sesungguhnya rugilah ia dengan kerugian yang terang nyata.” (Surah an-Nisaa, ayat 119) 

Ingatlah bahawa agama Islam sangat mengambil berat dalam memperbetulkan pegangan akidah umatnya supaya pandangan dan sikap mereka menjadi lurus serta tasawwur mereka mengenai sesuatu perkara menjadi jelas. 

Jangan kita mengikut contoh umat jahiliah yang menganggap persoalan akidah hanya sekadar mengumumkan identiti diri dan melahirkan perbuatan baik saja sedangkan hakikat iman ialah panduan antara keyakinan di hati dasar akidah dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan meninggalkan tegahan-Nya.

Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman ialah orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang yang benar.” (Surah al-Hujurat, ayat 15) 

Sumber: Khutbah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM)

Biarkan cinta itu mewangi
SYAHIDATUL AKMAL DUNYA 
Biarkan cinta itu mewangi
Ada sesetengan individu menyalahkan cinta dan mengatakan bercinta itu salah, sedangkan dia yang tersilap menilai cinta itu.
Biarkan cinta itu mewangi
Berpasanganlah dengan si dia yang sah menjadi milik anda kerana bahagia yang diredaiNya ada di situ. - Gambar hiasan
BICARA cinta menurut Hamka: “Cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan, cinta bukan mengajar kita menghinakan diri tetapi menghembus kegagahan, cinta bukan melemahkan semangat tetapi membangkitkan semangat dan cinta ini mampu menggugat keimanan malah meningkatkan keimanan,”.

Forum Bicara Cinta Anak Muda malam Sabtu (2 Februari) lalu anjuran Majalah i membawakan tajuk ‘Cinta Fitrah, Cinta Fitnah’ dengan menggandingkan panel tersohor seperti Dr Rubiah K Hamzah, Ustaz Syed Mohd Norhisyam al-Idrus Tuan Padang, Ustazah Fatimah Syarha Mohd Noordin dan Catriona Ross Bahrin Ross melalui perantara Amin Idris bertempat di Kumpulan Media Karangkraf.

Cinta itu fitrah

Ramai antara kita mempunyai takrif berbeza mengenai cinta. Tanyalah sesiapa sahaja pasti terucap di bibir cinta itu indah, Namun bagi pelakon yang terkenal menerusi drama Sephia, Catriona Ross, cinta memberikan individu itu inspirasi menjadi yang terbaik daripada sebelum ini, benar kadang kala cinta jika dicampuri dengan nafsu ia merosakkan.

“Erti cinta pada saya ialah sesuatu yang boleh menggetarkan jiwa ada kalanya sewaktu berjalan menapak di bumi terasa di awang-awangan, memberikan impak yang tinggi sampai kita merasakan tidak ada haus dahaga, tidak lapar dan tidak rasa sakit.

“Kekuatan cinta pada ALLAH SWT yang membawa saya mengenal siapa diri ini. Saya pernah terlibat dalam satu tragedi yang seakan meragut nyawa sekitar tahun 2007 yang lepas. Tetapi kesan daripada itu  membuatkan hati saya ingin mengenal ALLAH secara mendalam dan akhirnya saya menemui ketenangan.

Menurutnya, dalam satu seminar, penceramah itu membacakan satu ayat dalam surah ar-Rahman menyebabkan hati dan tangannya bergetar serta berkecamuk tetapi terasa ada damai. Berbekalkan situasi itulah Catriona menjadi siapa dia hari ini.

Perlu atau tidak bercinta?

Novelis islamik popular, Fatimah Syarha menjelaskan usah berteka-teki  perlu atau tidak bercinta kerana cinta akan menyapa setiap hati dan ia wujud, persoalannya sekarang bagaimana untuk urus cinta bagi mendapat reda ALLAH.

“Kita mempunyai dua pilihan bagaimana untuk menguruskan cinta yang wujud di hati, pilihan pertama kita biarkan sahaja perasaan sayang di ingatan asyik menekan selepas itu membiarkan hati berkarat, berani bagi tangan berjabat, terjebak dengan maksiat dan akhirnya perut kempis menjadi bulat. Cuba kita lihat impaknya ialah kita telah mencipta satu kenangan yang tidak takut pada ALLAH sehingga mendera diri sepanjang hayat dengan pelbagai persoalan seperti waswas dan sebagainya.

“Pilihan kedua: kita bermujahadah. Sekarang ini di usia remaja kita mempunyai fokus, capai dahulu apa yang diri dan keluarga impikan. Tiba masanya barulah mempraktikkan amalan bercinta tuntutan Islam dan impaknya, kita bernikah atas dasar takwa yang akan memberikan wangian firdausi dalam perhubungan diredai ALLAH,” jelas pengkarya novel cinta berunsur Islam ini.

Menurutnya, pilihan ada di tangan individu itu, jika dikatakan berpasangan itu salah, bagaimana pula dengan orang yang sudah berkahwin. Adakah salah berpasangan dengan suami atau isteri sendiri. Couple itu salah jika membawa diri menghampiri zina.

Apa pula yang al-Quran dan hadis sebut mengenai cinta. Kitab ALLAH mengatakan cinta itu secara fitrah dan Nabi menyebut cinta itu secara negatif berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad: “Cinta kamu pada sesuatu boleh menyebabkan kamu buta dan tuli dari mendengar nasihat.” Cinta itu tidak salah tetapi ia boleh menjadi negatif atau positif  bergantung kepada cara kita menguruskannya sama ada menghampiri zina atau keredaan ALLAH.

Cinta itu perjuangan Rasulullah  

Sementara itu, Ustaz Syed Mohd Norhisham berkata, orang-orang muda hari ini apabila melihat sahaja ada program agama yang memerihalkan mengenai cinta terus mereka fikir ustaz atau ustazah tidak bagi bercinta, kata haram ibarat kata semua tak boleh seolah-olahnya begitu. Tetapi apabila menonton filem Bollywood dan Hollywood ia berlainan dan meninggalkan keseronokan.

“Cinta ini sebenarnya adalah perjuangan yang dibawa oleh Rasulullah ke atas sekalian alam ini termasuk manusia, tumbuhan dan haiwan. Rasulullah telah diutus untuk membawa rahmat kerana rahmat itu adalah kasih sayang.

Seperti kita menyembelih binatang. Kasih sayang kita kepada binatang  yang hendak disembelih adalah mempercepatkan kematiannya.

“Pernah Rasulullah melihat ada dua sahabat naik unta dan seronok bersembang di atasnya, Rasulullah menegur. Baginda berkata, “Tidak boleh kamu berdua berbuat begini, kamu naik unta sebagai kenderaan bukan tempat untuk duduk bersembang.” Begitulah juga rahmat  Rasulullah kepada orang bukan Islam.

“Semasa menguruskan tahanan perang sekalipun, Rasulullah tidak menyeksa tawanan sebaliknya menjaga musuh dengan adab-adab yang khusus. Pada zaman sekarang pun, ramainya tahanan perang di Afghanistan dan Palestin memeluk agama Islam sebaik keluar dari penjara kerana melihat bagusnya layanan tentera Islam terhadap mereka,” katanya lagi.

Menurut Ustaz Mohd Norhisham lagi, inilah kasih sayang yang dibawa Rasulullah, Baginda membawa contoh yang hebat dalam proses bercinta bukan sahaja secara teori malah praktikalnya.

Anak remaja kita hari ini mencari cinta untuk keseronokan sehingga terlupa kaedah yang diamalkan Baginda. Ingatlah cinta nafsu ini seronoknya sekejap sahaja, hanya cinta kerana ALLAH kekal hakiki. Cinta itu langsung tidak salah, tetapi pengurus cinta itu yang silap mengemudinya.   

Jangan negatif dengan cinta

Memandangkan kita langsung tidak diajar mengenai cinta dalam mana-mana mata pelajaran tidak di kampus mahu pun sekolah. Kesan daripada inilah  kita mentafsirkan pengertian cinta berdasarkan apa yang orang bukan Islam ketengahkan.

Pakar motivasi dan kaunseling keluarga, Dr Rubiah menjelaskan, ramai antara kita membina cinta berasaskan filem yang dibuat oleh Barat contohnya, mengenali cinta berasaskan medium bukan acuan Islam. Ini yang dikatakan kalau mak tidak membimbing anak, mak akan susah hati.

“Ertinya konsep cinta yang kita ada  jika ikut tradisi orang Melayu menjelaskan bahawa cinta itu tidak sesuai. Tetapi oleh kerana pengaruh dari luar yang banyak mewarnai budaya kita sehingga kadang-kadang adat menjadi ibadat, tetapi ibadat tinggal adat.

“Maka kita katakan  adat bercinta orang muda ertinya semua orang yang merasakan cinta ini membuatnya panjang umur dan berjuang tidak pernah jemu,” kata penulis buku Pujuklah Rasa ini.

Menurutnya, orang yang bercinta ialah orang yang sudah membersihkan dirinya daripada perkara yang tidak penting, orang yang mempunyai matlamat, inilah orang yang layak untuk menjadi calon isteri, ertinya sebelum dia jumpa orang yang dia cinta dia sudah ada visi dan misi yang tersendiri.

Sebab itu wahai ibu dan ayah ajarlah semuanya mengenai cinta, usah cuba selindung-selindung dan malu untuk menerangkan mengenai fitrah manusia itu dengan anak. Secara psikologinya, cinta ada kaitan dengan fikiran kerana cinta  tidak akan bertapak jika tidak memikirkannya.

Thursday, February 7, 2013


Implikasi tauhid terhadap ibadah
CIKGU SIDEK BABA
Seseorang yang bernama Islam, aqidah tauhid merupakan perkara utama dalam kehidupannya. Ibarat sebatang pokok, kekuatan pokok itu bergantung kepada akarnya. Akar itu ibarat aqidah tauhid yang menyebabkan pokok itu hidup subur.
Kesuburan aqidah tauhid terkait rapat dengan isu ibadah kita. Yang kita sembah, amalkan dalam hidup, yang kita syukuri, yakini adalah ALLAH. ALLAH sebagai Pencipta satu-satunya bukan dua bukan tiga.

Aqidah tauhid merintis jalur kesatuan dalam ibadah. Apa saja ibadah yang dilakukan ia terhubung dengan ALLAH Yang Satu. Ibadah itu kita lakukan dalam satu kesatuan. Baik solat, siyam, fikir dan zikir dalam erti kata yang luas semuanya terhubung dengan ALLAH. Ia menjadikan manusia taqarrub ilallah atau dekat dengan ALLAH. Ia tidak boleh terpisah dan bergerak sendiri-sendiri.

Bila ibadah itu terhubung dengan pekerjaan, kerja itu kita lakukan kerana ALLAH iaitu ikhlas. Apabila sesuatu kerja dan amanah kita lakukan dengan ikhlas, hikmahnya akan kembali kepada kita juga.

Umpamanya kita berjual beli sebagai sumber ibadah dengan jujur dan ikhlas, keuntungan yang diterima adalah sumber barakah. Bila ini terjadi sumber rezeki itu dimanfaatkan kepada keluarga dan keluarga mendapat manfaat dari rezeki yang halal dan tayyib.

Aqidah tauhid ini juga terhubung dengan syariah. Syariah ialah jalur pedoman supaya insan Islam berada dalam lingkungan hidup yang terizin dan sentiasa dalam reda ALLAH.

Faktor syariah ini sangat penting dalam menentukan pola perlakuan, tabiat, watak dan corak kehidupan manusia. Apabila manusia hidup dalam syariat ALLAH, dirinya sentiasa berada dalam keadaan maaruf dan sentiasa ingin menyumbang ke arah kebaikan dan kesejahteraan manusia.

Lebih-lebih lagi apabila maqasid syariah itu bermaksud memelihara kepentingan Deen atau agama sekali gus menjaga kemaslahatan agama dan kaitan dengan penganutnya supaya imej Islam perlu teguh dan utuh.

Oleh itu pancaran aqidah tauhid yang terlihat dalam keyakinan dan cara hidup menjadi asas penting pemeliharaan terhadap agama kerana pada diri orang-orang Islam terdapat sumber teladan untuk dijadikan ikutan.

Menjaga agama dalam maqasid syariah adalah terlalu penting dijadikan keutamaan kerana Islam itu agama dakwah. Ia mengajak, memanggil dan menyeru orang lain tentang tatacara dan tatahidup murni yang boleh dijadikan sumber teladan dan jalan ikutan.

Rasulullah SAW memiliki kualiti manusiawi yang tinggi. Daripadanya terdapat qudwah hasanah dan contoh terbaik bagaimana sunnahnya dijadikan pedoman dan ikutan. Apabila manusia memiliki sumber contoh dan ikutan ia tidak akan kehilangan arah hidup dan sentiasa dekat dengan ALLAH.

Aqidah tauhid juga amat rapat hubungannya dengan akhlak. Akhlak Rasulullah SAW dihubungkan sebagai khuluq al-Quran (akhlak al-Quran) di mana ia seolah-olah al-Quran yang hidup dalam diri, pernyataan dan amalan. ALLAH mengutus Rasulullah SAW atas maksud untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Apabila aqidah tauhid manusia mantap, menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai sumber ikutan, manusia memiliki sifat taat. Taat membawa asas kepatuhan dan ketundukan dan ia mendukung sifat kehambaan yang tinggi. Ia menjadi asas terbinanya sifat ibadullah dan ibadurrahman.
Sifat ini sangat penting kepada manusia kerana darinya memiliki kualiti ihsan yang tinggi. Ihsan atau 'God-Conciousness' meletakkan perbezaan antara Islam dan bukan Islam.
Sifat ihsan seperti disebut Rasulullah SAW menghubungkan amal manusia dengan Pencipta.

“Meski bila kita melakukan amal baik, kita tidak melihat ALLAH, tetapi ada keyakinan di hati ALLAH melihat kita”. Inilah asas kekuatan bagi seorang muhsin yang sentiasa mendamba diri kepada ALLAH SWT dengan rasa kekudusan dan keikhlasan untuk mendapatkan reda-Nya.

Oleh itu kehebatan aqidah tauhid tidak saja dirasakan kepada keyakinan diri tetapi mampu diterjemahkan dalam amal.

Sebagai seorang Islam tidak saja produktiviti rohaniah kita tinggi dengan tahajjud, qiyam dan seumpamanya tetapi juga produktiviti amaliah dapat dimanifestasikan dalam proses keilmuan, dakwah dan tarbiyyah sehingga cemerlang dalam pengurusan diri dan juga sistem.

Hakikatnya apa yang kita lakukan ikhlas kerana ALLAH hikmahnya kembali kepada manusia semula. Kebaikannya adalah berpulang kepada manusia dan mensejahterakan orang lain.