Wednesday, February 27, 2013

Redamkan Api dengan Kesejukan Air

  Oleh: Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I -

Ilustrasi (Flickr/Aan Sopiyan)dakwatuna.com - Kejadian marahnya seorang supir angkot, kembali telah mengingatkan saya, bahwa kita tidak boleh egois, hanya berpikir untuk kebaikan diri sendiri. Bagaimana dengan perasaan, kebutuhan dan harapan orang di sekitar kita, harus menjadi salah satu hal yang kita perhatikan di dalam bersikap, dalam berinteraksi, dalam berdakwah. Awalnya, karena terdorong oleh semangat mencontoh Bilal bin Rabah, yang Rasul kabarkan bahwa terompah (sandal) Bilal sudah masuk surga, meski orangnya masih hidup di dunia, saya memang berusaha untuk selalu menjaga wudhu. Alhamdulillah kebiasaan ini seperti sudah menjadi kebutuhan yang refleks dikerjakan.

Suatu ketika, karena beberapa kali wudhu batal disebabkan ketika membayar angkot, atau menerima uang kembalian dari supir, secara tidak sengaja, selalu saja tangan sang supir mengenai tangan ini. Begitu juga ketika ada kesempatan membawa mobil sendiri dan harus memberi uang receh untuk “pa ogah di jalan” yang telah membantu kelancaran lalu lintas, atau memberi untuk tukang parkir, seringkali juga terpaksa membuat wudhu ini menjadi batal. Saya terus berpikir bagaimana caranya menghindari penyebab batal wudhu tersebut. Ketika berkendara bersama anak saya yang laki-laki, saya bisa menyiasati dengan cara meminta tolong kepada anak saya (laki-laki) untuk memberi uang parkiran, uang pa ogah atau uang ongkos angkot, dan wudhu saya aman terjaga. Untuk kesempatan lain tidak berkendara bersama anak, saya menyiasati dengan menggulung uang secara memanjang, agar ‘pa ogah’ bisa mengambil dengan mudah. Untuk cara yang satu ini memang relatif agak butuh waktu, apalagi jika sedang diburu waktu.

Suatu siang, karena sudah terlambat, dan dengan semangat untuk terus bisa menjaga wudhu, ketika memberikan ongkos ke supir angkot, saya menaruh uang tersebut di atas dashboard angkot, dan tidak menyerahkannya ke tangan supir. Betapa kaget dan malunya, ternyata supir angkot tersebut marah-marah, merasa dihinakan dan tidak dihargai. Sebelum-sebelumnya beberapa kali saya melakukan hal yang demikian terhadap supir lain, tidak pernah ada yang marah atau tersinggung. Itu sebabnya saya merasa biasa-biasa saja melakukan pembayaran dengan cara seperti itu. “Lebih baik nggak usah bayar, kalau caranya seperti ini” kata-kata tersebut sempat keluar darinya, sampai akhirnya dia pun mau memahami permintaan maaf saya. Saya sedih, dan menyesal, meski tak ada niat menyepelekan orang lain, tetapi ternyata sikap saya telah menyakiti orang lain. Berkali-kali istighfar, berkali-berkali merenung dan berharap semoga Allah mengampuni kesalahan tidak sengaja ini.

Kejadian tersebut, memberi banyak pelajaran. Pertama, bahwa meskipun kita mempunyai tujuan yang baik/benar (dalam hal ini ingin tetap terjaga wudhu), tapi kita tidak bisa serta merta mengabaikan cara-cara yang ahsan dalam mencapai tujuan tersebut. Allah hanya akan menerima sesuatu yang baik, perkataan yang baik perbuatan yang baik, cara yang baik, dan tujuan yang baik. Semua kebaikan, yang ma’ruf, hakikatnya adalah menjadi kebutuhan setiap insan. Innallaha katabl ihsan ‘ala kulli syain.

Pelajaran kedua adalah bahwa kita berpotensi untuk melakukan kesalahan dan dosa, meskipun tidak kita niatkan atau kita kita sengaja. Dari sudut inilah, kita pahami, kenapa mestinya dalam satu hari, kita harus mengucapkan istighfar minimal 70 kali (riwayat Bukhari) atau minimal 100 kali (riwayat Muslim). Tentu kita juga paham bahwa meski Rasul tidak memiliki dosa, karena beliau maksum, tapi beliau tetap beristighfar, sebagai bentuk tasyakur bini’matillah, dengan memperbanyak ibadah dan dzikir dalam setiap kesempatan.

Pelajaran ketiga, kita harus selalu berusaha untuk memahami kondisi, karakter, kebiasaan, kesukaan dan sifat-sifat orang lain yang ada di sekitar kita, agar kita bisa berinteraksi dan bergaul secara baik dan pas dengan mereka, tanpa menimbulkan ketersinggungan pada orang-orang di sekitar kita. Tidak bisa dipungkiri, bahwa tiap pribadi punya keunikan, tiap suku punya budaya dan kebiasaan yang berbeda. Semua ini harus kita pelajari, kita pahami, kita perhatikan. Sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syar’i dan aqidah tauhid, berbagai keragaman adat dan budaya bisa kita terima.

Pelajaran keempat, jangan mudah terpancing emosi dan kemarahan orang lain. Bisa dibayangkan, jika misalnya dalam kasus di atas, saya tanggapi kemarahan supir dengan kemarahan. Naudzubillahi min dzalik. Orang bijak mengatakan, redamlah panasnya api, dengan siraman kesejukan air. Api jangan disulut kembali dengan api. Api akan padam dengan air. Kemarahan akan padam dengan senyuman dan permintaan maaf. Semoga kita termasuk orang yang pandai belajar mengambil hikmah dari setiap kejadian. Wallahu a’lam bishawwab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/02/28202/redamkan-api-dengan-kesejukan-air/#ixzz2M52W4b1b

No comments:

Post a Comment