Sunday, January 5, 2014

Hikmah Saat Musibah, Taubat Saat Maksiat

Oleh: Moh Sofwan Abbas - 03/01/14 | 28 Safar 1435 H


 dakwatuna.com -“Sudahlah, jangan bersedih. Kau yakin saja, pasti ada hikmah yang bisa dipetik dari masalah ini.” Demikian sebuah nasihat yang diberikan kepada orang yang sedang dirundung kesedihan karena baru ditinggalkan kekasih, padahal dia sudah terlanjur berbadan dua akibat hubungan di luar nikah. Kekasihnya berjanji akan bertanggung jawab, apa pun resikonya. Namun ketika semua sudah terjadi, dia baru menyadari bahwa dirinya belum siap untuk membina rumah tangga. Hebatnya syahwat, bisa membutakan akal sehat manusia. Begitu syahwat dilampiaskan, kembalilah kesadaran akal sehatnya.

Hal semacam ini sering kita saksikan di banyak kesempatan di masyarakat. Sebagian orang berinisiatif menghibur saudaranya yang sedang bersedih dan kebingungan karena terlanjur melakukan sebuah dosa. Sedang merasakan sebagian kecil dari balasan Allah swt. Bagaimana kita memandang sikap seperti ini?

Hikmah Saat Musibah

Takdir adalah rahasia Allah swt. Tidak ada selain-Nya yang mengetahui. Kadang Allah swt. menimpakan sebuah musibah berupa kehilangan harta, ditinggal orang yang sangat dikasihi, kehilangan kesempatan untuk mendapat apa yang selama ini diidam-idamkan, dan lain-lain yang sangat berat bagi diri kita. Perlu diyakini, bahwa hal-hal seperti itu tidak selamanya buruk bagi kita. Karena, sekali lagi, takdir Allah swt. adalah rahasia; hanya Dia yang mengetahuinya.

Sangat mungkin hal  yang kita nilai sebagai sebuah musibah ternyata hanyalah sepotong episode yang hanya berlangsung beberapa saat. Alur cerita dalam kehidupan kita selanjutnya ternyata menyimpan banyak kejutan yang mungkin sangat membahagiakan. Tanpa ada sepotong tragedi yang memilukan itu, kejutan-kejutan tersebut mustahil terjadi. Nabi Yusuf as. dimusuhi saudaranya, dibuang, dilempar ke dalam sumur, dipungut dan dijual oleh kafilah dagang, dijadikan budak, dituduh berbuat tidak senonoh, dan akhirnya dipenjara. Tapi apa akhir semua itu? Menjadi pembesar di negeri Mesir sehingga bisa menyelamatkan nikmat Allah swt., dan mendakwahkan agama Islam kepada banyak orang.

Dari sinilah, kita hendaknya tidak bersedih dan bergundah hati ketika ditimpa musibah. Kita tidak tahu apa yang disimpan di balik takdir itu. Ridha, mencari-cari hikmah yang ada di baliknya, dan tetap berkeyakinan baik kepada Allah swt. adalah cara yang bisa ditempuh demi mendapatkan kebaikan. Keluh-kesah dan penyesalan tidak bisa merubah keadaan. Sebaliknya, akan membuat hati semakin tersiksa; dan membuat murka Allah swt. karena kurang beriman dengan takdir-Nya.

Tobat Saat Maksiat

Lalu bagaimana dengan maksiat? Setiap amal perbuatan pasti akan dibalas. Baik di dunia maupun di akhirat. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” [Az-Zalzalah: 7-8].

Oleh karena itu, orang yang berbuat maksiat pasti akan merasakan hal yang sangat menyakitkan. Penyelasan, rasa malu, dijauhi rekan, terkena penyakit, dan lain sebagainya. Lalu, benarkah dalam kondisi seperti ini kita menghibur diri? Bahwa di balik semua kesulitan ini ada hikmahnya?

Ini bukanlah musibah. Musibah adalah takdir, yang tidak bisa kita ketahui kenapa bisa menyambangi kita, dan akan ke mana membawa kita. Sedangkan perasaan tersiksa setelah maksiat sudah jelas sebabnya. Yaitu  Allah swt. tidak ridha karena kita berbuat maksiat, lalu menyiksa kita. Sudah jelas, Allah swt. melarang kita melakukan perbuatan itu, tapi masih kita lakukan. Kita berbuat durhaka kepada Allah swt., dan Allah swt. murka kepada kita. Dari itu, sudah jelas bagi kita bahwa kondisi ini adalah hal yang buruk. Bukan musibah yang membawa kebaikan-kebaikan kepada kita.

Karena merupakan kondisi buruk, maka hal yang seharusnya tumbuh dalam diri kita adalah perasaan sedih, menyesali diri, ingin membuangnya jauh-jauh, merasa hina di hadapan Allah swt.,  takut kepada murka-Nya, dan membulatkan tekad untuk memperbaiki diri dan tidak mendekati perbuatan maksiat itu lagi. Semua ini adalah konskwensi tobat.

Tidak ada hikmah di balik maksiat. Maksiat adalah 100% buruk. Karena maksiat adalah kedurhakan kepada Allah swt. yang sudah memberi kita banyak sekali kebaikan. Akan mengandung hikmah jika maksiat itu membuat kita bertobat, merendahkan hati, dan memperbaiki diri. Itulah hidayah. Menyadari kesalahan, lalu berusaha sekuat daya untuk memperbaikinya sehingga menjadi orang yang bertakwa. Ada seorang ulama mengatakan, “Jika Allah swt. menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia akan menjatuhkannya kepada maksiat yang membuatnya rendah hati.”

Maka bagaimana jadinya jika setelah berbuat maksiat, kita malah menghibur diri dan membesarkan hati? Ini tidak lain adalah tipu daya setan. Setelah berhasil menjauhkan kita dari Allah swt., dia tidak akan begitu saja membiarkan kita kembali kepada Allah swt. Dia berusaha bagaimana orang yang sudah jauh dari Allah swt., merasa nyaman dengan kondisinya. Di antaranya dengan menghiasi perbuatan maksiatnya dengan hiasan hikmah. Dengan begitu, perbuatan dosa pun tidak menakutkan, menyeramkan, dan menjijikkan lagi.

Kalau sudah demikian keadaannya, apa kita bisa meninggalkan maksiat? Atau sebaliknya kita semakin asyik melakukannya, menumpuk-numpuk dosa sehingga layak untuk menghuni neraka? Padahal semakin tebal tumpukan dosa dalam hati semakin menyulitkan hidayah Allah swt. untuk mendatanginya. Wallahu A’lam bish-shawab.(msa/dakwatuna)

No comments:

Post a Comment