Wednesday, February 4, 2015

"Deadline Your Life", Merencanakan Jadwal Kematian Kita

Judul Buku: Deadline Your Life! (Ingat Mati Agar Hidup Lebih Berarti)

Penulis: Sholikhin Abu Izzuddin
Penerbit: Pro-U Media – Yogyakarta
Cetakan: 1, Juli 2011
Tebal: 322 Halaman

Cover Buku "Deadline Your Life"
dakwatuna.com – Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan, yaitu kematian (HR Tirmidzi No 230, Shohihul Jami’ no. 1210)– Deadline Your Life Halaman 101.
Membicarakan mati, seperti tak ada habisnya. Ia bisa kita diskusikan dari berbagai macam perspektif. Apa saja, semau kita. Salah satunya adalah perspektif Islam dalam memandang kematian. Ini merupakan perspektif terbaik dan terlengkap dibanding perspektif lain.
Hal itulah yang dilakukan oleh ‘motivator sejuta umat’, Sholikhin Abu Izuddin dalam membahas kematian. Dengan kepiawaiannya mengolah kata bersajak, buku setebal 322 halaman ini serasa sangat renyah untuk dikunyah. Tidak perlu mengerutkan dahi, hanya perlu menyiapkan sunggingan-sunggingan senyum di setiap jenak buku ini. Beliau akan membuat kita untuk mengangguk setuju dan kemudian bergegas untuk mengukir prestasi.
Mati, sebagaimana kita pahami bersama merupakan kepastian paling pasti dari kehidupan yang kita jalani. Ia merupakan dua mata pisau yang berbeda, tergantung dari mana kita memakainya. Bagi seorang fajir, yang bergelimang dosa, mati tentu saja merupakan sebuah monster yang sangat menakutkan. Golongan ini sangat takut akan datangnya mati. Jangankan untuk membicarakan mati, mengingat saja mereka enggan. Yang masuk dalam golongan ini, salah satunya adalah mereka yang sangat mencintai dunia. Mereka menganggap bahwa dunia ini adalah yang terakhir. Dunia ini adalah tempat bersenang-senang, sesuai nafsu mereka. Padahal sejatinya tidak! Dunia ini adalah ladang yang mesti kita garap dan baru bisa kita panen kelak di akhirat.
Bagi seorang mukmin, mati tentu saja sebuah kata yang sangat menarik dan bisa jadi pada taraf sangat dirindukan. Sebut saja generasi salaf, generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap mati sebagai sebuah kenikmatan, karena dengan itu mereka bisa bertemu dengan kekasih sejatinya, Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Oleh karena itu, generasi ini termasuk yang bergegas, berlomba dalam melakukan amal shalih. Mereka tak kenal putus asa, tidak mau menunda bahkan selalu menangis ketika tertinggal dalam melakukan amal shalih. Generasi ini, nyaris habis. Meski dalam beberapa kasus, kita masih bisa mengadakannya, terutama pada diri kita masing-masing. Semoga.
Buku  berukuran 12 x 20 cm ini, akan mengajak Anda untuk terus berkarya, agar kita mati dengan tersenyum. Ya. Senyum kemenangan sebagai syuhada’. Karena mati itu pasti, tapi bukan itu esensi utama dari kematian kita. Melainkan bagaimana kita mati, itulah yang lebih penting dan mesti kita persiapkan. Abu ya’la (Syadad) bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mempersiapkan amal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah” (HR Tirmidzi). Hadits yang terdapat di halaman 80 ini merupakan sebuah pilihan. Pilihan yang Rasulullah ajukan kepada kita, umatnya, akankah kita memilih untuk menjadi cerdas dengan mempersiapkan bekal setelah mati, atau sebaliknya, memilih menjadi orang bodoh dengan menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan.
Buku yang terbit pertama di bulan juli tahun 2011 ini, sejatinya hanya terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama tentang perlunya kita mengingat mati. Bagian kedua merupakan langkah yang harus kita lakukan agar mati kita menjadi berpengaruh. Agar mati yang kita hadapi kelak menginspirasi bagi generasi-generasi yang kita tinggalkan. Agar mati yang hanya sekali, senantiasa berbekas bagi diri maupun orang lain.
Bagian pertama buku ini terdiri dari 4 bab meliputi: Deadline Power, Bila Waktu Telah Berakhir, Bagaimana Cara Memotivasi Diri, dan Mengapa Harus Men-deadline Diri. Masing-masing Bab dalam buku ini, disertai dengan sub-bab yang akan memudahkan pembaca untuk menyelami pemikiran penulis.  Di bagian pertama ini, penulis menyebutkan betapa pentingnya kita mengingat mati. Di antaranya agar kita tidak menunda dalam melakukan kebaikan, menghiasi hari dengan prestasi- sekecil apapun, senantiasa berkata jujur, tersenyum sebagai bentuk sedekah yang paling murah dan aneka kiat-kiat dan contoh terkait pentingnya kita mengingat mati. Muaranya, penulis mengajak kita untuk merenung, bahwa hidup yang Allah berikan ini tidaklah kekal. Hidup yang Allah berikan kepada kita hanyalah terminal yang harus kita isi dengan amal shalih sebagai perbekalan kehidupan setelah kematian kita. Sehingga, ketika kesadaran seperti itu sudah terbentuk, maka kita akan menjadi pribadi yang cerdas, sebagaimana di sebutkan dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi di atas, yaitu pribadi yang mengingat mati dan mengumpulkan perbekalan untuk mati.
Bagian pertama dalam buku ini, dipaparkan secara gamblang sebanyak 164 halaman. Sehingga kita akan puas dan kemudian menyegerakan diri untuk mengumpulkan bekal kematian yang merupakan gerbang menuju kehidupan yang lebih abadi, akhirat.
Setelah diajak melanglang buana terkait pentingnya mati, kita langsung diajak melangkah. Melakukan aneka aksi untuk menjemput kematian kita.
Ada Sembilan langkah yang penulis paparkan dalam bagian kedua ini. Sembilan langkah tersebut meliputi:
1. Mati Urusan Pribadi, Persiapkan Dirimu!
Dalam bab ini, penulis bertutur, “Siapa yang memungkiri? Jenderal atau Kopral, majikan atau pelayan, selebritis atau pengemis, direktur atau kondektur, koruptor atau provokator, bahkan anggota dewan atau tukang jagal hewan, semua bakal merasakan kematian. (Hal 175).
Dalam bab ini, diuraikan pula sejumlah nama yang telah diganjar surga oleh Allah. Sebut saja Bilal bin Rabbah yang terompahnya sudah terdengar sampai di surga. Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid di medan Uhud. Ja’far bin Abi Thalib yang beterbangan seperti burung di surga karena tangannya buntung ketika perang Mu’tah. Dan Ummu Sulaim yang mondar mandir di surga (hal 181). Sebuah  pertanyaan cerdas yang penulis lontarkan dan sangat layak untuk kita renungkan, “Jika mereka telah diganjar surga oleh Allah, bagaimana dengan kita?”
2. Miliki Grand Desain Hidupmu.
Kegagalan yang kita dapati adalah buah dari gagalnya kita merencanakan. Kita cenderung berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya, langkah kita tak pasti dan cenderung loyo ketika ada ujian yang melanda, diri yang mudah limbung, tak tentu arah dan berkecenderungan ‘asal mengalir’
Dalam bab ini kita disuguhi sebuah cara agar kita bisa memiliki Grand Desain. Dengan panduan yang mudah diikuti, kita diajak untuk menentukan akan menjadi seperti apakah kita, terutama dalam masa 5 tahun ke depan. (hal 200-203)
3. Action Plan.
Dalam bab ini, kita akan disajikan 3 hal penting dalam melakukan aksi terhadap rencana kita. Planning, Perincian dan Prioritas. Di bagian akhir, lagi-lagi kita disuguhkan dengan lembaran-lembaran praktikum tentang rencana-rencana kita. Lengkap dengan panduan dan waktu perkiraan terlaksananya rencana yang telah kita pancangkan (hal 221-226). Di sini, kita dipaksa untuk berpikir dan belajar membuat peta kehidupan. Agar hidup kita terarah dan tidak asal melangkah.
4. Desain caranya.
Rencana aksi, hanyalah sebuah garis besar tentang mimpi yang ingin kita gapai. Setelahnya, kita harus menuliskan langkah-langkah detail untuk mengeksekusi sekian banyak rencana tersebut. Sebut saja jika cita-cita kita adalah menjadi penulis. Maka kita harus menargetkan jenis-jenis tulisan yang akan digubah. Di sini, kita akan disuguhkan tentang cara membaca efektif sehingga tidak mudah lupa (hal 234-235), Tiga faktor Penyebab Lupa (hal 235-236), Dua Belas Cara Menulis Dengan Manis (hal 236-242) dan Empat Pemilik Dunia.
5. Jaga Stamina dengan Senyum Merekah.
Orang-orang sukses selalu tersenyum optimis dan mengharapkan dilimpahkannya kebaikan bagi seluruh manusia (Hal 251).
Senyum yang ikhlas, akan bermuara pada kebahagiaan sejati, “Saudaraku, agar hidup lebih terarah, potensi diri menjadi permata berharga, masa depan menjadi lebih cerah, dan hidup menjadi lebih bergairah, mari bergembiralah!”(Hal 253)
Bab ini ditutup dengan 5 cara Praktis menghadirkan senyum Merekah penggugah Ruhiyah (hal 255). Di sini, pembaca perlu berhati-hati. Karena setelah selesai, pembaca bisa mengidap penyakit suka ‘tersenyum sendiri.’ ^_^
6. Eksekusi Diri.
Rencana yang baik, detail aksi yang lengkap, akan sia-sia jika kita tak kunjung melangkah. Semuanya harus segera kita eksekusi agar tidak menyesal karena terlambat. Seperti halnya fir’aun yang terlambat mengakui keesaan Allah, seperti itu pulalah kegagalan yang akan kita terima manakala kita sering menunda eksekusi atas semua rencana kita.
Ada 6 penghambat eksekusi: tujuan hidup yang tidak jelas, antusias yang rendah, sikap mental negatif, kurang percaya diri, terlalu berhati-hati dan berharap tanpa memenuhi syarat (hal 262-263).
7. Fokus Sampai Lulus.
Orang yang tidak memfokuskan potensi untuk berprestasi akan kehilangan banyak kesempatan, memubadzirkan energi, merugikan masa depan, menzhalimi diri, dan merusak kehidupannya. Fokuskan pada akhirat maka dunia pun akan didapat. Tetap perbarui niat dan jaga semangat (hal 283). Fokus diibaratkan penulis dengan sinar laser. Meski kecil, ia bisa menghancurkan aneka benda yang ditabraknya. Sementara ketidakfokusan diibaratkan seperti matahari, meski tenaganya besar, daya hancurnya kurang karena ketidakfokusannya pada sebuah objek.
8. Optimis Sampai Finish.
Optimis adalah bagian dari kemenangan dan kesuksesan. Optimis adalah nafas panjang untuk mengarungi pendakian yang tak berujung. Pendakian menuju keabadian. Optimis adalah oksigen para pendaki tersebut. Sebab, semakin mendaki semakin sedikit teman, semakin sulit tantangan, semakin menjerit lolongan, semakin sempit kesempatan, dan semakin rumit persoalan, namun juga semakin bersuit-suit pujian yang melenakan di samping sudah semakin dekat dengan puncak kemenangan yang dirindukan (Hal 289).
9. Tak ada pilihan ketiga.
Bab ini menyajikan langkah pamungkas yang mesti kita lakukan agar kematian yang kita temui adalah kematian terindah, syahid. Penulis mengutip perkataan Sayyid Quthb dalam menafsirkan Surat Al Jatsiyah ayat 18 , “Pilihan itu hanya ada dua, Syari’at Allah atau mengikuti keinginan orang-orang jahil.Tidak ada pilihan ketiga, jalan tengah antara syariat yang lurus dan keinginan hawa nafsu yang berubah. Seseorang yang meninggalkan syari’at Allah berarti telah berhukum kepada keinginan nafsunya. Segala sesuatu selain syariat Allah adalah keinginan hawa nafsu yang disukai oleh orang yang jahil (hal 304-305).
Buku yang dikemas dengan rasa training ini membuat kita betah untuk melahap bab demi babnya. Sehingga kita akan terbawa arus dan tidak sadar ternyata kita hampir selesai membaca. Di samping itu, Bahasa yang  mudah dicerna, bersajak, juga merupakan kelebihan yang tak terbantahkan dari buku ini. Belum lagi desain cover yang dominan warna hitam, disertai hiasan kuning, merah dan putih adalah sebuah kombinasi manis yang membuat pembaca ‘jatuh cinta’ pada pandangan pertama. Oh ya, yang tak kalah serunya, buku ini dikemas  tanpa daftar isi. Sehingga Anda yang haus ilmu, akan penasaran untuk membuka tiap detailnya.
Akhirnya, saya ucapkan jazakumullah ahsanal jaza’ kepada Pak Sholikhin yang bercita-cita menjadi Trainer Sejuta Umat dan keluarga besar Pro-U Media seluruhnya. Semoga Allah mengistiqamahkan kita di jalan ini. Jalan yang awalnya hidayah, perekatnya ukhuwah dan semoga saja akhirnya adalah surga yang abadi. Amiin.
Kepada sahabat sekalian saya sampaikan, “Hati-hati membaca buku ini! Karena Dosis (motivasinya) tinggi. Sehingga sahabat, bisa jadi akan mengalami over dosis motivasi. Dan, sahabat tidak akan bisa tidur karena mengingat diri yang makin berkurang jatah umurnya, sementara prestasi tak kunjung jua membanggakan.”
Selamat membaca. Semoga berkenan

Tuesday, December 16, 2014

RUmah Kontena alternatif kepada Rumah Mampu Milik

Posted on Tuesday, December 16 @ 05:45:26 MYT 

" 
14 Dis 2014 - RUMAH kontena dilihat boleh menjadi alternatif kepada pemilikan rumah lebih murah, praktikal dan efisien. Pada usia 25 tahun, Muhamad Azree Abdul Rahim boleh berbangga dengan diri sendiri kerana mempunyai tanah dan rumah sendiri. Terletak di Kampung Sijang­kang, Hulu Langat, Selangor, rumah itu mempunyai ruang tamu yang bercantum dengan bilik tidur, dapur serta tandas yang dilengkapi dengan pancuran mandian.

Uniknya, rumah Muhamad Azree bukanlah dibina daripada batu-bata atau papan, sebaliknya jejaka yang berasal dari Kluang, Johor itu berfikir di luar kotak dengan memilih kontena sebagai kediamannya.

“Sebelum ini, saya menyewa sebuah bilik di sebuah rumah teres di Seksyen 35, Shah Alam dengan kadar sewa sebanyak RM300 sebulan. Bagaimanapun, selepas enam bulan menduduki rumah tersebut, saya rasa tidak berbaloi.
“Berdasarkan pengiraan yang dibuat, saya terpaksa membelanjakan RM18,000 untuk sewa bilik itu selama lima tahun. Ia dilihat tidak mendatangkan apa-apa keuntungan kepada saya.
“Dari situ, saya terfikir untuk mencari jalan alternatif bagi menyelesaikan permasalahan tersebut dan menyedari ia mampu direalisasikan menerusi rumah daripada kontena,” katanya yang berkhidmat sebagai jurutera perisian di sebuah syarikat farmasi di Shah Alam.
Bagi menjayakan impiannya untuk memiliki rumah sendiri, Azree membuat pinjaman peribadi sebanyak RM50,000 dengan tempoh bayaran balik kepada bank dalam masa lima tahun.
Melalui peruntukan itu, dia memulakan projek berkenaan sekitar November lalu dengan membeli sebidang tanah lot berkeluasan 2,400 meter persegi di Kampung Sijangkang pada harga RM35,900.
Anak kelima daripada enam adik-beradik itu kemudiannya membeli sebuah kontena kargo bersaiz 14.8 meter persegi.
Tambah pemegang Diploma Teknologi Maklumat Universiti Infrastruktur Kuala Lumpur itu, dia turut membelanjakan kira-kira RM5,000 untuk kerja-kerja pengubahsuaian antaranya mengecat, pemasangan panel pintu dan tingkap, pemasangan paip serta pendawaian elektrik.
Biarpun belum 100 peratus siap, Azree berpendapat projek rumah kontena itu bukan sekadar perniagaan, malah satu pergerakan untuk orang ramai khususnya golongan muda memiliki rumah sendiri dan keluar daripada belenggu hutang.


Komen :
Dalam suasana kenaikan harga barang yang tidak terkawal, harga rumah yang sama mahal sebagaimana di UK dan US, maka ini satu idea yang boleh diterima pakai. Cuma kenalah cari tanah dulu.

Wednesday, December 10, 2014

Cakap benarlah mengenai ekonomi

Kadir Jasin: Cakap benar mengenai ekonomi
KADIR JASIN
7 Disember 2014

DALAM siri isu kepemimpinan kali ini, marilah kita berbincang sedikit mengenai ekonomi semasa. Tajuk ini mungkin berat tetapi sangat afdal kepada kelangsungan (survival) negara kita.

Saya tidak menyalahkan pemerintah dan media massa kawalannya kerana menghebahkan berita baik dan menguar-uarkan prestasi ekonomi yang dikatakan baik sehingga mendapat pujian pemimpin dunia.

Saya akui bahawa angka kasar menunjukkan ekonomi kita sihat. Pertumbuhannya jika diukur daripada keluaran dalam negara kasar (KDNK/GDP) adalah memuaskan.

Tetapi angka kasar boleh memesongkan. Misalnya, banyak rumah, kedai dan ruang pejabat didirikan. Pembinaan rumah, kedai dan pejabat yang banyak itu menyumbang kepada pertumbuhan KDNK.

Tauke simen, pasir dan keluli buat duit. Perunding dalam dan luar negara buat duit. Pekerja binaan Indonesia, Bangladesh, India dan Myanmar buat duit. Penjaja nasi lemak Melayu di bahu jalan pun buat duit.

Tetapi kita juga tahu dan lihat banyak rumah, kedai dan pejabat tidak dijual atau disewakan, tidak didiami dan digunakan. Ada yang ditenggelami lalang, ditumbuhi pokok jejawi atau roboh terus. Iklan untuk dijual dan disewa menyakitkan mata.

Inilah yang ahli ekonomi sebut sebagai pertumbuhan yang tidak berkualiti atau penyalahuntukan sumber (misallocation of resources). Bila rumah, kedai dan ruang pejabat tidak digunakan maka tidak berlakulah penokokan nilai (value added) dan kesan serapan (trickle down effect).

Kalau rumah dijual dan didiami, kedai disewa dan perniagaan dijalankan, pejabat dibuka dan kakitangan diambil barulah berlaku penokokan nilai dan kesan serapan.

Tidak salah Menteri Kewangan Kedua, Ahmad Husni Hazadlah, menyatakan keyakinan yang matlamat mengurangkan defisit belanjawan 2014 kepada 3.5% KDNK masih boleh dicapai walaupun harga minyak jatuh teruk. Begitu jugalah kenyataan Ketua Pegawai Eksekutif CIMB, Tengku Zafrul Aziz bahawa asas ekonomi (economic fundamentals) negara terus kukuh dan Pengarah Eksekutif Institut Kajian Ekonomi Malaysia (MIER), Dr Zakariah Abdul Rashid melihat prospeks ekonomi sebagai bercampur (mixed).

Malangnya, bukan harga minyak mentah saja jatuh. Harga minyak kelapa sawit dan getah sudah lama merudum. Permintaan ke atas komponen elektronik masih kukuh. Tetapi dengan ekonomi dunia diramalkan beku tahun hadapan, permintaan mungkin tidak kekal.

Petronas telah pun mengurangkan perbelanjaan modal (capex) dan memberi amaran mungkin tidak boleh membayar dividen yang tinggi kepada kerajaan. Tetapi kalau dipaksa, Petronas akan tambah dividen dan  kurangkan lagi capex.

Kredibiliti Maklumat Rasmi

Soalnya, bolehkah kita percaya kepada dakwaan bahawa fundamental ekonomi kita kukuh apabila bukan saja harga komoditi utama kita jatuh malah kadar tukaran mata wang kita pun jatuh juga?

Sangat mengelirukan apabila Gabenor Bank Negara, Zeti Aktar Aziz, berkata bagus apabila nilai ringgit naik dan bagus juga apabila ia jatuh.

Harga saham dan jumlah dagangan di Bursa Malaysia semakin menurun. Prestasi syarikat-syarikat yang disenaraikan dengannya lebih banyak yang negatif daripada positif. Boleh kata majoriti melaporkan penurunan keuntungan.

Pada 1 Disember, kadar tukaran ringgit jatuh paling banyak dalam sehari sejak Krisis Kewangan Asia 1997-98 kepada RM3.4320 bagi satu dolar Amerika.

Pada 3 Disember, akhbar The Star (milik MCA dan mewakili sentimen masyarakat perniagaan Cina) menyiarkan analisis pendapatan suku ketiga tahun ini (Julai-September) bagi syarikat-syarikat Bursa Malaysia.

Ia mendapati hanya dua daripada lima sektor utama ekonomi meningkat. Automotif naik 18.2% dan perbankan 1.6%, tetapi perkhidmatan jatuh 58.5%, komoditi jatuh 37.7% dan minyak&Gas jatuh 29.3%. Perkhidmatan menyumbang lebih daripada 50% kepada kegiatan ekonomi negara.

Pada 4 Disember, akhbar yang sama menyiarkan analisis prestasi mata wang ringgit. Ia mendapati ringgit jatuh berbanding kebanyakan mata wang rakan perdagangan utama kita.

Ringgit jatuh 5.61% berbanding dolar Amerika, 5.58% berbanding dolar Hong Kong, 3.93% berbanding Baht, 2.93% berbanding Rupee, 2.44% berbanding dolar Taiwan dan 0.95% berbanding dolar Singapura. Duit kita naik berbanding Yen (9.40%), Euro (5.91%), dolar Australia (4.32%), pound Inggeris (2.31%) dan Rupiah (0.73%).

The Star juga meramalkan yang kelembapan eksport mungkin mengakibatkan Malaysia mengalami defisit kembar (twin deficit), iaitu defisit akaun semasa dan defisit perdagangan. Ia memetik ketua ahli ekonomi AllianceDBS (bank), Manokaran Mottain.

Lebih Baik Terus Terang

Banyak lagi fakta dan ramalan ekonomi yang menjurus ke arah keadaan yang sukar dan mencabar bagi ekonomi negara tahun ini dan tahun hadapan. Ekonomi Eropah diramalkan menguncup tahun hadapan. Ekonomi Australia sudah mula menurun. Hatta ekonomi China yang perkasa itu pun sudah mula dingin.

Jadi, bukankah lebih elok bagi kerajaan mengakui realiti semasa dan berterus terang kepada rakyat jelata. Lebih baik membuatkan mereka kurang gembira dengan menyatakan kebenaran daripada membuatkan mereka marah apabila malapetaka ekonomi melanda mereka.

Sama ada ekonomi kita akan mengalami krisis atau tidak tahun hadapan, satu hal. Itulah yang sedang diramalkan oleh pembangkang pusat.

Yang utama sekarang adalah berkongsi maklumat secara rasional dan terbuka dengan rakyat jelata. Bukan berdolak-dalik dengan mereka apatah lagi memesongkan mereka dengan berita-berita baik yang sengaja diada-adakan.

Rakyat tidak “bangang”. Mereka tahu “practical economy.” Mereka sudah rasa kenaikan harga akibat pemansuhan subsidi. Mereka tahu harga petrol turun, tapi harga diesel naik. Mereka rasa pelik. GST belum dilaksanakan, tetapi sudah ada barang yang naik harga kononnya kerana cukai baru itu.

Mereka tahu harga getah dan kelapa sawit merudum kerana mereka yang mengeluarkannya. Mereka tahu ringgit Malaysia tidak bernilai seperti dulu lagi kerana hari-hari mereka beli-belah sendiri. Jangan tunggu mereka marah. Terus teranglah dengan mereka. Jangan sekali-kali anggap mereka bangang, bodoh, dungu, tongong dan bahlul.
 


* Ini adalah pendapat peribadi penulis yang dipetik dari blog beliau sendiri dan tidak semestinya mewakili pandangan Sinar Harian Online.

Saturday, November 29, 2014

Ketika mereka bermewah-mewah

SITI ZURAIDAH ISMAIL
28 November 2014

"DAN jika Kami hendak membinasakan sesebuah negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati ALLAH), tetapi apabila mereka melakukan derhaka dalam (negeri) itu, maka berlakulah perkataan (hukuman Kami) terhadap mereka, kemudian Kami hancur-leburkan (negeri itu)." (Surah Al-Isra’: 16)


Ulama mentafsirkan ayat di atas dengan pelbagai tafsiran. Pertama, yang dimaksudkan dengan perintah ALLAH SWT kepada orang yang hidup mewah dalam ayat ini adalah ketentuan atau takdir ALLAH kepada mereka. ALLAH memudahkan mereka untuk menjalani apa yang ditakdirkan. ALLAH memudahkan mereka melakukan kemungkaran yang diinginkan sehingga berhak mendapat azab daripada ALLAH.

Kedua, dimaksudkan dengan perintah ALLAH dalam ayat ini adalah ALLAH memerintahkan orang yang hidup mewah di negeri itu untuk melakukan ketaatan, tetapi mereka tetap melakukan kefasiqan dan kemungkaran sehingga negeri itu mendapat murka dan azab daripada-Nya.

Azab kehancuran

Ada beberapa lagi tafsiran yang lain daripada ulama. Mungkin timbul pertanyaan dalam diri kita, kenapa ALLAH menyatakan azab dan kehancuran itu akan meliputi semua negeri padahal yang melakukan kefasiqan dan kemungkaran itu hanyalah orang-orang yang hidup mewah di negeri itu?

Ulama menjelaskan keadaan ini mungkin dijawab dengan dua jawapan. Pertama, ini kerana masyarakat bawahan atau kelompok masyarakat lain menjadi pengikut kepada golongan elit tersebut. Firman ALLAH bermaksud: "Dan mereka berkata: "Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)." (Surah Al-Ahzab: 67)

Firman-Nya lagi: "Dan mereka semua (di padang mahsyar) berkumpul untuk menghadap ALLAH, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami daripada azab ALLAH (walaupun) sedikit sahaja?" Mereka menjawab: "Sekiranya ALLAH memberi petunjuk kepada kami, nescaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama sahaja bagi kita, sama ada kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (Surah Ibrahim: 21)

Kedua, jika sebahagian dalam sesebuah masyarakat melakukan kemungkaran, sedangkan yang lainnya melarang dan mencegahnya maka azab ALLAH akan menimpa mereka seluruhnya, sesuai dengan firman ALLAH: "Dan peliharalah dirimu daripada seksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim sahaja di antara kamu. Ketahuilah ALLAH sangat kuat seksaan-Nya." (Surah Al-Anfal: 25)


Bermewah dengan kurniaan-Nya

Bermewah dalam bahasa Arab disebut dengan al-taraf bererti melampaui batas dalam menggunakan nikmat kurniaan ALLAH. Atau dalam kata lain, nikmat ALLAH yang digunakan secara berlebihan dan melampaui batas dan diikuti dengan keangkuhan dan perbuatan zalim. Mereka yang hidupnya begini selalu ingin lebih daripada yang lain dalam segala hal dan selalu berusaha untuk berada di atas dalam hal bersifat duniawi.

Ketika al-taraf ini disebut dalam al-Quran, ia selalu menunjukkan ini adalah sikap yang tercela dan selalunya kelompok inilah yang sering menyebabkan kehancuran sesuatu kaum atau bangsa.

ALLAH berfirman lagi: "Dan setiap kali Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata: "Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan." (Surah Saba’: 34)
Rasulullah SAW selalu mengingatkan umatnya agar jangan sampai kepada gaya hidup seperti ini.


Risaunya Baginda SAW

Daripada ‘Amru bin ‘Auf al-Anshari RA, Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrin untuk mengambil harta rampasan perang. Rasulullah SAW membuat perjanjian damai dengan penduduk Bahrin, Baginda SAW mengangkat Al-Ala’ bin Al-Hadhrami sebagai pemimpin mereka. Lalu Abu Ubaidah datang dengan membawa harta dari Bahrin. Kaum Ansar mendengar berita kedatangan Abu Ubaidah dengan harta berkenaan.

Mereka menunaikan solat Subuh bersama Rasulullah SAW. Usai solat, Baginda SAW mahu melangkah pergi namun mereka menghalang Baginda SAW. Maka, Rasulullah SAW tersenyum saat melihat mereka.

ALLAH juga mengingatkan hamba-Nya perkara yang sama dengan berfirman: "Dan sekiranya ALLAH melapangkan rezeki kepada hamba-Nya, nescaya mereka akan melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan ukuran yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-Nya, lagi Maha Melihat." (Surah Al-Syura: 27)

Melihat keadaan masyarakat dan bagaimana gaya hidup kita, bolehlah mengambil iktibar daripada inti pati ayat dari Surah Al-Isra’ ini. Sebaiknya kita tidak tergolong dalam golongan mereka yang menerima azab ALLAH  atas muka bumi. Doa kita bukan hanya dihindarkan azab dunia tetapi juga azab di akhirat kelak. Insya-ALLAH.

Umno:Gen X,Y, "Zzzz"

ABDUL JALIL ALI
Sinar Harian 27 November 2014


MELIHAT dari luar lingkungan – dan bukan orang parti – saya tidak teruja lagi kepada cakap-cakap mengenai usaha meremajakan Umno. Tidak juga saya berasa pelik apabila mendengar seruan berdegar-degar untuk transformasi parti.

Semua orang tahu ini benda lama yang diulang ungkit setiap kali perhimpunan agung parti terbesar orang Melayu itu. Oleh sebab sudah kerap sangat disebut – dengan nada dan istilah-istilah berbeza – orang sudah tidak prihatin lagi.

Lebih-lebih lagi apabila yang diulang-ungkit itu tidak disusuli dengan kesungguhan tindakan. Seperti biasa semua bersemangat ketika berucap, tetapi selepas tamat perhimpunan tidak ada apa-apa perubahan. Status quo, atau orang Tanjung kata: “Pi mai, pi mai dok tang tu!”

Kalau betul ada kesungguhan, sebenarnya tidak sukar sangat untuk meremajakan parti yang sejak sekian lama menjadi tunjang utama BN. Tidak susah mana untuk transformasi parti yang mempunyai paling ramai keanggotaan dan selalu diuar-uarkan sebagai parti paling hebat, paling unggul.

Secara teori, seperti yang telah diakui oleh pemimpin parti, ambil sahaja anak-anak muda yang beridea, berinovasi dan profesional menyertai parti, dan beri kedudukan yang membolehkan mereka menyuarakan pandangan bernas.

Tetapi, praktikal tidak semudah teori, lebih-lebih lagi apabila dalam kalangan pemimpin sendiri – baik di peringkat cawangan, bahagian dan induk – tidak menyokong dan sengaja menghalang teori tersebut.

Contoh: Ada anak muda, berijazah, profesional dan beriltizam memohon di peringkat cawangan untuk menjadi ahli parti. Lama menghantar borang permohonan, tetapi tidak ada jawapan, macamlah susah sangat memproses permohonan di era ‘semuanya di hujung jari’ ini.

Konon ada kesilapan teknikal, pada hal fakta sebenarnya ialah pemimpin sengaja tidak meluluskan permohonan, kerana bimbang kedudukan kepimpinannya akan terjejas sekiranya ada ahli lebih baik dan dilihat – sebenarnya ditakuti! – lebih berwibawa.

Di peringkat bahagian pun ramai pemimpin berjiwa kecil dan takut pada bayang-bayang sendiri apabila ada calon mencabar dalam pemilihan. Usaha dilakukan secara sulit, biasanya menggunakan wang, untuk menyingkirkan pencabar. Pada peringkat pusat pun sama juga.

Sebab itu politik wang terus berleluasa sampai sekarang.

Perihal mencantas anggota dan calon-calon muda ini bukan lagi rahsia. Pemimpin tertinggi parti pun sedar hal ini. Sepatah kata Naib Presiden, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi: “Pemimpin parti perlu sedar bahawa jawatan yang dipegang itu bukanlah milik keturunan mereka untuk selamanya.”

Tambah beliau, “kalau sudah ada tanda bahawa kita tidak lagi dikehendaki, maka cara terbaik ialah mengundurkan diri sebelum kita diundurkan.” Tetapi berapa ramai pemimpin berjiwa besar yang sedia berundur untuk memberi laluan kepada muka baharu?

Ada pemimpin – semua peringkat – yang sudah jelas tidak dikehendaki, wajah berserabut penuh masalah, fikiran tidak sehebat mana, sering membuat kenyataan entah apa-apa, tetapi masih tidak bersedia berundur. Malah selalu mendabik dada, seolah-olah berkata “akulah yang paling layak!” Pemimpin tidak malu seperti inilah yang mengikis keyakinan golongan muda menyertai parti.

Presiden Datuk Seri Najib Razak dalam usaha mentransformasikan parti telah berkali-kali menyeru supaya ruang dibuka seluas-luasnya untuk memberi laluan kepada generasi X dan Y. Malangnya masih ramai pemimpin terus meletakkan diri mereka dalam generasi ‘Zzzz’ @ tidur.

Perhimpunan parti kali ini sepatutnya berani secara terbuka mengenal pasti dan menyebut kewujudan generasi ‘Zzzz’. Mereka perlu ikhlas mencadangkan supaya generasi ini diundurkan dari parti.

Keberanian dan cadangan seperti ini tentulah dinantikan dan dialu-alukan oleh semua orang yang selama ini – setiap kali perhimpunan parti – melihat dan mendengar ucapan dan perbahasan yang sebahagiannya hanya membodek pemimpin, sambil berpantun seloka dan berlawak bodoh untuk menarik perhatian perwakilan.

Hubaya-hubaya membodek dan riuh-rendah dengan lawak jenaka patut dihentikan segera. Dalam keadaan BN yang pada PRU lalu kehilangan undi majoriti dua pertiga, setiap pembahas perlu bercakap penuh berisi lagi beriltizam.

Untuk meyakinkan orang Melayu, khasnya golongan muda, perwakilan perlu menoleh ke belakang dan mengakui kesilapan yang telah dilakukan sebelum ini. Betulkan apa yang tersilap.

Untuk kali ini semua kena serius, dan insaflah Perhimpunan Agung Umno bukan pentas ‘Maharaja Lawak’

Friday, November 28, 2014

Mana Lebih Bernilai ?

   Wang seratus ribu dan wang receh seribu rupiah adalah wang yang di lahirkan di negara yang sama, di edarkan oleh bank yang sama dan memiliki kegunaan yang sama pula yaitu sebagai alat untuk membeli barang atau segala hal yang di jual.



  Setelah uang seratus ribu dan wang seribu rupiah di edarkan dari bank indonesia, mereka berdua terpisah dalam tempo waktu yang cukup lama. Namun setelah empat bulan lamanya tanpa di sengaja  mereka bertemu kembali di dalam sebuah dompet milik seorang pemuda. Perpisahan antara uang seratus ribu dan uang seribu rupiah yang sudah cukup lama, akhirnya sebuah percakapan di antara merekapun terjadi.

Wang Seratus Ribu : Setelah sekian lama terpisah, ko penampilan kamu sekarang jadi kucel, bau amis, kotor dan lusuk banget sih bu ???

Wang Seribu : Dulu waktu kita keluar bareng dari bank indonesia, aku langsung berada di tangan-tangan orang bawahan seperti tukang becak, pengemis, tukan ikan, tukang sayur dan orang-orang menengah kebawah lainnya tus.

“Lalu wang seribu rupiah bertanya balik kepada uang seratus ribu”

Wang seribu : Terus kenapa kamu terlihat begitu rapih, wangi dan nampak masih segar seperti baru keluar dari bank indonesia tus ?

Wang Seratus Ribu : Saya seperti ini sekarang karena dulu waktu keluar dari bank indonesia, saya langsung berada di tangan-tangan orang menengah keatas seperti para pejabat, pengusahan, masuk ke restoran-restoran mewah, malah saya masuk ke hotel-hotel berbintang bu.
Wang Seribu : Pernahkah kamu masuk ke mesjid-mesjid dan ke tempat-tempat peribadahan umat beragama lainnya tus ?

Wang Seratus Ribu : Belum pernah sama sekali bu.

Wang Seribu : Ketahuilah, walaupun keadaan saya yang seperti sekarang ini (Kucel, dekil, dan Lusuk), Saya setiap hari jum’at tidak pernah tidak masuk ke dalam mesjid-mesjid dan setiap hari minggu saya tidak pernah tidak masuk ke gereja-gereja. Walaupun keadaan saya sering di pandang sebelah mata oleh orang-orang, namun saya bangga menjadi diri saya yang saat ini sedemikian adanya. Karena saya bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi para pengemis, anak jalanan, dan bisa membantu untuk pembangunan tempat-tempat peribadahan walaupun nilai diri saya tidak sebesar nilai diri kamu tus.

  Akhirnya ketika mendengatr kata-kata uang seribu rupiah, uang seratus ribupun menangis karena tadinya dia merasa gagah, hebat, memiliki nilai yang tinggi dan penampilannyapun rapih, awet muda, wangi, namun tidak bisa memberikan manfaat kepada orang-orang tidak mampu yang membutuhan.


Monday, November 24, 2014

Perhimpunan Umno Muhasabahlah

RIDHUAN TEE ABDULLAH
Sinar Harian 24 November 2014

WAHAI Umno, masa berjalan begitu pantas, kini kamu sudah memasuki Perhimpunan Agung Umno ke-65. Masa yang cukup lama, setelah memenangi PRU demi PRU. Menunggu kelangsungan PRU14, itu pun jika menang.

Ingatlah pesanan Konfucius ini: Pertama, jika mahu menjadi pemimpin, jaga rumah tangga, anak isteri dengan baik, boleh menjadi contoh, sebab orang memerhatikan kamu. Kedua, nak pastikan rumah tangga itu menjadi baik dan terpelihara, pastikan diri sendiri berakhlak mulia dan boleh dicontohi, sebab kebaikan rumah tangga bermula daripada diri kita. Ketiga, nak pastikan diri sendiri menjadi baik, pastikan hati itu bersih. Keempat, nak pastikan hati itu bersih, asasnya adalah sifat ikhlas.

Persoalan saya, adakah orang Umno ada sifat seperti itu? Adakah orang Umno benar-benar mengutamakan rakyat dan boleh diteladani? Adakah orang Umno benar-benar ikhlas dalam memartabatkan agama, bangsa dan negara?

Wahai Umno, contohilah pemimpin terdahulu, sanggup berkorban jiwa raga. Mahatma Gandhi, seorang pemimpin agung India, sentiasa menaiki kereta api kelas ketiga untuk bertemu rakyat. Apabila ditanya, "Kenapa selaku pemimpin besar, menaiki kereta api kelas ketiga, bukan pertama?" Gandhi menjawab: "Aku memilih kelas ketiga, sebab tidak ada kelas empat".

Menurut Gandhi, pemimpin yang berdosa adalah pemimpin politik yang tidak berprinsip. Mahu kaya, tetapi malas bekerja. Akhirnya, mengamalkan rasuah. Mahukan agama, tetapi tidak mahu berkorban.

Masih adakah pemimpin seperti Gandhi hari ini? Bukan maksud saya selepas ini, kita berpakaian compang-camping atau menjadi papa kedana. Apa yang tersirat dan tersurat adalah, pemimpin mesti bersama rakyat dan menyelami hati nurani rakyat. Susah senang dirasai bersama.

Wahai Umno, kita sudah tidak ada masa lagi. Bangunlah sekarang sebelum terlambat. Sempena perhimpunan ini, saya ingin menasihatkan beberapa perkara:

Pertama, berakhlaklah dengan akhlak Islam. Pastikan diri kita boleh menjadi teladan. Kewujudan kita amat disegani dan dihormati. Pemergian kita nanti akan ditangisi. Ingatlah jawatan itu amanah, ada perkiraan dunia dan akhirat. Orang pertama yang dihisab adalah pemimpin. Adakah kita benar-benar membawa orang yang dipimpin ke jalan yang benar?

Kedua, tegurlah pemimpin, jika mereka melakukan kesilapan dan kesalahan, secara terus-terang. Jangan bodek mereka. Itu menempah kecelakaan. Termasuk juga, jika keluarganya perlu ditegur, tegurlah, sebab teguran itu untuk kebaikan. Rasulullah dan empat Khalifah kita juga ditegur rakyat. Jika raja sekalipun perlu ditegur. Tegurlah... kerana mereka juga manusia seperti kita, tidak maksum.

Ketiga, perangi rasuah habis-habisan. Jangan menikam sesama sendiri kerana kita bersaudara. Tolak pemimpin yang mengamalkan rasuah. Rasuah hanya akan menjahanamkan kita.

Keempat, marilah kita bersama-sama membawa negara ini menuju keredaan dan keampunan ALLAH. Jangan undang kemurkaan ALLAH dengan berbuat dosa dan maksiat.

Akhirnya, marilah kita hayati pesanan Datuk Onn Jaafar, YDP Umno, ketika Perhimpunan Agung Umno Pertama, 1946. Nasib Melayu hanyalah akan dapat dikekalkan dengan kesatuan hati sesama mereka.

Meskipun sesama kita berlainan fikiran dan fahaman, taraf dan kedudukan, tetapi hakikat tujuan dan maksud kita hanya satu, iaitu kita hendak meninggikan dan memelihara maruah serta kesopanan bangsa kita. Kita berkehendak supaya tanah air dan bangsa kita terselamat dan kuat, dan hanyalah boleh kuat jika kita bersatu padu.

Marilah kita tunjukkan, hanya dengan persatuan di antara kita, akan lahir satu bangsa yang hebat, boleh berdiri di atas tapak kaki sendiri dan mengambil tempat kita yang sebenar, mengatasi bangsa lain. Marilah kita bersatu dan berusaha bagi faedah bangsa kita. Marilah kita bekerjasama dan menyamakan perusahaan kita itu bagi melayakkan diri kita menjadi satu bangsa yang besar. Bersatulah sebagaimana belum pernah kita bersatu dahulu dan berusahalah sebagaimana belum pernah kita berusaha. Tunjukkanlah bahawa kita ini sebenar-benarnya keturunan datuk nenek kita yang berani menghadapi bahaya dengan bersatu hati (Mac 1946).

Ketika Perhimpunan Agung Umno ke-2 (1950), Datuk Onn secara sukarela mengundurkan diri daripada takhta kuasa. Beliau meminta supaya dirinya tidak dicalonkan sebagai YDP bagi sesi 1951/52. Nyata sekali Onn tidak mengejar dunia. Kuasa bukan segala-galanya bagi beliau. Bukan seperti kita hari ini, kalau boleh mahu mati di takhta kuasa untuk hidup mewah. Bangunlah wahai Umno sebelum terlambat!