Tuesday, October 7, 2014

Aku Mencintaimu Suamiku (Sebuah KIsah Mengharukan)

Dilulus untuk paparan oleh AnisahOmar
Selama tiga tahun, Fatimah memperdalam ilmu agama dan belajar mengaji pada seorang ulama besar. Setelah ia keluar dari pondok pesantren, Fatimah tumbuh sebagai gadis cantik yang sholihah.

Ia pun kembali memasuki kehidupan diluar. Orang-orang memandangnya tak ubahnya seperti bunga MAWAR putih yang tumbuh diantara rumput ilalang.

Semua lelaki memujanya, percampuran darah indonesia dan Tionghoa yang ada di dalam tubuhnya, membuat ia seperti sebuah lukisan klasik yang nyata dan hidup. Ia seperti bidadari.

Ulama ulama dari seberang pulau, seringkali datang melamar Fatimah. Bahkan tak jarang sahabat ayahnya mencoba melamar Fatimah untuk anaknya.

Tetapi ayah Fatimah yang memiliki hati yang teduh itu, menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada anaknya. Tetapi Fatimah sebagai anak yang sholihah, Fatimah justru menyerahkan hal itu pada ayahnya, menurutnya ayahnya tahu yang terbaik baginya.

Fatimah sangat mengagumi ayahnya karena dia adalah lelaki pertama yang dikenal dalam hidupnya. Seorang lelaki yang bertanggung jawab, selalu tersenyum meski dalam keadaan marah sekali pun, ia adalah lelaki yang selalu mengutamakan ibadah kepada Allah. Bahkan Fatimah seringkali berucap” Jika Allah mendatangkan seseorang yang menemani hidup ku, biarlah ia seperti ayahku…”

Tanpa sepengetahuan Fatimah, ternyata sang ayah diam-diam telah menjodohkannya dengan anak seorang ulama terkenal yang merupakan sahabat baiknya.

Fatimah tak percaya saat ayahnya menyampaikan maksud perjodohan itu, karena ia tahu betul bagaimana akhlaknya pemuda itu, sang pemuda terkenal gemar sekali melakukan kemaksiatan, seperti : JUDI, MABUK-MABUKAN, begadang, bahkan sholatpun tak pernah ia lakukan … bahkan dikampungnya sang pemuda mendapat julukan THE GOD OF GAMBLER … naudzubillah.

Hari-hari ia lalui dengan bersujud pada ALLAH, ia memohon petunjuk pada Allah agar diberikan yang terbaik, ia yakin bahwa ALLAH akan membantunya, karena ia tak berani menolak tawaran dari ayahnya, meskipun pada saat itu seringkali di hantui mimpi-mimpi buruk, dan itu yang membuatnya resah dan gelisah yang mebuat ia semakin bingung, karena ia punya prinsip “Tujuan hidup ku adalah membahagiakan ayahku apapun keputusannya bagaimana aku menolaknya???”

Akhirnya, ia memutuskan untuk menerimanya, dan hari yang dikhawatirkannya itu tiba juga. Dan ia sempat pingsan saat hari pernikahan itu, ia tidak percaya bahwa akad itu telah terjadi.

Namun keresahan itu juga terjadi pada Ikhsan (nama sang pemuda tersebut) saat akad nikah, dadanya bergetar hebat. Ia tak kuasa memandang pesona yang dimilki Fatimah “ Benarkah aku layak menjadi suaminya?? Fatimah terlalu baik untuk ku !! Sedangkan aku ?? tak ada satupun yg bisa aku banggakan dariku !! aku peminum !! aku penjudi !! apakah ini NYATA ????

Ditengah malam, tanpa sepengetahuan Fatimah dia melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan, yaitu SHOLAT !! dalam sholatnya ia bersujud panjang dan bersyukur tak habisnya atas karunia yg telah diberikan Allah meski maksiat kerap kali dilakukannya, dalam sujud panjangnya dia selalu berdoa “Ya Allah, kasihanilah aku, ampunilah aku, bantulah aku… Ya Allah apakah betul Zamrud biru nan indah itu (fatimah) untukku??”

Waktu berlalu dengan DO’A dan KESUNGGUHANnya, sehingga hari- hari berganti dengan sebuah perubahan yang dahsyat, kini Ikhsan telah berubah ia telah meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Gadis nan indah itu telah merubah pandangannya tentang hidup hingga ia mampu meninggalkannya.

Hingga pada suatu malam Fatimah menyaksikan peristiwa yang menggetarkan jiwanya .. . Saat itu Fatimah bangun malam hendak melaksanakan sholat Tahajjud, namun saat ia memakai mukena ia mendengar suara orang yang mengendap-endap di ruangan tamu, saat ia intip dari kamarnya ternyata sang suaminya hendak meninggalkan rumah, Fatimah tak berani mencegahnya ia hanya mampu mengintip, namun pikirannya mulai berpikir yang tak baik tentang suaminya, ia khawatir suaminya kembali ke kebiasaannya yang buruk dulu hingga ia berani keluar malam lagi.

Ketika suaminya sudah mulai menjauh akhirnya ia mengikutinya dari belakang, ternyata sang suami masuk ke sebuah masjid.


“Ya Allah aku bersyukur pada MU telah engkau karuniakan seorang perempuan yang cantik, baik dan shalihah … setiap hari ia berbakti kepada ku, menyiapkan segalanya untuku, mencucikan bajuku, memasak untuku, menimba air untukku, membacakan kalam Mu untuk menyadarkanku dari khilafku pada MU …

Tetapi hamba belum menyentuhnya, ya ALLAH, hamba tak pantas melakukan itu semua. Dan aku tau itu membuatnya terluka …

Hidupku terlalu pekat oleh dosa-dosa padaMU dimasa lalu. Tetapi engkau memberikan hadiah yang sangat besar untuk hidup ku … Kehadiran Fatimah disampingku adalah karunia terbesar dari MU untukku …

.. Maka dari itu ya ALLAH, agar Fatimah tetap bersemi INDAH, bercahaya setiap waktu, damai dalam munajatnya kepadaMU setiap waktu .. Aku mohon ya Allah, siapkan seorang suami yang setara dengannya. Dan Engkau pasti tak mau melukai hambaMU Fatimah dengan membuatnya tersiksa bersuamikan hamba … Kabulkanlah ya ALLAH..”


Mendengar itu, Fatimah bergetar hebat ia menangis dan bersujud di depan pintu masjid. ‘Akulah yang berdosa, akulah yang berdosa, aku telah menyimpan pikiran buruk bagi hambaMU yang mulia, yang telah KAU tunjuk menjadi suamiku .. Ampunilah hamba ya Allah .., Bisikan kedalam hati lelaki itu, bahwa aku mohon maaf, dan betapa aku mengagumi dan mencintainya. Ya Allah izinkanlah ia menjadi suami ku selama-lamanya ..

Isak tangis yang ditahannya sejak tadi kini meledaknya. Memecah keheningan, sambil menangis ia merangkak menghampiri suaminya.

Ikhsan terperangah “apakah Fatimah mendengar doaku??” pikirnya, dan kini ia semakin tak dapat menggerakkan seluruh sendinya, karena Fatimah telah berada dihadapannya, dan memeluk erat tubuhnya. Ia tak percaya, sungguh tak percaya!!

Tangannya bergetar, saat pertama kalinya membelai kepala istrinya, hati dan matanya-pun kini semakin basah.


“Kakak, jangan tinggalkan Fatimah !! mengapa kakak berniat seperti itu?? Aku adalah istrimu kak, selamanya tetap menjadi istrimu !! jangan berpikir seperti itu, tersendat suaranya menahan isakan tangis.

“kumohon jadilah suami !! Kumohon maafkanlah aku selama ini, telah berfikir buruk padamu. Aku mencintaimu kak”


Perlahan-lahan Ikhsan memeluk dengan lembut istrinya dengan segenap cinta, dan dengan lirih ia berucap, ”Ya Allah, Engkau datangkan lagi karunia yang BESAR untuk hambaMu ini,..alhamdulillah”


(di kutip dari buku “Bunda, aku kembali” karya “Lalu Mohammad Zaenuddin” hal 59,)

Kisah Meninggalnya Seorang Ahli Quran

Pada suatu hari, tepatnya pukul tujuh pagi, saya datang ke ruang pemulihan, tiba-tiba ada beberapa orang datang menghampiriku, mereka adalah anak dari salah seorang pasien yang telah lanjut usia yang baru saja menjalani operasi jantung, pasien tersebut mengalami pembekuan yang parah di otaknya sehingga ia kehilangan kesadarannya sejak menjalani operasi tersebut, aktifitas jantungnya sangat lemah sekali, dan kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Mereka mendatangiku seraya berkata, “Ayah kami sedang menghadapi sakaratul maut, kami harap anda berkenan untuk mentalqininya membaca dua kalimat syahadat.”

Saya pergi bersama mereka, saat itu tekanan jantungnya lemah sekali yakni sekitar empat puluh, sedangkan detak jantungnya hanya sekitar tiga puluh lima permenit.

Saya mendekatinya dan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Asyhadu alla ilaha illallah,’ sekonyong-konyong lidah dan tangan kanannya bergerak, dan yang lebih mengejutkan lagi, adalah tiba-tiba tekanan darahnya mencapai seratus tigapuluh per delapan puluh dan detak jantungnya mencapai seratus dua puluh permenit.

Saya katakan kepada anak-anaknya, “Seluruh organ tubuh ayah kalian telah bereaksi dengan dua kalimat syahadat, ia bisa merasakan bacaan dua kalimat syahadat tersebut, saat ini ia sedang menghadapi sakaratul maut, kenapa kalian tidak membacakan Al-Qur’an untuknya sampai ruhnya keluar?”

Enam orang anak dari pasien tersebut saling bergantian membacakan Al-Qur’an selama empat hari tiga malam, hingga akhirnya pasien tersebut menghadap Tuhan-nya.
Selama itu tekanan darahnya bertahan sekitar seratus tiga puluh dan detak jantungnya bertahan di atas seratus detakan permenit.

Saya bertanya kepada mereka mengenai sisi-sisi kehidupan ayahnya sewaktu masih hidup. Mereka mengatakan, “Ia termasuk ahli Al-Qur’an, seluruh ucapannya adalah Al-Qur’an dan dzikir, ia selalu menghatamkan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari atau lima hari, paling lama ia menghatamkan Al-Qur’an dalam seminggu.”

Sewaktu hidupnya ia banyak menyebut asma Allah, hingga akhirnya Allah Ta’ala menutup usianya dengan husnul khatimah, ia telah menjadikan empat hari terakhir dari usianya untuk mendengar bacaan al Qur’an yang mulia, dzikirnya tidak pernah terputus. Alangkah indahnya husnul khatimah itu, saya yakin semua orang muslim pasti 
mengharapkannya.

Akan tetapi pernahkah terbayang oleh anda jika saja ternyata penutup usia anda adalah mendengarkan musik dan nyanyian? Alangkah buruknya su’ul khatimah itu, yaitu mereka yang hatinya telah diracuni setan sehingga ia tidak bisa mendengarkan kecuali musik dan nyanyian, dan akhirnya itulah penutup usianya.

Pada suatu hari, tepatnya ba’da Subuh di bulan Ramadhan tahun 1418H. Saya keluar rumah untuk satu keperluan, daam perjalanan tersebut di jalan Al-Malik Fahd saya melihat satu mobil terbalik, saya segera turun dari mobil untuk memberikan bantuan, di sana saya temukan seorang pemuda yang telah tewas diiringi dengan suara penyanyi sedang mengalun.

Ia tewas dan usinya ditutup dengan iringan suara musik dan penyanyi yang haram, siapa yang ingin menutup usianya seperti ini?

Sumber: Buku “Kesaksian Seorang Dokter”, dr.Khalid bin Abdul Aziz al-Jubair, SpJP (dokter spesialis bedah dan jantung), Hal.55-57.

Soalan Berani Mati

Kos sara: Soalan ‘berani mati’ ahli Umno untuk PM dapat ribuan like di Facebook
Posted on Tuesday, October 07 @ 04:30:00 MYT 
Dilulus untuk paparan oleh memo



SHAH ALAM, 6 OKT: Soalan ‘berani mati’ pemilik akaun yang mengaku sebagai anggota Umno, Nor Hoda Haji Tarseh kepada Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak sekelip mata menerima lebih 35,000 ‘like’ dan 2,745 komen (nota: setakat berita ini ditulis – editor) selepas dikongsi pengendali akaun laman PenMerahdotcom di laman sosial facebook.

Nor Hoda yang memegang nombor keahlian Umno 02982371 itu mengemukakan tujuh soalan berkisar keperitan kehidupan rakyat berpendapatan rendah menghadapi peningkatan kos sara hidup sejak beberapa tahun kebelakangan ini.

“Awak ni sebenarnya pernah ke hidup susah? Pernah ke makan tamban kering bersayur cendawan liar dan di mamah dengan beras usang kerana kejatuhan harga getah?

“Apa yang saya tengok kehidupan awak dalam filem Tanda Putera (filem wajib BTN) adalah semewah-mewah kehidupan… (Jangan pula lepas ni awak arahkan Suhaimi Baba edit filem tersebut untuk tunjuk awak motong getah),” tulis Nor Hoda.

Beliau seterusnya mempersoalkan sama ada Najib pernah merasai keperitan berhadapan tindakan keras pihak berkuasa tatkala cuba meningkatkan pendapatan dengan berniaga secara kecil-kecilan.

“Awak ni pernah tak berniaga kecil-kecilan jual keropok lekor di pasar malam dengan gunakan Kancil 660 (kononnya sahut seruan Menteri tambah pendapatan).. dah habis berniaga Kancil tak boleh ‘start’ pasal bateri ‘kong’, puncanya bateri yang sama diguna untuk menerangi lampu waktu berniaga?

“Lepas itu, bila balik, kena tahan polis sebab payung berniaga terjojol di tingkap Kancil dan lepas itu kena saman sebab kereta persendirian tak boleh bawa berniaga,” tulis Nor Hoda lagi.

Ketika menyentuh isu kenaikkan harga barang, Nor Hoda menyoal sama ada Najib mengetahui pihak berkuasa tidak menjalankan pemantauan harga sempena perayaan Aidil Adha sehingga menyebabkan harga ayam, lengkuas dan lain-lain naik.

“Lepas ni saya agak mesti ada Menteri-menteri pembodek (terutama Hassan Malek, Ku Nan, Shafie Afdal, Mat Maslan, Ismail Sabri) akan berkata harga lengkuas naik sebab rakyat malas tanam!” Tempelak beliau lagi.

Najib turut dicadangkan agar turun padang secara tidak rasmi dan mengejut untuk melihat sendiri realiti kehidupan dan prasarana yang disediakan untuk rakyat.

Beliau turut mencabar Najib mengumumkan kerugian yang ditanggung negara disebabkan penyelewengan oleh kroni Najib sendiri dan jumlah yang terpaksa ditanggung rakyat melalui kenaikkan harga petrol baru-baru ini.

Tujuh soalan beliau itu diakhiri dengan satu soalan ringkas dan bersahaja, bilakah Najib mahu meletakkan jawatannya sebagai Perdana Menteri.-sk



Wednesday, September 17, 2014

Penulis Jiwa Kosong Berlambak di Media Sosial

Ulama terkenal, Sheikh Hamza Yusuf Hanson yang juga pengasas Institut Zaytuna di Amerika Syarikat memuji umat Islam di Malaysia kerana masih memiliki identiti yang kukuh dan terus mempertahankan manhaj Ahlul Sunnah Wal Jamaah dengan berpegang teguh kepada mazhab Imam Shafie dalam fekah, Abu'l Hasan al-Asha'ari dalam akidah dan tasauf Imam al-Ghazali.
Bagi beliau, umat Islam Malaysia belum dirosakkan oleh anasir luar seperti negara Islam lain yang terpengaruh dengan pasca modernisme. Beliau menyeru supaya dipertahankan tradisi ini daripada ancaman yang salah dan tidak menepati sunah.

Katanya, mustahil ajaran Islam perlu dibuat kajian semula setelah melalui zaman yang begitu lama dan proses saringan yang ketat oleh ratusan ulama muktabar sepanjang zaman. Justeru, beliau menyeru umat Islam benar-benar mengenali siapakah sebenarnya Ahlul Sunnah wal Jamaah dan ciri-cirinya.
"Ini kerana ramai yang mendakwa mereka adalah kumpulan selamat (firqah najiah) dan Ahlul Sunnah Wal Jamaah sedangkan sebenarnya tidak," katanya dalam temubual eksklusif bersama deejay Mazlina Ismail di IKIMfm, Khamis lalu.

Ulama paling berpengaruh di Barat
Sheikh Hamza yang disenaraikan sebagai ulama paling berpengaruh di dunia Barat oleh Prof John Esposito dalam bukunya, The 500 Most Influential Muslims datang ke Malaysia atas undangan Institut Antarabangsa Pengajian Islam Lanjutan (IAIS) dan Al-Naqiy Solutions.
Beliau berpandangan apa sahaja masalah yang berlaku dalam alam ini berpunca daripada krisis ilmu pengetahuan yang menjadi masalah pokok kepada krisis lain, sama ada ekonomi atau politik, manakala yang lain hanyalah simptom kepada penyakit sebenar yang dihadapi.
Katanya, penulis terkenal Amerika Syarikat, Mark Twain yang pernah melawat Palestin dan Florence Nightingale yang pernah tinggal hampir dua tahun di Mesir serta Turki tidak pernah menganggap umat Islam sebagai pengganas atau berpandangan jahat terhadap Islam.
Sebaliknya, mereka memuji umat Islam dan agama Islam. Oleh itu, bagaimana mungkin orang yang hidup lebih 100 tahun dahulu boleh melihat Islam itu positif, sedangkan hari ini tiada langsung kebaikan mengenai Islam dan itulah yang dikatakan krisis ilmu pengetahuan.
Kejahilan biasa, kejahilan berganda
Beliau turut mengungkapkan pandangan Tan Sri Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas yang membicarakan berhubung 'kejahilan biasa' dan 'kejahilan berganda'.
"Anak-anak biasanya tergolong dalam jahil biasa dan ini lambang keikhlasan serta kejujuran terhadap keilmuan yang dimiliki. Hari ini ramai yang jahil, namun berlagak alim dan mempunyai ilmu pengetahuan, inilah yang dikatakan jahil berganda," katanya.
"Penyakit ini apabila ramai yang mendakwa mengaku mengetahui sesuatu, tetapi sebenarnya kosong tidak mengetahui apa-apa. Ulama kita mengajar supaya kita mengungkapkan aku tidak tahu jika kita tidak tahu kerana itu adalah sebahagian daripada ilmu," katanya.
Ini berdasarkan firman Allah SWT yang bermaksud: "Dan janganlah kamu berdusta dengan sebab apa yang disifatkan oleh lidah kamu. Ini halal dan ini haram, untuk mengadakan sesuatu yang dusta terhadap Allah; sesungguhnya orang yang berdusta terhadap Allah tidak akan berjaya." (Surah al-Nahl, ayat 116)
Kejahilan sombong ialah merasakan mengetahui sesuatu perkara lalu memberi pelbagai komentar dan pandangan pada hal mereka jahil sebenarnya. Perlakuan sebegini berbahaya untuk masyarakat awam dan akan mengelirukan mereka.
Sahabat Baginda SAW menolak untuk memberi pandangan kerana merasakan tidak layak serta ia suatu yang berat dan mereka amat takut akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Hari ini ramai yang menulis kosong tanpa ilmu di media sosial.
Ada menggunakan nama palsu dengan identiti yang disembunyikan seolah-olah malaikat tidak mengetahui siapa penulis sebenar. Hari ini juga, untuk mengumpat tidak perlu lagi berdua seperti dahulu memadai dengan mengetuk papan kekunci komputer dan menghantarnya ke media sosial.
Hakikatnya, mereka ini tidak akan terlepas daripada hukuman Allah SWT atas pandangan mereka menyelewengkan dan menyesatkan masyarakat.
Sheikh Hamza menyeru supaya perbezaan pendapat yang wujud dalam masyarakat ditangani dengan cermat, halus, tanpa mewujudkan perpecahan dan pergeseran sesama umat Islam.
Katanya, ada ketikanya sesuatu amalan itu mungkin ada hujah atau dalil lebih kuat untuk tidak melakukannya, tetapi jika masyarakat sudah terbiasa dengan amalan yang hujahnya tidak begitu kuat dan demi menjamin perpaduan, lebih baik ia diamalkan bagi mengelakkan pergeseran.
"Ini antara pandangan ulama mazhab Maliki. Apa yang berbahaya apabila kita merasakan dan mendakwa hanya Islam yang kita fahami sahaja betul sedangkan Islam orang lain semuanya salah belaka. Tidak salah untuk kita meyakini yang kita fahami itu benar, namun untuk menafikan orang lain juga mungkin benar adalah satu sikap yang angkuh," katanya.
Bersyukur dengan nikmat
Sehubungan itu, Sheikh Hamza meminta umat Islam di Malaysia bersyukur atas segala nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kerana berdasarkan pengalaman mengembara ke banyak negara Islam, negara ini jauh lebih baik daripada banyak negara di dunia.
Katanya, majoriti rakyat di Syria, Libya, Iraq yang sedang bergolak sekarang ini mengatakan mereka lebih rela kembali hidup di zaman pemerintahan Saddam Hussein atau Muammar Gaddafi yang lebih aman berbanding hari ini.
"Mana-mana kerajaan pasti ada kelemahannya, tetapi rakyat Malaysia perlu bersyukur dengan keamanan dan kemakmuran yang dinikmati supaya Allah SWT terus menambahkan lagi nikmat yang lain. Pada masa sama, terus berusaha memperbaiki keadaan yang ada," katanya.
Mengakhiri perbualan, Sheikh Hamza dengan perasaan sebak sambil menitiskan air mata menyatakan kesedihan kerana umat Islam hari ini sudah hilang adab dan meminta supaya mereka menghayati sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya aku telah diadabkan oleh Tuhanku dan Dia memperelokkan adabku."

Oleh Dr Nik Roskiman Abdul Samad - Penulis ialah Pengarah Pusat Media Institut Kefahaman Islam Malaysia

3 Elemen Pekerja Terbaik

Rasulullah SAW mengungkapkan saranan menerusi hadis Baginda yang diriwayatkan oleh Saidatina Aisyah, "Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang daripada kamu melakukan sesuatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik, sempurna dan teliti." (Riwayat al-Baihaqi).
Pekerjaan adalah proses, wadah dan kaedah untuk beri kebaikan kepada orang lain, bukan sekadar mendapat laba, tetapi gudang memperoleh pahala. Bukan semata-mata makan gaji, tetapi menghadam sebanyak-banyaknya kebaikan dan reda Ilahi.
Ustaz Pahrol Mohd Juoi mengajak kita melihat pekerjaan daripada perspektif Islam yang kaya dengan kebaikan dan punya kaitan dengan tujuan kehidupan menerusi Islam Itu Indah di IKIMfm, Rabu lalu.
Katanya, pegang kata kunci 'beri kebaikan yang terbaik jika ingin menjadi baik' untuk membezakan pekerjaan manusia dengan makhluk Allah SWT yang lain mahupun meletakkan beza pekerjaan umat Islam dengan yang belum beragama Islam.

Menyorot kehidupan sebagai hamba Allah SWT juga khalifah di dunia, manusia diberi tanggungjawab bekerja sebagai cabang ujian dan menjadi kewajipan untuk menang dalam menyahut ujian itu. Caranya dengan melaksanakan pekerjaan pada tahap terbaik.
Firman Allah SWT yang bermaksud: "Dialah yang mencipta mati dan hidup (kamu) untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalannya; dan Ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun (bagi orang yang bertaubat)." (Surah al-Mulk, ayat 2).
Setiap pekerjaan datang dengan ujian, kecekapan, kesungguhan, keikhlasan dan akhlak semuanya diuji. Setiap ujian menjadi kayu penanda keperibadian seseorang Mukmin.
Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah yang kuat lagi amanah." (Surah al-Qasas, ayat 26).
Gabungan sudut al-quwwah
Perlu menggabungkan ciri-ciri dari sudut al-quwwah iaitu kekuatan serta kemampuan bukan sekadar fizikal, tetapi juga ilmu dan kemahiran. Mempunyai amanah, ketelusan serta kasih sayang dalam melaksanakan tugasan.
Inilah sifat umat Islam dalam bekerja. Ada gabungan kepakaran juga keimanan, cantuman integriti dan kecekapan. Jika ada semuanya, dengan izin Allah SWT segala yang direncana menjadi dan diberkati.
Pekerja juga perlu melakukan kerja dengan acuan Allah SWT bukan terapan manusia jika ingin melahirkan pekerja yang punya prestasi kerja tinggi.
Terdapat tiga elemen sebagai neraca kerja yang terbaik. Pertama, capai kualiti dengan input yang sedikit menghasilkan output yang banyak. Kedua, kuantiti yang lebih baik dan ketiga ialah akhlak, etika serta adab terpuji yang membangun jati diri, sahsiah peribadi seorang Mukmin.
Imam Malik menyuarakan pendapat untuk menulis Kitab Muwatta' dan hasrat itu dipertikaikan kerana ketika itu sudah ada Kitab Muwatta' yang ditulis oleh orang terdahulu, jadi apakah perbezaan hasil tangan Imam Malik?
Lalu Imam Malik menegaskan, perbezaan terletak pada keikhlasan dan keikhlasan itu akan berkekalan. Beliau menulis dengan ikhlas dan mengharap reda Allah SWT sehinggakan beliau menyaring 3,000 daripada 10,000 hadis dalam menghasilkan Kitab Muwatta' karangannya.
Beliau begitu teliti dan hanya inginkan yang terbaik. Sebagai ganjaran ketelitian, kesungguhan dan curahan ilmu yang terbaik itu, sehingga hari ini jika menyebut Kitab Muwatta' hanya terbayang Kitab Muwatta' milik Imam Malik dan terpadam kitab muwatta' yang terdahulu sebelum beliau.
Hebatnya keikhlasan akhirnya melahirkan ketelitian dan kesungguhan. Rasulullah SAW menyatakan, Allah SWT menyayangi hamba-Nya yang sentiasa melakukan kerja dengan cara yang terbaik dan bersungguh-sungguh.
Tidak mudah lakukan kebaikan
Bukan suatu yang mudah untuk melakukan kebaikan. Terkadang setiap kebaikan dilakukan perlu kepada perlindungan daripada tempias kata-kata yang mengecewakan. Allah SWT mengingatkan, kesenangan dan kesusahan itu adalah ujian ke atas hamba-Nya dan ia adalah sunahtullah.
Bukankah syurga itu dipagari dugaan dan ujian sedang neraka dipagari kesenangan serta kenikmatan? Sedangkan Rasulullah SAW sebaik-baik manusia juga diuji apatah lagi kita manusia biasa yang selayaknya diuji.
Jika ada suara mengkritik perbuatan baik kita, Ustaz Pahrol menasihatkan kita katakan kembali bahawa perbuatan atau kerja baik kita bukan bererti kita sudah menjadi baik, tetapi itu sahaja usaha untuk menjadi orang yang baik.
Jika ditanya adakah kita sudah baik? Usah yakin bahawa kita sudah jadi baik,
tetapi jawablah dengan yakin bahawa kita sedang dalam usaha menjadi baik dengan melakukan kebaikan secara yang terbaik. Walau apa juga kekangan, lakukanlah kebaikan dengan sehabis baik, penuh kesungguhan serta iltizam kerana ia sangat berkait rapat dengan iman dan cara meraih reda Allah SWT.
Dr Yusof al-Qaradawi mengatakan, tiada pendorong dan penggerak yang lebih kuat pengaruhnya dalam usaha meningkatkan prestasi kerja dan produktiviti pengeluaran selain daripada iman. Ini akan melahirkan pekerja yang selari dengan falsafah Islam.
Etika dan profesionalisme Islam meletakkan kesetiaan kepada Allah SWT dan rasul-Nya mengatasi segala nilai yang wujud dalam sesuatu sistem atau budaya. Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang memperelokkan kerjanya.
Kerja yang bersungguh-sungguh menggambarkan kesempurnaan iman dan takwa, ketulusan hati, keluhuran budi serta kemuliaan akhlak yang semua sifat itu akan dikira oleh Allah SWT dalam menentukan amal hamba-Nya diterima atau sebaliknya.
Seiring pelaksanaan kerja yang baik, prinsip kesempurnaan juga sangat menitikberatkan elemen ikhlas. Semoga dicampakkan ikhlas ke dalam hati kita ketika melaksanakannya.
Jawatan, kerja, tugas atau apa juga profesion yang kita pegang bukan suatu kebanggaan untuk digunakan sebagai alat mencapai cita-cita dunia, tetapi ia amanah yang wajib ditunaikan dengan sempurna. Mudah-mudahan kerja dilakukan membawa faedah duniawi dan manfaat ukhrawi.
Islam bukan sekadar mendidik kita untuk memberi kebaikan, malah menuntut kita menghulur kebaikan. Lakukan kerja tidak cukup dengan buat kerja yang betul, tapi laksanakan dengan betul-betul secara yang terbaik.
*bhagama@bh.com.my  Penulis ialah Penerbit Rancangan Kanan IKIMfm

Saturday, August 30, 2014

Maafkan Kami Ya Palestina!!

     Oleh: Drs. Dedi Irwan - 06/08/14 | 19:46 | 10


dakwatuna.com

Ketika Idul Fitri menjelang tiba
Senandung takbir bergema di angkasa raya
Menyambut satu syawal dengan suka cita
Sebagai tanda kembali pada fitrah yang indah


Namun suasana berbeda terjadi di Palestina
Gaza kembali merana dan berduka
Tidak ada gema takbir yang membahana
Yang ada gempuran rudal zionis laknatullah

Maafkan kami ya Palestina
Di saat kami masih bisa ke lapangan bersama-sama
Guna sholat Ied dengan tenang dan penuh suka cita
Namun rakyatmu melaksanakan shalat di masjid yang sudah porak poranda

Dalam suasana yang mencekam dan menyesakkan dada.
Maafkan kami wahai Palestina
Kami masih bisa menyantap hidangan lebaran dengan lahap
Namun kami tidak tahu apakah saudara kami di Palestina masih ada yang akan disantap

Kami masih bisa tidur dengan nyenyak dengan kerabat
Apakah saudara kami di Palestina masih bisa memejamkan mata walau hanya sekejap

Maafkan kami ya Palestina
Bukannya kami berdiam diri
Bukannya kami tidak beraksi
Melihat tindakan keji

Luburan darah dari bangsa Yahudi
Namun kami tidak bisa menghentikan gempuran rudal zionis
Menghapus air mata saudara kami yang menangis
Yang kami bisa hanya berteriak dengan lantang pada dunia

Atau berbisik dalam hati agar kebiadaban ini berakhir sudah
Maafkan kami ya Palestina
Di saat pasukan Al-Qasammu mengangkat senjata
Menghadapi kezhaliman yang nyata

Kami hanya sangup mengangkat tangan
Berdoa pada yang Maha Kuasa agar Palestina tetap Berjaya
Maafkan kami wahai Palestina
Ketika rakyatmu berjuang dengan jiwa dan raga

Menghadapi tentara Yahudi laknatullah
Kami hanya sangup berjuang dengan sedikit harta
Untuk dapat meringankan beban saudara di sana.
Maafkan kami wahai Palestina

Ketika rakyatmu berlari mengejar kematian menjadi syuhada
Menyuburkan tanah Gaza dengan linangan darah
Sementara kami masih takut dan lari dari kematian yang jelas ada
Karena kesalahan dan dosa yang mengisi dada.

Maafkan kami wahai Palestina
Ketika orang tua Palestina menangis gembira
Melepas kepergian anaknya sebagai syuhada menuju surga
Maka kami hanya bisa menyaksikan melalui layar kaca

Dengan mata yang berkaca-kaca menyaksikan suasana yang mempesona
Ya Allah, bantulah perjuangan saudara kami di Palestina
Menghancurkan pasukan zionis Israel yang telah menumpahkan darah
Berilah kemenangan yang nyata pada mereka

Sebagaimana Engkau telah memberikan kemenangan sebelumnya
Agar Palestina tetap berjaya sebagai negeri yang penuh berkah.

Manusia yang benar-benar merdeka

IBRAHIM ABDULLAH
Sinar Harian 29 Ogos 2014

MALAYSIA mencapai kemerdekaan pada 31 Ogos 1957 yang bererti sudah 57 tahun kita merdeka.

Rakyat yang terdiri daripada para perajurit, wira negara, pemimpin, ulama, wartawan, sasterawan, penulis, petani, bahkan pengayuh beca (abang beca) dan lain-lainnya telah berjuang ratusan tahun untuk menuntut kemerdekaan dari belenggu penjajahan asing.

Justeru penjajahan sebagai musuh utama kepada kemerdekaan mental dan fizikal.

Sesungguhnya setiap orang, setiap saat bertempur dengan penjajah. Pertempuran tidak akan berhenti sehingga manusia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia. Musuh itu adalah syaitan dan hawa nafsu. Manusia diserang dari segala penjuru dan arah.

Manusia yang “merdeka” adalah yang dapat melepaskan dirinya dari belenggu hawa nafsu dan penjajahan syaitan atas dirinya. Dia tidak lagi menjadi “hamba” syaitan dan hawa nafsunya. Dia tidak lagi dijajah.

Itulah kemerdekaan yang sebenar dan hakiki, kemerdekaan jiwa dari belenggu hawa nafsu, kemerdekaan hati dan akal fikiran dari pengaruh syaitan. Untuk menjadi manusia merdeka bukanlah perkara mudah.

Ia perlu perjuangan yang panjang dan belum selesai serta terus-menerus. Perlu banyak hal yang dikorbankan. Ia menuntut adanya semangat yang terus hidup dan tidak pernah padam.

Mari kita muhasabah diri selama ini, adakah kita telah menjadi manusia merdeka dari belenggu hawa nafsu dan bisikan syaitan?

Ataukah memang memilih menjadi manusia terjajah? Kita lebih memilih tertawan oleh pujuk rayu syaitan dan hawa nafsu? Kita menjadi manusia yang tidak konsisten dan istiqamah?

Sebenarnya kita diciptakan hanya untuk mengabdi kepada ALLAH SWT. Untuk menjadi hamba ALLAH. Maka membebaskan diri dari jajahan syaitan dan pengaruh hawa nafsu adalah suatu cita-cita yang harus kita perjuangkan.

Tanpa itu, kita belum boleh menjadi seorang hamba dalam pengabdian kepada Pencipta kita iaitu ALLAH SWT.

Kenapa kita harus merdeka dari belenggu nafsu dan syaitan? Kerana syaitan dan hawa nafsu tidak pernah punya maksud yang baik kepada manusia.

Hawa nafsu dan syaitan selalu menyuruh jajahannya untuk melakukan perbuatan jahat dan keji. Tidak ada kebaikan sedikit pun ketika jiwa dan diri kita dijajah oleh hawa nafsu dan syaitan.

Orang-orang yang terjajah akan gelap mata melihat cahaya terang kebenaran, amat sukar untuk membezakan antara yang benar dan salah. Ia akan selalu diarahkan pada segala hal yang akan mengsengsarakan dan membahayakan dirinya di dunia dan akhirat.

Firman ALLAH SWT yang bermaksud: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu.

Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Dan sesungguhnya ia (syaitan itu) telah menyesatkan sebahagian besar di antara kamu. Maka adakah kamu tidak mengerti?” (Yaasin: 60-62).

ALLAH SWT telah menjanjikan syurga bagi hamba-Nya yang menolak keinginan nafsunya, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at : 40-41).

Syeikh Muhammad Ali ash- Shobuni dalam kitab tafsirnya (Sofwat at-Tafasir), menjelaskan maksud ayat di atas, “Sesungguhnya menang dan beruntunglah orang yang mensucikan dirinya dengan ketaatan kepada ALLAH, dan membersihkannya dari kekotoran maksiat dan dosa.

Dan sungguh rugi orang yang telah menghinakan dirinya dengan kekufuran dan kemaksiatan, memasukkannya ke lembah kebinasaan, kerana barang siapa yang mematuhi kehendak hawa nafsunya, bermaksiat kepada Tuhannya, maka ia telah keluar dari golongan orang-orang yang berakal, dan masuk kepada golongan orang-orang bodoh.”

Menjadi manusia sebenar merdeka dari belenggu hawa nafsu dan syaitan memerlukan pertolongan ALLAH. Kerana musuh yang kita hadapi tidak boleh kita lihat. Ia bersembunyi dari dalam diri kita. Ia lebih kuat.

Namun sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan orang-orang yang beriman, di hadapan orang-orang yang telah menjadikan ALLAH sebagai pelindungnya.