Tuesday, August 30, 2011

SELAMAT HARI RAYA EIDILFITRI

Alhamdulillah, saya telah selamat sampai kurang lebih jam 4.30 petang di rumah. Bersyukur ke hadrat Ilahi yang telah memberi sesuatu yang tidak layak nikmati jika dibandingkan dengan amalan yang dilaksanakan selaku hamba Allah. Mudah-mudahan Allah masukkan saya ke dalam golongan yang diampunkan segala dosa dan sentiasa bersyukur di atas segala nikmat yang  melimpah ruah.

Alhamdulillah. Banyak pengalaman yang perlu dikongsikan bersama pembaca setia blog saya. Setelah berhenti menulis mulai 16 Ogos hinggalah ke saat ini, saya bersykur kerana Allah menjemput saya untuk bersama jutaan manusia menziarahi dua Tanah Suci Mekah dan Madinah pada bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkatan. Sesuai dengan pesan Nabi saw, barangsiapa yang menunaikan umrah di bulan Ramadhan pahalanya seolah-olah menunaikan haji bersama Nabi saw. Mudah-mudahan umrah saya diterima. Insyaallah. Empat hari tiga malam berada di Madinah dan 9 hari 8 malam di Mekah. Terima kasih kepada pengurusan Andulisia, walaupun ada beberapa perkara pandangan peribadi untuk penambahbaikan pengurusan Andulisia. InsyaAllah saya akan catat untuk masa akan datang.

Sebelum meneruskan kalam ini saya mengambil kesempatan memohon ampun dan maaf daripada pembaca diatas segala kesalahan, kesilapan, keterlanjuran yang mungkin menyinggung perasaan. Selamat Hari Raya, Maaf Zahir dan Bathin daripada saya serta anak-anak dan isteri yang tercinta. Untuk guru-guru dan anak-anak murid (SKSS1 dan SKSB) yang masih mengingati saya, saya juga mohon ampun dan maaf, semuga kita semua dimasukkan dalam golongan yang diampun dosa kita. Amin. Jumpa lagi, InsyaAllah.

Sunday, August 14, 2011

8 Proyek Besar Ramadhan

Ulis Tofa, Lc


Oleh: Ulis Tofa, Lc
0diggsdigg
email
dakwatuna.com - Setiap muslim dan muslimah hendaknya mengetahui prioritas amal ibadah di bulan Ramadhan ini. Amal ibadah yang prioritas itu bisa dilihat dari adanya keutamaan dan pahala yang sangat besar. Sebab, kita tidak mungkin melaksanakan semua amal ibadah karena keterbatasan kemampuan kita dan kesempatan atau waktu yang ada.  Untuk memudahkan  mengetahui prioritas amal itu, kita coba istilahkan dalam bentuk Proyek Besar Ramadhan.

Di antara proyek itu adalah :

Pertama, Proyek Jutaan Kebaikan Ramadhan

Adalah dengan Anda membaca Al Qur’an tiga Juz satu hari. Imam At Tirmidzi dalam hadits Hasan Shahih dari Abdullah bin Mas’ud ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda:
” مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: ألم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ “.
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

Sederhananya kita bisa katakan: satu juz Al qur’an kira-kira berjumlah 7000 huruf x satu huruf dengan 10 kebaikan x pahala 70 kewajiban = 4.900.000 (empat juta sembilan ratus ribu) kebaikan. Anda bisa membaca satu juz dalam waktu kira-kira 40 menit paling lama.

Jika Anda mampu mengkhatamkan Al Qur’an satu kali saja di bulan Ramadhan, maka Anda biidznillah meraih 147 juta kebaikan. Jika Anda mengkhatamkan tiga kali : 147 x 3 = 441 juta kebaikan, padahal Allah swt. melipat gandakan pahala kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Kedua, Proyek Terhindar dari Neraka dan Penyakit Nifaq

Proyek ini akan Anda raih dengan selalu menjaga shalat lima waktu di masjid dengan mendapatkan takbiratul ihram awal imam. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ” .
“Barangsiapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjama’ah dengan mendapatkan takbiratul ihram pertama imam, maka ia dipastikan akan terhindar dari dua hal: terhindar dari api neraka dan terhindar dari penyakit nifaq atau munafiq.”
Seorang generasi Tabi’in, Said bin Al Musayyib berkata:
“Tidaklah seorang muadzin mengumandangkan adzan selama tiga puluh tahun, kecuali saya sudah berada di dalam masjid.”

Ketiga, Proyek 30 Kali Haji dan Umrah

Yaitu dengan menunggu di masjid setelah shalat berjama’ah Subuh sampai terbit matahari dengan melakukan shalat dua rekaat Dhuha. Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan hadits Hasan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
” من صلى الفجر في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة  تامةّ، تامةّ، تامةّ ”.
“Barangsiapa yang shalat Shubuh berjama’ah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.”

Keempat, Proyek Do’a Tak Tertolak

Dengan cara melaksanakan seruan Allah swt. “Dan Tuhan kalian berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, Pasti Aku kabulkan permintaan kalian.” Ghafir:60
Dan hadits Nabi saw.:
“ثلاثة لا ترد دعوتهم: الصائم حتى يفطر، والإمام العادل، ودعوة المظلوم يرفعها الله فوق الغمام وتفتح لها أبواب السماء ويقول الرب: وعزتي وجلالي لأنصرنك ولو بعد حين ” (رواه أحمد والترمذي)
“Tiga kelompok yang tidak akan ditolak do’anya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka. Pemimpin yang adik. Dan do’a orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: “Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku tolong kamu, walau setelah beberapa waktu.” Ahmad dan At Tirmidzi

Maka khususkan Anda berdo’a dalam setiap hari sepertiga jam (20 menit) sebelum buka puasa. Anda menyibukkan diri dengan dirimu sendiri, menghadap kiblat, Anda angkat kedua tangan ke langit, memohon kepada Tuhanmu dengan penuh ikhlas, rendah diri, penuh harap dan penerimaan. Kalau perlu Anda menyiapkan runtutan do’a yang akan Anda baca. Anda berdo’a untuk diri Anda, keluarga Anda, teman Anda serta umat muslim yang tertindas seperti di Palestina, Iraq, dan Afghanistan dan setiap penjuru umat muslim.

Kelima, Proyek 90 Rumah di Surga
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
” ما من عبد مسلم يصلي لله تعالى كل يوم اثنتي عشرة ركعة تطوعاً غير الفريضة إلا بنى الله له بيتاً في الجنة “.
“Tidaklah seorang hamba muslim yang melaksanakan shalat karena Allah setiap hari berjumlah 12 rakaat sunnah selain yang wajib, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga.”
Ini artinya Anda shalat sunnah sehari semalam 37 rakaat selain shalat wajib. Cara pelaksanaannya demikian:
  • Menjaga melaksanakan shalat sunnah 12 rakaat
  • Melaksanakan shalat tarawaih dan witir minimal 11 rakaat
  • Melaksanakan shalat sunnah lainnya, seperti:
    1. Shalat Dhuha 4 rakaat
    2. Shalat tahiyatal masjid 2 rakaat minimal
    3. Shalat 2 rakaat setiap kali selesai berwudhu
    4. Shalat sunnah qabla Ashar 4 rakaat jika berkenan
Jumlahnya 37 rakaat, jumlah ini sepadan dengan 3 rumah di surga setiap hari, atau 90 rumah sepanjang bulan.

Keenam, Proyek Penghapusan Dosa

Dengan cara menunaikan umrah dan berziarah ke dua kota suci: Makkah dan Madinah. Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما إذا اجتُنبت الكبائر “.
“Dari umrah satu ke umrah yang lain, menghapus kesalahan antara waktu keduanya, jika tidak melakukan dosa besar.”
Apalagi umrah di bulan Ramadhan yang memiliki pahala khusus, Rasulullah saw. bersabda:
“عمرة في رمضان تعدل حجة” أو قال: “حجة معي”
“Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” Dalam riwayat yang lain: “Sebanding haji bersamaku.” Bukhari dan Muslim

Ketujuh, Proyek Rumah Masa Depan

Dengan cara Anda membagi anggota keluarga dalam semalam menjadi beberapa kelompok. Satu orang di antara mereka berjaga satu jam, kemudian membangunkan orang sesudahnya, ia bergantian untuk tidur. Buatlah jadwal dan pasang di dinding. Sehingga dengan demikian anggota keluarga sebenarnya shalat semalam suntuk di rumah. Betapa besar keutamaan dan kemuliaan yang akan diraih. Allah berfirman:
“Dan sebagian malam, maka shalat tahajuddlah sebagai ibadah nafilah kamu. Mudah-mudahan Allah membangunkan bagimu tempat yang terpuji.” Al Isra’:79

Anas bin Malik ra membagi malamnya menjadi tiga bagian: Ia bangun dan shalat di sepertiga malam awal. Kemudian ia membangunkan istrinya untuk shalat di sepertiga malam kedua. Kemudian istrinya membangunkan putrinya satu-satunya untuk melaksanakan shalat di sepertiga akhir. Ketika istrinya meningggal, Anas membagi malamnya menjadi dua bagian: ia shalat malam di separuh malam pertama, kemudian ia membangunkan putrinya untuk shalat malam di separuh malam terkahir. Ketika Anas meninggal dunia, putrinya berjuang untuk menghidupkan malam seluruhnya.

Kedelapan, Proyek Malam Sepanjang Umur

Yaitu dengan menghidupkan malam lailatul Qadar. Malam di mana Al Qur’an diturunkan di dalamnya.
Semoga dengan khusus kami bisa ketengahkan kegiatan atau proyek merebut malam lailatul qadar dalam tulisan berikutnya, insya Allah. Allahu a’lam. (dinukil dari artikel Dr. Al Hammadi)

Saturday, August 13, 2011

PANDAI SUNGGUH UMNO /BN BERLAKON

Undang-Undang Murtad: UMNO tolak mentah-mentah usul PAS



Kuala Lumpur, 10 Ogos: Lakonan Umno kononnya mahukan akta mencegah murtad langsung tidak boleh dipercayai kerana inisiatif mengenai perkara itu berkali-kali ditolak, kata Naib Presiden PAS, Salahuddin Ayub.

"Saya bercakap mengenai pengalaman peribadi kerana dalam sidang Parlimen yang bermula pada Mac 2006, saya mengemukakan rang undang-undang persendirian yang dinamakan Rang Undang-Undang Murtad.

"Rang undang-undang itu bukan sahaja tidak dipedulikan oleh ahli-ahli Parlimen Umno malah ditolak mentah-mentah," katanya.

Selepas itu, kata Ahli Parlimen Kubang Kerian itu, sekali lagi beliau mengemukakan usul yang juga meminta Dewan Rakyat mewujudkan undang-undang mencegah murtad seperti meminda Perkara 11(1) Perlembagaan Persekutuan dengan memasukkan peruntukan yang jelas menghalang individu Islam daripada secara bebas mengisytiharkan diri keluar daripada agama Islam.

"Usul itu juga tidak dipedulikan oleh kerajaan dan ahli-ahli Parlimen Umno," katanya

Semalam, Ahli Majlis Tertinggi (MT) Umno, Dr Mohd Puad Zarkashi dilapor mencadangkan agar Akta Jenayah Akidah diwujudkan bagi memastikan tiada usaha memurtadkan umat Islam berlaku di negara ini.

Menurut Salahuddin, usaha yang dibawa oleh pihak PAS mengenai perkara itu dibuat berkali-kali selepas Presiden PAS sendiri, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang selaku Ahli Parlimen Marang mengemukakan usul dan rang undang-undang persendirian untuk mencegah murtad.

Pada 25 Mac 1988, Tuan Guru telah mengemukakan usul untuk membincangkan gejala murtad, tetapi ditolak.
Selepas itu, pada 2 November 1999, Tuan Guru juga tidak dibenarkan membentang rang undang-undang ahli persendirian untuk mencegah murtad.

"Penolakan usul dan rang undang-undang persendirian mengenai murtad yang berlaku berkali-kali itu membuktikan Umno langsung tidak berminat untuk mencegah jenayah syariah paling serius itu.

"Sebab itulah umat Islam tidak seharusnya tertipu dengan gelagat gerombolan kuda tunggangan Umno yang kini nampak benar menunjuk-nunjuk kononnya mereka mahu mencegah murtad," tegas Salahuddin.

Beliau juga berharap rakyat menolak lakonan dan permainan gerombolan kuda tunggangan Umno itu kerana mereka adalah hipokrit sebenar.

"Amat hipokrit apabila bercakap hendak menentang gejala murtad tetapi pada masa yang sama menjadi kuda tunggangan Umno yang berkali-kali menolak usaha untuk mencegah murtad.

"Menolak inisiatif dan usaha untuk menentang murtad melalui peruntukan undang-undang dan perlembagaan hakikatnya menentang dan memusuhi usaha mencegah jenayah syariah paling serius itu," kata Salahuddin.

Beliau juga mempersoalkan di mana suara Umno ketika umat Islam bangkit menentang kes-kes murtad seperti kes Aishah Bukhari, Hartina Kamaruddin dan Lina Joy.

"Malah Umno juga berdiam diri ketika umat Islam bertindak menentang pindaaan 121 (1A) Perlembagaan Persekutuan dan ketika 10 menteri dari Barisan Nasional bertindak mempertikaikan perkara 121 (1A) itu dengan tujuan untuk membunuh kuasa mahkamah Syariah serta membolehkan mahkamah sivil memansuhkan keputusan mahkamah Syariah," katanya.

Dengan sejarah sedemikian, Salahuddin sekali lagi meminta umat Islam menolak hipokrit yang cuba berlagak hero yang kononnya memperjuangkan Islam dan kepentingan umat Islam.

Friday, August 12, 2011

Do'a dan Istighfar Yang Mencakup Segala Dosa & Kesalahan

ILUSTRASI. (foto: Google)


Maukah Anda mengetahui do’a memohon ampunan pada Allah atau istighfar yang sudah mencakup segala hal, sudah mencakup segala dosa? Inilah do’a yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang moga-moga bisa rutin kita amalkan dalam do’a-do’a kita sehari-hari. Karena kita tahu bersama bahwa kita adalah manusia yang tidak luput dari salah baik tatkala bercanda atau serius. Moga dengan do’a ini, Allah mengampuni dan memaafkan kesalahan-kesalahan kita yang ada.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى
Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii
(Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan)[1]

Penjelasan

Do’a ini adalah do’a yang mencakup segala macam istighfar (memohon ampunan pada Allah). Karena do’a ini sifatnya umum mencakup semuanya dan disertai dengan perincian dengan lafazh yang tegas.

Makna do’a ini adalah ‘Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya (dosa kecil maupun dosa besar). Ampunilah dosa yang muncul karena kejahilan diriku, karena sikap melampaui batas dalam segala hal. Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya yang kuketahui maupun tidak kuketahui, yang diperbuat dalam keadaan serius atau bercanda, dan yang diperbuat di kala keliru (tidak sengaja) dan di kala sengaja. Aku mengakui semua dosa-dosa ini, Ya Allah’.

Sedangkan kalimat do’a yang terakhir “wa kullu dzalika ‘indii”, maksudnya adalah pengakuan kepada Allah bahwa kita adalah hamba yang penuh dosa. Kita mengakui semua dosa itu sehingga timbullah rasa hina di hadapan Allah, maka kita pun mohon ampun pada-Nya. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa pengakuan seorang hamba terhadap dirinya bahwa ia penuh kekurangan, ini adalah salah satu sebab diterima taubat dan diampuninya dosa.

Renungkanlah Do’a

Ada satu pelajaran dari sini yang perlu diperhatikan. Do’a ini menunjukkan bahwa sudah seharusnya seseorang ketika berdo’a merenungkan maksud do’a yang ia panjatkan karena ini memberikan pengaruh amat besar pada jiwa. Hal ini akan menimbulkan kekhusyu’an, rasa tunduk dan hina di hadapan Ar Rahman. Inilah yang menunjukkan sempurnanya ibadah seseorang dalam beribadah kepada Allah.
 
Pelajaran Penting

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah memberikan faedah berharga mengenai do’a:

[1] Hendaknya seseorang menghadirkan segala apa yang ingin ia minta
.
[2] Ketika berdo’a berarti kita sedang berinteraksi dengan Allah. Ketika seseorang merinci atau banyak meminta kepada Allah ketika interaksi tersebut, itu membuat Allah lebih menyukainya dibanding dengan hanya ringkas saja dalam meminta.

[3] Semakin banyak seseorang berdo’a, berarti ia semakin dekat dengan Allah.

[4] Semakin banyak seseorang berdo’a (memohon), itu tanda bahwa ia semakin butuh pada Allah Ta’ala. (Tafsir Surat ‘Ali Imron 1/116)
[Disarikan dari Syarh Ad Du’aa, Hamir bin ‘Abdul Humaid bin Miqdam, do’a no. 84][2]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Prepared in the blessed morning in Riyadh-KSA, Yauma ‘Asyura - 10th Muharram 1432 (16/12/2010)
By: Muhammad Abduh Tuasikal

Jiwa bersih lahir kerja kualiti


NIk Abdul Aziz Nik Mat   
Saya baru berkesempatan mengikuti sesi pengajian kitab Bidayatul Hidayah di Kompleks Kota Darul Naim pada hari Khamis lalu. Sebenarnya pengajian kitab ini pada setiap hari Khamis sudah bermula semenjak awal tahun ini dan dibuka untuk kakitangan Kompleks Kota Darul Naim, cuma dikejar oleh kepadatan jadual kerja, saya hanya sempat meluangkan masa bersama-sama kakitangan menadah kitab ini pada hari Khamis lalu. Alhamdulillah, kuliah yang disampaikan oleh Timbalan Mufti Negeri Kelantan, Yang Berhormat Dato’ Haji Nik Abdul Kadir bin Haji Nik Muhammad itu saya lihat sangat baik dan bermanfaat terutamanya ke arah melahirkan kakitangan kerajaan yang mempunyai jiwa yang bersih.
Tasauf sebenarnya tidak asing di dalam Islam. Namun mungkin kerana masyarakat disibukkan dengan soal-soal fiqh, sehingga kadang-kadang terlepas pandang tentang kepentingan penyucian jiwa. Sedangkan selalunya iman iaitu amalan hati disebut terlebih dahulu sebelum amal yang merupakan amalan anggota fizikal. Firman Allah SWT :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
Yang bermaksud : Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. – Surah al-Kahfi, ayat 30

Ayat di atas jelas sekali meletakkan bahawa beriman dan beramal soleh merupakan dua syarat yang perlu ada untuk seseorang itu diberikan ganjaran yang baik oleh Allah SWT. Bahkan betapa pentingnya iman yang merupakan gerak kerja hati, ia diletakkan lebih dahulu daripada amal. Di dalam hadis, Rasulullah SAW pernah menerangkan persoalan ihsan yang juga merupakan gerak kerja hati. Sabda Baginda SAW tentang ihsan sewaktu ditanya oleh Jibril yang datang menyerupai seorang lelaki :
أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
Yang bermaksud : Kamu mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihat Allah, dan jika tidak (mampu membayangkan) kamu melihatnya, maka (ketahuilah) Dia melihatmu.



Justeru selagi mana roh bercampur baur dengan jasad, maka selagi itulah pengajian tasauf tidak boleh dipisahkan dengan pengajian fiqh. Bukan tidak penting berbincang tentang soal sah batal solat dan sebagainya, tetapi penting juga untuk turut dibincangkan persoalan hati yang bersih bagi memastikan amalan diterima oleh Allah SWT. Hati yang bersih sahaja yang akan menerima hidayah daripada Allah SWT. Khususnya di bulan Ramadhan ini yang disebut sebagai bulan hidayah, sekalipun hidayah datang mencurah-curah, jika tidak ditadah dengan hati yang bersih, ia tidak akan memberikan apa-apa manfaat. Umpama hujan yang turun dengan lebat dari langit, tetapi jika tidak ditadah dengan bekas atau tempayan, ia hanya akan berlalu begitu sahaja.

Oleh yang demikian, apabila pengajian tasauf dimulakan di dalam kompleks Kota Darul Naim semenjak awal tahun ini, saya sungguh-sungguh merasa gembira. Sekalipun saya rasa sudah terlewat sebenarnya pengajian ini dimulakan dengan usia kerajaan Kelantan di bawah dasar Membangun Bersama Islam yang mencecah 21 tahun pada tahun ini, saya tetap gembira dengan perkembangan positif ini. Hakikatnya, di luar pagar komples Kota Darul Naim, pengajian tasauf sudah diajar di pondok-pondok begitu lama. Tok Kenali atau nama sebenarnya Muhammad Yusuf bin Ahmad yang meninggal dunia pada tahun 1933 juga terkenal sebagai seorang tokguru tasauf. Saya amat berterima kasih kepada seluruh tuan-tuan guru pondok samada yang telah pergi atau yang masih ada bersama kita yang tidak jemu-jemu mengajar persoalan dosa pahala syurga neraka kepada rakyat Kelantan. Hasilnya, hari ini, rakyat Kelantan dikenali sebagai masyarakat beragama yang tidak senang digugat dengan gelombang jahiliyyah. Apa-apa dasar dan pelaksanaan yang selari dengan syariat Islam yang cuba diperkenalkan oelh kerajaan negeri Kelantan diterim baik oleh masyarakat kerana mereka sudah diajar oleh tuan-tuan guru pondok begitu lama. Tinggal lagi untuk mempraktikkannya di dalam kerangka undang-undang. Semoga Allah mengurniakan mereka dengan sebaik-baik ganjaran.

Hari ini, dasar Membangun Bersama Islam di Kelantan diterima dengan baik oleh rakyat. Tidak ada sebarang masalah yang timbul sekalipun dulu ramai yang melabel bahawa Islam tidak boleh memerintah. Jika adapun sedikit gangguan hanyalah ibarat nyamuk yang berdesing di luar kelambu termasuklah usaha untuk menyaman kerajaan negeri ekoran isu judi beberapa minggu lepas. Saya anggap saman ini hanyalah satu usaha untuk mengacau keharmonian rakyat Kelantan. Jika diturutkan hati, ingin saja saya perkenalkan dasar Membangun Bersama Islam dan Iman, kerana iman itulah yang berkait rapat dengan hati. Namun, bimbang nanti disalahfaham oleh golongan-golongan tertentu, saya mengira setakat ini cukup sekadar kita menyebut Membangun Bersama Islam. Itupun ada yang berpura-pura tidak faham lantas menyerang kita dari pelbagai sudut.

Apapun saya berharap semoga pengajian tasauf seperti ini berterusan sehingga berjaya melahirkan golongan pekerja yang bersih jiwanya. Saya percaya, kebersihan jiwa ini yang melahirkan kerja yang berkualiti. Dalam erti kata lain, bersih jiwa bersih amalan, insya-allah. Inilah yang menggembirakan hati saya sebagai seorang yang diberikan amanah oleh Allah SWT menerajui pentadbiran negeri Kelantan. Saya mengharapkan agar apa yang dilakukan ini menjadi ganjaran yang baik di sisi Allah SWT sebagai bekalan untuk menghadapNya kelak, insya-Allah.

NIK ABDUL AZIZ BIN NIK MAT,
Menteri Besar Kelantan



Thursday, August 11, 2011

You Get What You Give!


Pagi ini kuliah subuh menyentuh mengenai kelebihan Ramadhan. Dimulakan dengan kisah 10 orang sahabat yang disahkan dan dijamin oleh Rasulullah saw sebagai ahli syurga. Maknanya belum mati lagi dah diberi “sijil pengesahan” sebagai ahli syurga.  Kita pun ada macam-macam sijil tapi semua tak laku disisi Allah swt.

Salah seorangnya ialah Talhah bin Abdullah. Beliau memeluk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif dalam setiap peperangan selain Perang Badar. Dalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

Satu peristiwa berlaku pada zaman Rasulullah saw, ada tiga orang sahabat karib, dua diantara mereka meninggal dunia di medan perang, tetapi seorang meninggal di atas katil. Sahabat Rasulullah saw iaitu Talhah bin Abdullah bermimpi melihat orang yang meninggal di tempat tidur itu lebih dahulu masuk surga, lalu sahabat yang bermimpi itu mendatangi Rasulullah saw dan bertanya kenapa berlaku demikian rupa, padahal dia bukan meninggal di medan perang, atau mati syahid kerana jihad fisabilillah.

Apa Jawab Rasulullah SAW :"Bukankah dia sholat dan beribadah dan dia bertemu dengan Ramadhan maka dia berpuasa, maka bila ditimbang dengan dua sahabat yang meninggal di medan perang itu maka jauh sekali perbezaan timbangannya. (Aritnya lebih besar pahalanya). Maka tidak hairanlah kita mengapa para sahabat memanjatkan doa sebelum tiba Ramadhan, agar mereka diberi kesempatan untuk hidup dalam bulan Ramadhan.dan mereka sangat merindui datangnya bulan ini.

Rasulullah saw pernah mengingatkan :" Barangsiapa yang puasa di bulan Ramadhan, karena mengharap redho Nya, dan barangsiapa yang mendirikan qiyamul lail di dalamnya dan barangsiapa yang mendapati malam lailatul qadar maka Allah akan ampuni segala dosa yang dia miliki".

Rasulullah SAW bersabda : "Ingat bahwa amal perbuatan sesuatu bukan semata-mata yang menyebabkan seseorang masuk surga!." para sahabat hairan maka ditanyakan:"Apakah termasuk anda ya Rasulullah?" "Sama saya juga!" Maka para sahabat bertanya lagi apapula yang menyebabkan seseorang masuk surga. Jawab Rasulullah SAW ;"Karena Rahmat dan Magfirah (ampunan) dari Allah SWT kita boleh masuk surga..". Kedua hal tersebut ternyata ada di bulan Ramadhan, sebagaimana kita ketahui dalam hadist di nyatakan bahwa Ramdhan ini 10 hari yang pertama mendapat rahmat Allah swt, dan 10 hari yang ke dua mendapat Magfirah Nya dan 10 hari yang ke tiga itqum minannar (dijauhkan dari api neraka).
Terdapat dikalangan kaum muslimin yang keliru, mereka sanggup bersusah payah untuk ke masjid atau surau untuk mendirikan solat sunat Terawih. Tetapi tidak  ambil berat atau tak kisah untuk solat fardhu berjemaah di surau atau masjid. Walhal yang wajib lebih utama berbanding yang sunat.

Begitu juga amalan membaca Al Quran, ganjaran setiap huruf digandakan sepuluh pahala. Namun tidal begitu ramai yang sanggup membaca Al Quran. Tapi baca surat khabar mungkin lebih lama lagi masa diperuntukan. Marilah kita peruntukan lebih waktu kita untuk merebut sebanyak mungkin keberkatan bulan Ramadhan tahun ini.  Keberkatan bulan Ramadhan ini tidak memberi apa-apa erti atau kepada diri kita, jika kita tidak buat sesuatu untuk mendapat keberkatannya. You Get What You Give!

Wednesday, August 10, 2011

Tilawah dan Ramadhan

Oleh: Mochamad Bugi
 
0diggsdigg
email

dakwatuna.com – Pasti kita semua sudah tahu sabda Rasulullah SAW ini: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Karena itu Rasulullah SAW memperbolehkan kita untuk iri kepada mereka. “Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang dianugerahi Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia membacanya ketika menunaikan shalat di waktu malam dan siang hari; dan orang yang diberi harta lalu ia menyedekahkannya di waktu malam dan siang hari.”

Tentu saja rasa iri yang dimaksud Rasulullah SAW bukan dalam bentuk ekspresi negatif, tapi meniru apa yang dilakukan oleh manusia-manusia terbaik itu: belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah SAW sangat menghargai orang yang berusaha mengikuti jejak orang-orang terbaik itu meski belum sempurna dalam membaca Al-Qur’an. Kata Rasulullah SAW, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia pandai membacanya, beserta para malaikat pembawa catatan amal, yang suci dan berbakti. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan gagap dan ia kesulitan dalam membacanya, maka ia mendapatkan dua pahala.”

Rasulullah SAW juga menimbang seseorang dari kedekatannya dengan Al-Qur’an. Beliau membuat perumpamaan, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah atrujah, baunya harum dan rasanya enak. Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma, ia tidak beraroma tapi rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti bunga wangi-wangian, baunya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah hanzalah, ia tidak beraroma dan rasanya pahit.”

Dikali yang lain Rasulullah SAW menegaskan bahwa, “Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Qur’an, maka ia bagaikan rumah yang rusak.” Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an baik sendiri maupun bersama-sama. Rasulullah SAW bersabda, “Jika suatu kaum berkumpul di dalam satu rumah Allah dan membaca Al-Qur’an serta mempelajarinya secara bersama-sama, niscaya turun ketenangan kepada mereka. Mereka dilingkupi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk-Nya yang ada di sisi-Nya.”

Tidak hanya di dunia bekas interaksi kita dengan Al-Qur’an kita rasakan. Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari Kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan para ahlinya yang ketika di dunia mengamalkannya. Mereka didahului oleh surat Al-Baqarah dan Ali Imran, keduanya membela orang-orang yang membaca dan mengamalkannya.”

Dan, surga tingkat apa yang akan kita tinggali di akhirat nanti pun ditentukan oleh banyak sedikitnya hafalan Al-Qur’an kita. Rasulullah berkata, “Ketika di surga dikatakan kepada orang-orang yang hafal Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah dalam derajat surga dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu adalah di akhir ayat yang engkau baca.”

Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk menjaga hafalan Al-Qur’an. “Selalu jagalah Al-Qur’an ini, demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sungguh Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang ada dalam ikatannya.” Rasulullah SAW menegaskan bahwa, “Sesungguhnya orang yang hafal Al-Qur’an bagaikan pemilik unta yang terikat. Jika ia selalu menjaganya, maka ia memegangnya. Sedangkan jika membiarkannya, maka unta tersebut akan lepas dan kabur.”

Pahala Tilawah di Bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan ini kita diminta oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa dengan ihtisaban seperti dalam sabdanya, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuhi keimanan dan ihtisaban, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ihtisaban maksudnya penuh perhitungan. Berhitung seperti seorang pedagang mengkalkulasi berapa keuntungan yang ingin didapat dari dagangannya. Kenapa Rasulullah SAW meminta kita berhitung dalam berpuasa di bulan Ramadhan? Karena Ramadhan bulan mega bonus!
Kita tentu sudah tahu bahwa membaca Al-Qur’an satu huruf akan diberi pahala oleh Allah SWT 10 point. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan sebanding dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miimadalah satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.”

Tapi, khusus di bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah menjadi 70 kali lipat. Setidaknya hal itu di surat pada hadits cukup panjang ini. “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka  kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikit pun.”

Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah SAW berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan), dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Ash-habani dalam At Targhib. Namun, didhaifkan oleh Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib dan Dhiya Al-Maqdisi di Sunan Al-Hakim. Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah mengkategorikan ini hadits munkar.

Jika kita tidak bisa menggunakan kelipatan pahala 70 kali atas tilawah yang kita kerjakan di bulan Ramadhan, mungkin kita bisa menggunakan hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim ini: “Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.”Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan, “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.”

Jadi, ketika membaca ayat pertama surat Al-Baqarah yang terdiri dari 3 huruf, yaitu alif lam mim, kita punya potensi mendapat puasa antara 3 x 10 = 30 sampai 3 x 700 = 2.100.

Menurut penelitian Imam an-Nasafi yang dicatatkan dalam kitab Majmu Al-Ulum Wa Mathliu An-NujumAl-Futuhuat Al-Ilahiyah, Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat, dan 1.027.000 huruf. Jadi, jika berhasil mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an sekali saja, kita akan dapat pahala sebesar 1.027.000 x 700 = 718.900.000. dan dikutip Imam Ibn Arabi dalam mukaddimah

Rasulullah SAW memberi batas bawah bagi seorang muslim dalam hal tilawah adalah minimal khatam Al-Qur’an sekali dalam sebulan. Tapi, muslim yang cerdas tentu tidak merasa cukup Cuma khatam sekali di bulan Ramadhan. Kalau cuma sekali ya rugi karena tidak beda dengan bulan-bulan yang lain. Jadi, harus bisa khatam lebih dari dua kali.

Terlebih lagi ketika Lailatul Qadar. Jangan sampai tidak tilawah di malam itu. Allah SWT menyatakan bahwa nilai Lailatul Qadar lebih baik daripada 1.000 bulan atau setara dengan 354.000 kali malam biasa. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
Berapa pahala yang bisa kita peroleh jika membaca 1 juz Al-Quran pada saat Lailatul Qadar? Jika kita asumsikan jumlah huruf dalam setiap juz sama, maka angkanya kira-kira 1.027.000 : 30 = 34.233 huruf. Jumlah potensi pahala yang bisa kita dapat di malam itu adalah 34.233 x 700 x  354.000 = 8.482.937.400.000. Subhanallah, angkanya triliunan!

Surat Al-Qadr turun karena suatu saat Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat tentang seseorang dari Bani Israil yang berjuang fii sabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Laki-laki itu selalu beribadah pada malam hari hingga pagi dan di siang harinya berjihad memerangi musuh.
Para sahabat kagum sekaligus iri kepada lelaki itu. Allah memberi kesempatan kepada lelaki itu selama 1.000 bulan untuk konsisten beribadah dan berjihad. Sementara, para sahabat banyak yang masuk Islam pada umur tidak muda lagi. Sementara potensi usia hidup umat Nabi Muhammad SAW hanya 60 tahun. Jadi, para sahabat merasa tidak mungkin menyamai ibadah yang dilakukan oleh lelaki dari Bani Israil yang diceritakan Rasulullah SAW.

Allah Maha Adil. Allah SWT memberikan Lailatul Qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jika kita beribadah saat Lailatul Qadar, Allah SWT menggandakan nilainya menjadi 354.000 kali lipat. Tilawah satu juz dapat pahala 8.482.937.400.000. Kalau 3 juz, 25.448.812.200.000! Maka merugilah orang yang tidak memperbanyak tilawah saat Lailatul Qadar.

.

SELESAIKAN URUSAN DENGAN ALLAH DAHULU



Pagi ini saya punyai dua tiga urusan penting yang perlu diselesaikan. Pertama hantar anak ke sekolah kemudian terus ke rumah Mok Ngal (ibu saudara orang rumah saya) untuk mengaji. Kedua ,ke klinik mengaji, juga di bangunan MARA  Kemudian hari ini juga saya perlu ke Pejabat Agama untuk urusan pembayaran zakat dan fitrah.

Dan yang paling ‘urgent’ iailah mendapatkan tanda tangan daripada dua orang jiran rumah saya untuk surat kebenaran membina garage dalam kawasan rumah saya sendiri?. Ini adalah kehendak Majlis Perbandaran Kuala Terengganu bagi kelulusan pelan rumah yang sudah dibina lebih sepuluh tahun lalu tetapi pelannya masih belum selesai, kerana kerenah birokrasi dan kelembapan serta ketidak cekapan urusan MPKT. Maaflah kalau ada orang MPKT yang baca tulisan saya. Tapi itulah hakikatnya. Apa boleh buat MPKT ada kuasa boleh saman tuan punya rumah jika tidak akur dengan arahannya.

Akhirnya saya memutuskan pergi mengaji, walaupun terpaksa menunggu sejam lebih untuk masuk membaca Quran depan Ustaz Fuad, Tok Guru mengaji saya yang banyak membimbing orang dewasa yang kurang celik Quran, termasuklah diri saya, tetapi setelah bersara ada keinsafan dan kesedaran untuk membetulkan bacaan kitab suci AlQuran, Sepatutnya urusan baca Quran telah selesai di bangku sekolah lagi tetapi oleh kerana sesuatu yang tidak dapat dielakkan saya tergolong dalam golongan yang lemah dalam membaca Al Quran. Salah saya sendiri.

Alhamdulillah jam 10.00 pagi saya selesai mengaji dengan Ustaz Fuad, kemudian saya ke Pejabat Agama Islam untuk menjelaskan bayaran zakat simpanan dan zakat fitrah untuk isteri dan anak-anak serta ibu saya. Beres semuanya. Tak ramai yang datang menjelaskan zakat fitrah, mungkin kerana terlalu awal lagi kot bagi kebanyakan umat Islam. Mungkin mereka menunggu waktu sunat iaitu malam atau pagi raya kot?

Memandangkan saya akan menunaikan umrah pada 16 Ogos ini saya perlu selesaikan urusan saya dengan Allah terutama soal zakat fitrah, jika tidak nanti segala ibadah akan tergantung tidak diterima Allah.

Selesai urusan saya dengan Allah, jam menunjukkan 11 pagi. Hari dah lewat, Selepas mendapatkan tanda tangan dua orang jiran saya, surat kebenaran bina garage kereta di rumah saya sendiri, saya ke pejabat pesuruhjaya sumpah untuk pengesahan surat tersebut. Kemudian bergegas ke pejabat tukang pelan di Losong untuk menyerahkan surat tersebut untuk dihantar kepada MPKT. Kebetulah pembantu am pejabat pelan baru nak ke MPKT untuk menghantar surat. Alhamdulillah surat saya dapat di hantar bersama pada saat itu.

Apa yang saya dapat iktibar daripada peristiwa kecil ini, ialah APABILA KITA SELESAIKAN SEGALA URUSAN KITA DENGAN ALLAH, MAKA ALLAH AKAN PERMUDAHKAN SEGALA URUSAN KITA SESAMA MANUSIA.

Saya sangat yakin dan percaya jika dalam hidup ini, kita dahulukan segala urusan kita dengan Allah mengatasi  urusan lain, maka Allah akan memberi pertolongan kepada kita untuk menyelesaikan apa jua urusan atau masalah yang kita hadapi. Contoh yang paling mudah, jika dah masuk waktu solat, walau apapun tugas atau kerja yang kita lakukan, tentulah tidak dapat menandingi kepentingan menyahut seruan atau suruhan Allah. Kita tinggalkanlah kerja-kerja lain, lakukanlah solat. Kemudian sambunglah tugas yang perlu diselesaikan.

Sewaktu bertugas dahulu saya sering menghadiri mesyuarat dengan pegawai atasan, Kadang-kadang mereka mengendalikan mesyuarat tidak peduli langsung untuk menghormati wakktu. Solat zohor hampir waktu asar. Apa nak buat manusia selalu dilekakan oleh urusan dunia. UTAMAKANLAH URUSAN DENGAN ALLAH, INSYAALAH ALLAH AKAN SELESAIKAN URUSAN KITA.

Air Ramadhan

Oleh: Imam Rohani
0diggsdigg
email
dakwatuna.com - Air adalah asal muasal dari segala macam bentuk kehidupan. Dari air bermula kehidupan dan karena air peradaban tumbuh dan berkembang. 70% bumi terdiri dari air, dan tubuh kita sebagian besar terdiri dari air. Tanpa air peradaban akan surut dan bahkan kehidupan akan musnah karena bumi akan menjadi sebuah bola batu dan pasir raksasa yang luar biasa panas, masif, dan mengambang di alam raya menuju kemusnahan.

Demikian halnya dengan asal muasal dan maksud penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan ketaatan kepada RabbNya, pengingkarannya akan mendapatkan balasan sebagaimana umat-umat terdahulu, seperti kisah nabi kaum nabi Nuh As yang ditenggelamkan oleh air bah, kaum nabi Luth As yang di azab dengan gunung berapi, dsb. Ketidakadaan ketaatan dan ibadah kepada RabbNya, akan mendatangkan azab dan kemusnahan kehidupan manusia

Allah SWT berfirman :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)

Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu).” (QS. Al-Hajj: 48)

Hadits Nabi SAW :
Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal RA., dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Turmudzi)

Di antara waktu kehidupan manusia dalam melakukan ibadah dan ketaatan kepadaNya dalam 12 bulan, ada satu bulan yang sangat istimewa yaitu Ramadhan. Bulan yang penuh ampunan, bulan dibelenggunya syaithan. Bulan lebih baik dari seribu bulan, bulan amalan ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT. Ibarat siklus air (hidrologi), Ramadhan adalah puncak siklus ketaatan dan ibadah kepada RabbNya.

• Air Ramadhan adalah kebutuhan dasar hidup manusia

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa manusia dapat tahan hidup lebih lama tanpa makanan dari pada tanpa air. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang tidak membutuhkan air. Ibadah dan ketaatan kepada Rabbnya adalah kebutuhan dasar manusia, dan Ramadhan adalah waktu puncak ibadah dan ketaatan.

• Air Ramadhan yang dinantikan

Ibarat kita melakukan perjalanan panjang kehidupan selama satu tahun perjalanan, maka dahaga itu sangatlah kuat, dan Allah SWT telah menyediakan air pelepas dahaga itu yaitu Ramadhan. Kekeringan ruhiyah , kegersangan jiwa harusnya tersirami oleh amalan Ramadhan kita, dan ia juga menjadi bekal menghadapi perjalanan kehidupan selanjutnya.

• Air Ramadhan yang menyejukkan

Jika lingkungan kita banyak terdapat air maka suasana menjadi sejuk, tumbuhan yang mengandung dan menyerap air, akan membuat rumah tampak asri dan indah. Amalan-amalan Ramadhan yang salah satu ibrahnya adalah ibadah sosial, harusnya menjadikan menjadi pribadi yang indah karena keindahan akhlaqnya orang yang berpuasa dan dapat menyejukkan lingkungan sosialnya.

• Air Ramadhan yang menyegarkan

Di suatu hari yang sangat terik, terkadang kita sangat menginginkan minum sesuatu yang sangat melegakan dan menyegarkan tubuh kita, semisal es cendol, kelapa muda, es pisang ijo, atau yang lainnya. Demikian halnya dalam kehidupan kita yang disibukkan dengan sejuta aktivitas, maka kita memerlukan sesuatu yang dapat merefresh kepenatan pikiran dan rutinitas, ia adalah amalan Ramadhan kita.

• Air Ramadhan menghidupkan kembali

Ketika kemarau panjang, banyak tumbuhan mengering dan bahkan tampak mati, tapi saat musim hujan tiba tumbuhan menjadi sangat cepat tumbuh, tampak hijau dan sangat subur. Pasang surut kehidupan keimanan itu adalah biasa, iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang, namun jangan dibiarkan terlalu lama kekeringan keimanan kita, karena ia akan menyengsarakan dan mematikannya. Dan Ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk menghidupkannya.

• Air Ramadhan penghilang debu dan noda

Air adalah bahan utama untuk membersihkan debu dan noda, dan untuk hasil yang lebih maksimal dapat ditambahkan detergen dan pewangi. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa, baik disadari ataupun tidak disengaja, dan sebaik-baik orang yang salah dan berdosa adalah mereka segera bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Ramadhan bulan magfirah (pengampunan). Saat yang paling tepat kita menghapus debu dan noda kehidupan, dan dibarengi dengan amalan-amalan Ramadhan kita

Wallahu A’lam bishshawab.

Tuesday, August 9, 2011

Isu murtad: Bukti ditemui dalam tong sampah

Fazy Sahir | August 9, 2011

FMT turut menerima tentatif program serta kertas soalan sebagai bukti dakwaan mengaitkan kegiatan penyebaran agama bukan Islam kepada penganut agama Islam.
EXCLUSIVE
 
PETALING JAYA: Di sebalik kontroversi yang membabitkan Jabatan Agama Islam Selangor (Jais) kerana menyerbu Gereja Methodist Damansara Utama (DUMC) di Petaling Jaya minggu lalu, kini terdapat bukti yang menjelaskan keadaan sebenar pada majlis makan malam tersebut.
FMT turut menerima tentatif program serta kertas soalan bersifat ‘menguji pengetahuan’ dalam bahasa Malaysia dan Inggeris – sebagai bukti dakwaan mengaitkan kegiatan penyebaran agama bukan Islam kepada penganut agama Islam.

Soalan yang tertera adalah menjurus kepada fahaman agama Islam secara keseluruhannya seperti membabitkan; Nabi Muhammad, Al- Quran, rukun Islam, kitab, solat dan lain-lain.

Kertas dua halaman yang mengandungi 12 soalan itu didakwa diberikan kepada para peserta yang menyertai majlis makan malam tersebut yang turut disertai oleh penganut agama Islam.
Kertas tersebut dibahagi kepada empat corak soalan iaitu isi tempat kosong, beri jawapan ya/tidak, padanan jawapan dan pilihan jawapan.

Antara soalan itu adalah ‘Apakah maksud perkataan Islam, Muslim, Quran? Apakah enam perkara iman seseorang Muslim, solat lima waktu dalam Islam, malaikat manakah yang dipercayai menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad dan tahun bilakah Nabi Muhammad dilahirkan.

Berapa banyak Surah dalam Al-Quran? Berapa kali nama Isa disebut di dalam Al-Quran dan kenapa orang Islam bersalam menggunakan sarung tangan?

Pendedahan itu dibuat oleh Pengerusi Sahabat Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM) Dr Dzulkhaini Husain yang mendakwa kepingan-kepingan kertas soalan itu ditemui dalam sebuah tong sampah.
 
Sambil mempertahankan tindakan Jais yang memeriksa gereja terbabit  Dzulkhaini berkata turut menjadi tanda tanya apabila kertas soalan seperti itu diagihkan dalam majlis makan malam yang dikatakan  untuk membantu golongan tidak bernasib baik dan memerlukan.

“Ketika kejadian itu terdapat kira-kira 100 orang dengan nisbah kehadiran satu perlima daripadanya adalah penganut Islam; 12 orang dewasa (tiga lelaki, sembilan wanita) dan lapan kanak-kanak,” katanya.

Beliau memberitahu apabila Jais masuk ke dalam, kertas soal jawab ini dah berkecai-kecai dan dimasukkan ke dalam tong sampah.
“Kalau niat baik kenapa nak masuk tong sampah? Apabila masuk tong sampah, Jais sita untuk dijadikan maklumat (bukti) di mahkamah.

“Malah bila mereka ini keluar seorang demi seorang, Jais meminta kad pengenalan (IC) untuk dilihat. Jais tidak ambil kad pengenalan daripada kanak-kanak memandangkan mereka tidak ada IC. Tindakan Jais ini benar.

“Tidak berlaku mereka (Jais) pecah pintu, hal itu berlaku diluar gereja, dengan sasaran (orang). Namun masih ada yang melemparkan fitnah mengatakan Jais pecah pintu dan berlaku kekasaran,” jelasnya.

Nyanyian “Alhamdulillah”, “Allahuakhbar

Sementara itu, didapati tentatif program makan malam tersebut turut diselit nyanyian berupa lagu – Alhamdulillah dan Allahuakhbar.

Melalui penelitian FMT, program bermula jam 6.30 petang, Rabu lalu dan sepatutnya berakhir jam 9.55 malam seperti yang tersedia dalam tentatif program itu.
Turut diselitkan dalam tentatif program berkenaan ialah ucapan aluan daripada Paderi Kanan DUMC Daniel Ho serta beberapa pembentangan kertas kerja projek oleh beberapa peserta.
Kemudian bermulalah nyanyian ‘Alhamdulillah dan Allahuakhbar’ dan sesi sembahyang yang diakhiri dengan nyanyian lagu ‘Sejahtera Malaysia’.

“Adakah ini ada sangkut-paut dengan ‘thanksgiving’ dan ‘methodist’? Mengapa ayat-ayat yang diharamkan digunakan oleh orang bukan Islam dalam enakmen agama bukan Islam (kawalan perkembangan agama lain dikalangan orang Islam 1988).
Sesudah itu, pada pukul 9 15malam, berlaku satu upacara sembahyang ‘intercession’ iaitu gaya sembahyang orang Kristian di mana meminta Nabi Isa untuk memohon kerestuan Tuhan mereka.
“Ingat pada masa itu ada 20 penganut agama (Islam) kita termasuk kanak-kanak ada di tempat itu, terpesong atau tidak, akidah mereka? Terpesongkan?

“Perkara ini dikeruhkan lagi, ada soal jawab tentang apa dia agama Iislam, mengapa orang Kristian methodist perlu melakukan perkara ini?,” soal Dzulkhaini.

Pada Rabu lalu media melaporkan Paderi Kanan DUMC Daniel Ho menjelaskan bahawa majlis makan malam di gereja terbabit adalah dianjurkan atas semangat 1Malaysia oleh Harapan Komuniti, sebuah NGO yang menawarkan bantuan kepada golongan yang tidak bernasib baik dan memerlukan.

.

THE THIRD POWER


Ms. Ambiga, who is ethnic Indian in a country that is mostly Malay and mostly Muslim, said that the protesters “exploded many myths” about Malaysians, such as the notion that people of different ethnic and religious backgrounds could not work together and that the middle class was “too comfortable to step up to the plate.” 

Her photograph has been burned by ethnic Malay nationalists, there have been calls to revoke her Malaysian citizenship and she has been threatened, via text message, with death. The movement she leads, Bersih, an alliance of 62 nongovernmental organizations pressing for electoral reform, has been declared illegal, and a demonstration that brought thousands of its followers into the streets of this capital city last month ended with nearly 1,700 arrests.

But having stared down these challenges, Ambiga Sreenevasan, 54, a University of Exeter-educated lawyer and former president of the Malaysian Bar Council, is now being hailed by many here as the “new symbol of civil society’s dissent.”

“She has not been afraid to speak the truth to power,” said Ibrahim Suffian, director of the Merdeka Center, an independent polling firm in Kuala Lumpur.

Over peppermint tea in a busy cafe recently, Ms. Ambiga squirmed uncomfortably at the attention she had attracted.

“This focus on me is actually ridiculous,” said Ms. Ambiga. “It’s a true citizens’ movement, because the citizens have taken ownership of Bersih.”

The Coalition for Clean and Fair Elections, or Bersih — “clean” in Malay — got its start in November 2007. Members of the political opposition and civic groups defied restrictions on gatherings of more than five people without a permit and rallied for changes in an election system they said unfairly favored the governing coalition, which has been in power since Malaysia achieved independence in 1957.

The demonstrators were dispersed by tear gas, and some were arrested. They did not achieve their immediate demands, which included better access to the state-owned news media by opposition candidates and the use of indelible ink on voters’ thumbs to help prevent fraud. But their action was credited with winning support for the opposition and contributing to the governing coalition’s poor showing in the 2008 election, when it fell below a two-thirds majority for the first time.

Ms. Ambiga did not attend that rally in 2007, but earlier in the year she had led a march of more than 2,000 lawyers calling for judicial reform. And while she runs a commercial litigation practice, she has also devoted considerable time to pro bono cases involving the rights of squatters, indigenous people and women. In 2009 she became the first Malaysian to receive a U.S. State Department “International Women of Courage” Award.

Maria Chin Abdullah, executive director of Empower, a nongovernmental organization that promotes women in politics, said it was because of Ms. Ambiga’s “commitment, dedication and leadership in defending human rights and democracy” that she and other N.G.O. leaders approached her to lead Bersih 2.0, the second incarnation of the electoral reform movement.

Ms. Ambiga agreed, on the proviso that it be “civil society-driven,” and not simply a tool of opposition parties.

Again, Bersih pushed for an end to electoral fraud, media access for all parties and a minimum 21-day campaign period before any election. But Ms. Ambiga said she never expected the event to unfold the way it did.

What began as a call for reform morphed into widespread anger at the government’s handling of the activists. When Bersih was declared an unregistered and therefore illegal organization, barred from demonstrating in the capital, and more than 200 people were arrested in the weeks leading up to a July 9 protest, Ms. Ambiga said, the effect was to prompt even more people to join in the rally. Bersih estimated that there were 50,000 protesters; the police put the figure at 5,000 to 6,000.

As the demonstrators tried to march to Stadium Merdeka, the police fired tear gas and water cannons to disperse the crowds. Among those arrested was Ms. Ambiga, who, along with the others, was released that night.

“While I was sitting there the most wonderful things were happening in Kuala Lumpur, which I could only read about that night,” she said. “It brought tears to my eyes. I just didn’t for a minute expect Malaysians to rise to the occasion in the way they did that day.”

Even though the rally was blocked, she said, Bersih has heightened public awareness of the need for free and fair elections. “A number of people have told me that they may not have voted before, but they’ll definitely vote next time,” she said.

Even now, though, she does not call herself an activist.
“I think I’m an advocate for a cause,” she said. “In a sense it was a learning experience for me, pulling myself out of the comfort of the Bar Council and all its support that it had, including finances, coming into this organization that didn’t have a single cent.”

Ms. Ambiga, who is ethnic Indian in a country that is mostly Malay and mostly Muslim, said that the protesters “exploded many myths” about Malaysians, such as the notion that people of different ethnic and religious backgrounds could not work together and that the middle class was “too comfortable to step up to the plate.”

She attributes her willingness to get involved in public causes to her upbringing. She cites as an inspiration her late father, a doctor who helped establish the National Kidney Foundation.

“I suppose I’ve been brought up to always try and do the right thing no matter what the odds,” said Ms. Ambiga.

Haji Sulaiman Abdullah, also a former president of the Bar Council, said he was not surprised by “the breadth and depth of leadership she has brought to the Bersih movement.”

“Even the ordinary man in the street has come to appreciate what Ambiga stands for,” he said.
The events of recent weeks offer plentiful fodder for a compelling election campaign narrative, but Ms. Ambiga shoots down any possibility that a political career could be in the offing. “I don’t have the stomach for it,” she said.

In fact, it has been Ms. Ambiga’s ability to define the Bersih movement as a cause apart from partisan politics that has enabled her to unite Malaysians, said Mr. Suffian, of the Merdeka Center.
Bersih has pledged that its campaign would continue and has called for people to wear yellow on Saturdays, but no more protests are planned for now.

“People keep saying, ‘What next?,’ but, quite frankly, I think the citizens have taken it upon themselves to organize things around the country using the yellow theme, the theme of democracy. What I think Bersih has achieved is the awakening,” Ms. Ambiga said.

She said there have been positive responses from the Election Commission, for example, making it possible for Malaysians living overseas to vote. Its announcement that it would introduce a biometric fingerprinting system, she said, was an admission that there had been a problem of election fraud.

When pressed on how Bersih would respond if the government did not meet other demands, such as equal media access, before the next election, which must be held by mid-2013, Ms. Ambiga’s tendency to deflect the focus from herself resurfaced.

“It’s not me making the decision,” she said. “It will be the rakyat” — Malay for “people” — “making the decision.”

SEMAK KUALITI PUASA KITA


Sudah sembilan hari kita berpuasa. Alhamdulillah setakat ini belum seharipun kita tinggalkan puasa, kecualilah wanita yang uzur syarie.

Bagaimana agaknya nilai atau kualiti puasa kita ? Jika hanya sekedar tak makan tak minum, ramai orang bukan Islam mampu berbuat demikian. Maksudnya segala amalan cakap bohong, mengumpat, melihat benda-benda yang haram, hasad dengki, mencuri tulang  sewaktu bekerja. Tidak amanah dan  perkara-perkara yang sewaktu dengannya berjaya kita tinggalkan, InsyaAllah matlamat puasa agar kita menjadi insan bertakwa mungkin tercapai.

Bagaimana pula solat lima waktu, sudah terlaksana atau tidak. Jika masih tidak cukup atau selalu lewat meuunaikannya, tentu kesan atau prestasi puasa kita perlu disemak semula. Dua hari lepas jiran rumah saya meninggal dunia. Usianya dah hampir 75 tahun. Tapi ada juga orang yang baru berusia 35 tahunpun meninggal dunia. Umur kematian tidak boleh jangka.

Bulan puasa ini roh umat Islam meningkatkan tinggi, sebabnya perangai atau sifat haiwan dikekang dan dikawal. Makan, minum sex tidak dibenarkan waktu siang hari. Bila tabiat haiwaniah ini dapat di kawal,  rohani akan meningkat. Itulah sebabnya masjid dan surau agak ramai yang hadir berjemaah, terutama waktu Isyak dan Terawih. Sanggup pula solat sampai 20 rakaat ?

Bila masuk sahaja awal Syawal, masjid dan surau seperti sediakala. Kalau  jemaahnya hanya sekedar dua saf, maka itulah kekal keadaannya. Mengapa berlaku demikian, sebabnya waktu itu segala tingkah laku haiwan seperti makan, minum dan apa sahaja pantang larang sewaktu bulan puasa sudah boleh dilakukan bila-bila masa sahaja. Maknanya sifat haiwan sudah mulai menguasai diri kita. Cuma kita belum jadi haiwan sahaja.

Itulah agaknya salah satu hikmah berpuasa, Allah hendak mengembalikan insan kepada sifat fitrah iaitu suci bersih. Apabila sifat malaikat mampu dibangunkan dalam jiwa insan sudah pastilah tabiat PATUH, TAAT, AKUR DAN TAKUT kepada perintah Allah menjiwai diri umat Islam.

Amalan puasa sebenarnya ingin melahirkan  insan yang sentiasa sedar, insaf dan takut bahawa setiap masa, saat dan ketika, walau dimanapun kita berada, Allah sentiasa melihat,mendengar, memerhati dan mengetahui apa yang kita lakukan, fikirkan, cakapkan, atau rasakan. Allah tidak akan menerima amalan puasa kita kalau hanya sekedar tak makan dan tak minum tetapi jika maksiat mata, telinga, mulut dan lain-lain anggota masih seperti biasa tanpa segan silu, maka hanya lapar dan dahaga sahajalah yang kita dapat, tak lebih daripada itu.

Dan sungguh malang sekalilah, ruhul syiam (kesan puasa) atau KPI (key perfomance indicator) berpuasa itu hanya kekal dalam bulan puasa sahaja. 

Marilah kita isikan masa puasa yang masih berbaki ini dengan panduan dan kurikulum puasa yang telah digariskan oleh Allah swt sebagaimana disampaikan oleh oleh Rasulullah saw.

Jangan lupa buku teks wajib Ramadhan iaitu Al Quran perlu dibaca secara ” tadarus” iaitu ada yang membaca ada yang mendengar untuk diperbetulkan, difahami dan dihayati. Selamat meneruskan perjuangan agar puasa benar-benar sebagai perisai daripada gangguan syaitan dan iblis serta yang pentingnya perisai daripada azab api neraka.

Monday, August 8, 2011

Media baru medan aktivisme alternatif

oleh SAIFUDDIN ABDULLAH
Sinar Harian 8/8/2011 9:26:27 AM
Lebih kurang 1,000 orang menghadiri Wacana Sinar Harian “Apa Selepas 9 Julai?” pada 26 Julai lalu. Lebih 43,000 orang di 61 buah negara menonton siaran langsungnya di televisyen internet Malaysian Observer (mobtv.my). Ramai lagi melayari media baru untuk mengikuti dan menyertai perbincangan mengenainya.
Jumlah yang menghadiri perhimpunan 9 Julai itu, kalaupun tidak sampai 50,000, tentulah lebih daripada 6,000. Jumlah yang menghadirinya secara jarak jauh lebih ramai, iaitu sama ada di perhimpunan di luar negara atau di siaran langsung melalui media baru. Ramai lagi melayari media baru sebelum, semasa dan selepasnya.

Apabila ada media konvensional dan arus perdana memberikan gambaran kurang tepat tentang perjalanan dan kandungan wacana dan perhimpunan itu, maka, mereka yang menghadirinya, menontonnya dan melayarinya sama ada menyatakan “usah perbodohkan kami” atau mentertawakannya atau memulaukannya.

Baru-baru ini, Perdana Menteri Datuk Seri Mohd Najib Tun Abdul Razak menyatakan bahawa masyarakat kita sedang melalui satu transisi. Saya memahaminya sebagai transisi dari realiti lama kepada realiti baru. Satu daripada realiti baru ialah media baru. Tetapi, bukan media baru sebagai sekadar alat komunikasi semata-mata. Sebaliknya, ialah media baru sebagai gelanggang untuk beroperasi dan berkongsi.

Perdana Menteri memahami realiti baru ini kerana beliau aktif menggunakan media baru untuk berkomunikasi, beroperasi dan berkongsi. Soalnya, sejauh manakah kita semua memahami dan menggunakan sepenuhnya?

Media baru terdiri daripada tiga elemen utama. Pertama, ia meliputi tiga komponen, iaitu artifak – peralatan-peralatan yang membolehkan dan memanjangkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan berkongsi makna; amalan – aktiviti-aktiviti yang disertai manusia dengan menggunakan dan mengembangkan peralatan tersebut; dan aturan – bentuk-bentuk organisasi dan sosial yang dicipta serta dibina oleh manusia dengan menggunakan artifak dan amalan tersebut.

Kedua, ia melahirkan dua bentuk kegunaan utama, iaitu perubahan berkombinasi – ia bertentangan dengan sifat stabil dan sentiasa berubah dengan mengkombinasikan sistem-sistem lama dengan yang baru melalui inovasi; dan jaringan-atas-jaringan – ia menghubungkan teknologi dengan teknologi, individu, kumpulan, organisasi dan masyarakat; dan begitu juga sebaliknya.

Ketiga, ia menghasilkan dua kesan sosial utama, iaitu kewujudan di mana-mana dan bila-bila masa; serta ‘inter-aktiviti’ yang memberi peluang untuk memilih, mengguna, menyuarakan, menghubung, mengongsi dan sebagainya.

Dari segi berita, rencana, gambar dan video, sekiranya media konvensional tidak berubah, iaitu tidak menggunakan media baru sebagai saluran tambahan serta mengurangkan laporan dan penulisan yang kurang objektif, maka, ia akan diatasi media baru. Media baru akan menjadi media konvensional yang baru.
Begitu juga media arus perdana. Jika tidak mempunyai saluran media baru dan mengurangkan kandungan kurang objektif, maka ia akan diatasi media baru. Media baru akan menjadi media arus perdana yang baru.

Pemberita dan kamera media konvensional serta arus perdana berada di tempat dan masa tertentu sahaja. Ceritanya disiarkan pada saluran dan waktu yang terhad. Tetapi pemberita dan kamera media baru berada hampir di semua tempat serta setiap masa. Ini kerana setiap orang mampu menjadi pemberita dan jurukamera. Ceritanya disiarkan di pelbagai saluran dan sentiasa.

Bagi aktivis yang dipinggirkan media konvensional dan arus perdana, maka media baru adalah gelanggang alternatif. Bukan sahaja gelanggang untuk bersuara dan berperanan, malah bagi menegakkan aktivisme alternatif.