Sunday, August 12, 2012

Cinta Bertakbir di UIA

10/8/2012 | 22 Ramadhan 1433 H | Hits: 428


dakwatuna.com - Allahu Akbar…Allahu Akbar…suara adzan berkumandang di seantero Kairo. Seiring dengan alarm hape ku yang berbunyi melantunkan nasyid Shoutul Harakah. Alhamdulillah Allah masih membangunkanku subuh ini. Karena memang biasanya musim panas sangat susah untuk bangun subuh. Bayangkan saja waktu masuk shalat fajar saja pukul 03:14 Waktu Cairo.

Aku segera menuju kamar mandi untuk berwudhu yang terletak persis di samping kamarku. Perlahan rasa kantukku mulai hilang. Lalu kubangunkan kawan-kawan yang masih terlelap tidur. “Rasyid…Rasyid…bangun! Udah subuh lho.” Rasyid adalah kawan sekamarku, ia berasal dari Kalimantan. Dulu kami satu pesawat waktu berangkat ke Kairo.

Sampai di masjid As Salam waktu iqamah tinggal sepuluh menit lagi, masih ada waktu untuk melaksanakan shalat sunnah fajar pikirku. Seperti biasanya setiap hari Jum’at pagi Syekh Musthafa sang Imam masjid selalu membaca surah As Sajadah. Bacaannya begitu merdu, mirip dengan suara Syekh Misyari Rasyid.

Usai shalat fajar aku bertemu dengan Ustadz Khalid. Setiap kali berjumpa dengannya, ia selalu tersenyum sambil menanyakan kabarku, “Sihat keh?” “Alhamdulillah Ana sehat ustadz, ustadz macam mane?” “Alhamdulillah sihat jawabnya” Ia menyapaku dengan logat melayunya. Ustadz Khalid adalah salah satu mahasiswa S2 di Al Azhar. Ia berasal dari Thailand. Tepatnya di Pattani Thailand Selatan. Mereka juga etnis melayu yang kebanyakan penduduk di sana beragama Islam. Salah satu kebiasaan Ustadz Khalid yang membuatku kagum adalah setiap kali usai melaksanakan shalat jamaah, ia selalu duduk di pojok masjid sambil membaca Al Qur’an.  Bahkan terkadang ia juga membawa buku-buku diktat kuliahnya.

Pagi itu merupakan hari terakhir aku di Kairo. Sebab aku sudah menyelesaikan program S1 di Al Azhar di Fakultas Ushuluddin jurusan Hadits. Emak dan Bapak di rumah sudah berpesan padaku jika semua urusan di Kairo sudah selesai untuk segera pulang. Karena memang selama menuntut empat tahun di Kairo aku tak pernah pulang ke tanah air.

Semua barang-barang sudah aku rapikan sejak tadi malam. Semua barang bawaan lumayan banyak ditambah lagi dengan titipan kawan-kawan satu tas penuh. “Ya Robb, semoga aja lolos dalam menimbang barang di bandara nanti, batinku”.  Tepat pukul 09:00 pagi kawan-kawanku sudah mulai berdatangan ke rumah untuk mengantar kepulanganku. Tak hanya kawan-kawan dari Indonesia yang datang. Kawan-kawan dari Malaysia dan Thailand yang flatnya tidak jauh dari flatku juga datang.

“Ustadz Faski…masya Allah, bile kite jumpe lagi?” Tanya Akh Morshid yang berasal dari Malaysia. “Insya Allah kite jumpe di KL nanti Akh, sebab Ana nak cari akhwat Malaysia, hehe” ku jawab sambil bercanda. “Iye keh…!” Boleh…boleh…

Sebenarnya aku merasakan sedih luar biasa meninggalkan Kairo. Kampung keduaku. Di sinilah aku menemukan teman-teman luar biasa dari berbagai nusantara dan berbagai belahan dunia. Tapi apalah daya, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Semuanya tak ada yang kekal. Kita semua akan kembali kepada-Nya.

Tapi ada sesuatu yang membuatku masih galau di saat-saat keberangkatanku. Sebenarnya sudah lama aku memendam rasa kepada seorang akhwat. Tapi aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikan isi hatiku kepadanya. Jangankan untuk menyampaikan isi hatiku padanya. Aku saja tidak kenal padanya. Apalagi dia, entah kenal entah tidak padaku, seorang mahasiswa biasa yang tak punya prestasi apa-apa.

Yang aku tahu kalau dia adalah seorang mahasiswi yang berasal dari Aceh. Dan sekarang masih tingkat tiga di Fakultas Syari’ah Universitas Al Azhar. Sebenarnya pertama kali aku melihatnya adalah ketika ada acara PPMI, kebetulan waktu itu aku menjadi moderator acara. Tanpa sengaja aku melihatnya duduk manis di bagian depan barisan akhwat. Hatiku langsung bergetar ketika melihatnya.

Awalnya biasa saja, tapi lama-kelamaan rasa hati ini sulit ditahan juga. Ia begitu anggun dengan kerudung biru mudanya. Wajahnya selalu bermain di pikiranku. Sering kali aku berusaha mengusir khayalan itu dengan banyak beristighfar, tapi tetap saja ia selalu hadir.

***

Dua tahun sudah berlalu, aku pun melanjutkan S2 di University Islam Antarabangsa di Kuala Lumpur. Tanpa terasa umurku sudah menginjak 25 tahun. Ini sudah saatnya aku berkeluarga pikirku. Apalagi kondisi Kuala Lumpur yang bisa menggoyahkan imanku. Aku harus segera menikah. Tekadku sudah bulat. Aku langsung menelpon Emak dan Bapak di kampung dan menyampaikan keinginanku.

Alhamdulillah Emak dan Bapak merestui diriku untuk menikah. Tapi sampai saat ini aku belum punya calon. Aku teringat dengan Ustadz Umar guru ngajiku. Kusampaikan niatku pada Ustadz Umar. “Akh Faski…kriteria seperti apa yang Antum inginkan dari istri Antum? Tanya Ustadz Umar”. ”Bagi Ana ustadz, yang paling penting ia komitmen dengan agamanya dan menyejukkan hati jika dipandang.” Oke nanti akan saya carikan akhwat yang sesuai dengan kriteria Antum.

Dua minggu kemudian aku bertemu kembali Ustadz Umar di masjid kampus. Karena Ustadz Umar saat ini mengambil program doktoral di University Islam Antarabangsa. “Akh Faski, Alhamdulillah sudah ada akhwat yang siap, ini biodatanya sambil menyerahkan sebuah amplop yang berisi biodata dan selembar foto si akhwat.

Malamnya aku mengadu kepada Allah sambil shalat Istikharah, aku memohon kepada Allah agar diberikan istri yang terbaik yang bisa diajak untuk berjuang di jalan dakwah. Usai shalat kubuka isi amplop tersebut perlahan-lahan sambil beristighfar. Detak jantungku makin tak karuan penasaran siapa sang bidadari yang siap berlayar di bahtera denganku.

Subhanallah…aku terkejut bukan main. Setelah melihat foto akhwat tersebut. Ternyata ia adalah akhwat Aceh yang pernah singgah di hatiku. Butir-butir kristal tak terasa menetes dari air mataku tanda sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Aku merasakan bahwa Allah telah memberikan surprise yang begitu dahsyat untukku.

Namanya Fatiah Sholihah, ternyata setelah lulus dari Al Azhar Fatiah juga melanjutkan di Malaysia. Namun ia kini mengambil jurusan Ekonomi Syari’ah di University Islam Antarabangsa. Tak henti-hentinya lisanku mengucap syukur kepada Allah yang memberikan seorang bidadari cantik dari tanah rencong.

Kini tibalah saatnya masa ta’aruf dan nazhar. Ustadz Umar sudah menjanjikan padaku untuk datang ke rumahnya ba’da Ashar hari ini. Bismillah kulangkahkan kakiku menuju terminal Gombak yang tak jauh dari kampusku. Tepat pukul 16:30 aku sampai di rumah Ustadz Umar. Aku disambut dengan hangat oleh Ustadz Umar dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Satu namanya Muadz dan satu lagi namanya Muawwidz.

Setelah ngobrol asyik dengan Ustadz Umar, tiba-tiba bel pintu ustadz Umar berbunyi. “Tuh, sudah datang ukhti Fatiah-nya”. Fatiah datang bersama istri Ustadz Umar, ia tampak begitu mempesona dengan gamis serta kerudung biru mudanya. Persis seperti pertama kali aku melihatnya di Wisma Nusantara ketika acara PPMI.

Fatiah terkejut ketika pertama melihatku bersama Ustadz Umar. “Kak Faski…!” Tak kusangka ia mengenal namaku. “Fatiah yah? Tanyaku”. “Kok Fatiah kenal nama kakak?”.” Ya Iyalah, kak Faski kan suka nulis di buletin masisir.” “Makanya Fatiah kenal nama kakak.”. “Oh, ternyata kalian berdua sudah pernah ketemu sebelumnya yha di Kairo tanya Ustadz Umar”. “Kebetulan ketemu di acara PPMI Stad…jawabku.”

Akhirnya aku sepakat mengkhitbah Fatiah Sholihat untuk menjadi teman sejati dalam berjuang di jalan dakwah. Aku dan Fatiah sudah komitmen untuk tetap melanjutkan studi di University Islam Antarabangsa. Akhirnya aku berangkat ke Banda Aceh untuk menemui orang tua Fatiah. Sebulan kemudian akhirnya aku menikah dengan Fatiah Sholihah di Banda Aceh.
Walhamdulillah wa syukurillah…

* UIA: Universiti Islam Antarabangsa atau International Islamic University of Malaysia
** Masisir: Mahasiswa Indonesia di Mesir
Terinspirasi saat mengantar kepulangan sahabat di Cairo International Airport

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22251/cinta-bertakbir-di-uia/#ixzz23IC9TgIX

No comments:

Post a Comment